Cinta Bayangan

Cinta Bayangan
Leptospirosis


__ADS_3

Hujan berkapasitas sedang hingga deras masih mengguyur wilayah Jakarta dan hampir disebagaian besar wilayah Indonesia. Pemukiman warga dari yang sederhana sampai dengan kawasan elite tergenang banjir. Aktivitas kantor, sekolah, pabrik, dan lain - lain diliburkan. Listrik padam disebagian besar wilayah, yang pastinya wilayah yang tergenang. Dalam sekejap ibukota dinyatakan lumpuh.


Dirumah sakit, Atma terlihat sangat lelah. Pasien berdatangan semakin banyak lalu memenuhi unit gawat darurat dan lobby yang telah disulap menjadi bagian dari unit gawat darurat. Para tenaga medis dengan sigap membantu para pasien.


\=\=\=\=\=\=


Aulia pov


Hari ini semua jadwal yang telah tersusun harus dibatalkan. Berita dimedia online dan televisi dominan memberitakan masalah banjir yang melanda kotaku. Hujan yang turun tak berhenti sejak sore kemarin, membuat Komplek perumahan tempatku tinggal, juga tak luput dari genangan banjir. Untung saja hanya sebatas jalanan komplek saja yang banjir.


Hari ini aku janji akan bertemu dengan orang tua Atma. Tapi kemungkinan akan diundur, karena kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan. Ditambah lagi Atma belum mengabariku tentang pekerjaannya, apa dia sudah makan atau belum, dan semua hal yang aku pikirkan tentang dia, membuatku sangat cemas.


Pesan sudah ratusan aku kirimkan. Tapi tak ada jawaban. Panggilan dariku juga tidak dijawab. Aku tahu Atma sibuk. Dan pasti sangat sibuk. Terakhir waktu dia mengabariku , dia ditugaskan untuk menangani pasien korban banjir dirumah sakit tempatnya bekerja. Apa mungkin korban karena banjir ini sangat banyak? Sehingga Atma tak bisa mengabariku. Aku menebak - nebak sendiri jawaban atas pertanyaanku.


Kulihat mba Yuli sedang membersihkan kamar tidur beserta ruang bajuku.


"Mba, bikinin aku pasta dong" rengekku padanya.


Mba Yuli menghampiriku.


"Spaghettinya habis neng. Tapi kemarin saya bikin pempek, mau gak saya gorengin ? tanya mba Yuli.


Aku mengangguk.


"Mau minumnya apa neng? biar sekalian saya bikinin " tanya mba Yuli kemudian.


"Apa aja deh mba" jawabku yang masih tiduran diatas tempat tidurku.


Mba Yuli lalu keluar dari kamarku.


Hari ini, keluargaku lengkap. Papah dan mamah tidak berangkat ke kantor . Rico dan Vika juga tidak berangkat ke kampus. Aku sendiri juga tidak kemana - mana. Lebih tepatnya kami semua dipaksa libur karena banjir. Tapi tidak dengan kekasihku, disaat semua libur, dia malah sangat sibuk. Aku kembali merindukannya.


pintu diketuk lalu Rico memasuki kamarku yang tidak dikunci.


"Lagi ngapain kak?" tanya Rico saat menghampiriku.


Aku hanya menggeleng. Karena memang aku tidak sedang melakukan sesuatu selain menunggu kabar kekasihku.


Rico ikut tiduran diatas kasurku.


"Aku bosen kak, di rumah sepanjang hari" keluhnya.


"Bosen apa kangen sama Anita?" godaku.

__ADS_1


"Ya itu juga sih kak" Rico tertawa karena ucapannya sendiri. Aku juga ikut tertawa melihat tingkah adikku yang satu ini.


Rico terdiam, lalu mulai berbicara dengan serius. "Aku dengar kakak dan kak Atma sudah ketemu mamah dan papah ya?" tanya Rico padaku.


Aku hanya sanggup tersenyum untuk menjawab pertanyaan Rico.


"Kakak bahagia?" tanya Rico kemudian.


Aku kembali tersenyum lalu menganguk.


"Aku bahagia jika kakak bahagia. Aku lihat kak Atma orangnya baik. Dan aku yakin kak Atma akan selalu membuat kakak bahagia" ucap Rico menyemangatiku.


"Mudah - mudahan ya dek" jawabku singkat.


Kami kemudian hanya terdiam dan larut dalam pikiran masing - masing.


"Main game yuk kak" ajakan Rico membuyarkan lamunanku.


"Ayo" jawabku semangat.


Mba Yuli tiba - tiba sudah berada dikamarku dengan membawa nampan berisi pempek dan beberapa kaleng minuman softfrink.


"Wah asik nie" Rico bersemangat lalu mengambil 1 mangkok pempek.


"Selamat menikmati, mudah - mudahan enak ya neng" mba Yuli tersenyum lalu beranjak meninggalkan kamarku.


"Terimakasih ya mba" ucapku.


Dari penampilannya saja, pempek ini sudah terlihat enak. Masakan mba Yuli memang selalu sesuai dengan lidah kami.


Tak perlu berlama - lama, mangkok yang berada ditangan Rico pun segera kosong.


"Wih, lapar apa doyan dek?" ledekku.


"Dua - duanya kak" jawab Rico lalu meneguk soft drink.


Aku tertawa melihat tingkah Rico.


\=\=\=\=\=


Author pov


Hujan terus turun dengan kapasitas sedang hingga besar. Luapan air terjadi dimana - mana. Gunungan sampah juga ikut memperparah bencana banjir ini. Ditambah lagi dengan sistem penyerapan yang tidak berfungsi dengan baik.

__ADS_1


Korban sudah banyak berjatuhan. Banyak yang hilang terseret arus air. Banyak juga yang luka - luka.


Tak sedikit yang kelaparan, karena terjebak tidak bisa kemana - mana. Tim evakuasi terus menyusuri pemukiman yang genangan air nya sangat tinggi. Mengevakuasi para korban selamat yang terjebak dan harus segera mendapatkan bantuan kesehatan. Tim juga mengevakuasi warga untuk dipindahkan ke tenda - tenda pengungsian.


Pada malam hari suara tangis anak - anak balita terdengar sangat menyayat hati. Rasa dingin yang mereka rasakan karena tidur hanya berlapiskan matras. Belum lagi rasa lapar, karena makanan yang tersedia tidak dapat meredakannya. Fasilitas MCK pun sangat sulit. Butuh antrean panjang untk bisa sekedar buang air kecil. Dalam sekejap bencana ini menghancurkan semuanya.


\=\=\=\=\=\=


Atma pov


Aku butuh istirahat walau hanya 10 menit. Kukatakan hal itu pada perawat Dewi.


Kumasuki sebuah ruangan yang juga sebagai ruangan kerja pribadiku. Kubuka laci meja, dan meraih ponsel yang telah lama kutinggalkan disana. Sudah kuduga, pesan dan panggilan tak terjawab telah memenuhi layar ponselku.


"Hallo sayang" kudengar suara gadisku saat panggilan teleponku dijawab.


"Hallo sayang, maaf ya aku baru bisa ngabarin kamu" ucapku lirih.


"Iya sayang. Kamu baik - baik aja kan? udah makan belum? kudengar kecemasan di nada bicaranya.


"Aku baik - baik aja sayang. Tadi aku udah makan. Kamu juga jaga kesehatan ya sayang." aku mencoba meyakinkan Lia bahwa aku baik - baik aja.


Cukup lama kami berbincang - bincang, hingga rasa lelahku tak lagi kurasakan. Dialah penyemangatku. Kekasih hatiku.


Setelah itu, aku kembali ke Unit Gawat Darurat. Tak lama aku datang, tiba - tiba suasana menjadi histeris. Seorang balita perempuan yang aku perkirakan sekitar berusia 2 tahun tengah berada dalam gendongan seorang ibu. Dia tak bergerak. Sang ibu terus berteriak memanggil kami. Dengan refleks aku dan beberapa perawat menghampirinya. Segera kuperiksa denyut nadinya. Syukurlah masih ada, walau sangat lemah. Oksigen dan infus pun segera diberikan. Suhu tubuhnya cukup tinggi, 39 derajat celcius.


Anak perempuan ini begitu cantik. Aku belum sempat bertanya mengapa anak ini sampai seperti ini. Denyut nadi dan nafasnya masih sangat lemah.


"Ini anaknya kenapa bisa begini bu?" akhirnya aku coba bertanya.


"Saya tidak tahu dok. Anak ini tiba - tiba panas, kejang, muntah lalu pingsan" penjelasan sang ibu.


"Siapa namanya bu?" tanya salah satu perawat.


"Adinda meswari sus" jawab si ibu.


Perawat kemudian mencatat namanya untuk kebutuhan administrasi.


"Apa dia main banjir - banjiran bu?" tanya ku penasaran.


"Iya dok, dia sering bermain banjir dengan kakaknya. Tapi cuma didepan rumah dok" sang ibu kembali menjelaskan.


Aku begitu khawatir. Diagnosa sementaraku, anak ini menderita leptospirosis.

__ADS_1


\=\=\=\=<>\=\=\=\=


__ADS_2