
Leptospirosis.... adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini.
*Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Gejalanya adalah mual, muntah, meriang, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, diare, kulit dan mata menguning, demam, ruam, dan konjungtivitis.
Kondisi terparah leptospirosis ditunjukan oleh gangguan pada paru - paru, gangguan pada ginjal (gagal ginjal), gangguan pada otak (meningitis), dan gangguan pada jantung (miokarditis atau gagal jantung).
\=\=\=\=\=\=
Adinda telah sadar tetapi masih tampak lemah. Anak kecil yang semula ceria, berubah menjadi anak kecil yang murung. Dia sering menangis, merasakan sakit pada tubuh kecilnya. Jarum infus pun menambah rasa sakit dan tidak nyaman anak kecil ini.
Saat ini, adinda pun harus melakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urine dan pemeriksaan darah. Untuk mengambil contoh darah, Adinda harus kembali merasakan sakit saat darah harus dikeluarkan melalui jari mungilnya. Tangisan pun kembali terdengar.
Jika hasil pemeriksaan laboratorium sesuai dengan diagnosa Dr. Atma, maka akan banyak orang yang harus diperiksa. Karena bakteri ini sangat mudah ditularkan melalui air yang sudah terkontaminasi.
Atma bersama perawat Dewi dan 2 perawat lainnya menghampiri Adinda yang masih menangis. "Hai anak pintar" Atma duduk ditempat tidur Adinda.
"Sakit ya ?" tanya Atma pada Adinda yang masih menangis. Dan Adinda hanya mengangguk.
"Om dokter punya hadiah untuk Adinda, Adinda mau gak?" Atma mencoba merayu Adinda agar tidak lagi menangis. Karena tangisan anak itu membuat pilu dan sedih hatinya.
Adinda menatap Atma tapi masih dengan airmata yang mengalir dipipinya. Atma meraih jemari mungil Adinda. Lalu menghapus airmatanya.
"Kalau mau hadiah dari om dokter, Adinda harus janji sama om dokter kalau Adinda tidak boleh sedih lagi. Om dokter juga janji akan menyembuhkan sakitnya Adinda,
gimana?" Atma merayu gadis kecil itu. Berusaha tegar dengan kata - katanya, tapi hatinya pun menjerit pilu.
Adinda hanya mengangguk lalu tersenyum. Senyuman gadis kecil ini begitu penuh ketulusan. Atma pun ikut tersenyum. Dia lalu mengambil boneka dari tangan perawat Dewi. Boneka yang sebelumnya dia ambil dari ruangan kerjanya. Boneka itu adalah hadiah kelulusan dari kampus kedokteran, tempat dia mencari gelar. Boneka yang selalu mengingatkan dia akan pengabdian dan kehormatannya. Kini dia berikan kepada gadis kecil itu.
"Suka gak sama bonekanya?" tanya Atma cemas. Takut kalau Adinda tidak akan menyukainya.
__ADS_1
"Suka om. Baju bonekanya sama kaya om dokter" jawab gadis kecil itu. Dia tertawa gembira sambil memeluk bonekanya. Atma dan para perawat pun tersenyum.
"Ingat janji Adinda sama om dokter ya, Adinda gak boleh sedih lagi. Kalau ada yang sakit, Adinda panggil tante - tante perawat ini ya" Atma melihat ke 3 perawat yang menemaninya.
"Bilang sama tante - tante perawat disini, minta panggilin om dokter. Nanti om dokter akan langsung datang buat hilangin sakitnya Adinda. Oke?" ucap Atma sambil membelai rambut gadis kecil itu.
"oke om dokter" Gadis ini setuju lalu menunjukkan jempolnya.
Gadis kecil yang lucu. Atma.
Atma dan para perawat kemudian pamit untuk kembali memeriksa pasien yang lain.
\=\=\=\=\=\=
Cakrawala nan megah hanya tampak gelap. Bulan dan bintang seakan enggan untuk menunjukan keindahanannya. banjir sudah mulai surut dibeberapa wilayah. Tapi hujan berskala kecil hingga sedang masih terus turun.
Sudah 4 hari aku tidak pulang kerumah. Hari ini aku memutuskan untuk pulang, dan tugasku sementara dihandle oleh Dr, Hendry dan Dr meisya , rekan sejawatku.
Jalanan ibukota sangat lengang. Aktivitas masih belum normal. Aku memutuskan untuk menaiki ojek motor untuk bisa lebih cepat sampai dirumah.
Memasuki sebuah halaman rumah bercat putih yang mempunyai beribu - ribu keindahan bagiku. Ayah dan bunda menyambutku dengan banyak pertanyaan. Tapi aku hanya menceritakan sebagian kecil keadaan dirumah sakit.
Kuhempaskan tubuh lelahku. Lalu kuraih ponsel yang terletak tak jauh dariku. Rasa rindu kepada Aulia yang terasa sangat dalam, membuatku tak sabar untuk melihat dan mengetahui kabarnya . Panggilan video pun langsung kutujukan untuk dirinya.
"Assalamualaikum sayang" panggilan terjawab. Bahagianya aku saat melihat senyumannya.
"Waalaikumsalam sayang, koq belum tidur?" Kulihat mata lelahnya. Entah apa yang dia kerjakan hari ini hingga membuatnya terlihat sangat lelah.
__ADS_1
"Lagi nungguin kamu sayang" tawa kebahagiaan terdengar darinya saat mencandaiku. Aku pun tersenyum melihat tingkahnya. Dan aku semakin merindukannya.
"Mau di pencet ya hidungnya? " ingin rasanya aku merayunya, tapi entah kenapa hanya kata - kata ini yang keluar.
Lalu kami bicara kesana kemari. Bercerita tentang pekerjaanku dirumah sakit. Berbicara juga tentang Adinda dan dugaan sementara sakitnya. Lia pun ingin mengunjunginya. Maka besok aku akan menjemputnya sebelum berangkat kerumah sakit.
"Awas ya, gak boleh genit sama para perawat" pesannya dengan wajah yang dibuat - buat cemberut. Sangat lucu kekasihku ini. Dan membuatku semakin sayang padanya.
"Gak dong, cukup kamu aja lah.. Satu aja udah cukup sulit untuk mengatur rasa rindu ini" Akhirnya aku berhasil membuat rayuan. Lalu kamipun tertawa bersama - sama.
" Kelihatannya capek banget sayang? Abis dari mana?" tanyaku penasaran.
"Aku habis mengunjungi korban banjir yang ada disekitar sini sayang. Membelikan mereka beberapa kebutuhan yang mereka butuhkan. Seperti mie instan, susu balita, popok, makanan siap saji, dan lain - lain. Beberapa teman - teman aku juga ikut mengumpulkan pakaian layak pakai. Lalu aku, Rico dan Vika membagikannya. Dibantu juga sama mba Yuli" Dia begitu antusias menjelaskannya.
Aku sangat bangga dengan wanitaku ini. Jiwa sosialnya begitu tinggi. Dia benar - benar baik.
"Sayang, aku gak mau kehilangan wanita seperti kamu. Cantik, dan baik. Aku gak mau keduluan orang lain" tiba - tiba kata - kata itu keluar dari bibirku. Dan kulihat wajah kekasihku memerah seperti udang rebus. Ingin rasanya tertawa melihatnya, tapi momentnya sangat tidak tepat. Bisa - bisa aku dianggap hanya bermain dengan kata - kataku.
"Udah ya sayang, udah malam. Aku mau istirahat. Kamu juga kan besok mau berangkat pagi - pagi" kata - kata ini keluar dari bibirnya. Kekasihku bukanlah wanita yang bisa terbuka mengungkapkan isi hatinya. Kali ini aku yakin dia sedang menutupi perasaan malu. Tak kusadari, aku tertawa. Dan Lia malah menunduk untuk menutupi wajah merahnya.
Kuhentikan tawaku. Aku tidak mau kekasihku salah paham.
"Aku mencintaimu sayang" kulontarkan kata - kata itu untuk mengungkapkan rasa cintaku. Dan kulihat dia kembali tersenyum.
Setelah kata - kata penutup kami ucapkan, barulah aku tutup panggilan video ini.
Malam semakin larut, mataku pun mulai redup. Setelah selesai membalas chat di grup rumah sakit, maka kuputuskan untuk tidur. Karena esok masih banyak pekerjaanku yang tertunda.
\=\=\=<>\=\=\=
__ADS_1