
Aulia.
Ah rasanya seperti sedang menunggu badai yang akan berguncang. Perasaanku sungguh tak karuan. Aku takut, antara takut kehilangan orang yang aku cintai, dengan takut kehilangan adik yang kusayangi. Semoga Vika bisa mengerti.
Tuhan, izin kan aku bahagia.
Semua kerjaan dikantor aku serahkan pada Farah, dan aku memilih untuk jalan - jalan ke tepi danau di Jagakarsa Jakarta Selatan. Danau ini cukup luas. Namanya Setu Babakan. Kulihat beberapa pria sedang memancing. Ada juga anak - anak bersama ibunya naik perahu bebek. Ada penjaga yang sedang mengawasi para pengunjung. Aku memilih untuk duduk ditepi danau. memandangi semua keindahan ini.
\=\=\=\=\=\=
Atma.
Aku sudah menduga, seperti apa reaksi Vika terhadap kata - kataku.
"Jadi, kamu hanya menganggapku adik?" tanya Vika padaku dengan wajah yang terlihat sedih.
Ah. mengapa aku harus dihadapkan pada situasi seperti ini.
Kutarik nafasku dalam - dalam lalu kuhembuskan perlahan.
"Dari awal aku mengenal kamu, hanya sebatas itulah perasaanku sama kamu Vi. Tidak bisa dipaksakan lebih" kucoba terus memperjelas agar dia bisa mengerti.
Vika terdiam dan terlihat meneteskan air mata. Aku berusaha tegar dengan tidak meninggalkannya seperti waktu itu.
Ku belai rambutnya, lalu kurangkul pundaknya. "Tetaplah menjadi Vika, adik yang kusayang. Kita akan tetap seperti ini, aku bisa menemani kamu saat kamu sedih. Kita bisa tertawa saat bahagia. Atau kita bisa saling bercerita tentang semuanya" kuajak Vika memandang lautan yang luas.
"Kamu janji akan tetap seperti ini padaku?" tanya Vika dengan tatapan masih kelautan.
"Iya, aku janji Vika" jawabku mencoba meyakinkannya.
"Apa sudah ada yang mengisi hati kamu Atma ?" tanya Vika kemudian.
Aku tahu aku harus jujur, tapi apakah Vika bisa menerima semua ini jika dia tau kalau Lia lah wanita yang telah mengisi hatiku dengan ribuan cinta dan kebahagiaan.
"Vika, kamu tau sikap aku dan kakak kamu saat kamu mengajak aku ketemu dia?" tanyaku berusaha memulai cerita ini.
Vika hanya menatapku tanpa menjawab.
"Sebelum aku mengenal kamu, kami sudah pacaran" ucapku berusaha berbohong.
"Sama siapa?" tanya Vika penasaran.
"Sama seorang gadis bernama Aulia Viandra." jawabku penuh keraguan.
"Apa?" Vika seakan tak percaya.
"Kami sudah pacaran selama 6 bulan" aku masih berusaha berbohong.
"bohong!!" kata- katanya mengagetkanku.
__ADS_1
"Apanya yang bohong?" aku masih mempertahankan kebohonganku.
"Bagaimana mungkin kamu pacaran sama kakak aku, sedangkan kakak aku belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Aku tau siapa kakak aku. Kakak aku terlalu sakit sama Ryan" panjang lebar dia menjelaskan membuatku hampir tak dapat bicara.
Bagaimana ini? aku harus bilang apa?
"Apa benar kamu tau siapa kakak kamu? Apa kamu memikirkan kebahagiaannya? Kamu tau luka hatinya sangat dalam, tak bisakah kamu membuatnya sedikit berbahagia?" kata - kata itu akhirnya terlontar.
"Apa maksud kamu Atma?" Vika balik bertanya padaku.
"Aku sudah tau semuanya, bahkan aib nya aku sudah tau Vi. Bagaimana Ryan menyakitinya, bagaimana trauma yang dia rasakan setiap kali ada orang yang mau dekat dengannya. Aku tau Vi" aku tertunduk dan hampir menangis karena membayangkan sendiri bagaimana Lia menghadapi semua ini.
Aku menyerahkan ponselku pada Vika yang berisi chat pribadiku dengan Lia.
"Bagaimana bisa?" tanya Vika setelah membaca semuanya.
"Izinkan aku membahagiakan kakak kamu Vi. Aku janji tak kan pernah meninggalkannya. Aku juga akan menjaganya" Aku harap Vika akan menerima semuanya.
Vika berjalan mendekati laut.
"Aku cinta dan sayang sama kamu Atma" ucapan Vika membuatku lemas.
Pikiranku jadi gak karuan . Dengan cara apa lagi aku harus membuat dia bisa mengerti.
"Tapi aku lebih cinta dan sayang sama kakak aku. Jika kamu adalah kebahagiaannya, aku ikhlas kamu bersamanya" dia mengatakan semua itu dengan pandangannya masih menatap laut.
"Terima kasih Vika" tak sadar aku memeluknya.
"Baik adikku yang cantik. Eh, calon adikku yang cantik " ucapku penuh kebahagiaan. Dan Vika hanya tersenyum.
"Semoga kamu bisa dapatkan laki - laki baik seperti kamu yang selalu baik" doaku untukmu Vika.
Kuantarkan Vika pulang kerumah. Dia mengajakku untuk turun, bertemu mamah dan papahnya. Tapi entah mengapa, saat ini aku hanya ingin menemui kekasihku. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"Nanti aku antar kakak kamu pulang Vi, dan aku akan menemui orang tua kalian. Kamu juga harus ada disana ya Vi" ucapku padanya lalu berlalu meninggalkannya.
Kuraih ponselku, lalu kuhubungi Aulia ku.
"Hallo" jawabnya seakan tak bersemangat.
"Hallo sayang, lagi dimana?" tanyaku yang sudah tak sabar untuk menemuinya.
"Lagi diluar sayang " jawabnya masih tak bersemangat.
"Iya diluar mana sayang, aku mau jemput kamu".
"Aku bawa mobil" jawabnya seakan tak mau aku menemuinya.
"Katakan dimana? Aku akan kesana" ucapku yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Aku didanau Setu Babakan" jawabnya yang membuatku segera menjalankan mobilku.
Ya Allah terima kasih atas kesempatan ini.
Aku ingin segera menjemputnya. Tapi bagaimana dengan mobil Lia, tidak mungkin juga kalau ditinggal disana.
Kuhubungi Farah, berharap dia bisa mengangkat panggilanku.
"Hallo Farah , ini Atma. Lagi dimana Far? tanyaku saat panggilan diangkat.
"Masih di kantor At, ada apa?" jawabnya ragu.
"Aku minta tolong ikut aku ya jemput Lia, nanti mobil Lia kamu bawa pulang aja dulu" aku berharap Farah akan setuju.
"Ada apa dengan Lia? Dia tidak apa - apa kan?" tanyanya panik.
"Tidak ada apa - apa koq Far" jawabku meyakinkannya .
"Baiklah, jemput aku dikantor aja" Akhirnya dia setuju.
Aku dengan bersemangat menjemput Farah. Diperjalanan bersama Farah, aku menceritakan semuanya. Farah ikut senang dengan kebahagiaan sahabatnya itu.
Tibalah aku didanau setu babakan
Jantungku berdetak sangat cepat. Tak sabar rasanya bertemu kekasihku.
Farah memeluk Lia saat bertemu dengannya. Mereka sedikit bercerita. Entah apa aku tidak fokus kesana. Aku hanya fokus melihat kekasih hatiku. Aku juga harus bersabar menunggu Farah pergi.
Setelah menerima kunci mobil Lia, Farah pamit untuk pulang.
Tanpa bicara aku langsung memeluk kekasihku. Membelai rambutnya, dan mencium keningnya.
"Ada apa Atma?" ucapnya penuh tanda tanya.
Aku hanya tersenyum dan memintanya masuk kedalam mobil. Lia hanya bisa menurutiku. Aku sengaja akan memberikan surprise ini padanya .
Sampailah aku dirumah kekasihku.
"Atma, jangan masuk. Aku belum siap" ucapnya sambil menahan tanganku.
"Aku sudah siap sayang" kutersenyum, lalu menggandeng tangannya.
"Jangan Atma, aku mohon" wajahnya penuh keraguan dan kesedihan.
"Percayalah padaku sayang" kumantapkan langkah mamasuki rumah keluarga calon isteriku.
Nampak mba Yuli menyambut kedatangan kami. Lalu mempersilahkan aku duduk. Lia pun duduk disebelah kananku. Jantung kami mungkin berdetak sangat cepat. Sejujurnya aku grogi, tapi aku harus melakukannya, agar bisa bersama kekasihku selamanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=