
Akhirnya ayam bakar pereda kegalauan pun datang bersama dokter ganteng yang lagi berusaha mengejar idaman hati nya.
"Yuk makan bareng At" ucap Lia kepada Atma.
"Gak usah, kamu aja yang makan ya" jawab Atma menolak.
"Ya sudah, aku juga gak makan deh" lanjut Lia sambil menuju sofa ruang tamu.
"Aku kan udah beliin, koq gak mau di makan?" tanya Atma kemudian.
"Ya aku gak mau makan sendirian. Mau makannya sama kamu. Makanya aku minta kamu yang beli, bukan pesen pake ojek online" jawab Lia sedikit manja.
"Baik lah. Ayo kita makan" lanjut Atma sambil tersenyum.
Hati nya benar - benar bahagia. Dia menganggap Lia sudah mulai sedikit membuka hati untuk nya.
"Gemesin banget sie, manja nya bikin aku tambah suka". Atma.
Di meja makan Lia dan Atma duduk berdekatan. Mereka terlihat sangat senang. Mba Yuli menyiapkan semuanya lalu pergi ke kamar. Mba Yuli pun terlihat sangat bahagia melihat Lia. Dia melihat kebahagiaan di wajah Lia.
"Semoga kebahagiaan ini selamanya untuk mu neng " ucap mba Yuli dalam hati.
"Aku pikir ayam bakar ini gak akan sampe ke rumah ini sekarang" ucap Lia sambil tersenyum menatap wajah Atma.
"Pengen ayam bakarnya apa yang nganter ayam nya nie?" ucap Atma meledek Lia.
"Ayam bakarnya lah, ayam bakar bisa di makan, yang nganter kan gak bisa di makan" jawab Lia sambil menjulurkan lidah menggoda Atma.
Atma pun tersenyum, lalu menarik hidung Lia.
"Ihhhh ... sakit" Lia berusaha melepaskan jari Atma di hidung nya.
Alhasil hidung nya menjadi merah. Atma pun tertawa melihat hidung Lia yang memerah.
"Malah ketawa. sakit tau.." ucap Lia sambil marah yang sedikit di buat - buat. Lalu tersenyum dan menatap wajah Atma.
__ADS_1
Atma mengusap rambut Lia. Padahal Atma sangat gregetan ingin mencubit lagi hidung atau pipi nya. Tapi di untungkan, karena hidung Lia sudah merah kaya tomat.
"Ya Tuhan, sempurna sekali laki - laki di hadapan ku ini" ucap Lia dalam hati sambil terus menatap Atma.
Akhirnya pandangan mereka bertemu saat Atma pun melihat nya. Atma tersenyum lalu mengusap pipi Lia.
"Habiskan makan nya" ucap Atma lembut.
Lia pun tersenyum. Kemudian mereka terdiam menikmati kebersamaan ini.
"Ya Allah, aku mencintai nya, izin kan aku agar bisa menjaga nya selalu. Wanita di hadapan ku ini, aku yakin dia wanita yang terbaik untuk ku" Atma.
Tak terasa waktu sudah menunjukan waktu magrib. Atma hendak menunaikan kewajiban sholat magrib, lalu Lia mengizinkan nya sholat di kamarnya .
Tetapi saat Atma selesai berwudhu dan hendak menjalankan sholat nya, Lia hanya diam melihat Atma.
"Koq liatin aj. Ayo sholat bareng" ucap Atma lembut.
Dan Lia pun terdiam.
"Aku gak bisa" jawab Lia, lalu berpaling dari Atma.
"Baiklah. Aku aja dulu ya" Atma tersenyum lalu mulai menunaikan sholat magrib nya dan Lia hanya melihat sambil tiduran di atas tempat tidur.
"Sepi banget, pada kemana?" tanya Atma setelah dia menyelesaikan kewajibannya.
"Jam segini mah belum ada yang pulang. Papah juga lagi ke Jepang, belum pulang " jawab Lia yang masih tetap tiduran dan memainkan ponselnya.
"Kamu mau tidur?" tanya Atma sambil menatap Lia
"Aku pulang ya" lanjut nya.
Lia beranjak bangun dan meletakkan ponsel nya.
"Nanti aja ya. Aku belum ngantuk koq." jawab Lia yang seakan tak mau kehilangan Atma.
__ADS_1
"Ya udah, yuk kita ke depan. Gak enak kalo di kamar kamu terus" ucap Atma yang mulai risih berada di kamar Lia.
"Atma..." panggil Lia manja.
Atma kemudian duduk di tempat tidur dan mengusap rambut Lia sambil tersenyum.
"Iya Lia" jawab Atma.
"Kamu kenapa baik banget? Perhatian banget ke aku?" tanya Lia kemudian.
"Karena aku sayang sama kamu" jawab Atma tanpa berfikir.
"Koq bisa? kan kita baru kenal?" tanya Lia kembali.
"Aku juga gak tau, Allah yang telah menumbuhkan rasa ini" jawab Atma.
"Dan aku mau kamu bahagia, aku akan berusaha buat bikin kamu bahagia" jawab Atma yang membuat Lia tertunduk.
"Tapi..... " ucap Lia yang kemudian dipotong Atma.
"Tidak usah terbebani. Aku mengerti kamu belum siap. Tapi izin kan aku untuk tetap mencintai kamu dan aku akan berusaha membuat kamu percaya kalau niat aku mencintai kamu itu benar-benar tulus karena Allah. Bukan karena nafsu atau pun karena yang lainnya"
Mendengar ucapan Atma, Lia pun menjauh. Dia merasa tidak pantas untuk Atma.
"Kenapa?" tanya Atma dengan wajah bingung.
"Jangan mencintai aku. Cari lah wanita lain" ucap Lia sambil meneteskan air mata.
Atma menghela nafas panjang. "Jangan menangis Lia, aku mohon"
Atma benar - benar tidak sanggup melihat wanita menangis, terlebih yang menangis adalah wanita yang dia cintai.
Atma meraih tangan Lia, tapi Lia menghindarinya...
\=\=\=<>\=\=\=
__ADS_1