
Rintik hujan menambah kesejukan dipagi ini. Atma sudah berada dirumah sakit karena ada jadwal operasi pagi. Dia tak sempat sarapan dirumah, jadi dia sudah pesan online untuk sarapan paginya. Sambil menikmati sarapan, dia teringat kejadian semalam bersama Lia. Perasaan bersalah kembali memenuhi pikirannya. Tak pernah dipikirkan olehnya, kalau Lia akan menangis. Walau dia tidak mengerti mengapa Lia menangis, tapi hatinya merasa tercabik - cabik melihat wanita yang mulai dia sayangi meneteskan air mata.
Dia mencoba menelpon Lia. Hingga panggilan ke 2, tidak ada jawaban dari Lia. Pikiran Atma jadi tambah tak karuan, dia membayangkan kalau Lia marah gara - gara semalam. Atau Lia memang sedang sibuk.
"Huft .... " akhirnya dicoba kembali hingga panggilan ke 4. Dan Lia masih tidak menjawab.
"Aduh. bikin galau aja nie.. Kamu kemana Lia ... " laparnya tiba - tiba lenyap. Dibuka game Free fire untuk melihat apakah Lia online. Ternyata terakhir dia online15 jam yang lalu. Digaruk - garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Moodnya jadi kacau.
Dia berjalan menuju pintu ruang prakteknya, hendak membuka tapi diurungkan . Lalu dia kembali lagi duduk disinggasananya. Tak lama, kembali dia berjalan, lalu duduk lagi. Di perhatikan ponsel yang sejak tadi membuatnya galau.
Jam 8 pagi jadwal operasi pasiennya, Pukul setengah 8 pasien sudah memasuki ruang operasi. Tapi sang dokter malah masih diruang prakteknya. Seorang perawat yang bernama Dewi, yang juga bertugas sebagai asistennya, mengetuk pintu ruangan praktek Atma.
"Dok, jadwal operasi jam 8" ucap perawat itu kepada Atma.
"Hmmm" jawab Atma singkat.
Perawat akhirnya meninggalkan ruangan Atma dengan bingung.
"Dokter Atma tak biasanya seperti itu, biasanya dia selalu bersemangat" pikiran perawat Dewi masih memikirkan sang dokter idola.
Tepat jam 8 pagi, Atma akhirnya metakkan ponsel dilaci meja kerjanya. Dia harus profesional. Ada nyawa yang harus dia selamatkan. Ada janji dan kehormatan yang harus dia junjung tinggi.
"Bismillah" ucap Atma lalu melangkah menuju ruang operasi.
\=\=\=\=\=\=
Jam 9 pagi alarm diponselnya hanya membuat Lia mengubah posisi. mba Yuli yang mendengarnya, langsung menuju kamar Lia.
__ADS_1
"Neng.... Neng Lia... bangun... sudah jam 9" ucap mba Yuli sambil menggerak - gerakkan tubuh Lia.
"hmmm " jawab Lia yang masih malas bangun.
"Ayo bangun neng..... " ucap mba Yuli lagi dan Lia akhirnya membuka matanya.
"Aku lagi males berangkat mba" jawab Lia yang akhirnya memejamkan matanya kembali.
"Eh si neng. kalo gak mau berangkat ya bangun dulu atuh, mandi, sarapan. Baru tidur lagi... Ayo bangun neng" mba Yuli yang tahu betul kebiasaan Lia yang sangat susah untuk bangun pagi akhirnya memaksa Lia untuk bangun.
Lia akhirnya kembali membuka mata sambil menggeliat - geliat.
"Bikinin susu hangat ya mba" ucap Lia kemudian kepada mba Yuli.
"Ya sudah bangun dulu neng" jawab mba Yuli.
"Mba... susu hangat" ucap Lia yang masih mengucek - ngucek matanya.
"Iya neng, sebentar saya bikinin " jawab mba Yuli, lalu beranjak pergi kedapur.
Lia meraih ponselnya. Dan matanya langsung segar saat melihat beberapa panggilan tak terjawab diponselnya.
"Ya ampun, Atma berkali - kali menelpon, ada apa ya? . Lia kemudian menelpon Atma kembali.
Tapi yang ditelpon tidak menjawab panggilannya. Dicoba kembali, tapi tak ada jawaban. Sampai kesal Lia terus menelpon Atma, tapi tetap tak ada jawaban.
" ihhh .. nie orang ditelpon balik malah gak diangkat - angkat. sebeeel"
__ADS_1
Ponsel dilempar diatas kasurnya. Dia pun merebahkan lagi tubuhnya. Lalu diraihnya kembali ponselnya.
"huft "
Tak lama mba Yuli membawakan susu hangat pesanan Lia.
"Nie susu nya neng" Lia tak menggubris kata - kata mba Yuli, Tapi dia langsung duduk dan bertanya kepada mba Yuli.
"Mba.. Dia nelpon aku sampe 4x. Aku telpon balik malah tak diangkat - angkat, bahkan sudah 10x aku telpon dia, tapi tak diangkat juga. Kan nyebelin banget " ucap Lia sambil menunjuk - nunjuk ponselnya.
"Dia siapa neng?" mba Yuli balik bertanya.
"Hmmm ... dia itu.... " belum selesai Lia membahas Atma, ponselnya berdering.
Ternyata Anton yang menghubunginya.
"Ya Ton" jawab Lia.
"Bisa ketemu gak Li? jawab Anton dengan pertanyaan.
"Besok aja ya Ton, hari ini aku lagi gak enak badan" jawab Lia malas.
"Kamu sakit? aku kerumah ya?" tanya Anton kemudian.
"Ah gak Ton, cuma kecapean aja, mau istirahat" jawab Lia.
Akhirnya mereka membahas masalah pernikahan Anton dan Serena. Tak terasa hampir 1 jam mereka berbicara ditelpon. Sedangkan Atma sudah selesai operasi dan saat melihat panggilan Lia yang berkali - kali, dia langsung menghubungi Lia kembali. Tetapi panggilan sibuk. Kembali dia coba, masih tetap sibuk. Atma menjadi tak bersemangat. Direbahkan kepalanya diatas meja. Pikirannya tak karuan, cuma 1 wajah yang mengganggunya pagi ini. Yaitu wajah yang telah mengambil hatinya, Aulia Viandra.
__ADS_1
\=\=\=\=<>\=\=\=\=