
Rintik hujan membasahi hampir diseluruh wilayah ibukota. Dan beberapa wilayah terendam banjir. Bahkan wilayah - wilayah elite juga tak lepas dari genangan air.
Tepat pukul 8 pagi, Atma telah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tempat dimana dia bekerja. Tapi ada keraguan dihatinya.
"Kalau malas, minta izin gak masuk aja nak" bunda menghampiri Atma yang tengah duduk di halaman rumah.
"Iya bunda. Tapi bingung juga bun kalau gak masuk, takutnya aku dibutuhkan saat - saat seperti ini" jawab Atma lalu meneguk teh yang sedari tadi ada di hadapannya.
"Ya sudah, apa yang terbaik menurut kamu aja sayang" lanjut bunda sambil duduk disamping Atma.
Bunda Atma memang wanita yang penuh kasih sayang. Beliau lembut tapi tegas. Tidak ragu atas apa yang sudah dia putuskan. Sifat bunda banyak menurun ke Eva. Berbeda sekali dengan Atma. Atma termasuk laki - laki yang banyak keraguan. Apa yang sudah dia pikirkan, kadang masih harus dia pikirkan kembali. Tapi saat keputusan itu dibuat, dia akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia putuskan. Sifat dasarnya Atma itu cuek, tidak mudah untuk dekat dengan orang yang baru dia kenal. Tidak mudah percaya dengan orang lain. Tapi saat menjadi dokter, semua harus bisa dia rubah. Dia harus bisa dekat dengan pasien yang jelas baru dikenalnya. Dia juga harus penuh perhatian terhadap pasien - pasiennya. Maka lambat laun, profesi mengubah hampir semua sifat aslinya.
Atma sangat menyukai profesinya ini. Karena banyak sekali peluang yang bisa dia raih, banyak perubahan baik yang dia miliki, dan yang terpenting, profesi ini dicapai tidak dengan kemudahan. Harus banyak keringat ayah dan bunda untuk membiayai kuliahnya. Banyak waktu dan tenaga yang dia pakai untuk meraihnya. Atma sering bergadang hanya untuk belajar. Hari - harinya dia pakai lebih banyak untuk belajar. Buku - buku kedokteran itu sangat tebal dengan perpaduan bahasa indonesia, latin dan inggris. Bahkan untuk mendiagnosa sebuah penyakit, itu tidaklah mudah. Seperti layaknya seorang montir yang sedang memperbaiki kendaraan. Harus mendiagnosa dengan tepat agar mobil kembali bisa berjalan. Begitu dengan dokter. Dokter harus mendiagnosa penyakit dengan benar. Bedanya, kalau kendaraan jika tidak bisa diperbaiki, bisa di daur ulang. Tapi tidak dengan manusia. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal dan bisa berakibat kematian. Jadi sangat tidak mudah menjalani profesi seorang dokter. Tapi Atma sangatlah bangga dengan profesinya. Bahkan baginya, profesinya adalah kehormatannya.
"Aku berangkat ya bun" Atma pamit kepada bunda yang saat ini sedang bersih - bersih meja makan.
"Iya sayang, hati - hati ya. Jangan ngebut - ngebut" pesan bunda yang setiap hari Atma dengar.
"Iya bunda" bibirnya lalu menyentuh punggung tangan lelah sang bunda. Lalu ciuman hangat juga mendarat dikening bunda. Hal ini yang setiap hari Atma lakukan saat hendak keluar rumah.
\=\=\=\=\=\=
Atma pov
__ADS_1
Jalanan penuh dengan genangan air. Aku sangat kesulitan untuk bisa sampai ke rumah sakit. Beberapa kali aku harus terjebak dengan jalanan yang tidak bisa aku lewati. Sangat melelahkan.
"Jangan keluar rumah dulu sayang, jalanan banyak yang tidak bisa dilewati" sebuah pesan kukirimkan kepada kekasihku. Aku berharap hari ini dia tidak berangkat ke kantornya.
"Kamu dimana sayang?" sebuah jawaban sekaligus pertanyaan aku terima.
"Masih dijalan sayang. Terjebak banjir" jawabku apa adanya.
Sebuah nada kekhawatiran kudapati saat Lia menghubungiku. Aku berusaha meyakinkannya kalau aku baik - baik saja.
"Kamu kenapa harus berangkat sih? tanya dia kemudian.
"Sayang... justru disaat bencana seperti ini, dokter seperti aku ini sangat dibutuhkan. Aku janji akan baik - baik saja. Kamu tidak usah khawatir ya" kucoba membuatnya mengerti dan berusaha meyakinkan kembali.
"Pasti sayang, I love you" ucapku penuh cinta.
Sebuah balasan I love you aku terima. Ah, rasanya aku kembali bersemangat karena dia.
Saat ku menerobos jalan yang lumayan tinggi genangan airnya, mobilku mati. Dan sudah tidak mau distater lagi. Jadi aku putuskan untuk meninggalkannya dan ku panggilkan montir dari bengkel langganan. Aku juga memutuskan akan tetap berangkat ke rumah sakit dengan ojek motor.
Mengunakan ojek motor lebih efisien. Selain bisa memilih jalan, bisa juga masuk - masuk lewat jalan tikus atau jalan alternatif.
3 jam lebih perjalananku kali ini hingga sampai diloby rumah sakit. Tempatku bekerja ini memang dibangun lebih tinggi. Jadi hanya parkiran baseman saja yang tergenang banjir.
__ADS_1
Suasana berbeda sangat terlihat hari ini. Sudah banyak pasien yang berada di lobby. Unit gawat darurat pun terasa padat.
"Dok, Tadi ketua rumah sakit pesan, kalau dokter Atma datang, disuruh menghadap beliau" Suster Dewi yang juga menjadi asistenku menghampiri.
Ternyata dari tadi suster Dewi ada di unit Gawat Darurat. Dia sedang membantu beberapa pasien, karena kekurangan tenaga medis disana.
"Makasih sus" ucapku pada suster Dewi lalu dengan cepat melangkah menuju ruangan ketua rumah sakit yang berada di lantai 3.
Setelah pintu ruangan ku ketuk , lalu ada perintah untuk masuk. Maka aku segera memasuki ruangan yang cukup luas ini.
Kulihat ketua rumah sakit sedang sibuk menelpon. Dia melambaikan tangan kepadaku yang aku terjemahkan sebagai isyarat untuk menunggu. Tak berselang lama, ketua rumah sakit menutup pembicaraan telponnya.
"Silahkan duduk dokter Atma" Ketua rumah sakit mempersilahkan aku untuk duduk.
"Begini dokter, bencana banjir ini sudah masuk kategori darurat. Hampir seluruh ibukota dan sekitarnya sudah tergenang air. Disinilah dokter seperti kita ini dan perawat kesehatan sangat dibutuhkan. Saya ingin dokter Atma membentuk tim untuk mengantisipasi penanggulangan bencana banjir ini, pastinya dalam hal menolong korban. Kebutuhan tim medis di rumah sakit kita saat ini kemungkinan masih cukup. Silahkan dokter atur. Tapi dipikirkan juga jika pasien terus bertambah. Bagaimana jika kapasitas rumah sakit kita penuh, dan bagaimana jika tenaga medis disini kurang? Saya ingin kita membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan pertama tanpa pilih kasih. Bagaimana dokter Atma, apa anda terima?" Kepala rumah sakit menjelaskan tugasku dan wewenangku kali ini.
"Baik pak, terima kasih untuk tanggung jawab yang diberikan kepada saya, inshaAllah saya akan jalani dengan baik" ucapku menerima tanggung jawab ini.
Setelah menandatangani surat tugas, maka aku langsung ke UGD. Disana, disalah satu ruangan, aku adakan rapat darurat. Mengatur mekanisme yang menjadi prioritas. Syukurlah, semua rekan - rekan medis selalu kompak dan saling mendukung.
Rapat berlangsung tidak sampai 5 menit. Setelah itu kami langsung menjalani tugas kami masing - masing. Aku ambil bagian di UGD bersama 5 orang dokter lainnya dan 20 orang perawat. Sisanya, berada di lobby. Saat ini fungsi lobby sama dengan UGD. Kami menjadikan lobby sebagai UGD dadakan. Prepair jika pasien terus bertambah. Perawat Dewi yang aku berikan tanggung jawab untuk melaporkan kepadaku apapun yang terjadi di lobby.
\=\=\=<>\=\=\=
__ADS_1