
Rina di periksa oleh doctor.
"Bagaimana dok, keadaan anak saya" kata ibu Rina khawatir.
"Rina hanya demam bu. Setelah minum obat, Dia pasti akan segera sembuh" ucap doctor.
"Baiklah bu. Kalau begitu, saya permisi dulu" kata Doctor.
Ibu rina mengangguk setuju.
Ayah Rina yang sedang berada di luar, bolak balik karena Gelisah.
Doctor membuka pintu dan tersenyum kepada Ayah rina. Melihat doctor keluar, Ayah Rina langsung masuk ke kamar putri kesayangannya itu.
"Bagaimana bu... Rina kenapa? Doctor bilang apa?" Tanya Ayah rina penasaran.
"Rina hanya demam yah.. Tidak ada yang serius kata doctor" ucap ibu rina tenang.
"ALHAMDULILLAH.." Kata Ayah rina seketika.
"Ayah ini gimana sih? Anak lagi sakit, malah ucap Alhamdulillah sih" kata ibu rina marah.
"Bukan begitu bu... Ayah bersyukur, Rina tidak kenapa-napa" kata Ayah rina menjelaskan.
"Kirain ayah senang anaknya sakit" kata ibu rina judes.
"Tapi yah... tadi rina mengigau. Nyebut-nyebut nama Qin-she lagi" kata Ibu rina memberi tahu ayah rina.
"Qin-she kan lagi di asrama bu.. ikut seleksi olimpiade. Jadi beberapa hari kedepan tidak pulang ke rumahnya" kata ayah rina menjelaskan.
"Oh...iya..ya. Qin-she kan lagi tidak ada" kata ibu rina.
"Ah, beritahu Qin-she saja yah... kalau Rina lagi sakit. Sempat Qin-she datang menjenguk Rina" kata Ibu rina memberi solusi.
"Ibu ini gimana sih. Qin-she ke sana untuk belajar. Bukan lagi liburan" kata Ayah tidak setuju.
"Ibu tahu kalau Qin-she ke sana itu untuk belajar" kata ibu rina mengerti.
"Bu, mana diizinkan Qin-she keluar asrama" kata Ayah rina.
"Ayah ini gimana sih. Apa susahnya coba, tinggal kasih tahu Qin-she saja. Telpon kek atau kirim pesanlah begitu" kata ibu Rina.
Ayah Rina yang mendengar omelan istrinya langsung mengambil ponselnya.
"Iyaa.. Aku kasih tau Qin-she dulu yah" kata Ayah rina.
"Gitu dong seharusnya dari tadi" kata ibu rina mulai tenang.
QIN-SHE, RINA DI BAWA KE RUMAH SAKIT SEJAHTERA.
Pesan ayah rina terkirim. Setelah selesai mengirim pesan, ayah rina duduk di sofa. Sementara ibu rina masih duduk di dekat rina sambil memegang tangan rina.
Di asrama, tempat peserta Olimpiade menginap. Qin-she mendapat pesan. Tetapi Qin-she tidak membacanya. Qin-she tetap fokus belajar.
Kebetulan Qin-she satu kamar dengan satu kelasnya sendiri, Lee wan. Lee wan yang sedang berbaring sambil membaca buku, mendengar ponsel Qin-she berbunyi.
"Qin-she, ponselmu berbunyi" kata lee wan.
"Aku tahu" kata Qin-she santai.
"Sempat ada yang penting. Misalkan dari keluargamu" kata lee wan.
"Tidak penting juga" kata Qin-she tenang.
Mendengar ungkapan Qin-she, lee wan tidak mau ikut campur lagi. Lee wan melanjutkan membaca bukunya.
Qin-she melihat ponselnya di atas meja. Penasaran, siapa yang mengirim pesan untuknya.
Qin-she menutup bukunya dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
1 pesan tidak terbaca. Pesan dari ayah Rina.
"Ayah rina?" Pikir Qin-she.
"Ada apa yah... kenapa Ayah rina mengirim pesan" kata Qin-she.
Lee wan yang mendengar nama rina di sebut, mulai mendekati Qin-she.
"Mungkin sesuatu terjadi pada rina" kata lee wan.
Dengan buru-buru, Qin-she mebuka pesan dari ayah rina.
QIN-SHE, RINA DI BAWA KE RUMAH SAKIT SEJAHTERA.
degg.. bagai di sambar petir, jantung Qin-she serasa berhenti berdetak.
"Rina kenapa? Sakit apa? Bagaimana sekarang keadaannya..?" Tanya lee wan panik. Qin-she lebih panik lagi karena Ayah rina tidak mengangkat telponnya.
"Huff... kenapa tidak diangkat juga. Jangan sampai Rina kenapa-napa" guman Qin-she. Hati Qin-she tidak bisa tenang.
"Mau kemana?" Tanya lee wan melihat Qin-she keluar dari kamar.
Lee wan mengikuti Qin-she. Qin-she terus berlari sampai keluar dari asrama. Dilihat ada beberapa orang sedang menjaga pagar asrama.
"Jika kamu ingin pergi dari sini, itu sia-sia. Mereka tidak akan membiarkan kita pergi" kata lee wan.
"Kalau begitu, tidak perlu minta izin" kata Qin-she lalu berlari ke belakang asrama.
Lee wan juga berlari mengikuti Qin-she.
"Pagar disini lebih tinggi daripada pagar di depan" kata lee wan.
"Kita tidak bisa memanjatnya jika terlalu tinggi" kata Qin-she sambil mencari solusi lain.
Tidak beberapa menit kemudia, Qin-she berlari ke samping sambil mengendap-endap. Takut jika penjaga melihatnya.
Beberapa penjaga berhasil di lalui bersama lee wan. Akhirnya Qin-she berhasil sampai di samping pagar.
"Dan yang lebih penting, temboknya tidak terlalu tinggi" kata Qin-she.
"Lalu bagaiman sekarang? Kita tidak mungkin keluar. Tidak ada tangga di sekitar sini" kata lee wan.
"Bantu aku naik" kata Qin-she.
"Baiklah" kata lee wan.
Lee wan membantu Qin-she naik ke pagar tembok.
Akhirnya Qin-she sudah ada di luar.
"Bagaimana denganku sekarang?" Kata lee wan kepada Qin-she.
"Aku tahu, sebaiknya kamu belajar saja di asrama" kata Qin-she lalu pergi.
"Hey, aku juga mau pergi ke rumah sakit melihat keadaan rina" teriak lee wan.
Qin-she sudah pergi jauh. Lee wan benar-benar kesal dengan Qin-she. Qin-she hanya menggunakan dirinya untuk bisa lolos. Lee wan terus memanggil nama Qin-she, sampai membuat penjaga mendengar suarannya.
Tidak beberapa lama, penjaga datang menghampiri lee wan yang berteriak.
"Hey kamu. Kamu sedang apa di sini?" Tanya salah satu penjaga.
Lee wan kaget, sudah ada penjaga di belakangnya.
Lee wan tersenyum.
"Saya sedang stres belajar pak. Jadi saya melampiaskannya ke tembok ini pak. Saya juga bisa memukulnya" kata lee wan sambil memukul tembok itu.
"Benar-benar aneh" kata penjaga sambil menggeleng kepalanya.
__ADS_1
Penjaga lalu pergi meninggalkan lee wan. Lee wan langsung memegang tangannya karena sakit memukul tembok itu.
"Untung saja tidak ketahuan. Aku bisa saja diskualificasi dari tes ini. Kamu harus berterima kasih padaku nanti Qin-she. Aku berhasil menyelamatkanmu" kata lee wan lalu pulang ke kamar asramanya.
Qin-she akhirnya sampai di rumah sakit. Qin-she lalu bertanya pada pihak rumah sakit.
"Permisi, Rina wati yang baru masuk ke sini di rawat di mana?" Kata Qin-she masih belum tenang.
"Tunggu sebentar yaa pak, saya lihat dulu" kata perawat.
"Oh iya pak. Atas nama Rina wati sudah di pindahkan ke kamar 205" kata perawat.
"Makasih" kata Qin-she lalu berlari.
Di dalam kamar, Rina sedang dipaksa makan oleh ibunya. Sementara ayahnya sedang tidur. Pantas saja ayah rina tidak mengangkat telepon dari Qin-she. Ternyata sedang tidur.
"Na, kamu itu gimana sih. Kamu itu butuh asupan gizi jadi harus makan. Kalau begini terus, kamu akan tambah sakit nanti" kata ibu rina.
"Aku sedang tidak nafsu makan mah" kata rina lemah.
Tiba-tiba, pintu kamar langsung di buka. Itu membuat Rina dan ibunya kaget.
Ayah Rina yang sedang tidur langsung bangun.
"Qin-she..." kata Rina.
"Maaf. Aku sedang terburu-buru tadi" kata Qin-she.
Rina mulai tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa Qin-she. Masuklah jangan hanya berdiri di pintu saja" kata ibu rina.
Qin-she melangkah masuk dan menghampiri Rina.
"Saking terburu-burunya kamu bahkan tidak bawa apa pun ke sini" kata ayah rina sambil kembali menutup matanya.
"Sudahlah. Qin-she mungkin kaget mendengar rina sedang sakit" kata ibu rina senang.
"Terima kasih ya Qin-she sudah datang menjenggukku" kata Rina sambil memeluk Qin-she.
Ibu rina yang melihat rina memeluk Qin-she, langsung melepaskan pelukan Rina.
"Maaf yah Qin-she, dia sedikit agak aneh" kata ibu rina malu.
"Iya tante" kata Qin-she tersenyum.
"Kalau boleh tahu, Rina sakit apa tante?" Tanya Qin-she.
"Tidak terlalu serius. Tina hanya demam" kata ibu rina.
"Aku lagi sakit, sakit Rindu" kata Rina gembira.
Qin-she dan ibu rina tertawa.
"Ya sudah kalau begitu cepatlah sembuh" kata Qin-she.
"Kamu sudah mau pulang" kata Rina ketika melihat Qin-she ingin pergi.
"Qin-she mungkin sibuk Na, dia akan mengikuti tes makanya harus punya banyak waktu untuk belajar" kata ibu rina.
"Tapi rina masih kangen" kata rina dengan muka sedih.
"Rina, kamu ini malu-maluin ibu deh" kata ibu rina.
"Kalau begitu tante, saya permisi dulu. Takutnya, nanti dicari teman-teman" kata Qin-she.
"Iyaa.. iya nak" kata ibu rina.
"Cepat sembuh. nanti jika aku kembali, aku akan memberikan hadiah padamu" kata Qin-she penuh senyuman manis.
__ADS_1
Rina jadi semangat. Rina mengangguk tandanya setuju.