
Hari yang di tunggu telah tiba. Hari kelulusan.
Rina dan fita saling berpelukan.
"Rina... aku tidak mau berpisah denganmu" kata fita sedih.
"Aku juga" kata rina.
"Nanti jika kuliah, kita harus saling memberi kabar" kata fita.
"Harus sering ketemu" lanjut rina.
"Kamu daftar kuliah di mana?" Tanya fita.
"Belum tahu juga" kata Rina.
"Aku pasti kangen dengan kamu" kata fita sambil memeluk rina lagi.
Woobin yang baru datang dan melihat rina dan fita berpelukan, langsung memeluk mereka juga.
"Pasti rindu nanti" kata woobin.
Seketika, fita dan rina melepaskan pelukan woobin darinya.
"Ihh... woobin.." kata rina.
"Ini hari terakhir kita bertemu" kata woobin sedih juga.
"Jangan bilang terakhir juga. Kita kan masih bisa reuni nanti" kata fita.
"Itu benar. Aku pasti datang" kata rina.
"Na, kamu tidak boleh berubah ya... aku tetap menjadi sahabatmu kan?" Tanya woobin sambil mengoyangkan tubuh rina.
"Ih.. lepas. sedih boleh, tetapi jangan berlebihan juga" kata rina kesal.
"Laki-laki tapi mau nangis. Lemah...." kata fita meneriaki di telinga woobin.
Woobin langsung menutup telingannya. Suara fita sangat keras.
Lee wan datang.
"Teman.. teman..." kata lee wan sambil berlari ke arah temannya.
"Ini bajuku. Tulis nama kalian di sini" kata lee wan.
Woobin menulisnya, kemudian fita. Saat giliran rina yang menulis namanya, lee wan langsung menghadap kepada rina dan menyuruhnya menulis namanya di depan. Lebih tepatnya di dadanya.
"Kenapa namaku di depan dan yang lain di belakang?" Tanya rina.
" karena aku pernah menyukaimu" kata lee wan.
"Aduh... sakit..." canda woobin.
"Tulislah. Supaya aku bisa dengan mudah melupakanmu. Aku janji" kata lee wan meyakinkan rina.
"Baiklah. Karena kamu sudah berjanji. Aku tidak mau hubunganku dengan Qin-she rusak ka-re-na-mu" kata rina mengancam.
"Tenang bos..." kata lee wan.
"Tenang saja. banyak diluar sana yang lebih baik " canda lee wan.
Qin-she datang dan menghampiri teman-temannya.
"Qin-she...." kata rina sambil memeluk Qin-she.
Semua teman-temannya tercengah dan baper.
"Rina dan Qin-she..." kata teman-temannya.
Banyak yang iri dengan rina.
__ADS_1
Suasana hari kelulusan berjalan lancar. Sepulang sekolah, mereka akan berencana membuat acara perpisahan. Tempatnya di pantai yang sering mereka kunjungi.
Jam pulang tiba. Mereka lalu pergi ke pantai.
Qin-she dan lee wan meletakkan karpet untuk tempat duduk. Woobin pergi membeli snack dan minuman.
Fita dan rina mengatur barang-barang.
Lee wan dan Qin-she lalu duduk diatas karpet. Qin-she duduk di dekat rina dan lee wan duduk di dekat fita. Tidak beberapa lama, woobin datang dan mendorong lee wan. Woobin lalu datang membawa snack dan minuman. Lalu duduk di dekat fita.
"Ini snack dan minumannya" kata woobin.
"Woobin. Kamu lebih cocok jadi tukang penjual snack dan minuman" canda lee wan.
"Apa maksudmu.. aku ingin jadi juru lukis" kata woobin.
"Apa? Juru lukis?" Kaget rina.
"Tidak salah" lanjut lee wan.
"Kenapa? Itu adalah mimpiku" kata woobin.
"Aku akan mendukungmu" kata fita kepada woobin.
"Semangat" lanjut fita.
"Woobin. Lebih baik kamu pikirkan lagi ingin jadi apa" kata Qin-she.
"Mimpiku ingin menjadi ahli lukis. Sejak aku melihat lukisan lee wan, aku jadi punya keyakinan untuk mahir melukis" kata woobin.
"Memangnya kamu sudah mahir melukis? Waktu itu saja lukisanmu biasa-biasa saja" kata rina sambil memakan snack.
"Na, jika iri bilang dong" kata woobin.
Rina kesal, lalu melempar snacknya kepada woobin. Isi snacknya berserakan di mana-mana.
"Na, kalau tidak mau makan jangan di buang dong. Kasihan snacknya" kata woobin.
"Rina... kamu ingin mengambil jurusan apa nanti?" Tanya fita.
"Aku ingin memgambil jurusan tehnik kimia" kata rina.
"Jadi sejak kecil, aku itu suka banget campur-campur larutan. Itu membuat aku jadi ingin jadi ahli kimia" kata rina.
"Bukan campur-campur larutan. Tapi ngotak-atik larutan" kata woobin.
Fita, lee wan dan Qin-she tertawa.
"Qin-she... kamu percayakan sama aku dari pada si pembuat onar woobin" kata rina jengkel.
"Iya..." kata Qin-she.
Rina happy kembali. Karena mendapat pembelaan dari Qin-she.
"Bagaiman denganmu Qin-she? Kamu ingin melanjutkan study di mana?" Tanya lee wan.
"Aku ingin kuliah di jiang dan mengambil jurusan hukum. aku ingin menjadi hakim. aku dengar di jiang sangat bagus untuk jurusan hukum" kata Qin-she.
"Jiang yah... itu khusus untuk orang-orang pinta. Apa aku juga bisa kuliah di sana?" Tanya rina.
"Bisa Na... pasti bisa" kata woobin.
"Benarkah.." kata lee wan.
"Bisa... kalau dalam mimpi" kata woobin.
"qin-she, kuliah di sana tidak masalah bagimu. Kamu kan sering mengikuti seleksi olimpiade dan selalu juara. Jadi wajar jika kamu lulus di sana" kata Fita.
"Itu benar. Ada jalur khusus untukmu. Tapi bagaiman denganku...?" Tanya Rina.
"Kamu pasti bisa jika belajar dan berusaha" kata Qin-she.
__ADS_1
"Huff... pasti sulit" kata rina dengan wajah cemburut.
"Bagaimana denganmu lee wan?" Tanya woobin.
"Aku ingin kuliah di luar negeri dan mengambil jurusan doctor spesialis jantung" kata lee wan.
"Wah... sepertinya itu bagus" kata fita.
"Bagaiman denganmu fita..?" Ucap rina.
"Aku ingin jadi pengajar..." kata fita bersemangat.
"Mimpimu sangat sederhana" kata Qin-she.
"Mimpi di mulai dari hal yang sederhana tetapi hasilnya yang luar biasa" jelas fita.
"Baiklah... kita semua punya mimpi. Di saat mimpi kita terwujud, kita harus kembali ke sini" kata woobin.
"Setuju...." jawab mereka serentak.
Senyum manis mengiringi mimpi mereka. Bisahkah mimpi mereka terwujud? Dan jawabannya ada pada diri mereka sendiri.
Rina dan Qin-she pulang bersama-sama. Qin-she sedang mendorong sepedanya.
"Qin-she... apa kamu yakin, mimpimu akan terwujud?" tanya rina.
"selama kita berusaha" kata Qin-she.
"Apa kamu yakin dengan mimpimu?" tanya rina lagi.
"ada apa denganmu? kenapa kamu gugup" kata Qin-she.
"Aku hanya takut" kata rina.
"takut kenapa?" tanya Qin-she.
"Takut kehilangan kamu" kata rina tersenyum. Qin-she juga ikut tersenyum.
mereka akhirnya sampai di depan rumah rina.
"masuklah" kata Qin-she.
"siap pak komandan" kata rina sambil memberi hormat.
Ayah rina yang kebetulan melihat rina dan Qin-she diluar, benar-benar curiga dengan mereka.
"mereka seperti punya hubungan spesial" pikir ayah rina.
Ayah rina lalu berlari memberi tahu istrinya yang sedang menyetrika pakaian.
"bu... cepat bu... rina dan Qin-she sudah pulang dari sekolah" kata Ayah rina.
ibu rina masih santai menyetrika.
" lalu kenapa?" tanya ibu rina.
"mereka akhir-akhir ini, sering bersama-sama" kata ayah rina.
"lalu kenapa? mereka kan berteman" kata ibu rina.
"ibu tidak melihat, rina sering tersenyum-senyum sendiri. itu tandanya..." kata ayah rina.
belum selesai ayah rina bicara, ibu rina memotong.
"tandanya apa yah.. rina memang seperti itu. apalagi sehabis belajar. pelajarannya tidak masuk jadi stres dia. makanya senyum-senyum sendiri" kata ibu rina.
"tapi bu...." kata ayah rina.
"jangan kebanyakan tapi-tapi. ibu lagi sibuk, memangnya ayah tidak punya pekerjaan selain mengganggu" kata ibu rina.
Ayah rina lalu pergi karena dianggap menganggu.
__ADS_1