
Malam hari, rina mengirim pesan kepada pacarnya.
QIN-SHE KAMU LAGI DIMANA?
pesan masuk dari rina. Qin-she membuka ponselnya dan membalasnya.
ASRAMA
Ponsel rina berdering. Dengan cepat, rina membuka ponselnya dan tersenyum. Rina lalu mengetik pesan untuk Qin-she lagi.
BAGAIMANA KEADAANMU DISANA?
pesan rina sudah terkirim. Bahkan tercentang dua tetapi Qin-she belum membacanya.
"Ada apa dengannya?" Tanya rina.
"Apa dia sekarang mengabaikanku?" Tanya rina lagi.
Rina kesal, Qin-she tak kunjung membalas pesannya. Rina memukul bantalnya berkali-kali.
"Setidaknya balas jika kamu sedang sibuk" kata rina marah-marah sendiri.
"Apa Qin-she tidak merindukanku?" Tanya rina lagi.
Rina kali ini ingin menangis.
"Aku saja sudah rindu berat" ucap rina lirih.
Ponsel rina berdering. Dengan cepat rina mengambil pomselnya dan melihat pesan. Rina mengira jika pesan itu berasal dari Qin-she tetapi bukan.
KAWAN. MALAM INI ADA WAKTU?
pesan dari lee wan. Rina lalu membalasnya dengan kesal.
KENAPA?
ADA APA?
Tidak berapa menit, lee wan membalasnya.
KELUARLAH. AKU ADA DI DEPAN RUMAHMU.
Rina terkejut melihat pesan lee wan. Dengan cepat, rina berlari ke depan rumahnya. Ternyata benar, lee wan sudah ada di sana menunggu. Lee wan menggunakan jaket hitam dan topi. Rina jadi teringat ketika lee wan pertama kali datang ke sekolahnya. Dia memakai topi yang sama yang di pakai lee wan kali ini.
"Ada apa?" Kata rina menghampiri lee wan.
"Aku hanya mengecek keadaanmu saja" kata lee wan.
"Kamu tidak perlu melakukannya. Sudah ada Qin-she" kata rina.
"Itu benar. Tapi bagaimana pun, kamu itu temanku" kata lee wan.
"Sebaiknya kita masuk dulu. Di sini dingin, nanti kamu masuk angin" kata rina.
Lee wan dan rina masuk ke rumah. Lee wan duduk di ruang tamu sementara rina membuatkan lee wan minuman.
Lee wan melihat foto-foto rina yang terpajang. Terdapat foto rina dan Qin-she sewaktu masih kecil.
"Lee.. ayo minum teh dulu" kata rina.
Lee wan yang terkejut, menjatuhkan foto rina dan Qin-she.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja" kata lee wan yang panik.
__ADS_1
"Tidak apa-apa lee. Lagian fotonya tidak pecah"
"Kamu dan Qin-she ternyata sangat dekat dari kecil" kata lee wan.
"Iya sih..." kata rina sedih.
"Kenapa?" Tanya lee wan.
Rina duduk dan menceritakan semua keluh kesannya di hatinya.
"Aku dan Qin-she pacaran. Kamu tahu itukan?" Kata rina.
"Meski pacaran, akhir-akhir ini komunikasi aku dan Qin-she jarang banget. Aku mengerti, dia pasti sibuk" kata rina.
"Tapi aku juga rindu. Sangat rindu" kata rina sedih.
"Kawan. Kapan-kapan, kita keluar bareng. Sekaligus jalan-jalan" kata lee wan.
"Berdua? Kalau berdua, takutnya nanti Qin-she salah paham lagi" kata rina.
"Tenang aja. Ajak woobin, fita dan Qin-she juga" kata lee wan.
"Minggu depan libur. Jadi mereka pasti punya banyak waktu" kata lee wan.
"Baiklah. Biar aku nanti kabari mereka semua" kata rina senang.
"Aku juga bisa bertemu Qin-she nanti" kata rina senang.
Lee wan menyadari jika rina ternyata rindu berat dengan Qin-she. Saat rina dan lee wan berbicara, ponsel rina terus berdering di kamarnya. Qin-she sudah berkali-kali menghubunginya.
Pagi harinya, rina akan melakukan pembelajaran out door atau di luar ruangan. Rina juga mendaftar pembimbingan hingga dia tidak sendiri yang belajar tetapi berkelompok.
Rina sudah selesai berpakaian. Dia langsung menuju ke ruang makan.
"Na, ini bekal untukmu. Jangan lupa untuk makan. Jangan hanya belajar saja" kata ibu rina.
Rina mengambil bekalnya dan berpamitan kepada ibunya.
Lokasi pembelajaran di sebuah gedung yang tidak jauh dari tempat tinggal rina. Jadi rina hanya berjalan kaki saja ke sana sambil membawa beberapa buku.
Pembelajaran berjalan lancar. Rina berjalan pulang ke rumah. Rina singgah di sebuah kursi yang ada di dekat jalanan. Rina memeriksa buku tulisnya dan membaca sedikit materi tadi. Rina terlihat lelah dan sesekali menghela nafas panjang.
"Kenapa, hidupku jadi seperti ini" kata rina.
"Waktu SMA aku membayangkan masa depanku yang indah bersama Qin-she tetapi sekarang jadi begini. Qin-she juga tidak ada di sini" lanjut rina sambil menangis.
"Aku lelah, aku kesulitan, semuanya terasa sulit dan aku hanya sendirian. Menjalani semua ini" kata rina sendirian.
Hujan mulai turun, tetapi rina belum beranjak dari tempat duduknya. Malam ini terasa sangat sulit bagi rina.
Lee wan yang berada di belakang rina jadi ikut mendengar perkataan rina tadi. Lee wan benar-benar merasakan rasa sakit yang sangat mendalam yang di rasakan rina. Betapa sulit rina menjalani semua ini sendirian. Lee wak,.n juga, tidak bisa membantu rina karena yang di butuhkan rina hanyalah Qin-she.
rina lalu berbaring di tempat tidurnya dan mulai merasakan lelahnya hari ini.
pagi harinya, rina tidak bisa bangun. rina merasa sakit di bagian kaki.
"aduh..." keluh rina sambil memegang kakinya.
"bu...." teriak rina.
Tidak beberapa menit, ibu rina datang dengan muka panik.
"kaki rina lagi sakit bu..." kata rina kepada ibunya.
__ADS_1
"ya ampun rina. ada apa dengan kakimu. kenapa bisa begin" kata ibu rina.
"rina mungkin terlalu lelah kemarin bu..." kata rina lembut.
"ibu panggil tukanh urut aja" kata ibu tina.
"iya bu..." kata rina.
tidak beberapa lama, tukang urutnya datang.
Rina lalu di urut. tidak beberapa lama, kaki rina mulai berubah kembali dan tidak sakit lagi jika di gerakkan.
"Rina, lain kali kamu harus hati-hati" kata ibu rina.
"iya bu.." kata rina.
"jangan hanya iya-iya saja. buktikan dong" kata ibu rina.
"ibu juga, jangan hanya marah-marah. ini kaki rina bisa tambah sakit nanti" kata rina.
"ya sudah. ibu ke dapur dulu. kamu jangan keluar rumah jika kakimu masih sakit" kata ibu rina.
Rina lalu berjalan perlahan dan duduk di meja belajarnya.
"Aku harus belajar" kata rina.
"meski sakit" kata rina.
Rina mengambil bukunya dan mulai mebacanya satu per satu.
Tiba-tiba ponsel rina berdering. Rina mendapat telepon dari Qin-she.
"Halo?" kata rina.
"Kamu sedang apa?" tanya Qin-she dalam telepon.
"ini, baru mau belajar" kata rina.
"semangat belajarnya" kata Qin-she.
"kalau kamu sedang apa?" kata rina.
"sedang rindu" kata Qin-she.
"makanya kamu menelponku" kata rina.
"iya" singkat Qin-she.
"Aku juga merindukanmu" kata rina malu-malu.
"benarkah?" tanya Qin-she.
"iyaaaa" jata rina sambil tersenyum.
"sudah makan?" tanya Qin-she.
"belum" kata rina.
"sebaiknya kamu makan dulu baru belajar. supaya kamu bisa fokus belajar" saran Qin-she.
"iya..." kata rina.
"ya sudah. aku harus ke kampus dulu, ada yang perlu aku urus" kata Qin-she.
__ADS_1
"baiklah. sampai jumpa by" kata rina.
secara diam-diam, rina mencium Qin-she. lalu menutup teleponnya. betapa bahagiannya rina mendapat telepon dari pacarnya. dia bahkan senyum-senyum sendiri.