
"Kenapa kamu melemparku sendal?" Tanya Qin-she kepada rina.
"Waduh.. ternyata Qin-she hayalanku bisa bicara juga" kata rina terkejut.
"Stop bercandanya Na" kata Qin-she.
"Dia juga tahu nama panggilanku" kata rina yang masih belum sadar.
Ibu dan ayah rina datang.
"Qin-she?" Kata ayah rina.
"Jadi kamu yang mau memyewa kontrakan tante?" Tanya ibu rina.
"Loh.. ibu dan ayah bisa melihat orang ini? Kenapa bisa, bukannya seharusnya hanya aku yang bisa melihatnya saja" kata rina kepada ibu dan ayahnya.
"Ya jelas. Qin-she kan manusia bukan hantu" kata ibu rina.
"Jadi dia benar Qin-she dong" kata rina terkejut.
Qin-she hanya tersenyum.
"Ya sudah. Na, antar Qin-she ke kamarnya?" Kata ayah rina.
Rina masih terkejut sehingga tidak mendengarkan apa yang di katakan ayahnya.
"Na..?" Kata ibu rina mengagetkan rina.
"Na, kamu dengar yang di katakan ayah?" Kata rina.
"Ada apa yah..?" Tanya rina seketika.
"Tolong, antar Qin-she ke kamarnya" kata ayah rina.
"Kenapa harus aku yah? Kenapa bukan ayah saja?" Kata rina menolak. Rina merasa malu dengan Qin-she. Terlebih apa yang barusan rina lakukan termasuk melempar Qin-she sendal.
"Kamukan yang tidak ada kerjaan. Ayah mau mengantar pesanan dulu" kata ayah rina.
Dengan berat hati, rina melakukan yang di perinta ayahnya.
"Ayo masuk. Biar aku tunjukkan kamarmu" kata rina kepada Qin-she. Rina menutupi rasa malunya dengan bersikap sok jutek.
Qin-she lalu memungut sendal yang di lempar rina tadi dan membawanya. Qin-she mengikuti rina.
Ibu dan ayah rina melanjutkan pekerjaannya.
"Yah.. lihat rina tadi, dia seperti sangat senang ketika Qin-she mau ke sini" kata ibu rina.
"Tetapi saat Qin-she datang, rina berpura-pura tidak mengenalnya" kata ibu rina lagi.
"Rina tidak mau ketahuan" kata ibu rina lagi.
__ADS_1
"Bu.. nanti kita lanjutkan gosipnya. Ayah harus mengantar pesanan dulu. Takutnya nanti pesanannya sudah dingin" kata ayah rina lalu pergi mengantar pesanannya.
"Ih.. ayah diajak bicara kok gitu amat" kata ibu rina.
Rina akhirnya sampai mengantar Qin-she. Rina lalu memperlihatkan kamar Qin-she.
"Nah, ini kamarmu" kata rina sambil membuka pintu kamarnya.
Bukannya melihat-lihat isi kamarnya, Qin-she lali mencari sebuah foto yang dilihatnya di foto. Qin-she ingin memastikan siapa sebenarnya di foto itu. Qin-she mendekati foto yang tertempel di dingding dan melihat jika yang di foto adalah dirinya dan rina.
"Kamu masih menyimpannya?" Tanya Qin-she seketika sambil menyentuh fotonya yang tertempel di dingding.
Rina menoleh ke arah Qin-she dan melihat Qin-she menyentuh fotonya. Dengan cepat, Rina memdorong Qin-she menjauhi foto tersebut kemudian rina melepaskan fotonya.
"Hey.. ini bukan fotomu. Hanya miril saja" kata rina gugup.
"Perasaan, aku tidak mengatakan jika orang yang berada di foto tersebut adalah aku" kata Qin-she.
"Itu bagus. Kamu tidak boleh kepo dengan foto ini karena ini memang bukan kamu" kata rina lalu pergi.
Sebelum pergi, rina menutup pintu kamar Qin-she dengan keras.
"Kenapa dia marah?" Tanya Qin-she.
Qin-she lalu membuka kopernya dan membereskan pakaiannya. Sesekali Qin-she tersenyum.
"Ternyata dia masih menyimpan foto itu" kata Qin-she sambil tersenyum.
"Bukankah dia bilang sebelumnya jika di sudah membakar foto-foku dengannya" kata Qin-she.
"Aduh.. kenapa foto ini bisa di sana" kata rina bicara sendiri.
"Bagaimana jika Qin-she berfikir yang tidak-tidak" kata rina lagi.
"Aku harus pergi menjelaskannya" kata rina lagi.
"Tapi harus bilang apa?" Rina bingung.
"Mana mungkinkan aku mengatakan jika foto ini tertempel sendiri di sana" kata rina lagi.
"Nanti Qin-she malah menertawakan
aku karena tidak bisa move on" kata rina.
"Pokoknya aku harus mengatakan padanya. Aku tidak mau di permalukan lagi olehnya" kata rina tegas.
Rina lalu menuju kamar Qin-she.
"Pintunya tertutup" kata rina dalam hati.
"Apa dia tidur? Dia mungkin lelah" kata rina.
__ADS_1
"Jika aku datang ke sana lalu dia tertidur, dia akan mengangapku pengganggu nanti" kata rina lagi.
"Tetapi aku harus bicara padanya" kata rina lagi.
Lama rina berpikir, rina lalu memutuskan menemui Qin-she. Rina membuka pintu kamar Qin-she perlahan-lahan.
Qin-she sedang duduk di kursi. Melihat pintu kamarnya di buka perlahan-lahan, Qin-she lalu berlari bersembunyi di belakang pintu. Qin-she yakin jika yang membuka pintu adalah rina.
Rina melihat Qin-she tidak ada di kamarnya.
"Kemana anak itu? Cepat banget hilangnya" kata rina.
"Aku kan ingin bicara dengannya" lanjut rina lagi.
Qin-she mendengar semua yang di katakan rina. Rina lalu masuk perlahan ke kamar Qin-she.
"Memangnya apa yang perlu kamu katakan padaku?" Tanya Qin-she.
Rina terkejut mendengar perkataan Qin-she. Karena terkejut, rina hampir menabrak Qin-she yang ada di belakangnya. Rina melihat Qin-she dan ingin menjauh darinya. Tiba-tiba, rina kehilangan keseimbangan dan membuat Qin-she menariknya ke pelukannya. Rina dan Qin-she berpelukan. Mereka saling mematap. Rina lalu melepaskan pelukannya dan mengusap bajunya seolah-olah di baru jatuh dan banyak kotoran yang menempel.
"Bajumu tidak akan kotor" kata Qin-she.
"Tentu saja kotor. Banyak debu yang menempel" kata rina kesal.
"Tingkahmu belum berubah. Diam-diam kamu selalu ingin melihatku" kata Qin-she ingin membuat rina tambah kesal.
"Siapa yang ingin melihatmu, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu" kata rina menjelaskan.
"Ternyata kamu punya banyak alasan untuk menemuiku" kata Qin-she tersenyum.
"Siapa yang mencari alasan, aku hanya ingin menjelaskan kepadamu dengan kejadian tadi" kata rina.
"Aku tahu. Kamu memelukku tadi" kata Qin-she ingin membuat rina tambah kesal.
"Aku tidak memelukmu. Aku tadi hampir jatuh lagian kamu yang duluan menarikku" kata rina.
Qin-she lalu menatap rina seolah-olah ingin mencium rina. Rina mundur perlahan sampai di tembok.
"Hey. Kamu mau apa? Jangan macam-macam denganku. Ini rumahku ingat itu" kata rina mengancam.
Qin-she lalu menempelkan tangannya di dekat rina. Rina terkunci oleh Qin-she. Rina benar-benar deg-degkan dan berpikir jika Qin-she akan memciumnya. Qin-she lalu berbicara di dekat telinga rina.
"Jadi, jika kamu di tarik maka kamu akan memeluknya?" Kata Qin-she.
Qin-she lalu menjauh dari rina. Qin-she duduk di kursinya kembali sambil membaca buku dan menggunakan kecemata. Qin-she terlihat keren.
"Bukan begitu. Ah.. sudahlah aku sekarang membencimu" kata rina kesal.
Qin-she tidak menanggapi perkataan rina. Malah Qin-she fokus membaca. Rina Melihat Qin-she tidak erespon, rina lalu pergi dan membanting pintu Qin-she.
"Jangan lupa, ganti pintunya jika rusak" teriak Qin-she.
__ADS_1
Rina mendengar perkataan Qin-she di luar.
"Mengganti pintu? Pintu-pintu siapa? Memangnya ini milikmu? Jangan mentang-mentang kamu yang menyewa, ini jadi milikmu. Dasar orang yang tidak tahu rasa terima kasih" kata rina marah-marah sendiri.