CINTA DARI KECIL

CINTA DARI KECIL
TINGGAL BERSAMA


__ADS_3

Pagi ini, Qin-she bersiap berangkat kerja. Qin-she berjalan keluar. Saat Qin-she berada Di lantai bawah, Qin-she di sapa oleh ibu rina.


"Qin-she ingin pergi ke mana? Sepertinya acara penting" kata ibu rina yang melihat Qin-she memakai jas.


"Ingin bekerja tante" kata Qin-she ramah.


"Bekerja? Memangnya nak Qin-she bekerja di mana?" Kata ibu rina yang penasaran.


"Di pengadilan" kata Qin-she.


"Qin-she sekarang bekerja di pengadilan?" Tanya ibu rina tidak percaya.


"Iya tante" kata Qin-she.


"Kerja apa di pengadilan?" Tanya ibu rina lagi.


"Hakim" kata Qin-she.


Ibu rina terkejut.


"Hakim?" Kata ibu rina tidak percaya.


"Pantesan pakaiannya sangat rapi sekali. Ternyata hakim ya.." kata ibu rina dalam hati. 


Ibu rina melihat penampilan Qin-she dari atas sampai bawah.


"Tante. Qin-she pamit, mau berangkat kerja" kata Qin-she ramah.


"Ohiya.iya" kata ibu rina.


Ibu rina melamun setelah berbicara dengan Qin-she. Tanpa ibu rina sadari, suaminya datang.


"Ada apa bu?" Kata ayah rina.


"Tadi Ibu bicara dengan Qin-she. Dia ternyata seorang hakim" kata ibu rina menjelaskan.


"Hakim? Qin-she" kata ayah rina sedikit kaget.


"Wah... Qin-she sekarang sukses ya bu" kata ayah rina bangga dengan Qin-she.


"Iya ayah. Ibu jadi teringat rina, seandainya dia mendaftar kuliah pasti sudah sukses juga kayak Qin-she" kata ibu rina.


"Sudahlah bu.. jangan di ungkit-ungkit yang lalu. Rina juga sudah memilih" kata ayah rina.


"Iya.. yah. Semoga saja rina mendapat suami kayak Qin-she nanti. Sukses besar" kata ibu rina.


"Itu urusan rina bu. Bukan kita yang tentukan" kata ayah rina.


"Iya..iya.." kata ibu rina judes dengan suaminya.


Malam hari, Qin-she sedang mengerjakan laporan di kamarnya. Tiba-tiba, perutnya keroncongan. Qin-she laper. Dia lalu turun ke bawah untuk makan.


"Bu.. sudah mau tutup?" Tanya Qin-she ketika melihat ibu dan ayah rina mulai beres-beres.


"Iya.." kata ibu rina.


"Memangnya kenapa?" Tanya ibu rina.


"Kamu mau makan?" Tebak ayah rina.


"Ah tidak. Aku hanya bertanya saja" kata Qin-she tidak mau merepotkan ayah dan ibu rina.


Qin-she tidak ingin membuat mereka repot apalagi, mereka sudah membersihkan tempatnya.


Rina datang.


"Bu.. yah... rina mau keluar latihan" kata rina kepada orang tuannya.

__ADS_1


"Iya..." kata ibu dan ayah rina.


Qin-she jadi berpikir.


"Jika aku ikut rina, mungkin aku bisa membeli makanan. Aku juga sudah laper" pikir Qin-she.


"Rina. Aku ikut yah" kata Qin-she kepada rina.


"Kenapa kamu mau ikut?" Tanya rina.


"Aku hanya ingin jalan-jalan di sekitar sini" kata Qin-she.


"Tidak. Aku tidak mau" kata rina.


"Na, biarkan saja Qin-she ikut. Diakan mau melihat-lihat di sekitar sini" kata ibu rina membela Qin-she.


"Tidak. Aku bilang tidak yah tidak. Suruh ayah saja bu yang mengajak Qin-she jalan-jalan" kata rina dengan suara tinggi.


Ayah rina yang sedang melap meja, terkejut mendengar ucapan rina.


"Kenapa harus ayah?" Tanya ayah rina.


"Ayah tidak bicara apa pun" kata ayah rina.


Rina lalu pergi dan menutup pintu keras-keras. Qin-she mengikuti rina dari belakang. Tetapi rina di jemput mobil oleh temannya. Qin-she tidak bisa mengikuti rina.


Pagi ini, rina ada pertandingan basket. Rina bangun pagi-pagi dan bersiap. Qin-she turun ke bawah untuk makan.


"Tante, saya pesan 1 bakmi" kata  Qin-she kemudian duduk di kursi menunggu pesanannya.


"Iya. Tungga sebentar nak Qin-she" kata ibu rina yang sedang melayani pelanggan lain.


Ibu rina lalu membuatkan bakmi untuk Qin-she. Ibu rina sengaja memberi banyak bakmi kepada Qin-she.


"Wah.. banyak sekali tante, Qin-she hanya memesan satu porsi saja" kata Qin-she.


"Qin-she jadi tidak enak" kata Qin-she.


"Tidak apa-apa" kata ibu rina tersenyum.


Ibu rina lalu pergi dan melayani pelanggan lain.


Tiba-tiba, Rina rina turung ke bawah.


"Bu...hari ini rina bertanding. Ibu bisakan datang dan menonton rina?" Tanya rina.


"Kamu tidak melihat ibu sedang sibuk" kata ibu rina tetap fokus membuat bakmi.


"Tapi aku butuh support dari ibu. Bagaimana dengan ayah? Apa dia bisa?" Kata rina.


"Ayahmu lagi mengantar pesanan, dia juga sibuk" kata ibu rina.


"Lalu siapa yang bisa datang. Pelatih memberika satu tiket untuk satu orang. Ini tiket gratis loh bu.." kata rina memohon.


"Sini biar ibu ambil" kata ibu rina.


Rina sangat senang. Dia mengira jika ibunya akan datang. Tiba-tiba ibu rina memberikan tiket tersebut kepada Qin-she yang sedang memakan bakmie. 


Qin-she sedang makan, tekejut melihat ibu rina meletakkan sebuah kertas di depannya.


"Qin-she, hari ini kamu tidak sibukkan?" Tanya ibu rina.


Qin-she hanya mengangguk.


"Bagaimana jika kamu pergi ke pertandingan basket rina. Hari ini, rina bertanding basket di lapangan" kata ibu rina memohon kepada Qin-she.


Rina yang melihat ibunya memberikan tiket kepada Qin-she jadi marah.

__ADS_1


"Ibu. Ibu ini kenapa sih? Kenapa tiketnya di berikan pada Qin-she" kata rina marah-marah.


"Kenapa? Dari pada mubasir tiketnya, lagian Qin-she juga tidak pergi bekerja. Dia tidak sibuk. Iya kan nak Qin-she?" Tanya ibu rina lagi.


"Iya.. bu. Selesai makan saya siap-siap dulu" kata Qin-she.


"Ah.. terima kasih banyak nak Qin-she" kata ibu rina senang.


Rina benar-benar marah. Melihat rina hanya mematung di depan meja Qin-she, ibu rina menegurnya.


"Sebaiknya kamu segera bersiap-siap sekarang. Katanya mau bertanding basket?" Kata ibu rina.


Rina tidak menjawab perkataan ibunya. Ibu rina meninggalkan rina berduaan dengan Qin-she.


"Hey... sebaiknya kamu tidak perlu datang. Ini membuang-buang waktumu yang berharga itu" kata rina kepada Qin-she.


"Aku hanya ingin melihat kekalahanmu saja" kata Qin-she.


"Apa? Kalah? Sayang banget deh. Aku akan menang" kata rina percaya diri.


"Entahlah, nanti kita lihat" kata Qin-she.


Qin-she lalu pergi bersiap-siap meninggalkan rina.


"Lihat saja nanti, aku akan usahakan menang" teriak rina kepada Qin-she.


Ibu mendengar teriakan rina.


"Rina.... jangan menganggu di sini. Sana siap-siap" teriak ibu rina.


Rina jadi terkejut memdengar ibunya berteriak.


Qin-she dan rina sudah berada di lapangan. Qin-she duduk di kursi penonton. Sementara rina sedang bersiap-siap untuk pertandingannya.


Team rina lalu muncul dan akan memulai pertandingan.


"Kita harus usahakan menang" kata rina kepada teamnya.


"Siap kapten" kata team rina.


"Termasuk kamu Tasya. Harus bermain profesional. Jangan mau kalah sama team lawan" kata rina kepada tasya.


"Kenapa sekarang kamu jadi cerewet?" Tanya tasya.


"Aku tidak cerewet. Aku hanya memberitahu saja" kata rina.


"Jangan bilang kamu mau kalah dengan orang selingkuhan mantan pacarmu?" Kata rina ingin membuat tasya kesal.


"Dengar-dengar, dia salah satu team lawan" kata rina lagi.


"Aduh.. tasya. Parah banget. Kamu harus kasih perhitungan sama dia. Kalau perlu dorong dia nanti" timpah Ikki.


"Aduh.. jangan di dorong juga kali. Nanti kita dapat kartu merah. Ikki kalau kasih saran jangan berlebihan juga" kata rina.


"Siap kapten" kata ikki.


Ikki dan tasya adalah teman team basket rina. Bukan hanya teman team basket saja, ikki dan tasya satu komplek dengan rumah rina. Jadi mereka tetanggan juga.


Pertandingan basket di mulai. Rina dan teamnya memenangkan pertandingan tersebut.


Rina lalu melirik ke arah Qin-she tetapi Qin-she tidak ada di kursi penonton.


"Anak itu kamana?" Kata rina sambil terus mencari keberadaan Qin-she di kursi penonton.


"Siapa yang kamu cari?" Tanya tasya yang melihat rina seperti sedang mencari seseorang di kursi penonton.


"Tidak kok tidak penting" kata rina.

__ADS_1


"Anak itu menghilang kemana? Apa dia pulang? Itu berarti dia tidak melihatku menang? Apa dia sudah yakin jika aku akan menang makanya kabur" kata rina dalam hati.


__ADS_2