
"kenapa aku harus bertemu dengannya di sini" Guman Rina.
Rina berjalan di belakang Qin-she. Mereka ingin menikmati berbagai wahana bersama-sama.
"Kamu ingin menaiki apa? Bianglala" Tanya Qin-she.
"Terserah" Kata Rina jutek.
"Tidak ada wahana Terserah di sini"
"Terserah"
"kalau begitu, pulang saja" kata Qin-she.
"Aku tidak mau pulang" kata Rina.
"lalu mau apa? katanya tadi terserah"
"Naik bianglala saja"
"Gitu dong" kata Qin-she.
Qin-she dan rina menaiki bianglala bersama. Rina terlihat ketakutan. ini pertama kalinya dia naik bianglala.
"untung saja ada aku. kalau tidak, Bisa-bisa kamu pingsan" kata Qin-she kepada rina.
"Aku tidak mungkin pingsan. Lagian aku tidak ketakutan" kata Rina berusaha terlihat baik-baik saja.
"Aku tidak katakan kamu ketakutan" kata Qin-she.
"lalu apa maksudmu? kenapa kamu mengatakan seperti itu?" Tanya Rina.
"kamu seolah-olah mengejekku" Lanjut Rina.
"Tidak mengejek" kata Qin-she.
"kalau kamu takut, duduklah di dekatku. Biar ada sandaran" Kata Qin-she.
"Tidak perlu" Kata Rina.
Bianglala perlahan mulai bergerak. Rina tambah takut. Spontan, Rina memegang tangan Qin-she yang duduk di depannya. Qin-she merasa senang, dia langsung meggenggam tangan Rina.
"Aku hanya terkejut saja" kata Rina.
"Aku tahu" kata Qin-she.
"Jangan mengira jika aku ketakutan. setinggi apa-pun, aku pasti tidak takut" kata Rina percaya diri.
Qin-she fokus melihat ke arah luar jendela. Rina melihat ke bawah. kaki rina bergetar, semakin melihat ke bawah semakin takut dirinya.
"Jangan melihat ke bawah. Lihatlah ke depan" Kata Qin-she sambil memegang wajah rina.
Rina menatap Qin-she, Rina merasa malu hingga wajahnya memerah. Dengan cepat, Rina memalingkan wajahnya. Bukan hanya rina, Qin-she juga merasakan apa yang di rasakan rina.
Akhirnya bianglala berhenti. Mereka berdua turun.
__ADS_1
"kita kemana lagi?" Tanya Qin-she.
"kenapa sekarang kamu tambah cerewet? Dulu sangat dingin dan super cuek" kata Rina sambil berjalan.
"Aku memang seperti ini denganmu" kata Qin-she.
"Oh. jadi dulu, aku saja yang tidak sadar denganmu" kata Rina.
"Aku pikir kamu sangat mempedulikanku. sepertinya dugaanku salah" kata Qin-she.
"Baguslah jika kamu sadar. Aku memang tidak menyukaimu lagi, sepertinya aku salah menyukai seseorang dulu" Kata Rina.
Entah, hati Qin-she tiba-tiba terasa sesak mendengar perkataan rina. Kecewa, jelas. sementara rina, merasa bersalah dengan Qin-she. Apalagi setelah rina mengatakannya, Qin-she pergi tanpa mengatakan apa pun. Rina mengutuk dirinya sendiri. Rina hanya diam sambil duduk di taman.
"Kenapa mesti aku mengatakan seperti itu" kata Rina kesal.
"Qin-she pasti benar-benar tersinggung" kata Rina lagi.
"Sekarang apa? Apa aku harus minta maaf dengan Qin-she" Tanya rina pada dirinya sendiri.
"Tapi aku tidak tahu, Qin-she pergi ke mana" kata Rina.
Diam-diam Qin-she mendengar semua perkataan rina. Hati Qin-she merasa lega. Ternyata, apa yang di katakan rina tidak benar. Sebenarnya, Qin-she pergi karena ingin membeli permen kapas. Dia ingin mengantikan permen kapas Rina yang dia makan tadi.
Qin-she menghampiri rina dan menyerahkan permen kapasnya. Rina terkejut, tiba-tiba dirinya di berikan permen kapas.
"Apa ini?" Tanya rina heran.
"permen kapas" jawab Qin-she.
"Untukku?" Tanya rina lagi.
Rina mengambilnya.
"Itu sogokan" kata Qin-she.
Rina berhenti memakan permen kapasnya.
"Sogokan, Maksudnya?" Tanya rina mulai panik.
"Sogokan biar aku bisa duduk di dekatmu" kata qin-she.
Rina bergeser ke kiri dan membiarkan Qin-she duduk di dekatnya.
"kirain sogokan apa" Kata Rina.
"Kamu tidak ingin mengatakan apa pun padaku?" Tanya Qin-she.
mendengar perkataan Qin-she, Rina terdiam.
"Apa maksudnya? Apa Qin-she mendengar pembicaraanku tadi?" Guman rina.
"oh itu..." kata Rina.
Qin-she berharap jika rina meminta maaf padanya dan menjelaskan jika yang dikatakannya tadi tidak seperti dugaan Qin-she.
__ADS_1
"itu...Aku ingin bertanya. kamuenginap di mana?" Tanya rina.
"Hanya itu?" Tanya Qin-she.
Rina mengangguk sambil menikmati permen kapasnya.
"Tidak ada yang lebih penting?" kata Qin-she.
"Aku tidak ingin membahas masalah pribadi. itukan privasimu" kata Rina.
"Sejak kapan kamu ingin tahu masalah pribadiku?" Tanya Qin-she memancing pembicaraan rina.
Rina hanya diam tidak ingin peduli dengan Qin-she.
"Kamu tahu tidak? Alasan kenapa aku kembali" Tanya Qin-she.
Rina mulai serius mendengarkan perkataan Qin-she.
"Aku ingin tetap bersama dengan orang yang sangat aku sayangi" Kata Qin-she.
"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya seperti waktu dulu, Di mana kita sering bersama, bercanda, dan tertawa bersama" kata Qin-she lagi.
Rina mengerti, siapa orang yang di maksud Qin-she. itu adalah dirinya.
"Saat di luar negeri, setiap hari aku selalu memikirkannya. Betapa sangat membosan setiap hari tidak ada kabar darinya"
"Yang ku lakukan hanyalah belajar agar aku bisa selesai secepat mungkin dan bisa bertemu dengannya lagi"
"Tapi di saat aku kembali, Aku sudah terlambat. Sikapnya dan perilakunya terhadapku sudah sangat berbeda" kata Qin-she sesekali melirik ke arah Rina.
Qin-she berharap rina mendengarnya dan bisa mengerti. Qin-she ingin jika rina seperti dulu lagi. Perhatian, peduli dan selalu ada bersama Qin-she.
"Aku merindukan perhatiannya, kasih sayangnya, cerewetnya, dan sangat peduli padaku" kata Qin-she mencurahkan semua isi hatinya.
...****************...
Malam harinya, Di hotel. Rina tidak bisa tidur memikirkan perkataan Qin-she. Rina melihat, tatapan Qin-she seolah-olah dia tidak berbohong.
"Apa benar seperti itu, dia kembali hanya untuk diriku" Guman rina.
"Tidak mungkin. Di saat aku mengatakan putus, dia bahkan tidak datang menemuiku atau mencariku. Membalas saja tidak" kata rina.
"Apa dia sekarang menyesal telah meninggalkan aku?" Tanya Rina.
Rina tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan perkataan Qin-she.
"kenapa dia membuatku jadi seperti ini" kata Rina.
"kenapa aku merasa kasihan padanya"
"Apa ketika berada di luar negeri, dia tidak baik-baik saja seperti apa yang aku pikirkan?" Tanya Rina.
Rina bangun dari tempat tidur dan duduk di sofa. Rina menatap layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan 00:45 tetapi rina belum mengantuk juga. Rina membuka ponselnya dan ingin mencoba mengirim pesan ke Qin-she. Dia membuka blokir nomor Qin-she. Tetapi tekatnya terhenti karena sudah larut malam.
"Qin-she pasti sudah tidur. Dia juga tidak akan mebacanya" kata Rina.
__ADS_1
"Sebaiknya bezok saja" lanjut rina.
Entah sampai kapan rina terjaga, tetapi dia akhirnya tertidur di sofa dengan memegang ponselnya.