
Rina pulang ke rumah bersama Qin-she. Liburannya sudah usai.
"Loh, kalian pulang bareng?" Tanya ibu rina yang melihat anaknya pulang bersama Qin-she.
"Iya tante, kebetulan kami ketemu saat liburan. Jadi kami janjian pulang bareng" kata Qin-she sambil memegang kopernya.
"Saya ke atas dulu tante" lanjutnya.
"Oh iyaiya, selamat istirahat" kata ibu rina tersenyum.
"bu, rina ke atas juga. mau istirahat" kata rina sambil menarik kopernya tetapi terhenti katena dihalangi oleh ibunya.
"Duduk dulu, ceritaan liburan kamu sama Qin-she"
"Kenapa sih bu, Rina capek butuh istirahat"
"Aduh rina, ibu penasaran. Kok bisa kalian liburan di tempat yang sama? jangan-jangan kalian janjian yah?" Tanya ibu rina mengintrogasi anaknya.
"Tidak bu, tiba-tiba saja dia datang entah dari mana" kata Rina dengan wajah kesal.
"Tapi ibu senang, sewaktu liburan ada Qin-she yang jaga kamu"
"ibu yang suruh Qin-she?"
"Tidak. Tetapi waktu itu, dia bertanya kamu sedang liburan ke mana? ibu yakin, dia akan menyusulmu. Dugaanku benar"
"Ah sudahlah, aku capek" kata rina sambil pergi meninggalkan ibunya yang terlihat senang melihatnya bersama Qin-she tadi.
"Aku tidak sabar, punya menantu hakim. Bisa dibanggai nanti ke teman-teman" kata ibu rina sambil tersenyum tidak menyadari kehadiran suaminya.
"Menantu hakim, maksud ibu siapa?" Tanya ayah rina yang baru datang dengan melihat istrinya senyum sendiri.
"Ah, ayah ganggu ibu saja. Sudahlah, ibu mau kedapur" katanya sambil berlalu pergi kedapur meninggalkan suaminya yang masih penasaran.
*****
Kini bintang mulai menampakkan cahayanya bersama rembulan yang bersinar terang.
Dreet....Dreet....Dreet....
Ponsel Rina berdering. itu dari Qin-she.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku ada di taman dekat rumahmu. Datanglah, aku menunggumu" kata Qin she dalam telepon.
"Tetapi ak-" Belum selesai Rina bicara, Qin-she menutup teleponnya.
"*Dia memang bodoh, menungguku di taman hujan seperti ini" guman rina sambil melihat ke luar jendela.
"Aku datang atau tidak? tidak usah deh, biar saja Qin-she menunggu. Dia juga pernah membuatku menunggu kehujanan*"
Rina memilih berbaring sambil memejamkan matanya. Dia tidak bisa tidur, hanya mengganti posisi berkali-kali. Rina gelisah memikirkan Qin-she yang menunggu ditaman sambil kehujanan.
"Jahat banget aku, kalau tidak datang. Gimana kalau Qin-she sakit?"
Dengan cepat, Rina berlari ke taman yang dikatakan Qin-she.
Dia melihat dari kejauhan, Qin-she duduk sambil kehujanan sendirian. Rina datang dengan basah kuyup.
"Qin-she"
Qin-she bangkit dan melihat orang yang dia sayangi berada di depannya. Dengan cepat, dia memeluknya.
"Aku yakin kamu pasti datang"
Air mata Qin-she turun tanpa di sadari, dia terharu akhirnya setelah sekian lama, dia bisa memeluk rina.
"Ada apa?" Tanya rina yang melihat Qin-she di depannya.
"Rina, aku tahu kina pernah mengalami hal yang sulit bersama-sama. Aku tahu kamu menyukaiku sejak kecil. Aku juga menyukaimu, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Diam-diam aku sering memperhatikanmu sejak kita SMA. kamu begitu dekat dengan woobin, membuat aku tidak senang melihatnya. Aku terlihat dingin dan sering mengabaikanmu, tetapi sebenarnya aku sangat senang, dirimu memberi perhatian padaku"
"Aku mulai menyadari perasaanku, ketika lee wan mengatakan jika dirinya menyukaimu. Aku sangat marah waktu itu, aku tidak terima. Aku bersikap cuek dan melampiaskannya padamu. Apalagi ketika kamu bertengkar dengan windi, sebenarnya aku berada di pihakmu waktu itu"
"Rina, selama ini aku menjauhi semua perempuan selain dirimu. Ketika windi memberiku makanan, aku menolaknya karena aku tahu kamu cemburu. Percayalah padaku, aku memutuskan pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tetapi untuk masa depan kita. Bahkan ketika kamu datang ke kampusku, aku tidak tahu. Bukan aku yang membalas pesanmu waktu itu. Temanku yang membalasnya ketika kamu minta putus. Dia berusaha mencarimu dan memperbaiki kesalahnnya tetapi tidak menemukanmu"
"Selama aku kuliah di luar negeri, aku hanya terus belajar tanpa ingin berteman dengan siapapun. Yang ada di pikiranku saat itu, hanya kamu. Aku khawatir jika ada orang yang akan mengantikan aku di posisiku. Makanya aku menyelesaikan cepat studyku dan pulang ke indonesia. Aku mencarimu, ketika kamu tidak berada di rumah yang dulu. Aku menelpon ibuku untuk mencari informasi. Aku minta maaf, dia saat kamu mengalami kesulitan, aku tidak ada. Tetapi kali ini, aku janji akan berada di sisimu sampai nanti"
"Maukah kamu menjadi pasangan hidupku sampai maut yang memisahkan?" Qin-she menyodorkan cincin kepada Rina.
Rina terharu mendengar semua penjelasan Qin-she. Rina tahu betul, seperti apa Qin-she. Qin-she hanya terbuka padanya selama ini.
"Kamu melamarku?"
"Kamu mau kan?"
"Di hujan seperti ini, kamu bahkan tidak romantis sekali" Kata Rina menunjukkan wajah kesal.
__ADS_1
Seketika, balon-balon bertebaran. Sebuah jata yang beda-beda tertulis dalam balon. Kata terima, yes, love.
"Hujan akan menjadi saksi, cintaku sangat sulit untuk di katakan. Tetapi balon ini, membuatku tetap kuat untuk mengejarnya kemana pun dia pergi"
"Bagaimana jika aku menolakmu?"
"Aku yakin, kamu akan menerimaku. Aku tahu, kamu masih punya perasaan padaku. Kamu bahkan menolak woobin hanya untukku. Iyakan?"
"Aku tidak menyukaimu. Kamu sudah membuatku terluka?" Kata Rina sambil menangis. Dia teringat bagaimana hidupnya yang sulit tanpa Qin-she. Dia baru saja putus dan tiba-tiba saja ibunya langsung bangkrut. Rina terpaksa berhenti mengejar cita-citanya. Di saat itu, dia ingin mendapat tempat bersandar tetapi sahabatnya sejak kecil telah pergi meninggalkannya.
"Aku akan menyembuhkan luka di hatimu" kata Qin-she berdiri kemudian memeluk rina.
Tangisan rina semakin kencang, selama ini dia tidak pernah mendapat sandaran setelah di tinggal Qin-she. Sejak kecil, sekecil apapun masalah rina, Qin-she orang yang selalu ada menemani memperbaikinya.
"Aku mau menikah dengamu" kata Rina setelah merasa lebih baik.
"Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan" Tanya Qin-she berpura-pura.
"Aku bilang, aku manerima lamaran kamu. Aku mau menikah dengamu" Teriak rina ditemani hujan yang semakin deras.
"Apa?" Teriak Qin-she lagi sambil tersenyum.
"I Love You Rina"
"I Love You Qin-she"
Mereka berdua tersenyum dan di sambut tepuk tangan dari teman-temannya.
"Kalian?" Rina keget melihat temannya datang.
Ada woobin, fita, windi dan lee wan. Mereka datang mendekati Qin-she dan Rina sambil memegang balon yang bertulis Selamat kamu di terima.
"Qin-she sudah merencanakan ini semua saat kalian sedang liburan" Kata fita sambil tersenyu manis melihat sahabatnya bahagia.
"Kamu tahu rina, Qin-she menelponku tengah malam. Dia ingin aku memberi kejutan dan merencanakan semua ini" kata woo bin dengan bangga.
"Qin-she, kenapa kamu mempercayakan woobim melakukan semua ini? kamu tahu, dia hanya pengacau" kata Rina menatap wajah Qin-she.
"Aku juga tidak tahu, kenapa aku menyuruhnya? hanya dia yang ada di pikiranku saat itu"
"Hey, apa maksudmu? aku yang terbaik dengan urusan cinta. Jika bukan aku, Qin-she pasri sudah kamu tolak"
"Qin-she aku masih ada, kamu bisa percayakan padaku" kata lee wan seketika.
__ADS_1
"Aku tidak percaya padamu, kamu bisa saja mengambil Rina dariku"
Semuanya tertawa bahagia terutama Rina. Dia bahkan tidak ingin melepas gengaman Qin-she.