
Tes masuk ke perguruan tinggi segera di mulai. Kaki rina bergetar. Dia masih ragu bisa lolos di universitas jiang. Setelah memutuskan secara matang, rina fix memilih universitas ini. Qin-she kuliah di sini nanti, itulah alasan kenapa rina ingin memilih universitas ini. Rina tidak ingin jauh-jauh dari Qin-she.
Rina tidak percaya dengan cinta LDR.
Rina takut jika nanti, Qin-she di rebut oleh orang lain yang lebih baik darinya.
Tes berjalan lancar. Rina keluar dari ujian dan melihat Qin-she sudah menunggunya di depan.
"Bagaimana hasilnya...?" Tanya Qin-she.
Rina diam dan tampak cemberut.
"Kamu lolos kan...?" Tanya Qin-she lagi.
"Hasilnya jauh dari yang diharapkan" kata rina sedih.
"Tidak bakalan lolos" lanjut rina yakin.
"Hasilnya belum keluar. Masih ada harapan" kata Qin-she.
"Sudah tidak ada harapan" kata rina dengan suara tinggi.
"Aku tidak mengerjakan soal biar satupun. Soalnya benar-benar susah" kata rina sedih.
"Lalu sekarang rencanamu...?" Tanya Qin-she.
"Aku harus bicara dengan ayah dan ibuku dulu" kata rina.
"Sebenarnya aku ingin mengantarmu pulang hanya saja masih ada yang perlu aku urus" kata Qin-she melihat rina berjalan.
"Tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri" lanjut rina.
Rina pulang ke rumahnya.
"Aku sudah pulang" kata rina.
"Rina...Rina... bagaiman tesnya?" Tanya ayah rina.
Rina hanya menghela nafas.
"Lihatlah, ibumu sudah menyiapkan kejutan untukmu. Perlengkapan untuk kuliah di jiang. Ada juga makanan" kata ayah rina semangat.
"Rina tidak lolos" kata rina sambil duduk di sofa.
Ibu rina yang berada di dapur langsung ke ruang tamu ketika mendengar perkataan rina.
"Apa?" Kaget ibu rina.
"Ri-na tidak lo-los" ucap rina jelas.
Ibu rina marah. Dia memukul meja yang ada di depannya dan membuat ayah serta rina kaget.
"Ibu susah payah membuat ini semua... dari pagi sampai sekarang, ibu bahkan tidak pernah istirahat rina.... hanya ingin menyambut kamu saja... kenapa kamu kecewakan ibu...." kata ibu rina.
"Bu..., sabar. Lagian hasilnya belum keluarkan. Masih ada kemungkinan rina lolos" kata ayah menenangkan ibu rina.
__ADS_1
"Tapi aku yakin tidak akan lolos" kata rina.
Ibu rina yang tadi sudah merasa tenang, kini emosinya naik lagi.
"Kenapa kamu bisa yakin? Kemarin-kemarin, kamu yakin bisa lolos di universitas itu" kata ibu rina.
"Rina tidak bisa menjawab semua soalnya biarpun satu nomor" kata rina jujur.
"Sudah ibu bilang dari kemarin. Universitas itu hanya untuk orang-orang pintar seperti Qin-she. Tapi lihat, kamu sok pintar jadi beginikan" kata ibu rina marah-marah.
"Bu... sudahlah. Kasihan rina baru pulang sudah di marahi" kata ayah rina.
"Kenapa kasihan yah.... dia ini.... Ah, lalu sekarang bagaimana na. Jawab ibu, jangan hanya menunduk saja" kata ibu rina masih marah.
"Bu....Yah....apa sebaiknya rina menunggu tahun depan. Rina janji akan belajar dengan giat satu tahun lagi" kata rina menangis.
"Dari kemarin-kemarin, seharusnya kamu belajar yang serius jadi tidak perlu menunggu lagi" kata ibu rina.
"Sebaiknya kamu kuliah di universitas lain saja!" Perintah ibu.
"Tapi rina tidak mau bu... rina maunya universitas jiang" tegas rina.
"Kamu ini keras kepala banget sih... sudah di bilangin. Memangnya tahun depan bisa lolos? Belum tentukan" kata ibu rina.
"Bu... setidaknya kita kasih rina kesempatan untuk memilih. Diakan yang nanti menjalaninya, bukan ibu..." kata ayah rina membela.
"Ibu seperti ini itu demi kebaikannya rina sendiri. Bukan ibu saja" kata ibu rina.
"Sudahlah. Kalian semua sama saja" kata ibu rina lalu pergi.
"Terima kasih ya yah... sudah mau mengerti rina" kata rina.
"Iya...iya nak" kata ayah rina.
Di kamar, rina mengumpulkan semua buku-bukunya. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Beberapa rina memeriksa juga hasil ulangannya waktu masih sekolah.
"Mendapatkan nilai seperti ini saja waktu itu aku tidak menangis. Tapi kenapa baru sekarang?" Kata rina menangis.
"Qin-she aku benar-benar butuh kamu..." lirih rina.
Saat malam, Qin-she menyiapkan semua pakaiannya di bantu ibunya.
"Qin-she, rina sekarang kuliah di mana?" Tanya ibu Qin-she.
Qin-she baru sadar jika dia belum menemui rina dan memberitahukannya jika dirinya akan segera tinggal di asrama khusus mahasiswa baru.
"Belum tahu bu..." kata Qin-she sambil mengangkat kopernya.
"Kamu tidak tahu dia mendaftar kuliah di universitas mana?" Tanya ibu Qin-she lagi.
"Dia mendaftar di universitas Qin-she bu... tapi sepertinya tidak lolos" kata Qin-she.
"Ada-ada saja rina, masa daftar di universitas kamu. Masuk ke universitas itu, sangat sulit. Bukan hanya memerlukan pengetahuan saja, tetapi skill juga" kata ibu Qin-she.
"Bu... sebaiknya Qin-she menemui rina dulu" kata Qin-she.
__ADS_1
"Iya... sekalian kamu pamit dengannya" kata ibu Qin-she.
Qin-she mengirim pesan kepada rina tetapi tidak di baca rina.
Qin-she lalu menelpon rina. Rina yang sedang tidur terbangun karena ponselnya berdering.
"Halo..." kata rina.
"Keluar sebentar. Aku ada di depan rumahmu" kata Qin-she.
Rina berlalri ke jendela dan melihat Qin-she. Rina lalu turun dan menemui Qin-she.
Rina dan Qin-she berjalan-jalan di sekitar komplex rumahnya.
"Na..., kamu memutuskan untuk kuliah di mana?" Kata Qin-she memulai pembicaraan.
"Aku ingin menunggu tahun depan" kata rina.
"Mau menganggur tahuh ini?" Kata Qin-she.
Rina mengangguk.
"Aku akan tetap memdukungmu apapun keputusanmu" kata Qin-she.
Rina berhenti berjalan dan menghadapkan tubuhnya ke Qin-she.
"Kamu akan janji, menunggu aku tahun depan di universitas jiang" kata rina.
"Aku janji" kata Qin-she.
"Itu berarti kita pacaran berjauhan?" Tanya rina.
"Aku akan lebih sering mengabarimu" kata Qin-she.
Sebenarnya rina sangat khawatir. Bagaimana jika apa yang di katakan Qin-she itu salah. Bagaimana jika Qin-she tidak mempedulikannya lagi. Ada rasa ragu di hatinya tetapi dia dengan mantap yakin kepada Qin-she sepenuhnya.
"Bezok, aku akan pindah ke asrama" kata Qin-she.
Rina hanya diam. Tiba-tiba Qin-she memeluknya. Rina tidak bisa menahan air matanya jatuh. Rina menangis.
Mereka berdua berpelukan di malam yang sunyi. Di mana ada perasaan tidak ingin melepaskannya. Gelap menemani mereka malam itu. di tambah bintang-bintang yang berjatuhan dan rembulan yang bersinar.
Qin-she lalu mengantar rina pulang ke rumahnya.
"Rina..." kata Qin-she seperti tidak ingin melepaskan rina.
Tiba-tiba, Qin-she lalu memeluk rina lagi.
"Aku pasti akan merindukanmu" bisik Qin-she.
"Aku juga..." kata rina.
"masuklah, ini sudah larut malam" kata Qin-she sambil melepaskan pelukannya.
Rina berjalan masuk. Rina menoleh ke arah Qin-she dan melihat Qin-she tersenyum sambil melambaikan tangan.
__ADS_1