CINTA DARI KECIL

CINTA DARI KECIL
PERLAHAN MULAI AKRAB KEMBALI


__ADS_3

Rina lalu pulang ke rumah. Sesampai di rumah, rina bertanya pada ayahnya yang sedang melayani pelanggan.


"Yah.. Qin-she sudah pulang?" Tanya rina kepada ayahnya.


"Iya...baru saja masuk" kata ayah rina.


"Benar-benar sialan. Main pergi saja kayak maling" kata rina.


"Siapa maling?" Tanya ayah rina yang mendengar anaknya mengatakan maling.


"Bu... ada maling" teriak ayah rina pada istrinya.


"Apa?" Tanya ibu rina.


Ibu rina lalu datang dan menghampiri suaminya.


"Di mana maling? Bagaimana bisa bakmie kita ada maling" kata ibu rina panik.


"Tidak ada bu.. maling" kata rina.


"Tadi ayah bilang ada maling?" Tanya ibu rina.


"Rina yang kasih tahu bu.." kata ayah rina membela diri.


"Ayah salah dengar kali. Rina bilang rina mau menonton film maling kundang" kata rina.


"Ah... pasti ayah mendengar kata maling saja tadi..hehehe" kata ayah rina.


Ibu rina lalu memukul suaminya.


"Aduh..bu jangan di pukul juga" kata ayah rina tidak terima di pukul oleh istrinya.


"Lagian ayah.. malah bercanda soal maling. Bagaimana jika nanti ada maling beneran, kan ngeri yah..." kata ibu rina.


"Masa bakmie kita kemalingan" kata ibu rina lagi.


"Maaf-maaf. Ayah kan salah denger" kata atah rina.


"Kalau mendengar itu pake telinga bukan hidung" kata ibu rina lalu kembali ke dapur.


"Iya..memang iya. Mendengar pake telingan bukan hidung" kata ayah rina.


Rina lalu pergi meninggalkan ayahnya. Tetapi sebelum pergi, ayah rina menahannya.


"Tadi kamu menanyakan Qin-she, memangnya ada apa?" Kata ayah rina.


"Tidak apa-apa yah" kata rina.


"Aku mau menemui Qin-she dulu" kata rina lagi.


Rina lalu pergi ke kamar Qin-she. Ingin memastikan jika benar-benar Qin-she sudah pulang. Rina bingung ketika sampai di depan pintu kamar Qin-she.


"Jika aku buka secara perlahan, nanti Qin-she mengira jika aku hanya ingin menemuinya. Nanti dia tambah Percaya diri lagi kayak kemarin" kata rina.


Rina membuka pintu kamar Qin-she dengan membantingnya. Qin-she yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya kaget. Tetapi ketika Qin-she melihat rina yang berdiri di depan pintu, Qin-she jadi fokus mengetik lagi.


"Hey.. suka hilang, kenapa kamu tadi pulang tidak beritahu aku. Aku kan jadi mencari kamu ke mana-mana. Kakiku sakit tau" kata rina mengeluh pada Qin-she.


Qin-she lalu bangkit sambil menyuruh rina duduk di kursi.


"Duduklah" kata Qin-she.


Rina kaget. Mengapa Qin-she menyuruhnya duduk.


"Kenapa aku harus menuruti perintahmu" kata rina.

__ADS_1


"Duduklah" kata Qin-she memberi perintah lagi. 


Qin-she melihat rina tidak bereaksi, Qin-she lalu menarik rina dan memaksa rina duduk. Akhirnya rina duduk. Rina bingung dengan tingkah Qin-she. Qin-she berlutut dan memegang kaki rina.


"Yang mana sakit? Yang kiri atau kanan" tanya Qin-she.


"Apa?" Kata rina kaget.


"Yang kanan" kata rina perlahan.


Qin-she lalu mengurut kaki rina. Sebenarnya, rina hanya berpura-pura jika kakinya sakit. Rina hanya mencari alasan dan ingin membuat Qin-she merasa bersalah. Rina kesal karena di tinggal oleh Qin-she tadi. Qin-she bahkan tidak mengatakan apapun kepadanya saat mau pulang.


"Aku rasa kakimu tidak sakit. Kamu hanya mencari alasan saja biar bisa menemuiku" kata Qin-she setelah memeriksa kaki rina.


"Apa maksudmu. Kakiku memang sakit" kata rina berusaha meyakinkan Qin-she.


"Tapi kenapa kamu tidak merasa kesakitan saat aku memukul atau memutar kakimu?" Tanya Qin-she sambjl memukul kaki rina.


Rina baru sadar, jika Qin-she memukul kakinya. Rina lalu berpura-pura kesakitan.


"Ini baru sakit" kata rina sambil memegang kakinya.


Qin-she sebenarnya mengetahui jika rina hanya mencari alasan.


"Ada apa? Kenapa kamu ke sini?" Tanya Qin-she.


Rina lalu berdiri.


"Hey, kamu itu seperti binatang. Ketika pergi-pergi tidak memberi tahu" kata rina mulai berbicara serius.


"Maksudmu, aku harus memberitahumu jika aku mau pergi ke suatu tempat?" Tanya Qin-she.


"Iya.. aku lelah mencarimu ke mana" kata rina.


" kamu kan bukan pacarku. Lalu kenapa aku harus memberitahumi?" Tanya Qin-she.


"Baiklah. Aku akan melapor padamu jika aku mau kemana-mana" kata Qin-she.


Qin-she lalu ke tempat tidur.


"Apa? Kamu tidak perlu melakukannya. Qin-she aku..." kata rina. Rina menghentikan bicarannya karena Qin-she sudah menutupti matanya.


"Kamu sangat menyebalkan" kata rina.


Rina lalu keluar dari kamar Qin-she.


Pagi hari, rina membantu ayah dan ibunya melayani pelanggannya.


"Selamat datang" kata rina ramah.


Pelanggan lalu duduk dan memesan bakmie.


"Pesan 3 porsi bakmie yah" kata salah satu pelanggan.


"Baiklah" kata rina.


Rina lalu ke dapur mengambilkan pesanan pelanggannya.


"Bu, 3 porsi bakmie" kata rina.


"Ini" kata ibu rina sambil menyodorkan tiga mangkuk bakmie.


Rina lalu mengangkatnya dan membawa ke tiga pelanggannya. Ketika rina hampir sampai mengantarkannya, Qin-she datang.


"Na. Aku mau kerja dulu" kata Qin-she kepada rina.

__ADS_1


"Kenapa kamu memberitahuku?" Tanya rina.


"Kamu yang memintaku memberitahumu" kata Qin-she lalu tersenyum.


"Hey.. tidak. Aku tidak menyuruhmu" kata rina.


Qin-she tidak mempedulikan rina. Dia tetap melanjutkan perkataannya.


"Aku pulang jam 16:00. Jika rindu, kabari saja" kata Qin-she lagi.


Qin-she lalu berangkat bekerja setelah membuat rina marah. Kebiasaan Qin-she sudah berubah. Dulu Qin-she yang selalu diam tetapi berbeda dengan sekarang. Dia selalu membuat rina kesal dan marah.


"Wah... ganteng juga pacarnya. Jadi iri deh" kata pelanggan satu.


"Iya. Dia kayaknya punya pekerjaan yang tinggi" kata pelanggan dua.


"Maaf bu...tante-tante dan pelanggan saya. Dia itu bukan pacar saya" kata rina menjelaskan.


"Tapi kalian kelihatan cocok" kata pelanggan tiga.


"Bu.. ini bakmienya. Lebih baik anda makan saja dari pada mengosip" kata rina lalu pergi.


"Ada-ada saja kata mereka" kata rina setelah menjauh dari pelangannya.


"Na. Bawa ini ke meja sana" kata ibu rina menyuruh rina sambil menunjuk ke arah meja.


rina lalu mengantarkan pesanannya kepada pelanggan yang di tunjuk ibunya.


"ini makanannya. selamat menikmati bakmienya" kata rina ramah kepada pelanggannya.


ayah rina datang dan membantu rina dan istrinya.


"bagaimana yah, sudah dapat pelakunya?" kata ibu rina.


"ada masalah apa bu.. kenapa ibu bilang pelaku?" tanya rina.


"itu rina. usaha kita kemarin bangkrut karena di tipu oleh seseorang. ayah lagi mengurus masalah ini" kata ayah rina menjelaskan.


"jadi pelakunya sudah di temukan?" tanya ibu rina penasaran.


"sudah bu. ternyata pelakunya Orang yang ayah percaya mengelolah bisnis ayah. dia ternyata korupsi" kata ayah rina.


"lalu bagaimana? polisi-polisi bilang apa?" kata ibu rina tidak sabar.


"tapi bu... keluarganya meminta ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan" kata ayah rina.


"tidak ada kata di selesaikan secara kekeluargaan. pokoknya bawa kasus ini ke jalur hukum, biar dia tahu bagaimana rasanya kita mengulang bisnis dari nol. bukan hanya itu, rina mengorbankan mimpi dan cita-citanya" kata ibu rina tegas.


"tidak masalah kok bu.." kata rina.


"lagian, mereka korupsi pasti karena butuh" kata rina lagi.


"tidak bisa rina. hati ibu sakit ketika kamu melihat teman-temanmu sukses. sementara kamu hanya membantu ibu berjualan saja" kata ibu rina.


"tapi rina sedang kok bu?" kata rina lagi.


"sekarang sudah senang. tetapi kemarin, pasti kamu merasa kesakitan juga" kata ibu rina.


"Tapi bu...." kata ayah rina.


belum selesai ayah rina bicara, ibu rina memotong pembicaraannya.


"tidak ada tapi-tapi. ayah harus tegas dan jangan sampai lengah. kalau ibu temukan ayah tidak membawa kasus ini ke jalur hukum, awas saja ayah. jangan bicara dengan ibu" kata ibu rina.


ibu rina lagi pergi.

__ADS_1


"jadi bagaimana sekarang yah?" tanya rina kepada ayahnya.


"aku juga tidak tahu harus bagaimana" kata ayah rina bingung.


__ADS_2