
Rina tidak bisa terus-terusan menjahui Qin-she. Lagi pula, Rina merasa dirinya yang salah bukan Qin-she. Seharusnya Rina membuang jauh-jauh perasaannya untuk Qin-she. Qin-she bahkan tidak pernah mau memberi Rina kesempatan untuk membuktikan cintanya.
Rina termenung di kamarnya sambil melihat ke arah jendela.
"Na...Rina... Ayo turun. Ada Qin-she" teriak ibu Rina.
Rina tidak merespon. Ibunya langsung menghampirinya.
"Na.. Ada Qin-she di bawah" kata ibu Rina sambil mengucap rambut anaknya.
"Iyaaa..." kata Rina.
Rina dan ibunya turun ke bawah. Di sana sudah ada Qin-she menunggu di sofa.
"Ada apa?" Ucap Rina cuek.
"Hari ini akhir pekan. Aku mau mengajakmu pergi jalan-jalan" kata Qin-she ramah.
"Bagaimana yah... sepertinya aku sibuk" kata Rina berbohong.
"Tidak kok, Rina tidak sibuk" kata Ibu rina sambil memberi kode pada Rina.
"Ibu...." ucap Rina.
"Tadi Rina hanya duduk santai di kamarnya. Dia sama sekali tidak sibuk" kata Ibu rina.
"Aku minta izin bu.. mengajak Rina keluar jalan-jalan" kata Qin-she sambil tersenyum.
"Tentu saja. Tentu saja boleh" kata Ibu Rina senang.
"Rina... cepatlah ganti baju baru ikut Qin-she" perintah ibu rina.
Rina melihat ibunya dengan wajah kesal. Tetapi ibu rina seolah-olah memberi kode kepada Rina untuk menurut. Akan jadi seperti apa nanti jika Rina tidak menuruti perintah ibunya.
Rina melangkah dengan pelan-pelan. Rasa malas keluar membuatnya tidak mau pergi ke mana-mana.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Rina menuju ke ruang tamu dan pergi bersama Qin-she.
"Kita mau ke mana" kata Rina kepada Qin-she.
"Ikut saja" kata Qin-she sambil mengendarai sepedannya.
"Jangan bilang kamu ingin mencuriku" kata Rina.
"Mana ada pencuri minta izin" ucap Qin-she.
"Naiklah" perintah Qin-she.
Mereka berdua menikmati pemandangan sambil bersepeda. Rina mengayungkan tanggannya dan melepaskan stres dan beban di hatinya.
"Sudah merasa baik?" Tanya Qin-she.
Rina mengangguk dan tersenyum.
Qin-she selalu mengerti apa yang di rasakan Rina.
Qin-she berhenti mengayung sepedanya. Mereka sudah sampai di pantai. Ternyata Qin-she mengajak Rina ke pantai.
"Na, maafkan aku... waktu itu aku tidak datang" kata Qin-she sambil memegang kedua tangan Rina.
"Aku lupa. Mungkin karena terlalu fokus beres-beres" lanjut Qin-she.
"Aku datang waktu itu dan melihatmu berpelukan dengan lee wan" kata Qin-she.
"Hatiku benar-benar hancur. Aku tidak bisa menerima semua itu. Aku emosi dan cemburu melihat kalian berdua. Aku baru sadar jika aku mulai menyukaimu. Kemarin-kemarin, disaat kamu menjahuiku aku merasa kesepian. Rina Aku menyukaimu..." kata Qin-she.
Rina tersenyum dan tidak percaya dengan apa yang di katakan Qin-she.
__ADS_1
"Biarkan lautan ini menjadi saksi, jika cintaku lebih luas lagi daripada lautan" kata Qin-she.
Mereka saling berpelukan. Rina menangis karena terharu.
Tiba-tiba Qin-she berlutut di hadapannya.
"Maukah kamu menjadi pacar dan ratu di hatiku" kata Qin-she memohon.
Rina benar-benar tidak menyangka dengan perkataan Qin-she barusan. Dia terkejut dan merasa senang juga. Apa yang selama ini rina inginkan tercapai. Mencintai dan di cinta oleh Qin-she.
Mereka menikmati indahnya pemandangan lautan sampai matahari terbenam.
Rina duduk di dekat Qin-she sambil membaringkan kepalanya di pundak Qin-she.
Hari yang bahagia untuk Rina dan Qin-she. Luka yang rina rasakan kemarin-kemarin, hilang begitu saja.
Qin-she adalah obat luka di hatinya.
Malam harinya, Rina tidak henti-hentinya tersenyum sambil melihat fotonya dengan Qin-she di pantai tadi. Ayah Rina yang sedang membaca koran, bingung melihat putrinya senyum-senyum sendiri.
Ayah Rina penasaran dengan Foti yang dilihat Rina. Sambil berpura-pura membaca koran, ayah rina bergeser di dekat Rina. Rina tidak menyadari jika ayahnya sudah berada di dekatnya.
Ayah Rina lalu melirik-lirik foto yang di pegang Rina. Tanpa sengaja, ibu Rina menjatuhkan pisau di lantai. Hal itu, membuat Rina dan ayahnya terkejut dan kaget. Spontan ayah Rina panik. Rina yang baru menyadari ayahnya berada di dekatnya.
"Bu... ibu ingin membuat aku serangan jantung dadakan" kata Ayah Rina belum stabil kondisinya.
"Iyaa maaf. Ibu tidak sengaja" kata Ibu Rina meminta maaf.
"Ibu.. menganggu kesenangan orang saja" kata Rina.
Ibu rina tidak terima di salahkan oleh suaminya dan anaknya.
Ibu rina menghampiri mereka berdua di sofa sambil menjatuhkan panci di meja sofa. Rina dan ayahnya tambah kaget.
"Kamu bilang ibu mengganggu? Coba kalian lihat. Ibu susah payah memasak untuk kalian. Menyiapkan makanan enak supaya kalian bisa makan" kata ibu rina marah.
"Istriku tersayang, bukan kami menyalahkan. Tetapi kami hanya kaget saja. Kamu pasti tahukan kalau kaget dan terkejut pasti berkata yang sebenarnya" bujuk ayah Rina.
"Oh... jadi kalian berkata yang sejujur-jujurnya tadi" kata ibu rina menahan amarahnya.
"Bukan bukan begitu sayang" kata ayah rina.
"Lalu yang begitu bagaimana" kata ibu rina kesal.
"Ini... Ayah tiba-tiba sibuk" kata ayah Rina lalu pergi ke kamar.
"Ayah... ayah..." panggil Rina ketika melihat Ayahnya kabur.
Rina lalu melihat ibunya yang sedang menatapnya.
"Si beruang sudah pergi. Tinggal si kelinci yang sendirian" kata Rina panik.
"Lalu si kelinci mau apa?" Tanya ibu rina.
"Si kelinci juga mau ikut si beruang... tetapi, sepertinya sudah tidak bisa lagi" kata Rina tersenyum manis.
Rina menelan luda melihat tatapan ibunya semakin menyeramkan.
"Kelinci...." kata ibu rina sambil mengucap rambut kepala anaknya.
Rina tambah takut. Kakinya mulai bergetar. Seharusnya tadi rina yang kabur lebih dulu pasti aman pikir rina.
"Sebaiknya si kelinci menyiapkan makan malam yaa... karena si hoki lagi tidak mau membuatkan makanan untuk beruang dan kelinci" kata ibu Rina sambil tersenyum menyeramkan.
Rina hanya mengangguk. Dia tidak tahu memasak. Tetapi jika menolak, rina akan di makan mentah-mentah nanti oleh ibunya.
Ibu rina lalu pergi meninggalkan rina.
__ADS_1
"Aduh... bodoh-bodoh. Baru saja bahagia sedikit malah di timpa batu lagi" kata Rina.
Sebaiknya aku minta bantuan Qin-she saja, pikir Rina.
Rina lalu menghubungi Qin-she dan tidak beberapa lama sang pacar sudah datang.
"Kamu yang mau masak. Ibu kamu kemana?" Tanya Qin-she.
"Ibuku lagi datang bulan jadi kebanyakan emosi. Di tegur sedikit sudah berubah jadi menyeramkan" kata Rina.
"Kita ingin memasak apa?" Tanya Qin-she.
"Apa saja yang kamu bisa" kata Rina.
"Tidak ada menu apa saja" kata Qin-she.
"Ayahmu suka sate dan ibumu suka sup daging. Kita buat yang di sukai orang tuamu saja" kata Qin-she.
"Bagaimana denganku..." kata Rina
"Aku hanya ingin memasak untuk calon mertuaku" kata Qin-she.
"Wah... ternyata kamu ingin menyogok mereka dengan makanan" kata Rina.
"Tetapi itu bagus. Supaya dia terkagum dengan calon menantunya" kata Rina.
Qin-she sibuk memotong daging dan menusuknya.
"Dimana sekarang Qin-she yang berhati dingin dan tidak peduli" rayu Rina.
"Kamu sudah membuangnya" kata Qin-she sambil tersenyum.
Rina lalu membantu Qin-she menyiapkan makan malam.
"Aku panggil ibu dan ayah dulu" kata Rina.
Tidak beberapa lama, ibu dan ayah Rina sudah turun bersama Rina.
"Wah.. Qin-she. Kami jadi merepotkan kamu" kata ibu Rina tidak Enak.
"Tidak apa-apa tante" kata qin-she ramah.
"Wah... makanannya banyak sekali. Kamu memasak ini sendirian?" Tanya Ayah Rina.
"Iya..Qin-she masak ini sendirian. Mana bisa anak kamu memasak" kata ibu Rina yang sepertinya masih marah kepada ayah dan Rina.
"Di bantu Rina juga tante" kata Qin-she.
"kalau sudah ketemu Qin-she, rina selalu tidak di pedulikan" kata Rina sambil mengambil piring dan siap untuk makan.
Ibu Rina memukul tangan anaknya.
"Biar Qin-she dulu yang ambil" kata ibu Rina menyodorkan makanan ke Qin-she.
Qin-she tersenyum kemudian mengambil makanan dan memberikan ke piring Rina.
"Ayo makan" kata Qin-she kepada Rina.
Ayah Rina curiga dengan kelakuan Qin-she terhadap anaknya.
"Rina... kamu tidak punya pacarkan?" Tanya Ayah rina.
"Ayah ini gimana sih... rina masih sekolah jadi tidak boleh pacar-pacaran. Fikus belajar saja" kata ibu rina sambil memberikan rina soup.
Rina menelan ludah. Di tambah Qin-she jadi gugup. Rina dan Qin-she saling menatap dan tersenyu-senyum.
Mereka semua menikmati makan malam di rumah rina.
__ADS_1