CINTA DARI KECIL

CINTA DARI KECIL
KESEDIHAN YANG MENDALAM


__ADS_3

Malam sudah datang tetapi wahid belum pulang ke asrama.


Di asrama, qin-she selesai belajar. Qin-she lalu mengambil ponselnya. Qin-she kaget ketika mengetahui ada pesan dari rina. Dengan buru-buru, Qin-she membaca pesannya. Qin-she tambah kaget lagi ketika rina mengatakan putus. Qin-she jadi teringat waktu dia melihat wahid memegang ponselnya. Tangan Qin-she mengepal.


Di waktu yang bersamaan, wahid membuka pintu. Wahid lalu masuk dan ingin segera tidur. Wahid lelah mencari keberadaan rina.


Qin-she jadi tambah marah ketika melihat wahid membuka pintu. Emosinya memuncak dan tidak bisa di kendalikan. Qin-she tidak menerima jika dia dan rina kini sudah putus. Walaupun wahid yang mengirim pesan itu, tetapi rina tidak mengetahuinya.


Bukk... qin-she memukul wahid.


"Qin-she kamu ini kenapa?" Tanya wahid tidak terima di pukul.


"Masih masih terlihat santai setelah apa yang kamu lakukan? Kamu masih berpura-pura?" Kata qin-she marah.


Wahid mengerti apa yang di maksud Qin-she.


"Jadi Qin-she sudah melihatnya. Seharusnya tadi aku menghapusnya dulu" pikir wahid.


"Qin-she... tentang.... itu...." belum selesai wahid menjelaskan, pukulan mendarat di pipi wahid.


Wahid tidak melawan. Wahid berusaha menenangkan Qin-she.


"Qin-she, tenang dulu. Aku bisa jelaskan?" Kata wahid.


"Jelaskan? Ini sudah jelas" kata Qin-she.


"Qin-she, aku tahu aku salah. Aku juga berusaha memperbaiki kesalahanku" kata wahid.


"Bagaimana bisa kamu memperbaikinya"?" Tanya Qin-she.


"Aku tadi mencari rina untuk menjelaskan semuanya" kata wahid.


"Lalu apa yang rina katakan?" Tanya Qin-she.


"Waduh... Qin-she pasti akan marah jika dia mengetahui yang sebenarnya" pikir wahid.


"Rina memang datang ke sini untuk meminta putus. Dia sudah bosan pacaran denganmu" kata wahid.


"Aku minta maaf Qin-she. Aku membohongimu" kata wahid dalam hati.


"Apa?" Kata Qin-she sambil memegang kerah baju wahid.


"Aku jauh lebih mengenal rina. Dia tidak mungkin seperti itu tanpa alasan" kata Qin-she.


"Aku juga tidak tahu. Tapi itulah yang terjadi" kata wahid.


Qin-she melepaskan gengamannya dan keluar dari kamarnya. Wahid jadi lega.

__ADS_1


"Untuk sementara aku harus berbohong. Aku bisa habis jika Qin-she tahu" pikir wahid sambil memperbaiki kerah bajunya.


Qin-she duduk termenung di taman dekat asramanya. Pikiran Qin-she melayang-layang. Qin-she membayangkan ketika dirinya bersama rina waktu masih sekolah.


"Kenapa harus berakhir begini?" Pikir Qin-she.


Qin-she menatap langit malam yang indah. Di sana terdapat bintang-bintang yang bersinar terang.


Sementara itu, rina juga sedang melihat bintang-bintang di jendela penginapannya. Bezok baru bisa rina pulang. Rina menginap di hotel yang tidak jauh dari lokasi kampus Qin-she.


Qin-she lalu menghubungi rina. Tetapi sayang, nomornya tidak bisa di hubungi. Rina sudah memblokir Qin-she. Qin-she jadi berpikir jika mengambil study di luar negeri jadi pilihan terbaik untuk saat ini. Melihat hubungannya dan rina kandas karena ulah wahid.


Rina menangis di hotel sendirian. Orang yang rina kenal dari kecil, tumbuh bersama dan menjadi pacarnya seolah-olah hilang. Rina tidak menyangka jika Qin-she akan melupakan dirinya begitu saja. Rina menyadari jika Qin-she tidak mengangapnya selama ini. Pacar hanyalah sekedar status rina di mata Qin-she. 


"Qin-she... kenapa kamu sejahat ini?" Kata rina 


"Kamu sudah menemukan yang jauh lebih baik dariku. Makanya, kamu meninggalkanku" kata rina sambil terus menangis.


"Kamu membuangku begitu saja seperti sampah" kata rina.


"Aku ini bukan sampah. Aku masih punya perasaan dan hati yang bisa terluka dan merasakan sakit" lirih rina.


Rina terus menyalahkan Qin-she. Tidak henti-hentinya menyalahkan Qin-she.


Rina pulang ke rumahnya sambil membawa kopernya. Ayah rina yang melihat anaknya pulang, sudah tidak sabar menunggu anaknya bercerita. Rina berjanji akan memberitahukan ayahnya sepulang dari jiang nanti. 


"Bagaimana?" Tanya ayah rina sambi menyambut rina pulang.


"Ayah.. aku mau istirahat" kata rina dengan nada rendah.


"Kamukan sudah janji akan memberitahu ayah" kata ayah rina.


"Ayah. Rina itu lelah baru pulang. Jangan di ganggu dulu" kata ibu rina.


Rina tidak mempedulikan mereka. Rina lalu masuk ke kamarnya.


"Ibu..tidak lihat? Wajah rina cemberut seperti itu" kata ayah rina.


"Ayah tidak lihat? Wajah ayah tidak ada baik-baiknya" kata ibu rina.


"Ibu..ini gimana sih. Kita ini lagi bicara tentang rina bukan ayah" kata ayah rina.


"Bu.. tingkah rina benar-benar aneh. Baru pulang, wajahnya sudah cemberut di tambah dia sepertinya kurang sehat. Apa ada masalah dengan Qin-she, diakan ke sana ingin bertemu Qin-she" kata ayah rina.


"Masa sih yah.. ibu tidak merasa apa-apa" kata ibu rina sambil menyapu membersihkan meja ruang tamu.


"Ibu ini gimana sih.. aku ini ayahnya jadi bisa ngerasain" kata ayah rina.

__ADS_1


"Ayah ini gimana sih.. aku ini ibunya gali aku tidak merasakan apa pun" kata ibu rina yang dari tadi bercanda dengan suaminya.


Tiba-tiba, suara keras seperti benda jatuh dari kamar rina. Ibu dan ayah rina terkejut. Mereka saling memandang lalu pergi berlarian ke kamar rina.


"Rina... ada apa?" Kata ayah rina panik.


"Na, kamu kenapa di dalam" kata ibu rina yang lebih panik lagi.


Mereka berdua mengedor pintu kamar rina. Takut jika rina kenapa-napa.


Rina membuka pintunya.


"Ada apa bu?" Kata rina.


"Ibu pikir, kamu kenapa-napa" kata ibu rina.


"Tadi ayah dengar ada suara seperti benda jatuh dari kamar kamu" kata ayah rina.


"Oh... tadi rina tidak sengaja menjatuhkan barang-barang rina di atas lemari" kata rina.


"Syukurlah. Bukan kamu yang jatuh. Ibu sampai terkaget-kaget tadi" kata ibu rina.


"Memangnya kamu sedang melakukan apa?" Kata ayah rina sambil menoleh masuk ke kamar rina. 


"Itu, rina lagi bersihin kamar rina. Mau di buang barang yang rina sudah tidak pakai lagi" kata rina.


"Kamu yang bersihin kamar?" Tanya ibu rina tercengah.


Rina hanya mengangguk.


"Tumben, kamu jadi anak rajin" kata ibu rina.


"Sekali-kali bu" kata ayah rina.


"Sudahlah bu yah. Rina masih mau beresin semuanya" kata rina kepada ayah dan ibunya.


Rina lalu masuk membersihkan dan membereskan barang-barangnya.


Ibu dan ayah rina melihat-lihat rina membereskan barang-barangnya. Mereka seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Rina sepertinya sudah berubah bu" kata ayah rina.


"Jangan-jangan mabuk pesawat yah" kata ibu rina.


"Sudahlah. Sebaiknya kita tidak perlu menganggu rina" kata ayah rina lalu pergi.


Ibu rina mengikuti suaminya dan membiarkan rina membereskan barang-barangnya. Setiap kenangan bersama Qin-she, rina membuangnya termasuk buku pemberian Qin-she serta foto rina dan Qin-she.

__ADS_1


Rina akan berusaha melupakan Qin-she walaupun itu sulit baginya. Teman dari kecilnya, dia harus menghilangkan semua kenangan Qin-she dan membiarkan waktu yang menjawab semua kenangannya.


sementara itu, Qin-she juga memilih studi di luar negeri. hanya itu pilihan Qin-she saat ini. Bisakha waktu mempertemukan Qin-she dan rina? atau mereka akan saling melupakan.


__ADS_2