CINTA DARI KECIL

CINTA DARI KECIL
PUTUS


__ADS_3

Hari ini, rina sudah ada di bandara. Rina akan menuju ke jiang untuk bertemu Qin-she. 


Sementara itu, Qin-she sedang mengerjakan laporannya di asrama. Sesekali melihat keluar jendela. Qin-she bingung memilih antara melanjutkan studinya di luar negeri.


Teman sekamarnya baru saja selesai mandi. Melihat Qin-she melamun, wahid melempar handuknya ke pada Qin-she.


"Bro.. ada apa sih, melamun aja?" Tanya wahid kepada Qin-she. 


Wahid lalu duduk di dekat Qin-she. Qin-she mengambil handuk wahid dan mengucapkan ke wajah wahid. Otomatis, wahid jadi kaget dan kesal dengan perlakuan Qin-she.


"Bro.. ini wajah sudah diperbaiki malah fi rusaki lagi" kata wahid marah-marah.


"Lagi mikirin apa? Kelihatan banget itu muka jadi bete kaya gitu" tanya wahid.


"Masih mikirin tentang pemindahan study di luar negeri?" Tanya wahid.


Qin-she yang tadinya hanya menghela nafas, menoleh ke arah wahid.


"Menurut kamu, apa aku harus pergi?" Tanya Qin-she bingung.


"Qin-she. Ini kesempatan seumur hidup hanya sekali. Jika aku jadi kamu, aku tidak bakalan mikir. Cuss sampai deh di luar negeri" kata wahid.


"Ya juga sih... kesempatan berkarir jauh lebih baik nanti" kata Qin-she.


"Bukan hanya itu. selesai kuliah di luar negeri nanti, kamu langsung dapat pekerjaan. Itukan di rekomendasikan oleh kampus kita" kata wahid.


Qin-she mulai berpikir.


"Sangat sulit sekarang mendapat pekerjaan setelah kuliah apalagi jurusan hakim. Sulit Qin-she. Kakakku saja, jurusan hakim belum dapat pekerjaan sebagai seorang hakim. Dia hanya bekerja di bagian staff saja" jelas wahid.


"Kuliahnya juga bisa di percepat. Ya... paling lama 3-4 tahun" kata wahid.


Kini hati Qin-she mulai mantap untuk melanjutkan study di luar negeri. Qin-she lalu memakai sendal dan mengambil handuk.


"Mau kemana?" Tanya wahid.


Qin-she hanya menunjukkan handuknya pada wahid. Wahid mengerti jika Qin-she mau mandi juga.


"Kirain mau keluar negeri" kata wahid.


Ponsel Qin-she berdering. Wahid yang sedang fokus mengetik di laptop, merasa terganggu. Dia ingin mendiamkan ponsel Qin-she tetapi wahid melihat nama pemanggil. 


"Rina? Rina siapa? Perasaan tidak ada teman kelas yang bernama rina" pikir wahid.


Wahid juga heran, kenapa ada tanda love di belakang nama rina.


Selesai menelpon, rina mengirim pesan kepada Qin-she. 

__ADS_1


Pesan masuk dari rina. Wahid jadi penasaran dengan orang yang bernama rina. Wahid melihat ke wc.


"Sepertinya Qin-she masih mandi. Apa aku sebaiknya membaca pesan dari rina ini? Aku ingin tahu dia punya hubungan apa dengan rina?" Kata wahid penasaran.


Jari tangannya masih ragu. Bagaimana jika nantinya Qin-she marah dengannya.


Tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Wahid membuka kata kuncinya. Mudah bagi wahid membuka sandi ponsel Qin-she. Dia sering melihat secara diam-diam Qin-she membuka ponselnya.


AKU ADA DI DEPAN KAMPUSMU. SEGERA TEMUI AKU.


wahid terkejut melihat isi pesannya. Dia lalu membalasnya..


INI SIAPA YAH? 


Pesan terkirim.


Rina yang sedang duduk di depan kampus Qin-she, terkejut ketika mendapat pesan dari Qin-she. 


"Maksudnya apa?" Kata rina melihat balasan dari Qin-she.


"Dia sudah menghapus nomorku?" Tanya rina lagi.


"Pantasan dia tidak mengangkat teleponku. Ternyata nomorku tidak di kenal" kata rina marah.


Kecewa dan sakit hati itulah yang dirasakan rina. Rina berusaha terlihat baik-baik saja. Banyak mahasiswa yang keluar masuk ke universitas jiang. Sesekali rina menjadi pusat perhatian.


Di asrama, wahid menunggu balasan dari orang yang bernama rina. Tetapi tidak kunjung juga. Dia langsung mengetik pesan. Belum selesai mengetik pesan, rina membalas pesannya. Buru-buru wahid membukanya. Betapa terkejutnya wahid melihat balasannya.


wahid tidak tau harus bagaimana. Di waktu yang bersamaan, Qin-she keluar dari kamar dan melihat wahid memegang ponselnya.


Qin-she lalu mengambil ponselnya dari tangan wahid. Wahid tidak bisa berkata-kata melihat Qin-she mengambil ponselnya. 


"Kenapa kamu mengambil ponselku?" Tanya Qin-she.


"Aku hanya memegangnya saja" kata wahid gugup.


Qin-she menyimpan ponselnya di meja dan mengambil baju. Sementara itu, wahid merasa bersalah dan tidak henti-hentinya kepikiran dengan pesan rina.


"Jadi rina itu pacar Qin-she? Kenapa Qin-she tidak pernah mengatakan apapun kepadaku" pikir wahid.


"Bagaimana ini? Qin-she putus karena aku. Bagaimana jika Qin-she tahu?" Kata wahid gelisah dan bingung.


"Apa yang perlu aku lakukan?" Tanya wahid pada dirinya sendiri.


Qin-she tidak melihat pesan dari rina. Selesai berpakaian, qin-she lalu belajar.


"Aku keluar dulu untuk mencari makan" kata wahid.

__ADS_1


Qin-she hanya menoleh lalu membaca buku.


Wahid berlari ke depan kampusnya,  dia ingin mencari orang yang bernama rina. Saat wahid sampai, ternyata rina masih duduk di sana termenung sendirian. Tetapi wahid belum pernah bertemu dengan rina. Jadi wahid tidak tahu yang mana rina.


"Ah... aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku tadi melihat fotonya dulu supaya tidak bingung. Di sini banyak orang" kata wahid frustasi.


Wahid bertanya satu persatu kepada orang yang tidak di kenalnya.


"Kamu rina?" Tanya wahid.


"Bukan" jawab orang itu.


"Kamu rina?" Tanya wahid lagi.


Orang yang di tanyai wahid menggeleng kepala. Beberapa kali wahid mengatakannya, tetapi semuanya menggeleng kepalanya. 


Tinggal 1 orang lagi yang sedang duduk di kursi. Wahid lalu melangkah ke arah rina yang sedang duduk sambil termenung. Wahid sudah berada di depan rina.


"Apa kamu...." belum selesai wahid mengatakannya, wahid lalu melihat seseorang yang membawa koper.


"Orang itu membawa koper. Berarti dia baru sampai. Jangan-jangan dia rina" pikir wahid.


"Ya..." tanya rina. Karena wahid tidak menyelesaikan perkataannya.


"Maaf mbak. Salah orang" kata wahid kepada rina.


Wahid lalu menuju ke arah orang yang membawa koper. Rina lalu bangkit ketika wahid pergi. Wahid bertanya kepada orang tersebut.


"Apa kamu rina?" Tanya wahid


"Bukan" kata orang itu.


"Tapi anda membawa koper" kata wahid.


"Apa semua orang membawa koper itu rina?" Kata orang itu kesal lalu pergi.


Wahid jadi bingung.


"Jadi orang yang tadi rina?" Tanya wahid kepada dirinya sendiri.


Dengan cepat, wahid lalu berlari, dimana rina duduk di sana tadi. Tetapi rina sudah tidak ada di sana. Wahid binggung ketika orang yang dia cari tidak ada. 


"Maaf. Apakah kamu melihat orang yang duduk di sini tadi?" Tanya wahid kepada orang yang duduk di sebelah kursi rina tadi.


"Tidak" kata orang itu.


"Ah...iya" kata wahid.

__ADS_1


Wahid lalu memukul kepalanya.


"Bodoh. Aku benar-benar bodoh" kata wahid dalam hati.


__ADS_2