CINTA DARI KECIL

CINTA DARI KECIL
MASIH ADA RASA SAYANG


__ADS_3

Pagi hari, matahari sudah menyinari kamar rina. Tetapi rina belum bangun juga. Ibu rina mengetuk pintu kamar rina.


"AssalamuAlaikum? " kata ibu rina.


Rina tidak bangun juga. Musik di kamarnya belum berhenti berbunyi. 


"Anak ini. Kemarin mengatakan jika ingin masuk harus ketuk pintu dan beri salam dulu" kata ibu rina.


"Tetapi tidak di bukakan pintu. Malah pintunya di kunci dari dalam" kata ibu rina lagi.


"Assalamualaikum anak soleh?" Kata ibu rina sambil mengedor pintu rina.


"Anak soleh, kenapa pintunya di kunci? Cepat buka" kata ibu rina dengan suara keras.


Ibu rina tidak henti-hentinya mengedor pintu kamar anaknya. Bahkan suaranya sampai di kamar Qin-she.


Qin-she yang sedang bersiap ke tempat kerjanya, terkejut mendengar suara sangat keras di kamar rina. Qin-she lalu berlari ke luar dan melihat ibu rina berdiri di depan pintu. Qin-she menghampiri ibu rina.


"Ada apa tante? Saya dengar ada suara sangat keras dari kamar rina" kata Qin-she kepada ibu rina.


"Ini Qin-she. Ibu lagi membangunkan rina, tetapi tidak bisa masuk. Pintunya lagi di kunci dari dalam. Jadi sulit membanginkan rina. Pesanannya hari di antar pagi-pagi" kata ibu rina menjelaskan sambil mengedor pintu rina.


Qin-she lalu mencoba membuka pintu kamar rina tetapi pintunya di kunci dari dalam. Qin-she mendekatkan telinganya ke pintu kamar rina. Qin-she mendengar suara musik di dalam.


"Pantesan rina tidak membuka pintunya tante. Dia sedang memutar musik di dalam" kata Qin-she.


"Apa? Anak itu, memang sengaja pasti. Dia tidak mau di bangunkan" kata ibu rina asal menebak.


"Biar Qin-she coba telepon dulu tante" kata Qin-she memberi solusi.


"Iya. Iya nak Qin-she" kata ibu rina setuju.


Qin-she lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor rina. Qin-she menghubungi rina.


Di dalam kamar, ponsel rina berdering. Lama berdering, rina baru terbangun. Rina mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggilnya.


"Halo" kata rina masih mengantuk.


"Rina. Ibumu ada di depan pintu. Cepat buka" kata Qin-she dalam telepon memberi perintah.


"Ibu?" Kata rina.


Mata rina langsung melek mendengar Qin-she mengatakan ibu. Seketika rasa mengantuk hilang entah kemana. Rina lalu berlari dengan cepat dan membuka pintu kamarnya. Saat rina membukanya, ibu dan Qin-she sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Rina... kenapa lama sekali baru buka pintunya? Kamu juga baru bangun. Ini sudah jam berapa? Ibukan sudah bilang kemarin untuk tidur lebih awal dan bangun pagi-pagi mengantar pesanan" kata ibu rina mulai mengomel pagi-pagi.


"Iya bu.." kata rina sambil menguap.


"Cepat ganti baju lalu turun ke bawah. Ibu tunggu di bawah" kata ibu rina.


"Iya bu.." kata rina lagi.


"Jangan hanya iya iya" kata ibu rina lalu pergi ke bawah.


"Iya bu..." kata rina sekali lagi.


Qin-she tersenyum-senyum melihat penampilan rina. Rina melihat Qin-she tersenyum sambil melihatnya.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya rina yang masih belum sadar sepenuhnya.


"Kamu cocok jadi pelawak" kata Qin-she.


"Aku bukan pelawak" kata rina.


"Tetapi penampilanmu menunjukkan jika kamu pelawak" kata Qin-she.


Rina baru sadar. Dia langsung menutup pintu kamarnya lalu pergi melihat dirinya di cermin. Penampilan rina memang persis seperti pelawak. Rambut yang berantakan dan heandset yang berada di lehernya serta wajah yang kusut. Rina memakai heandset kemarin, tetapi dia lalu bangun dan memutar musik secara keras-keras di kamarnya. Rina lupa menyimpan heandsetnya yang masih terbelit di lehernya.


"Sebaiknya aku bersiap cepat. Sebelum ibuku datang marah-marah lagi. Nanti hidupku seperti berada di neraka lagi" kata rina sambil membawa handuk untum mandi.


Rina turun ke bawah setelah bersiap-siap. Sementara itu, Qin-she sedang menikmati semangkut bakmie.


"Bu.. yang mana pesanan yang mau rina antar?" Tanya rina pada ibunya yang sedang mengoreng mie.


"Di atas meja. Ibu sudah membungkusnya" kata ibu rina.


Rina lalu mengambilnya dan membawanya ke depan ibunya.


"Ini bu..?" Tanya rina.


"Iya.. bawah ke pengadilan yang dekat dari rumah" perintah ibu rina.


"Pengadilan besar di seberang jalan sana bu?" Tanya rina.


"Iya. Di tempat Qin-she bekerja" kata ibu rina.


Kebetulan, qin-she mendengar pembicaraan rina dan ibunya ketika Qin-she ingin membayar bakmienya.

__ADS_1


"Biar nanti aku bantu kamu bawah pesanannya ke pengadilan" kata Qin-she.


"Tidak perlu" kata rina judes.


"Boleh nak Qin-she. Jika mau membantu rina. Soalnya banyak pesanan. Takutnya nanti rina tidak bisa membawanya" kata ibu rina menerima tawaran Qin-she.


Qin-she mengambil kardus yang sudah di siapkan ibu rina. Tangan Qin-she di dorong oleh rina. 


"Tidak perlu. Saya bisa kok bu.." kata rina pura-pura tersenyum.


"Tidak apa-apa jika Qin-she ingin membantu. Takutnya nanti kamu terlambat jika bolak-balik ke sini bawa pesanannya. Biar Qin-she bantu supaya semuanya kelar" kata ibu rina.


Dengan terpaksa dan berat hati, rina menerima tawaran Qin-she. Qin-she lalu membawa satu kardus pesanan dan rinapun demikian.


Di tengah perjalanan, rina dan Qin-she berbincang-bincang.


"Na, kamu masih ingat ketika kita masih SMA? Kita sering berjalan bersama" kata Qin-she mengingatkan rina.


"Aku sudah lupa" kata rina.


Sebenarnya rina tidak lupa. Rina bahkan selama ini tidak bisa melupakan kenangannya dengan Qin-she atau tidak bisa move on. Rina diam-diam sering menelepon woobin untuk mengetahui keadaan Qin-she. Termasuk foto-foto Qin-she ketika di luar negeri. Woobin sering mengirimnya kepada rina. Woobin mendapatkan foto itu dari Qin-she. Woobin dan Qin-she masih sering berkomunikasi dan terhubung.


"Aku rindu masa-masa itu. dimana kamu selalu memberikan aku perhatian, tidak seperti ini" kata Qin-she dalam hati.


Mereka berjalan sampai di depan pengadilan.


"sekarang biar aku saja yang bawa semuanya" kata rina.


"tidak apa-apa. aku bisa bantu kamu sampai selesai" kata Qin-she.


"takutnya nanti, ada yang salah paham dengan kita" kata rina.


"kenapa, jika ada yang salah paham?" tanya Qin-she.


"bukan kha nanti pacarmu marah jika melihatmu membantu orang lain" kata rina.


"kamu cemburu?" tanya Qin-she lagi.


"siapa yang cemburu? aku sama sekali tidak cemburu. aku hanya tidak mau pacarmu salah paham" kata rina menjelaskan.


"aku tidak punya pacar" kata Qin-she.


Qin-she lalu buru-buru masuk ke pengadilan.

__ADS_1


__ADS_2