
kini sudah 4 tahun Qin-she dan rina menjalani legiatan masing-masing tanpa saling mengetahui. Qin-she sering melihat akun instagram rina tanpa rina tahu. Dari situlah, Qin-she mengetahui apa yang rina lakukan. ketika Qin-she rindu, Qin-she selalu melihat foto-foto rina yang lucu. Foto rina sejak mereka masih kecil sampai waktu SMA.
sementara rina, sibuk mengurus bisnis ayah dan ibunya yang sudah sukses dan memiliki banyak pelanggan. Banyak juga orang yang memesan di bakmi keluarga rina. jadi rina sering membantu ayahnya untuk mengantar pesanan.
selain itu, rina juga mempunyai kegiatan lain. seperti punya tim basket. rina adalah kapten di teamnya. mereka sering bermain basket dan jika juara, mereka mendapatkan uang. tiap orang mendapat Rp. 500.000 (lima ratus ribu).
Qin-she sudah berada di bandara. Menunggu seseorang untuk menjemputnya.
Tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki memakai jas berwarna hitam.
"Maaf saya terlambat pak" kata orang itu yang merupakan pegawai di pengadilan.
"Saya tidak suka punya asisten yang tidak disiplin waktu. Kamu dengar john?" kata Qin-she.
Ternyata orang tersebut adalah john. Dan john adalah asisten Qin-she.
Qin-she kini telah menjadi seorang hakim. Dia di bekerja di salah satu pengadilan yang sangat dekat dengan rumah Rina.
"Iya..pak. lain kali saya akan tepat waktu" kata john.
John lalu membawa koper Qin-she dan berjalan di belakang Qin-she. Mobil yang di tumpangi Qin-she dan john berhenti di sebuah apartemen.
"Kenapa kita kesini? Inikan sebuah apartemen" tanya Qin-she.
"Ini sekarang adalah tempat tinggal anda pak. Itu salah satu fasilitas yang di berikan untuk anda" kata john menjelaskan.
"Aku tidak ingin tinggal di sini" kata Qin-she.
"Tapi pak..." kata john.
"Tidak ada tapi-tapi. Saya akan mencari tempat tinggal sendiri" kata Qin-she.
"Lalu di mana anda akan mendapatkan tempat tinggal?" Tanya john.
"Saya akan mencari kontrakan dekat pengadilan saja. Itu lebih memudahkan saya ke pengadilan biar berjalan kaki. Dan yang terpenting tempatnya nyaman" kata Qin-she.
"Jarak ke sini dengan pengadilan cukup jauh. Pasti memakan waktu setengah jam" kata Qin-she.
"Tapi pak, ini apartemen yang paling dekat dengan pengadilan" kata john.
__ADS_1
"Kamu bilang dekat, jika waktu yang di tempuh sekitar setengah jam?" Kata Qin-she.
John tidak tahu mau berkata apa lagi kepada seniornya ini.
"Pak, anda juga bisa melihat kontrakan lewat online. Pasti banyak kontrakan di dekat pengadilan" kata john memberi saran.
"Itu memang ide saya" kata Qin-she.
"Ampun deh senior, di beri saran bukannya terima kasih atau apalah. Ini malah bikin kesal saja. Senior-senior, untung anda senior. Kalau junior sudah aku tendang jauh-jauh" kata john dalam hati.
Qin-she lalu mencari kontrakan dekat dari pengadilan lewat online. Tetapi ada yang membuat Qin-she tertarik dengan salah satu kontrakan. Kontrakan itu, di desain seperti kamar hotel.
"Ini pasti sangat nyaman. Berasa berada di hotel" kata Qin-she sambil mengeser ponselnya.
"Harganya juga tergolong murah" kata Qin-she lagi.
John lalu mengintip gambar kontrakan yang di masuk atasannya.
"Tapi pak. Meski murah toiletnya, toilet umum" kata john memberitahu Qin-she.
"Aku tidak masalah" kata Qin-she.
"Halo, selamat siang?" Kata Qin-she dalam telepon.
"Ya. Selamat siang. Ini dengan siapa yah?" Kata orang dalam telepon tersebut.
"Kenapa suara orang ini sangat familiar?" Pikir Qin-she.
"Saya tertarik dengan kontrakan anda. Apa masih belum ada orang yang tinggal di sana?" Tanya Qin-she.
"Masih-masih pak. Kontrakannya masih kosong" kata orang dalam telepon yang terdengar sangat senang.
"Baiklah. Saya akan menuju ke sana sekarang" kata Qin-she.
"Baik pak. Di tunggu kedatangannya" kata orang dalam telepon.
Qin-she mematikan teleponnya. Ternyata orang yang di telepon Qin-she adalah Rina. Kontrakan yang di maksud Qin-she adalah milik ayah dan ibu rina yang memang sengaja di kontrakan karena kamar tersebut kosong dan tidak di pakai. Ibu dan ayah rina melakukan semua ini, agar dapat menambah penghasilan keluargannya juga, Dari pada menganggur.
"Antar saya ke lokasi ini!" Perintah Qin-she sambil memperlihatkan john lokasinya.
__ADS_1
"Baik pak" kata john.
John lalu menyetir mobilnya dan membawa ke lokasi yang di minta atasannya.
Rina yang baru saja mendapat kabar baik, berlari memberitahu ayah dan ibunya di bawah. Ibu dan ayah rina sedang sibuk membuat bakmi.
"Bu.. yah... tadi rina memdapat telepon. Katanya mereka tertarik dengan kontrakan kita" kata rina senang.
"Benarkah?" Tanya ibu rina.
Rina mengangguk.
"Alhamdulillah" lanjut ibu rina.
"Padahal baru kemarin kamu menawarkan. Langsung ada yang berminat" kata ayah rina.
"Na, kamu sebaiknya bersihkan kamarnya dulu sebelum orang yang mau mengontrak datang. Jika dia nanti melihatnya, tidak akan komplen dengan kontrakan kita" kata ibu rina.
"Iya bu... rina bersihkan dulu" kata rina sambil berlari ke atas dan membersihkan kamar yang dikontrakannya.
Orang yang di tunggu rina datang. Mobil Qin-she sudah ada di depan rumah rina. Hanya saja Qin-she ingin memastikan jika rumah tersebut adalah rumah rina alias mantan pacarnya.
Qin-she turun dari mobil dan membawa kopernya. Rina yang melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya, lalu berlari ke bawah dan menyambutnya. Rina sangat senang, karena sudah berhasil membuat kontrakannya laku.
Sesampai rina di depan teras, betapa terkejutnya dengan apa yang di lihatnya. Rina mengusap matanya kerena mengira dirinya salah liat.
"Benarkah itu Qin-she?" Kata rina dalam hati.
"Tapi Qin-she sedang di luar negeri kan?" Lanjut rina.
"Ibunya juga mengatakan jika Qin-she akan menetap di sana" guman rina lagi.
"Ah.. aku mungkin salah liat. Tapi kenapa dia sangat nyata?" Kata rina dalam hati.
Rina ingin membuktikan dengan apa yang di lihatnya itu salah. Rina melempar sendalnya ke arah Qin-she. Tentu saja, sendal tersebut mengenai Qin-she. Qin-she terkejut karena di lempar sendal oleh rina. Sejujurnya, ada yang membuat Qin-she tertarik dengan kontrakan tersebut. Saat masih di luar negeri, Qin-she tahu jika dirinya akan di tempatkan di pengadilan. Dia lalu mencari kontrakan untuknya di internet dan menemukan kontrakan rina. Qin-she mengamati gambar komtrakannya dan membuatnya salah fokus pada foto yang tertempel di kontrakan tersebut. Usut punya usut, rina ternyata masih menyimpan satu foto dirinya dan Qin-she semasa SMA. Lebih tepatnya pada hari kelulusan.
Walaupun, foto tersebut tidak terlalu jelas. Tetapi mata seorang hakim sangat jeli. Bukan hanya itu yang membuat Qin-she curiga jika kontrakan itu milik rina. Nama orang yang mempostingnya juga bernama RINA WATI. Qin-she mulai curiga, apakah dia rina yang Qin-she kenal atau bukan. Ibu Qin-she pernah bercerita kepada Qin-she jika keluarga rina bangkrut dan terpaksa menjual rumah mereka. Rina dan keluar pindah tetapi ibu rina tidak memberitahu ke mana mereka akan pindah.
Satu hal yang membuat Qin-she juga yakin. Ketika sedang menelpon pemilik kontrakannya, suara orang tersebut terasa familiar. Ternyata apa yang Qin-she curigai, terbukti saat melihat rina keluar dari rumahnya.
__ADS_1