
Boy tidak lagi melanjutkan lajunya. Dia langsung pergi ke kampus untuk menghindari pertanyaan yang terlontar dari bibir Sahara, karna dia melihat sepertinya Boy. Benar saja dugaanya itu adalah dia karna tidak mungkin salah lihat kali ini.
Apakah dia sejahat itu setelah lama menghilang dia dengan entengnya muncul kembali. Selanjutnya Sahara tak peduli juga seperti itu lagi lagi hanya memberi harapan sesaat.
''Andaikan dulu saya tidak terlalu dekat denganmu saya tidak akan mencarimu.'' Itulah yang terjadi mereka saling merindukan tapi ada salah satu dari mereka yang menghindar karna belum siap menerima pertanyaan.
Sahara sepanjang jalan hanya melamun, lagi lagi hampir tabrakan karna dia mengahyal sepanjang jalan. ''Ya tuhan saya kenapasih, demi laki laki saya sampai membahayakan diriku sendiri.'' Tapi itu hanya ucapan di bibir tapi hatinya berkata lain.
Hari ini Sahara tidak fokus mengikuti mata pelajaran yang ada di kepalanya hanya dia semata. ''Kamu kenapa Sa tumben pagi pagi melamun.'' Tanya Tiara dengan wajah keponya. Sahara hanya diam sambil...
Hiks...hiks...hiks...
''Ehhh kamu kenapa sih, maaf maaf. Kamu ada masalah ayo cerita.'' Tiara sambil merangkulnya. Sahara masih menangis, dia membiarkan nya menngis terlebih dahulu nanti dia cerita sendiri pikirnya.
Pada akhirnya Sahara cerita bagaimana awal berkenalan sampai pada akhirnya. Sampai dia tak ada yang terlewatkan. Sementara Tiara hanya jadi pendengar terbaik tampa memotong di setiap ucapnnya.
''Coba kamu tanyakan pada hatimu apa yang dia sembunyikan. Jika dia menemuimu jangan tanyakan kemana dia pergi selama ini. Dan jangan perna ungkit yang sudah pernah yang terjadi, seola ola kamu tidak peduli dengannya.''
Nasehat Tiara dengan bijak, seharusnya memang dabaikan saja daripada peduli tapi dianggap ada. Akhirnya dia agak sedikit tenang perlahan ia tak peduli sulit memang tapi dia juga tidak bisa satu kali perlahan tapi pasti.
Tiara pulang bersam Sahara, kebetulan rumah mereka searah. Sepanjang jalan mereka sibuk dengan pikiran mereka..
Sahara tiba tiba ngerem mendadak. Sahara melihat Boy bonceng seorang wanita. Tapi dia tidak tau siapa wanita itu dan kelihatannya mereka mesra sekali.
"Sahara mau bunuh diri loh uda tau padat lu malah ngerem dadakan. Lu kenapa sih...?" Sambil mengikuti arah pandangan Sahara.
Tiara tiba tiba mengamatinya. "Mungkin itu alasan Boy ngilang dari lu. Kamu sudah tau kan jawabannya, ayok jalan lagi kita pergi jalan jalan dulu ke mall cari hiburan."
__ADS_1
Sahara tampa menjawab mereka pergi di sebuah mall. "Ayok sa turun kita pergi cari es cream."
Mereka bergandengan tangan masuk dalam mall. Mereka akan pergi cari yang jual es cream di tempat langganan biasanya. Mereka langsung pesan.... "mbak es cream rasa strawbery nya dua yah..."
"Mbak saya mau es cream rasa vanila satu yah." Pandangan pertama yang mereka lihat adalah Boy menggandeng tangan wanita itu.
Wanita yang tidak di ketahui namanya itu tersenyum ke arah mereka. Sahara hanya membalas senyuman itu pergi dari sana tampa melihat ke arah laki laki yang sedang menatapnya.
Boy tidak bisa berbuat sesuatu karna memang kakak sepupunya itu mengamit tangannya seola ola mereka pacaran. Boy hanya diam membisu karna dia tidak tau nantinya mau menjelaskan seperti apa dan kesalahannya kali ini sudah double. Pasti pikir Sahara dia menghilang karna sudah ada wanita lain.
Setelah mengambil pesanan mereka Tiara mencari temannya yabg sudah pergi meninggalkannya. Tiara mengintari dengan harapan menemukan Sahara di sana. Tapi nihil dia mencoba keparkiran tapi tidak ada juga.
"Mobil masih ada tapi orangnya kemana. Jangan jangan bunuh diri utu anak." Rancau Tiara. Dia kembali masuk ke dalam mall sambil mengingat tempat mana lagi yang belum da kunjungi.
Tinggal toilet yang belum da kunjungi di mall ini. Benar saja Sahara baru keluar dari toilet wanita dengan mata yang agak sembab.
"Aduhhh... Sahara kamu di sini ternyata saya cari kemana mana tau."
Mereka masuk makan di salah satu resto yang ada dalam mall itu. Selesai mereka memesan sesekali mereka bercanda... entah apa yang lucu mereka tertawa seperti itu. ...
"Hai ketemu lagi, boleh nggak kami gabung di sini soalnya penuh semua." Lagi dan lagi wanita itu datang lagi mereka hanya saling lirik sampai mereka di persilahkan gabung.
"Boleh silakan duduk." Jawab Tiara tak kalah ramah sementara Sahara hanya diam membisu...
"Ehhh kita belum saling kenal tau. Siapa namanya..."
Wanita yang bersama Boy itu mengulurkan tangannya...
"Kaila...."
__ADS_1
"Tiara.."
"Sahara..."
Sementara Boy memilih membuang pandangan kearah lain. Tiara hanya tersenyum kecut melihat gelagat Boy yang tidak singkrong. Pecundang itulah yang ada dalam fikiran Nya saat ini.
Ternyata mereka memesan makanan yang sama. "Loh kok makanan kita sama semua, jodoh paling yah kan.." Kaila berusaha mencairkan suasana yang menurutnya sangat kaku. Padahal hanya Boy seorang yang laki.
Boy makan dengan terburu buru. "Pelan pelan tau makannya kayak di kejar setan saja.."canda Kaila.
Kedua sahabat itu hanya tersenyum melihat Boy yang mati kutu itu. "Ternyata dia tak lebih dari seeokor buayah.." batin Sahara sambil cekikan dalam hati.
Setelahnya mereka pulang. Sahara mulai terbiasa karna memang mungkin hanya sebatas untuk mengenalnya. Dia pura pura seola ola tak peduli padahal sebenarnya sangat cemburu melihat kedekatan mereka tapi berusaha menahannya sekuat tenaga.
Sudah tiga hari ini Sahara tidak mengirim pesan ke nomor Boy. Dia memilih menyibukan diri dengan tugas dan belajar memasak di dapur. Walaupun dia jarang ke dapur akhir akhir seperti hobinya masuk dapur.
Hari ini dia bikin bolu gulung. Walaupun bentuknya belum.sempurna tapi rasanya tetap enak, maklum baru pertama kali bikin.
"Sore ibu. Ibu coba deh rasa kue buatan Sahara jangan lupa koreksi yah bu."
"Sore sayang. Wahh...sejak kapan kamu belajar bikin bolu gulung seperti ini. Ibu coba rasa yah..."
Ibunya makan tampa ekspresi. Itu yang membuat Sahara ketar ketir." Gimana bu..?" Tanya Sahara penuh harap. Walaupun bentuknya masih kurang oke tapi berharap rasanya tidak terlalu buruk...
"Ummm... enak bangat ini, lembut pokoknya semuanya pas. Rasanya juga sudah oke. Yang perlu di perbaiki hanya bentuknya kurang rapi."
Sahara senang akhirnya di percobaan pertamanya ini tidak terlalu banyak kesalahannya. "Ibu Sahara pengen ikut krusus masak saja gimana?"
"Bagus itu. Ibu dukung tapi gimana dengan kuliahnya apa tidak terganggu..?"
__ADS_1
"Insaya allah bu. Tidak Sahara bisa atur waktu." Akhirnya Anggun mengizinkan anaknya ikut krusus masak. Lagian masak itu juga salah satu hobi yang bisa di kembangkan dan tidak rugi kalau jago masak.