
Anggun sudah siap ke kantor tapi anehnya sudah ada orang di depan rumahnya, dia mengabaikannya karna itu pria yang berkunjung semalam. Demi apa anaknya yang terkenal lugu suka dengan anak pemotor seperti itu.
Anggun tidak lagi menegurnya karna ada meeting pagi ini. Setelahnya dia ada kunjungan ke salah satu cabang perusahaannya.
Boy enunggu depan gerbang sambil main handphone, setelah lama menunggu akhirnya muncul juga.
''Kamu sudah lama bang...?''
''Sudah sayang ayok. Kita jalan sudah mau telat kita ni.''
''Pegangan yah.'' Malah Sahara sok jual mahal gak mau pegangan. Dia malu malu soalnya baru kali ini di suruh pegangan.
''Sayang pegangan. Kamu jatoh sya tak tanggung jawab yah..'' sambil mengambil tangan Sahara agar memeluknya.
Sahara hanya diam tampa protes. Pria yang akhir akhir ada juga yang menyukainya tapi dia tak beri jawaban apa apa karna memang dia tak nyaman.
Sahara pikirannya saat ini berkelana di mall waktu itu, awal melihat seorang laki laki sampai sampai lupa untuk membayar es cream saking gugupnya.
Sekarang dia memeluknya bukan saja ketemu sekali tapi sudah beberapa kali. Sayangnya mereka belum ada kepastian, bahkan mereka tak saling mengungkapkan perasaan.
''Sayang ayok turun, sudah sampai ini.'' Kesambet apa ni orang tumben kata katanya lembut biasanya juga suka mancing emosi.
''Hati hati abang di jalan..''
''Abang jemput yah jangan kemana mana.'' Setelahnya dia melajukan motornya menuju kampusnya..
''Cie cie demi apa kamu pacaran sama geng motor.'' Tiara meledeknya..
''Apa aan sih kamu, kami hanya teman tau.'' Sambil manyun saja.
__ADS_1
''Iya teman tapi mesra. Atau manggil sayang tapi gak jadian gitu maksudnya..''
Tiara bukannya berhenti malah meledeknya terus terusan sampai mereka masuk kelas. Tiara hanya teman baiknya di kampus kemana mana slalu bersama.
Sementara Boy hanya duduk diam dalam kelasnya sambil tunggu dosennya danĀ sambil menghayal. Apakah dia mencintai seorang wanita yang selama ini menghantui pikirannya. ''Nggak nggak saya tidak bisa mencintainya, karna wanita akan sama saja.''
Dia berdebat dengan pikirannya saat ini. Dia lupa jika hati tidak bisa di bohongi bahkan hati akan lebih peka.
Dia kembai mengingat awal ketemu dengannya, penampilan yang unik berbeda dengan penampilannya wanita yang pernah ia temui. Dia mencintai penampilannya bukan orangnya. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini.
Kenapa tak jujur saja jika dia sangat mencintainya. Memang mencintai tak ada dalam kamus, semenjak dekat dengan seseorang yang membuatnya uring uringan tak ada lagi hobi mengenal wanita di luar sana.
Dia penasaran atau memang mencintainya hanya dirinya yang tau. Setelah selesai jam mata kuliahnya dia bersiap menjemput Sahara, tapi si ulat buluh datang mengganggu. Dia langsung naik diatas motor tampa di persilahkan.. ''kamu ngapain bonceng sama saya, gak ada taxi emang, saya buru buru ada urusan soalnya.''
''Saya mau ikut juga, kamu mau kemana emang.'' Shidy merajuk pengen ikut, sebenarnya dia hanya penasaran Boy mau kemana. Dia tidak mau brsaing dengan wanita lain bahkan dia ingin menyingkirkan wanita lain jika mendekat.
Shidy sebenarnya tidak suka penolakan, karna memang selama ini dia tidak pernah di tolak oleh laki laki mana pun bahkan dia dengan suka relah memberikan tubuhnya, tapi sayangnya Boy tidak tertarik dengan itu. Setelahnya dia akan mengikuti kemana perginya Boy dan akan mengetahui siapa wanita itu. Jika dia wanita berada dia akan menggunakan ke kuasaan ibunya untuk merebutnya.
Boy meninggalkannya begitu saja tampa ada kata apa pun yang terungkap. Setelahnya dia memesan taxi untuk membuntuti kemana perginya. Naasnya tak ada taxi satu pun yang menerima orderannya.
Mau tak mau dia menggunakan ojek pangkalan yang mangkal sekitar kampus. Tapi lagi lagi dia terjebak macet yang ak kunjung usai, bahkan jalan raya penuh dengan kendaraan roda dua dan empat yang berlomba pulang kerumah masing masing.
Sekarang jamnya pulang kantor dan lain lain. ''Aduh bang kenapatadi gak bisa terobos saja.'' Rancau Shidy di jok belakang.
''Neng kalau mau cepat pesan saja mobil ambulance supayah cepat sampai tujuan.'' Balas si abang tukang ojek itu, yang membungkam mulutnya yang komat kamit tak karuan.
''Kalau tau begini saya pulang jalan kaki saja, supaya cepat sampai.'' Omelnya lagi, yang membuat tukang ojek itu naik pitam.
''Kamu mau jalan kaki yah silakan neng saya tidak larang juga kan.'' Lagi lagi Shidy kewalahan sendiri masa iya harus jalan kaki sementara rumahnya masih jauh. ''Maaf bang tadi saya hanya bercanda saja, maklum saya orang kaya jadi tidak bisa macet macetan kan panas bang.''
__ADS_1
''Kok orang kaya naik ojek neng. Bukan harusnya punya mobil seniri yah.'' Tukang ojeknya sambil tertawa meledeknya. Karna baru kali ini ada orang ngaku kaya terang terangan. Biasanya walaupun orang kaya naik ojek tak ada yang mengaku kaya.
Boy saat ini berada di mall bersama Sahara untuk sekedar jalan jalan saja. ''Yank mau es cream..?''
''Iya mau tapi di tempat biasa ku beli.'' Mereka mencari gerai es cream yang sudah jadi langganan Sahara selama ini.
Setelah dapat mereka masuk dan duduk sambil menikmati es cream mereka, sambil bercanda dan mereka sampai lupa keduanya sudah semakin dekat tapi tak ada yang menyadarinya.
''Yank mau kemana lagi setelah ini. Apakah mau makan dulu..?''
Sahara hanya mengangguk tanda setuju dan tak bisa menolak, mereka keluar dari mall makan di pinngir jalan kebetulan ada kedai penjual bakso.
''Bude dua porsi yah bakso biasa.''
Setelah pesanan mereka ada langsung melahapnya, ke duanya sepertinya sudah akrab dan tak ada canggung sama sekali. Padahal baru kali ini mereka jalan berdua. Mereka layaknya teman lama bercanda dengan sedemikian rupa.
''Yank setelah ini saya antar pulang yah. Sudah hampir malam soalnya.''
Benar saja setelah makanan mereka sudah selesai langsung diantar pulang. Di sepanjang jalan mereka bercanda tampa henti, tampa ia sadari sambil memeluk Boy semakin erat. ''Andaikan ini masih siang jangan dulu saya antar pulang.'' Batinnya karna baru kali ini dia merasa nyaman di peluk oleh wanita.
''Yank ini sudah sampai. Ayok turun..'' lagi lagi kata katanya semakin lembut berbeda dengan biasanya akan terkesan cuek.
''Abang tak mampir dulu kah..?''
''Nanti saja yah ini sudah mau malam. Abang pulang dulu salamualaikum..''
''Walaikum salam..'' jawabnya sambil tersenym. Entah kebahagiaan darimana yang memihak padanya hari ini. ''Ternyata orangnya baik juga yah, tapi kadang kadang nyebelin juga.''
Apakah keduanya akan merasa nyaman..?
__ADS_1