CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.30 KELUARGA BARA


__ADS_3

Sahara sudah resmi jadian. Tapi mereka belum mengantongi restu dari orang tua masing masing.


Mereka kembali ke rumah masing masing dan berjanji akan bertemu hari esok. Sesampainya di rumah Sahara di sambut ibunya dengan gembira.


"Gimana jalan jalan nya sayang?" Walaupun sudah besar Sahara tetaplah anak kecil di depan ibunya.


"Alhamdulillah senang. Bu..."


Sahara memeluk ibunya sambil meminta makanan bak anak kecil yang minta di suapin. "Bu masak apa lapar ni." Rengeknya sambil memegang perutnya yang membuat Anggun tersenyum


"Sana makan bibi udah masak tu." Anggun menunjuk meja makan yang sudah tertata berbagai macam makanan. Setelah makan Sahara masuk dalam kamarnya yang tidak.


"Akhhh. Akhirnya jalan jalan nya seruh juga. Apa lagi kak Kaila yang yang yang kocak sekali." Sahara kembali mengingat keseruan mereka selama di puncak. Andaikan tidak sedang kuliah ingin berlama lama di sana. Sahara di sana terlanjur nyaman dan di sana merasakan ketentraman.


Tiba tiba ponselnya bergetar tanda ada orang menelpon. "Siapa sih paling juga orang iseng." Guman Sahara sambil meletakan kembali ponselnya ke tempat semula.


Yang menelpon nomor baru sehingga Sahara tidak menggubrisnya tapi lagi dan lagi nomor itu memanggil tampa henti. Karna kesal Sahara langsung mematikan ponselnya supaya tidak mengganggu istrahatnya.


Sahara sudah tertidur pulas. Karna kecapean selama di puncak dia kurang tidur. Hampir subuh baru mereka tertidur maklum lagi di mabuk asmara selama ini baru pertama kali mereka quality time. Walaupun ada situkang rusuh siapa lagi kalau bukan Kaila.


Sementara Bara kali ini merasa heran kenapa susah sekali menaklukan wanita yang bernama Sahara. Berulang kali Bara mencoba berulang kali juga ia gagal. Haruskah melakukan cara seperti binatang tapi dampaknya akan mencoreng nama besar keliarganya.


Arrrgghhh


"Kenapa dia slalu menolak ku apakah saya jelek. Tapi menurutku tak ada kekurangan apa pun bahkan bodyku idaman semua wanita tapi kenapa dia slalu menghindar." Ucap Bara sambil memandang foto Sahara yang sengaja ia potret diam diam.


Beberapa bulan lalu ia melakukan hal konyol yang mungkin di sukai oleh banyak wanita tapi tidak dengan Sahara yang menurutnya itu melecehkan harga dirinya.

__ADS_1


"Ahhh. Maafkan ku Sahara andaikan saya tidak melakukan hal konyol itu mungkin saat ini kamu tak menjauhi diriku." Rancau Bara yang merasa frustasi selama ini.


"Bara apa apaan kamu kenapa kamu teriak seperti orang kesurupan." Tegur Fandi kakanya Bara.


"Bukan urusan lo!" Fandi hanya mendelik melihat tingkah adiknya yang tak karu karuan. Fandi hanya menatap Bara dengan datar tampa senyum di bibirnya.


Kedua kaka beradik tak pernah akur jika bertemu kedua orang tua mereka sampai harus mengeluarkan suara cempereng. Fandi anak tertua dia belum menikah tapi usianya sudah kepala tiga. Banyak wanita yang mendekat tapi dia tidak suka dari yang tertutup sampai hingga yang terseksi tapi tidak adanya ketertarikan.


Fandi juga seorang miliarder yang memiliki perusahaan yang bergerak di ekspor impor. Bahkan sekarang memiliki tiga cabang di luar kota. Saking banyaknya wanita yang mendekat dia risih.


"Fandi! Menikahlah. Sampai kapan kamu sendiri seperti ini. Papi minta cucu bukan hanya kamu yang saya lihat terus sampai bosan."


Fandi hanya mendengkus kesal mendengar kata kata papinya. "Papi apaan sih saya tidak mau menikah dengan wanita matre.


"Kalau begitu menikah lah dengan Kaila. Anak sahabat papi."


Belum selesai berucap sudah keduluan dengan Mahendra merupakan papinya. "Tak ada tapi tapian yah kamu harus menikah sama dia. Anak baik baik kok gak akan menyesal menikah sama dia." Ucap Mahendra lagi lagi membuat anaknya tak berdaya.


"Papi saya ingin menikah dengan pilihan sendiri bukan pilihan papi." Fandi berusaha membela diri lagi dan lagi jadi bumerang.


"Yah itu maumu. Silakan menikah bulan depan dengan wanita pilihanmu itu. Jika tidak kamu akan tau akibatnya." Ancaman mahendra membuat nyali anaknya menciut.


"Aduh gimana ini. Mana bisa saya bisa menemukan wanita dalam sebulan. Banyak sih perempuan tapi saya tak ingin menikahinya." Pekik Fandi dalam hati.


"Gimana setuju kan. Kalau kamu akan menikah bulan depan dengan wanita pilihanmu. Jangan lama lama nanti di ambil orang kasian anak papi jomblo seumur hidup." Fandi bukan menyetujui ucapan Papinya tapi sibuk mengumpat dalam hatinya.


"Sial! Kenapa harus begini sih. Kenapa harus ada wanita sih di dunia ini nyusahin saja."

__ADS_1


Brukkk


Kulit rokok mendarat dengan mulus di wajah Fandi. Fandi yang sibuk dengan umpatannya tidak bisa menghindar alhasil wajahnya di cium kulit rokok.


"Kenapa sih pi. Saya masih mikir gak gampang nikahin anak orang. Gak sabaran bangat." Kesal Fandi berlalu masuk kamarnya dia tidak peduli dengan papinya yang sibuk memanggilnya.


"Kenapa sih pi. Kok teriak teriak." Mahera mengelus dada bidang suaminya. Mahera ibu sambung Fandi dan Bara perempuan mudah dan seksi pilihan ayahnya.


Mahera dia incar anaknya Fandi tapi malah jadinya sama papinya bukan anaknya. Selama Fandi di rumah Mahera selalu berpakaian seksi untuk menggoda anak tirinya.


"Papi hanya suruh dia menikah sayang." Mahera sebenarnya tidak suka kalau Fandi menikah dengan orang lain. "Sayang jangan di paksa kalau dia tidak mau. Nanti dia punya pilihan sendiri yah kan."


"Nanti saya yang nikahi anakmu papi."sambung Mahera dalama hati.


Mahendra hanya terdiam. Dia semakin tua dan harusnya sudah menggendong cucu. Sementara Mahera tidak mau punya anak slalu minum pil KB yang menyebabkan dirinya tidak hamil. Karna hanya ada niat terselubung yang dia inginkan.


Fandi keluar kamar dia sudah rapi. "Loh anak mami mau kemana ni. Udah ganteng amat." Mahera mendekat sambil tersenyum sensual. Fandi menepis tangan ibu tirinya pergi begitu saja.


"Sialan wanita ini. Gak suka yah sudah kukatakan malah menggodaku dengan bibirnya yang ombeng itu." Maki Fandi dalam hatinya.


"Apa harus menerima tawaran Papi untuk menghindar dengan wanita gak utuh itu." Rancau Fandi sepanjang jalan.


Fandi berfikir menikah dengan Kaila setidaknya terlepas dari gangguan jin gentayangan yang menjelma jadi ibu tirinya. Fandi tak habis pikir kenapa adanm wanita yang modelan seperti itu. Sementara Mahera melihat Fandi tidak menyukainya malah semakin tertantang. Dia memikirkan bagaimana caranya untuk menjebak Fandi nantinya.


"Sayang kok melamun saja." Mahendara mengelus pipi istrinya.


"Gak apa kok pi. Hanya berfikir saja apa Fandi tidak suka yah kalau saya tinggal di rumah ini." Mahera menampilkan raut wajah sedih agar suaminya itu iba.

__ADS_1


"Gak gitu kok sayang. Mungkin dia tidak ingin dekat denganmu karna lagi hargai saya sebagai papinya.


__ADS_2