CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.20 AKU BUKAN BARANG


__ADS_3

Sepulang kuliah saya cari keberadaan laki laki bajingan itu. Bisa bisanya dia mengakui saya sebagai pacarnya. Saya cari di kelasnya pun tak ada dimana rimbahny itu laki laki itu.


''Dek dek pacarnya kak Bara yah.'' Tanya seorang wanita yang body seksi entah darimana munculnya kenapa ada di depanku.


''Bukan.!!'' Jawabku acuh sambil membentaknya. Kenapa sih orang orang pada nyebelin hari ini.


''Santai saja dong kan aku hanya nanya.'' Saya kembali melanjutkan langkahku saya tidak peduli dengannya.


Saya mencari keseluruh penjuru tapi nihil kemana sih mana luas lagi ini kampus masa iya ku susuri semua. Saya mencarinya sekali lagi jika tidak kutemukan hari ini saya akan mencarinya besok lagi.


Ternyata dia nongkrong di dekat pintu gerbang sama geng motornya sambil menggoda wanita wanita seksi yang keluar masuk dari area kampus ini. Kudekati mereka dengan diam. Karna mereka lagi serius tidak ada yang menyadari kehadiranku yang menyimak obrolan mereka.


''Ehhh bro berhasil nggak?'' Tanya salah satu temannya.


''Berhasil lah, saya kan sudah bilang kalau dia itu polos jadi kalau saya akuinya di depan umum pasti mau lah. Kan cewek sukanya diakui supayah terbang keawan.''


''Kalau berhasil saya bayar kamu dua puluh juta. Jika kamu tidak berhasil bayar kami empat puluh juta.'' Tantang salah satu teman nya yang rambut gimbal itu.


''Setuju..!!'' Jawab yang lain secara bersamaan dan lagi lagi Bara tertawa terbahak bahak sambil berkata. ''Deal..!!'' Di iringi sorakan teman temannya.


''Yakin tapi kalau Sahara mau jadi pacar kamu.'' Tanya salah satu temannya. Nampaknya dia yang kurang yakin.


''Yakin bahkan seribu persen. Pasti dia saat sangat berbunga bunga.'' Jawabnya dengan pedeh.


''Ingat yah bro kalau kamu tidak berhasil kami akan menagih janjimu.'' Teman temnnya mengingat tentang kesepakatan mereka barusan. Ternyata saya di jadiin taruhan oleh mereka.


''Tenang saja. Jika tidak berhasil saya kasih kamu lima puluh juta.'' Lagi lagi dai berucap dengan entengnya.

__ADS_1


Ekhhmmm


Saya berdehem. Saya sudah muak dengan laki laki laknut ini. ''Sayang sejak kapan kamu berada di sana..?''


Cihh... bisa nggak sih kuamuk anak orang kalau perlu saya kirim ketemu tuhannya sekalian.


Dia datang menggenggam tanganku tapi segera kutepis. Sementara teman temannya hanya menatapku dengan tatapan berbeda beda. Dasar otak mesum itu orang. Dia lihat aku sampai sampai mau keluar biji matanya.


''Coba jelasin ke aku kenapa saya jadi pacar kamu. Saya tak ad rasa sama kamu tapi kamu dengan lancangnya kamu bilang saya pacar kamu.'' Tanyaku tampa basa basi. Memang saya dasarnya gak suka drama.


''Sayang kan memang kita pacaran kan saat ini. Jangan marah marah lah yuk kita cari makan.''


''Saya tidak mau. Ingat yah sampai kapan pun saya bukan pacar kamu..!!'' Bentak ku sengaja agar teman temannya juga pada tau atau orang orang sekitar pun sekalin biar dia malu sekalian.


''Dan satu lagi aku bukan barang yang akan di jadikan taruhan.''


Sambil kupergi dari sana. Saya cari kendaraanku di parkiran. Saya harus cepat pulang bikin kue untuk kak Kaila dan abang dan satu lagi orang tua juga yang ada dalam ruangan.


Sesampainya di rumah saya langsung bikin kue masih ada waktu tiga jam. Selesai bikin kue baru istrahat sekalian. Satu jam berlalu akhirnya kue buatanku sudah jadi. Sebagian ku bawah di rumah sakit sebagian untuk orang rumah.


Sesampainya di rumah sakit saya langsung menuju ruang rawat kak Boy. Tapi di dalam tak kudapati kak Kaila hanya ada siulat bulu dalam ruangan ini. Saya tidak menyapa mereka karna percuma saya juga tak dianggap ada. Boy pun sama sekali tak meliri ku hanya pandangannya tertuju sama wanita seksi itu.


''Kak lain kali kalau bawah motor jangan ngebut ngebut yah.'' Sambil mengacak rambutnya kak Boy.


Saya hanya pura pura bermain ponsel sambil menunggu kedatangan kak Kaila. Apakah dia pulang mandi tapi kayaknya tadi dia nunggu aku.


Saya menunggu tiga puluh menit terdengar pintu terbuk dari luar. Ternyata kak Kaila yang datang dari laur sambil bawah nasi kotak mungkin dia dari kantin atau dari luar rumah sakit.

__ADS_1


''Uda lama dek.?'' Tanya nya sambil meliri tak suka sama dua ingsan yang lagi dimabuk cinta itu.


''Lumayan kak udah tiga puluh menit jadi obat nyamuk.'' Sindirku, ku lirik dengan ekor mataku Boy menoleh kearah kami setelah mendengar sindiranku. Sementara wanita di sampingnya hanya terkeke tampa dosa.


''Maaf yah kak, soalnya kaka diam diam saya juga takut untuk saya ajak ngobrol.'' Dia ikut nimbrung padahal tidak diajak ngobrol.


Kenapa sih saya sensi amat. Suka suka dialah mau pacaran sama siapa tapi hatiku tidak bisa bohong kalau saya cemburu. ''Kak saya bawa kue brownis semoga suka yah kak.'' Akhirnya saya mencairkan suasana yang sempat tegang. Saya mengambil potongan kue lalu membawanya sama om yang hanya melihat kami tampa berucap apa pun. Saya menyimpulkan jika dia keluarga kak Kaila karna kemarin menangis di samping om ini.


''Om ini kuenya.'' Dia menerima pemberianku sambil mengucapkan terima kasih. Om itu makan sambil tersenyum kearahku. Tiga kali suapan akhirnya potomngan kue itu habis juga. Saya senang kalau orang suka dengan kue buatanku.


''Wah enak bangat dek, kamu bikin sendiri.''


''Iyah kak saya bikin sendiri sepulang dari kampus tadi.'' Jawabku antusias..


Uhukk...uhukk.. uhukk..


Boy tersedek kue buatanku atau dia tersedek air liurnya sendiri. Kailamelirik kearah adik sepupunya itu dengan tatapan penuh tanya.


''Pelan pelan kak. Gak ada yang ambil. Kok kuenya.'' Lagi lagi wanita itu yang membuatku muak. Boy melihat kearahku tapi saya buang pandangan ketempat lain. Ngapain harus tatap tatapan sama dia emang dia siapa sih.


Saya baring baring di sofa sementara kak Kaila izin pulang sebentar saja ada yang urusan. Saya juga tak apa apa tapi lagi lagi wanita yang tak kuketahui namanya itu pulang juga.


Saya pura pura tidak melihat kearahnya padahal saya tau kalau dia lagi menatapku dengan tatapannya yang membuatku nyaman.


Hatiku bergetar tapi saya mengabaikannya. Dia sudah jadi milik orang tidak boleh untuk di cintai.


Uhukkk uhukkk

__ADS_1


Dia batuk batuk saya bangkit dengan cepat saya memberinya minum. Saya akan kemabli ketempatku dia malah menahan tanganku. Mau tak mau saya duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya. Beruntung ayahnya sudah tertidur jadi gak ada yang lihat kalau kami lagi pegangan tangan.


''Sayang... kamu masih marah...?''


__ADS_2