
Mereka berteman seola ola sudah kenal lama, Saharanya yang tadinya enggan tapi setelah antusias Kaila dia mulai biasa saja, padahal dia tau sejak tadi Boy curi curi pandang.
Sahara tidak inggin salah paham lagi karna yah menurutnya sudah cukup berlalu bahkan sudah tak ingin sakit hati lagi.
Sahara hanya banyak diam tapi bukan Kaila namanya kalau tidak membuat susana menjadi orang kembali ceria.
''Ada lagi kan yang mau di buat atau buat tugas kalian yuk.''
Sahara mendengar kata tugas nya mau di bantuin langsung saja jingkrak jingkrak yang membuat mereka tertawa. ''Ada kak mau yah bntuin tugas ku kebetulan kita satu jurusan.''
Berlari masuk kedalam kamarnya sambil lompat lompat seperti anak kecil ang baru mendapatkan permen. Setelah mengambil laptop serta buku dan beberapa jurnalnya.
Mereka mengerjakan tugas sambil tertawa akhirnya suasana rumah menjadi sangat ramai bahkan kalah dengan pasar sentral bahkan mereka tertawa seola ola itu hutan.
Anggun yang melihat anaknya tertawa lepas inisiatif untuk bikin makanan untuk makan siang mereka. Karna sedari tadi hanya kue yang di makan.
Anggun memasak untuk anak anak nya itu, yah dia menganggap anak nya sudah bertamba dua sekarang ternyata banyak anak semakin bagus.
Andaikan dulu dia tak menolak di madu mungkin dia juga sudah memiliki banyak anak mungkin dia bisa melahirkan tiga anak.
Tapi semuanya tak bisa karna di madu, dia tidak mungkin membangun rumah tangga yang sudah tak sehat lagi. Dia memilih menjadi janda di bandingkan hidup di bayang bayang selingkuhan suaminya.
''Andaikan kamu tak selingkuh mas, kita bisa membesarkn Sahara bersama sama mungkin dia juga akan memiliki adik lagi.'' Guman Anggun sambil berlinang air mata.
Dia mengingat dimana rasa sakitnya dahulu dia di tinggalkan begitu saja tak ada harta berharga yang di tinggalakan selain anaknya serta rumah yang di tinggali saat ini.
''Aku pergi saya mencintainya, kamu jangan cari saya lagi karna saya tidak cinta lagi sama mu.'' Kata perpisahan suaminya kala itu demi cinta melepas anak yang baru berusia tiga tahun. Anak kecil yang tiga tahun lalu sudah menjelma menjadi seorang gadis cantik kadang suka ngambekan tapi yah namanya perempuan pasti suka ngambek kan.
Sahara sekarang sudah tau kalau ayahnya mendua tapi memilih diam. Dia sudah tak mungkin menjadi orang yang salah jalan karna hal itu. Sahara sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membanggakan ibunya. Dia tau sepak terjang ibunya yang dulu masih masa sulitnya.
__ADS_1
''Anak anak ayok makan...!!''
Ketiga orang itu langsung bangkit langsung berebut mengambil kursi masing masing. Mereka makan sambil berceloteh yang tak ada habisnya.
''Ibu enak sekali, boleh namba lagi nggak.'' Boy sambil mengangkat piringnya yang kosong.
Anggun mengambil piringnya lalu mengisi nya dengan nasi serta lauk pauknya. Boy makan dengan lahap selama ini dia makan hanya masakan ayhnya atau si mbok.
Baru kali ini Boy merasakan kasih sayang seorang ibu walaupun itu bukan ibunya. "Enak yah bunya ibu pasti sama sama tiap hari."
Batin Boy lagi lagi dia harus menahan air mata yang akan tumpah sedikit lagi. Anggun sebenarnya melihat itu tapi dia memberi waktu untuk Boy meresapi sendirian.
Anggun bukan lah tipe yang blak blakan kalau sama orang lain kecuali anaknya sendiri. Selesai mereka makan semua kembali keaktifitas masing masing.
Boy sudah kembali ceria melihat Sahara seceria itu walaupun mereka belum bertegur sapa "itu salah itu karna yang ini masuk di sini..."
"Kalian kenapa sih berantam di sini, no berantamnya di luar saja."
"Kak dia yang mulai masa iya dia ajarin salah salah.."
"Nggak kok saya hanya ajarin dia saja sesuai penegetahuan saya" mereka saling lempar candaan yang tak ada habisnya. Tak terasa hari sudah sore sebentar lagi akan berganti malam.
"Ibu kami pulang dulu yah, nanti main lagi di sini." Mereka salim sama bu Anggun mereka berlalu setelah cipika cipiki dengan Sahara.
"Ibunya Sahara baik yah ternyata hanya wajahnya saja yang kelihatan judes." Celotehan Boy mengundang tawa Kaila yang bonceng di belakangnya.
"Anaknya atau ibunya yang baik...?"ledek Kaila yang sedari tadi mendengar kan ceritanya. Kedua orang itu pulang dengan riang karna berhasil mengembalikan mood Sahara. Sahara bisa lagi menerima kehadiran Boy walaupun hatinya masih tertutup dan tak ada yang bisa tau, tapi sengganya bisa kembali mendapatkan nomornya yang baru. Boy mulai membatasi pergaulannya dia tak ingin lagi melakukan aktifitas yang tak terlalu penting.
Dia muali fokus menyelesaikan kuliahnya dan sekarang mulai belajar cara mengerjakan pekerjaan supayah nanti melamar pekerjaan dia sudah berpengalaman.
__ADS_1
Ke esokan paginya Boy berangkat ke kampus dengan wajah ceria, senyumnya seketika pudar ketika seseorang menggandeng tangannya. Dia tak melarangnya bahkan dia membawanya ke taman untuk di ajak bicara baik baik.
Shidy merasa senang ketika Boy tak melepaskan tangannya tapi itu tak berlangsung lama. "Shid kamu itu cantik dan pintar maka dari itu kita sudahi saja sampai di sini."
Duarrrr
Seperti petir di siang bolong Shidy masih bisa mencerna apa yang di ucapkan laki laki yang ada di sampingnya kini.
"Kenapa seperti itu, aku rela melakukan apa pun untukmu tapi tolong kamu bersamaku." Shidy mulai membuka kancing kemejanya dan memperlihatkan asetnya yang besar dia tak peduli lagi kalau dia di cap wanita mutahan yang pwnting harus menaklukan laki laki yang ada di sampingnya.
"Pegang lah Boy ini semua nya untukmu kamu bisa menikmatinya, saya bisa berikan yang lebih dari itu kalau kamu mau" Boy mematung melihat barang bagus di depannya laki laki mana yang tak tergoda dengan hal yang seperti itu tapi Boy sedang menahan diri agar tangannya tak sampai menyentuhnya.
Shidy melihat Boy hanya mematung menyodorkan di depan wajahnya kali ini Boy tidak tinggal diam.
Brukkk
Dia mendorong Shidy sampai terjatuh dia tak ada niat untuk menolong karna salahnya sendiri menggodanya. Tak selang beberapa lama Shidy di tolong seorang laki laki yang otak mesumm.
Hai nona apakah ini gratisan atau....
Plak.....
"Dasar otak mesum..." pekik Shidy lagi dia menampar Andre yang terkenal otak mesum itu.
Andre bangkit sambil menyeringai, "kamu sendiri yang membukanya kenapa kamu marah sih.."
Andre sambil menelan air liur melihat aset yang seperti itu. "Hei ini bukan untukmu..." marah Shidy. Andre hanya terkeke menanggapi ocehan Shidy yang menurutnya munafik. Jelas jelas tadi dia membukanya sendiri dan di perlihatkan.
"Dasar wanita munafik..." saya akan memberikanmu kepuasan tapi setelah pulang dari kampus sambil mencium rabut Shidy. Sampai merinding di buatnya...
__ADS_1