CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB 14


__ADS_3

Sepanjang jalan Sahara tertidur. Anggun hanya melirik sekilas karna percuma di bangunkan dia ngantuk berat. Besok akan meminta anaknya yang akan membut puding. Lumayan daripada beli lagian di rumahnya juga.


Sesampainya di rumah Sahara sudah terbangun dan masuk kedalam kamarnya. Dia sangat kelelahan akibat main di taman.


Di tempat lain Bara mengingat kejadian di taman tadi sore. Bagaimana bisa orang yang di kaguminya tak mau terlalu dekat dengannya padahal dirinya orang yang tak terlalu buruk.


Badan kekar dan pahatan wajah yang tegas. Da selain anak motor dia juga anak basket. Bara bangun untuk memastikan jam berapa saat ini sejak tadi bolak balik tapi tidak bisa tidur.


  ''Kenapa dia slalu ada di pikiranku saat ini.'' Gumannya pelan


Hal yang sama juga di rasakan Boy saat ini bedanya dia di hantui rasa bersalah. Rasa bersalah itu semakin hari emakin besar. Dia tidak ada keberanian sama sekali untuk menemuinya.


    Boy saat ini hanya bisa menatap foto yang ada di ponselnya untuk sekedar pengobat rindu. ''Sedang apa kamu sekarang. Jangan marah lagi yah.'' Seolah dia sedang bicara dengan orangnya, padahal ada bertatap muka.


Tidur sambil memeluk ponselnya, setelahnya dia terlelap dialam mimpi.


Ke esokan paginya banyak orang yang melakukan aktifitas tapi malah dirinya malas malasan di dalam kamar nya tidak ada gairah untuk melakukan aktifitas. Dia kembali tidur masuk dalam selimut.


Hari ini Anggun sibuk karna arisan diadakn di rumahnya, pagi ini sibuk bikin aneka makanan ringan dan banyak lagi. Arisan ibu ibu kompleks yang sudah berjalan tiga tahun.


Sudah dua jam bertempur dengan aneka masakan yang akan di hidangakan sore nanti. ''Ibu ini pudingnya sudah cukup.?''  Tanya Sahara karna dia yang hendel pudingnya.


  ''Iya itu saja cukup, nanti brownis saja yang akan bikin satu lagi.''


Semua sudah terhidang karna sebentar lagi para ibu ibu akan datang mengingat waktu sudah sore. Sahara istrahat di kamarnya karna seharian dia membantu ibunya di dapur. Setelahnya Anggun bersiap akan menyambut para ibu ibu yang akan datang.


Lima belas menit kemudian ibu ibu sudah berdatangan termasuk bu RT yang julid. Apa apa di komenin yah siapa lagi kalau orang kaya baru. Dan anaknya seorang abdi negara itulah yang membuatnya makin sombong dalam kompleks ini hanya dirinya lah memiliki anak yang provesinya sebagai prajurit negara.

__ADS_1


''Ehhh... bu Anggun kok makanannya ketrin mana yah kok tampilannya cantik catik skali, pasti rasanya gak sesuai sih.'' Komennya lagi.


Anggun hanya tersenyum mendengar ocehannya. Nanti di liat sebentar akan jadinya seperti apa karna komennya memang pedas tapi makan nya paling lahap sendiri.


Setelah lot arisan tuan rumah mempersilahkan untuk mencicipi berbagai hidangan yang sudah di sediakan.


''Masya allah ini pudingnya enak bangat, pesan dimana bu, ini rasanya pas di lidah.'' Komen bu Lisa tetangga pas di depan rumahnya.


''Iya enak ini bu, pesan dimana pasti mahal ini harganya.'' Timpal yang lain..


  ''Itu anak saya yang bikin bu. Sahara yang bikin tadi pagi katany mau belajar..'' jawab Anggun seadanya.


''Yang benar bu. Ini bukan belajar lagi tapi sudah ahli ini.'' Komen bu Andara sambil mengambil puding potongan ke tiga kali, nambah sudah yang ketiga. Kalau bu RT jangan di tanya lagi dia makan paling lahap di semua hidangan.


''Ini rasanya tidak ada enak enaknya, kalau saya kemarin pesannya di restoran mahal jadi yah rasanya sudah pasti terjamin dan juga kebersihannya.'' Timpal nya dengan ketus.


  ''Bu Saras saya makan karna saya hargai. Saya makan lahap bukan berarti rasanya enak. '' jawab bu RT dengan lantang.


''Iya in saja deh.'' Timpal ibu ibu kompak. Karna mereka tau kalau mereka berhadapan yang kurang seons. Yang lain sibuk cerita pekerjaan dan nak anak mereka bu RT. Sibuk bungkusi makanan tapi yang lain pura pura gak liat. Lagian mereka sudah tau kebiasaannya bahkan bukan kali ini saja.


''Jeng bungkusin saja makanannya jangan sungkan sungkan.''


  Yang lain lagsung bungkus hanya BU RT yang hanya duduk manis sambil mengoceh sana sini.


''Kalian bungkusin makanan yang tidak enak seperti itu.'' Ocehan bu RT memancing tawa mereka. Gimana gak tertawa sementara sudah dia yang bungkus duluan.  Baru komen lagi yang gak enak di dengar.


   Anggun hanya tersenyum, sebagai tuan rumah dia harus tenang agar tidak memancing keributan yang tak di inginkan. Setelah selesai para ibu ibu pamit pulang sambil cipika cpiki.

__ADS_1


Tinggal bu RT yang ter


tinggal di rumah ini sambil celinguk clinguk seperti mencari sesuatu.


''Cari siapa bu.?'' Tanya yang empunya rumah.


''Gini bu, saya mau minjam uang untuk anak saya, soalnya lagi butuh mendadak.''


Ternyata dia minjam uang. Mau minjam tapi mulut tak bisa di kontrol.   ''mau minjam berapa bu.''


''Mau minjam dua ratus juta bisa.?'' Dia akan minjam untuk apa dua ratus juta. Bukannya ananya ada pekerjaanya sudah pasti punya gaji.


''Maaf bu saya kalau uang segitu gak punya saya juga baru bayar uang kuliah Sahara. Kalau dua juta saya ada.'' Anggun tidak bohong karna memang baru membayar uang kampus anaknya.


''Bu pelit amat, uang dua ratus juta gak punya padahal kamu punya perusahaan sendiri. Dasar orang pelit..'' dia pergi begitu saja tampa pamit. Lantaran maunya tidak di penuhi.


Bu RT sepanjang jalan komat amit karna semuanya yang di inginkan harus di penuhi. ''Bu kenapa kok marah marah.'' Tanya anaknya yang bernama Randi itu.


''Itu orangg kaya yang di kompleks ini saya minjam uang malah di hina habis habisan.'' Bu Salea [ BU RT ]. Sengaja berbohong agar anaknya itu bisa pergi marh marah di rumah nya Anggun.


''Ha.. kok bisa bu, emang ibu mau pinjam uang buat apa, ibu butuh uang?'' Randi memastikannya. Karna dia tau sifat ibunya seperti apa.


Dia heran kenapa ibunya suka cari masalah sama orang lain. Dia berusaha tidak terpancing dengan kta kata ibunya barusan. Apa lagi Bu Anggun yang terkenal tidak pernah ada masalah semua orang juga tau kalau ibunya lah yang kerap punya masalah sama orang lain.


''Maaf yah bu, saya lagi ada urusan di luar. Ini ada uang.'' Randi pergi sambil menyerah kan uang pecahan seratus ribu sebanyak sepuluh lembar.


''Salaea sebenarnya ingin marah mendapati respon anaknya itu. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Sudah sore bagusnya pesan saja makanan supayah bisa pamer di group kompleks ini. Karna sikapnya yang sikap pamer yang membuat suami dan anaknya yang jengah dengan kelakuannya.

__ADS_1


__ADS_2