
Kaila lagi bersama dengan Sahara berada di sebuah cafe yang dekat kampus Sahara. "Saya lagi bingung Sa. Masa saya harus menikah sama orang yang saya tidak suka sama sekali."
"Emang kaka sudah di lamar?"
"Iya kemarin malam saya di lamar, saya tidak enak sama omku makannya saya terima lamarannya dan akan menikah bulan depan."
Sahara bergeming karna tidak tau harus mau jawab apa. Setelahnya yang mereka terdiam dalam keheningan masing masing.
"Saya harus gimana Sa. Saya tidak tau harus apa." Tiba tiba berucap memecahkan keheningan. Sahara menyesap kopi susu pesanannya.
"Terima saja kalau menurutmu dia laki laki baik baik." Ucapan Sahara yang Kaila kembali terdiam.
"Apa benar dia laki laki baik baik. Apa yang harus saya lakukan tapi sejauh ini malah seperti laki laki apa adanya tak pernah menuntut ini dan itu." Guman Kaila dalam hati.
"Hei. Kok malah melamun sih." Ucap Sahara sambil menjentikan jarinya di depan wajah Kaila.
Kaila tersadar dari lamunannya sambil menguasai keadaan.
"Siapa yang melamun sih dek. Kaka cuma mikir aja gimana bagusnya berhenti atau lanjut." Lanjut Kaila dengan raut wajah yang tak baik baik saja. Seandainya bukan omnya yang memintanya untuk menikah mungkin diakan menolak perjodohan itu.
"Kak minta petunjuk sama Allah. Allah lebih tau hambanya." Ucap Sahara memberi saran untuk wanita yang sudah dianggap kaka sendiri. Kaila mengangguk tanda setuju dengan saran yang di dapatkan dari Sahara.
Manusia hanya berencana tapi allah yang menghendaki segala sesuatunya. Untuk menentukan perasaan yang bimbang hanya doa yang bisa memulihkan semuanya. Tak ada manusia baik baik yang ada hanya manusia lahir dengan segenap kekurangan yang lainnya hanya pemanis dalam hidup.
Setelah semua selesai mereka berpisah di parkiran. Sahara kembali kerumahnya karna hari sudah semakin sore. Tak terasa lama perjalanan karna hari semakin sore saja banyak orang berlomba akan pulang kerumahnya.
Setelah menempuh perjalanana yang cukup menguji kesabaran dan menyita waktu akhirnya kedua gadis itu tiba di kediaman masing masing.
"Kak darimana? Saya cari dimana mana gak ketemu." Tanya Boy dengan ketus. Karna dia mencari seluruh penjuru tak ketemu juga.
__ADS_1
"Ada apa? Saya cape mau istrahat."
"Tadi kak Fandi datang bawa in ini." Boy menyodorkan sebuah bingkisan yang di terima dari Fandi.
Kaila memperhatikan bingkisan yang sudah berpindah tangan. "Ini apa yah." Guman Kaila dalam hati sementara Boy sudah tak ada di depannya entah kemana perginya. Kaila masuk ke kamarnya sambil membuka bingkisan itu. Dalam bingkisan itu terdapat gaun untuk diner.
"Nanti malam saya jemput sebentar malam. Jam 07.20 ."
Kaila membaca pesan itu dalam hati. "Ya allah semoga dia jodohku dan dia merupakan petunjuk dari Mu." Doa Kaila dalam hati.
Jam tujuh malam benar saja Fandi sudah menjemputnya. Kaila setelah mendapat izin akhirnya pergi diner bersama dengan Fandi.
"Sudah siap" tanya Fandi setelah Kaila masuk dalam mobil. "Iya kak sudah siap." Jawab Kaila dengan senyum khasnya.
Mereka memakai baju couple mereka akan diner di salah satu restoran yang ada di hotel terkenal. Di sepanjang jalan mereka larut dalam pikiran masing masing.
"Jangan mikirin yang macam macam kita mau makan bukan hal aneh aneh. Malu juga kali masuk cek in di hotel pake pakaian seperti ini." Jawab Fandi dengan mode datar.
Mereka masuk dalam lif. Restoran yang ada di lantai sembilan. Kaila takjub karna baru tau ada tempat romantis yang seperti ini. "Suka nggak tempatnya?"
"Suka kak. Saya baru tau kalau di sini ada tempat yang indah seperti ini." Fandi merasa lucu dengan wajah Kaila yang menggemaskan.
Setelah mereka duduk pelayan membawa beberapa menu request dari Fandi. "Kak kok udah ada makananya?"
"Iya sayang. Cobain yang mana dulu ini." Ujar Fandi sedang bersiap mengambil makanan yang sudah terhidang.
"Yang apa saja deh kak." Fandi mengambil beberapa makanan di taruh di piring Kaila. Tampa Kaila sadari hotel ini merupakan salah satu hotel Fandi. Tapi kali ini Fandi seolah tamu hotel selayaknya.
"Gimana apa kah pernikahan ini kamu sudah siap?" Tanya Fandi.
__ADS_1
"Insya allah kak. Saya siap lahir batin dan satu yang ku pinta jangan pernah menghadirkan orang ketiga dalam pernikahan kita nantinya." Ucap Kaila dengan lirih sambil menyekah bulir bening yang turun di pipinya. Fandi melihat itu seola jiwanya meronta ingin menenangkna wanita yang bersamanya kini tapi mereka belum halal.
Sementara di kejauhan ada yang menahan kesal. "Kok bisa sih kepincut sama wanita kampungan itu." Erangny seorang diri padahal tampa ia sadari dia juga berasal dari kampung.
"Saya harus gagalkan rencana pwrnikahan mereka saya tidak sudi dia menikah dengan orang lain. Dia adalah milik ku." Gumannya seorang diri. Dia saat ini memakai kecamata hitam jika di lihat sekilas tidak ada yang mengenalinya.
Sementara Kaila di perlakukan secara spesial oleh calon suaminya. Bahkan makan pun di suapi. Siapa pun yang lihat pasti akan iri. Banyak mata yang curi pandang ke arah mereka para karyawannya sekali pun.
"Ih. Si bos mah, paling jago soal bikin nyaman. Seola ola dunia ini milik mereka dan yang lainnya hanya numpang." Gurau salah satu karyawan yang memiliki tag nama Sania.
"Iya mah si bos. Gercep amat ceweknya cantik bangat." Timpal Fahmi.
Kemesraan dua sijoli diabadikan di media sosial masing masing. Yang banyak mendapatkan banyak like dan dan komen ada salah satu akun yang meninggalkan komen dengan nama akun yang SINTANG.
SINTANG : "Cowoknya gagah ceweknya kampungan amat."
Komenan itu mendapat hujatan kembali. Risal : " Situ waras asal komen saja bilang saja lu iri kan." Dengan di bubuhi emot meledek.
"Fandi cl : "kalau akun fake jangan asal komen nanti saya laporkan di kantor polisi." Komenan Fandi membuat banyak like sementara yang punya akun fake ketar ketir langsung keluar dari akunnya.
"Sial. Kenapa harus memiliki Fandi sih." Umpatnya kesal..
Hari yang di tunggu tunggu telah tiba hari ini adalah hari yang paling spesial. Ternyata hari ini bertepatan dengan hari kelahiran Kaila. "Cie yang sudah segera halal." Ledek Sahara. Sahara sejak kemarin berada di hotel tempat dia adakan akad nikah sekaligus resepsi.
Pipi Kaila bersemu merah menahan malu karna saat ini sedang di godai.
"Aduh pipinya pengantin baru belum apa apa dah merah saja." Ledek Sahara kembali lagi dan membuat para perias tertawa. Gurauan Sahara membuat dirinya rileks dan menghilangkan rasa gugupnya.
"Gak usah gugup nak. Rileks saja yah. Sebentar lagi akan mulai. Anggun ikut juga mempersiapkan segala sesuatu karna sudah menganggap Kaila seperti putrinya.
__ADS_1