CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.24 TERNYATA TAK SENDIRI


__ADS_3

Cerita Aswani yang mebuatku terkejut. Saya kira hanya sendiri berada di fase seperti saat ini, ternyata ada orang yang juga sama denganku. Kembali teringat dengan Sahara apa kabar dia di sana...


Aswani mengajak ku untuk tukar kontak agar bisa komunikasi dengannya setelahnya kami tukaran nomor ponsel suatu saat nanti bisa bertemu kembali.


Kami berpisah saat sudah merasa cukup. Ternyata dendam itu sangat tidak baik  entahlah rasanya dendam itu sudah mendara daging sangat sulit di lupakan..


''Ayok lah Boy demi kebaikanmu pasti bisa.'' 


  Saya menyemangati diri sendiri, walaupun berat saya harus melepaskan dendam itu saya menerima ini takdir. Saya mencoba mengikhlaskan masa lalu yang pahit saya harus membuka lembaran baru.


Sepanjang jalan saya hanya merenungi apa yang telah terjadi selama ini. Saya pacu kendaraan roda dua dengan kecepatan sedang agar saya bisa merasakan hembusan angin segar entahlah angin segar dari mana jalan ibu kota hanya polusi yang ada.


Sesampainya di rumah masih sepih mungkin kaka sama ayah belum pulang saya membersihkan badan terlebih dahulu.


Andaikan kamu bisa kembali Sahara  tak akan pernah melakukan lagi kesalahan yang sama lagi. Pikiranku hanya ada namanya yah ternyata cinta itu tak ada syarat apa pun walaupun ada dendam tetaplah cinta itu tumbuh.


Apakah cinta itu salah, bagaimana bisa mencintai seorang wanita di pandangan pertama andaikan saya bisa menghilang agar tak merasakan cinta itu.


Ku peluk guling sampai akhirnya saya tidur....


Boy.....


Boy....!!!


Ukhmmm


Saya menggeliat entah kenaa saya di kasih bangun padahal baru saja tertidur menurutku.


''Apaan sih kak saya baru tidur'' kak Kaila hanya mendengkus kesal.


  ''Bangun makan, bukan Sahara tau, saya suruh makan malah ngigoin Sahara lagi.'' Ketusnya sambil balik badan.

__ADS_1


  "iya...'' jawabku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Saya beranjak dari ranjangku dan menengok jam yang ada di atas meja belajar sudah jam delapan. Pantas saja kaila mara mara lama juga saya ketiduran.


Saya kedapur di sana tinggal kak Kaila yang makan sendiri berarti ayah sudah di pastikan dia masuk kamarnya. Di rumah ini harus mandiri karna pembantu hanya kerja dari pagi sampai sore saja tak tinggal di dalam.


Makanan kak Kaila sisa sedikit tinggal berapa suap saja dia hanya melirik. Ku sekilas tampa banyak bertanya langsung membawa piring bekas makannya untuk di cuci di wastafel.


Saya kira dia langsung masuk ke kamarnya ternyata dia temani saya makan dan tidak banyak bertanya seperti patung hidup dia di depanku.


Tapi saya sedikit was was kalau dia sudah diam berarti ada hal yang tidak beres.  Menyeramkan nggak sih dia. Saya malah di buat makin terpojok saya berusaha menghabiskan makananku dengan teburu buru sampai akhirnya saya tersedak


Uhukk


Uhukkk


Uhukk


''Ni minum jangan makan seperti di kejar setan saja kebiasaan kan.'' Omelnya, emang yah kalau wanita itu sukanya ribet padahal saya hanya tersedat tapi ngomelnya panjang kali lebar plus tinggi juga sisa di hitung volumenya saja. Hehhe emang bangunan ruang apa sampai dengan volumenya segala.


Apakah saya terlalu egois jadi seorang anak sampai sampai saya melarang ayah saya menikah lagi. Sampai saat ini ayah tidak pernah lagi memperkenalkanku atau bawah perempuan di rumah ini semenjak saya melakukan penolakan.


   ''Ayok ikut saya di luar'' tiba tiba kak Kai mengajakku keluat tampa perlawanan dia mengajak ku dan kami duduk di luar di kursi teras. Kami duduk saling berhadapan dari tadi kak Kai mengimintimidasiku bahkan tatapannya sangat tajam.


  Bahkan dia sangat sangat menakutkan kalau sudah diam sambil menatap tajam ''kamu tau rumahnya Sahara dimana?''


Saya keheranan melihat tingkah anehnya jangan jangan dia akan memarahi Sahara. Apa apaan sih ini kak Kaila biasa aja deh selalunya saja begitu gimana saya gak jomblo kalau di kawal sama nenek lampir gini. Wanita yang kenal denganku harus lolos seleksi darinya.


''Jawab..! Lama banget malah nglamun gak jelas'' dia sambil bersedekap di dada benar benar ini perempuan gak bisa apa pake nada pelan malah ngebentak pula.


''Iya tau'' jawabku sedikit ketus.


''Dimana?'' Besok antar saya ke sana dan kamu harus mau.''

__ADS_1


Sambil berlalu begitu saja masuk dalam rumah dan meninggalkan saya yang masih membatu di luar. Tapi saya belum iya in dasar wanita aneh susa di tebak dan misterius.


Gimana ini saya saja kalau datang kerumahnya selalu bilangnya gak ada padahal saya tau kalau dia ada di rumah, gimana caranya kalau di tolak nanti dia sendiri yang urus.


Sekarang kami berada di rumah Sahara kami di sambut baik sama orang tuanya bahkan sekarang kak Kaila hanya berdua ngobrol dengan Sahara ternyata mereka mau bikin kue.


''Bu saya boleh gabung nggak sama mererka.''


''Sangat bisa nak...''


Akhirnya mereka bikin kue tak ada yang ku lewatkan saya bikin video menggunakan foto dan menfoto mereka yang sedang bikin adonan kue. Mereka akan bikin kue kesukaanku yaitu kue bolu pandan.


Masih ingat dulu ibu bikin terakhir kali bikin kue bolu pandan sebelum pergi, andaikan ibu tau bahwa saya merindukannya tapi apa lah daya mungkin dia sudah melupakanmu.


Saya sudah memaafkanmu ibu tapi apakah ibu mau memaafkanku, tak terasa air mata ini menetes begitu saja "andaikan ibu tidak pergi saya slalu menyayangimu." Saya membatin dalam diam malu rasanya jika ketahuan menangis di depan mereka.


"Hei...kok nangis kamu kenapa? Apakah ada yang membuatmu sedih?" Ibunya Sahara bertanya apakah dia memperhatikanku sedari tadi.


"Nggak ibu saya hanya ingat ibu saya saja." Ibu Anggun hanya mengangguk lalu meninggalkanku begitu saja mungkin dia lagi sibuk dan pergi entah kemana.


Jadi juga kue yang mereka bikin, mereka bikin kue sambil saya wawancarai seperti halnya bikin vlog.


Saya makan rasanya persis buat buatan ibuku dan lagi lagi teringat ibuku. Andaikan dia ada di sisiku saat ini, semoga dimanapun dia berada selalu di lindungi amin.


"Ayo makan kak kok malah bengong saja."


"Ehhh iya ya...." jawabku sekenanya kalau di kenal lebih dekat dia sangat baik. Emang yah kalau wanita ketwmu yang satu frekuensi akan lebih smart.


Kak Kaila juga slalu tersenyum padahal dia orangnya jutek jarang sekali tersenyum. Tapi dimana mereka akrab padahal bertemu sebelumnya mereka tak begitu akrab. Apakah waktu di rumah sakit, aneh yah padahal mereka seola ola sudah kenal lama.


    

__ADS_1


__ADS_2