
Saya mengajak anak semata wayangku. Sahara saya hanya memiliki dia penyemangat hidup ku selama ini. Malam ini saya mengajaknya keacara ulang tahun teman ku sekalian reuni dengan kawan kawan lama.
Sengaja kami pakai pakaian couple agar kompak. Andaikan kamu tak pernah mendua mungkin saat ini kita akan jadi keluarga yang harmonis. Dulu saya di tinggal begitu saja demi wanita lain.
''Bu kok melamun, ayok saya sudah siap.'' Sahara membuyarkan lamunanku yang telah saya lewati dua puluh tahun sendiri bukan hal yang mudah.
''Ayok.. kami masuk dalam mobil, saya yang nyetir karna saya tidak ingin anak saya kecapean. Di sepanjang jalan hanya keheningan yang ada . Saya tidak bisa menggambarkan suasana hatiku saat ini. Sambil sesekali ku lirik malaikat kecilku yang ada di sampingku saat ini. Tak di sangka sudah sebesar ini. Dulu saat dia pergi meninggalkanku bilangnya saya tak bisa berbuat apa apa tampa dirinya.
''Ibu kok melamun sih dari tadi diam saja.''
Sahara yang tadinya diam kini bersuara. ''Gak kok ibu cuma fokus menyetir saja.''
Sahara hanya mengangguk. Gimana kalau tau ayahnyamasih ada sementara selama ini saya slalu bungkam jika menyakan ayahnya. Semoga sebentar bisa menerima keadaan jika sudah bertemu ayahnya.
Sesampainya di hotel benar saja sudah banyak yang hadir terbukti parkiran sudah hampir penuh. Ku telusuri satu persatu mobil yang parkir. Setelah memastikan mobil terparkir dengan baik, saya masuk hotel di sana sudah pada ngumpul tak jarang ada yang berpasang pasangan.
''Hay..... say sudah datang saja.''
Hanya ku jawab dengan senyuman saja. ''Ohhh ini siapa say. Baru saya liat.'' Riana berkenalan dengan Sahara .
''Sahara tante. Anaknya ibu Anggun.''
''Saya tante Riana sahabatnya ibu Anggun.''
__ADS_1
Perkenalan mereka membuatku tertawa gimana bisa berkenalan seperti itu. Setelah sesi perkenalan mereka saya cari tempat duduk yang kosong kebetulan acara akan di mulai sedikit lagi. Acara sesi pertama berjalan denga lancar.
Kami lagi ambil makanan tiba tiba ada yang berbisik di telingaku. ''Anakmu cantik bisa kah saya jodohkan dengan anakku.''
Ternyata Riana. ''Apaan sih kamu, anakku masih kuliah gak mungkin kan saya suruh menikah.'' Jawabku sekenaya.
Riana hanya tertawa mendengar ocehanku. Dia malah mengajak Sahara untuk bergabung dengan mereka mau tak mau saya pun ikut bergabung. Dia datang dengan anak laki lakinya suaminya tidak ikut karna harus dinas di luar kota.
''Sahara kamu sudah semester berapa.?'' Tanyanya dengan riang. Tapi Sahara malah elirik kerahku yang sejak tadi ku tatap dengan tajam.
Dia hanya tersenyum entah apa maksud dari senyum sahara dan anaknya sendiri membuang pandangannya tempat lain.
''Hay boleh gabung nggak.?'' Riana melirik kearahku tapi saya tidak. Melihatnya meminta persetujuan ku. Dia adalah Susanti dan bersama mantan suamiku Haikal.
''Anggun mana anak mu. Jangan sampai anak mu jadi pengamen di jalanan, kan kebanyakan seperti itu ibunya seperti bidadari anaknya seperti gembel.''
Ternyata mereka tidak mengenal Sahara. Baikalah kamu jual saya beli. Emang kalian pikir anak ku hidup susah, ohh...no ferguso kamu yang akan menyesal. Sementara hanya tertawa terbahak bahak mendengar ocehan istrinya. Anaknya pun dengan angkuh ikutan bersuarah.
''Ayah gimana kasih sumbangan saja. Kasian kakak tirku pasti hidupnya ke susahan.'' Dasar mulut yang tak tau etika. Selama ini saya diam bukan berarti sesuka kalian untuk merendahkan ku.
''Maaf yah saya tidak butuh bantuan kalian. Karna ibuku yang mencukupi kebutuhanku yang lainnya. Saya hidup dengan layak jika tante bilang saya jdi pengamen di lampu merah anda salah besar.'' Tiba tiba Sahara bersuara mungkin dia sudah geram. Sahara yang sulit di tebak pendiriannya. Haikal membulatkan matanya tak percaya mendengar penuturan gadis cantikku yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara Riana senyum senyum sendiri, melihat Sahara melawan orang orang yang sombong tapi aaknya sekarang malah malas malasan untuk kuliah karna harta orang tuanya tak ada habisnya kan nanti tidak akan bekerja yah jadi ibu rumah tangga.
__ADS_1
''Kamu anaknya Anggun, pantas tak ada sopan santunnya. Liat nih anak tante dia sagat beretika bhkan dia tidak berani membantah perkataan orang lain.'' Susanti membanggakan anaknya sendiri yang nyatanya jauh dari kata sopan santun.
''Sahara tinggal sama ayah saja. Kamu itu pasti kekurangan kasih sayang seorang ayah. Kamu besk datang di rumah saya jamin kamu aman tinggal sama ayah di bandingkan kamu tinggal sama ibumu.''
Sahara hanya tersenyum kecut mendengar kata kata ayahnya. ''Maaf pak saya sudah di jadikan ratu sama ibuku dan sudah pasti jadi babu jika saya tinggal di rumah anda.''
Kata kata Sahara terdengar menohok. Tatapannya penuh benci yang di layangkan bukannya bahagia bertemu ayahnya tapi sebaliknya.
Riana mengacungkan jempolnya ke arah Sahara, sambil geleng geleng kepala. ''Anggun biarkan dia tinggal sama saya, karna saya yakin kamu juga tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya.'' Haikal benar benar orang yang tidak tau malu...
''Bro saya cari dari tadi ternyata lagi ngumpul di sini.'' Tanya Anto sambil melirik kearahku. Anto membisikan sesuatu ke telinga Haikal dan membuatku was was. Anto adalah seorang yang berpengaruh. Takutnya Sahara jatuh ke tangan Haikal.
''Saya tidak memberimu kesempatan. Ingat tak ada nafkah darimu selama dua puluh tahun lamanya. Jangan harap kamu bisa mengambilnya dariku.'' Jawabku tegas..
Dia seola ola sudah menafkahinya selama ini. Riana menggenggam tanganku memberiku kekuatan agar saya kuat untuk menghadapi mulut Haikal.
Saya sudah terlanjur ilfel sama dia dan tak ingin berurusan darinya. Saya baru kali ini melihat laki laki yng sudah putus urat malunya. ''Anto hanya menyimak perdebatan kami sedari tadi sesekali menganggukkan kepala saya tidak tau juga apa maksudmu.
Sudah saatnya saya bawah anak ku pulang. Dia juga tidak mau tinggal sama ayahnya. ''Nak tinggal saja sama ayah, saya jamin kamu tidak kekurangan apa pun. Di rumah ada keluarga lengkap dan kamu pasti mendapatkan kasih sayang yang selama ini kamu tidak dapatkan.''
''Maaf sekali lagi pak. Saya sudah nyaman dengan ibuku, soal kasih saang jangan ragukan ibuku bisa memenuhinya dengan baik.'' Sahara berlalu begitu saja. Mungkin dia sudah lelah, saya mengikutinya sesampinya di parkiran dia yang akan bawa mobil. Walaupun saya sempat ragu takut emosinya tidak terkontrolmalah membahayakan keselamatannya.
''Ibu jangan berpikiran yang aneh aneh, saya tidak sebodoh itu untuk mengorbankan keselamatan kita berdua.''
__ADS_1
Ya allah anak ku ternyata setegar itu. Walaupun hatinya tidak bisa di pungkiri jika dia tidak baik baik saja.