
Andre!
Bentak ayah, saya tidak paham apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga membenci calon istriku. Memang mereka tidak tau kalau istriku itu hamil makannya kami ngotot minta nikah cepat walaupun suatu saat nanti pasti ketahuan.
Apa lagi ayah sama ibu sama sama memiliki watak yang keras dan tak mau di tentang keputusan mereka. Saya harus fokus karna saya sebagai laki laki harus berani tanggung jawab.
"Andre dengarkan ayah wanita pilihanmu bukan wanita baik baik. Hentikan! Sebelum terlambat" tekan ayah. Entahlah wanita yang seperti apa wanita baik baik itu. Bahkan saat ini saya harus memikirkan resiko jika saya tak tanggung jawab akan ada penyesalan di kemudian hari.
"Ayah. Andre sudah dewasa, biarkan saya untuk memilih yang akan jadi pendamping hidupku."
Ayah hanya diam mendengar jawabanku andaikan ini di rumah mungkin sudah terjadi adu jotos.
Sesampainya di rumah saya masuk dalam kamarku sambil membayangkan jika sebentar lagi saya akan jadi seorang ayah dan suami.
Ahhhh
Hanya ******* itu yang keluar dari mulutku saat mendapat pesan dari Elsa mantanku dulu. Saya menyakiti banyak wanita karna dia menyakitiku akhirnya saya memutuskan untuk menikah saja daripada harus terus menerus menyakiti orang lain.
Setelah ku blokir nomornya saya langsung mengirim pesan ke calon istriku.
Pesan: "sayang jaga kesehatan bersabarlah sebentar lagi, kita akan tinggal serumah". Send
Sebentar lagi akan ada rumah tangga.
Sambil berbalas pesan saya sambil mengerjakan skripsiku sebentar lagi akan selesai.
Ternyata semua tak gampang apa lagi setelah menjadi seorang suami nantinya. Saya harus menyelesaikannya dengan cepat. Saya harus bekerja setelah ini mana ada seorang suami tak menafkahi istrinya
__ADS_1
Walaupun ada perusahaan tapi saya segan karna selama ini saya mengabaikan urusan ayah apa lagi dengan wanita pilihan ayah.
Mau tak mau saya harus memiliki toko untuk menghidupi keluargaku beruntungnya saya slalu menyimpan uang jajanku yang di berikan tiap bulan. Saya juga harus bisa memanfaatkan uang yang ada.
Sudah sepuluh hari berlalu, kini acara pernikahanku di gelar dengan mewah di sebuah hotel bintang lima. Semua keluarga hadir dan serta keluarga istriku. Alhamdulillah saya sudah menghalalkannya dan semua tanggungan hidupnya saya pikul di pundak ku.
Hari ini begitu banyak tamu undangan serta teman teman kampusku sudah pada hadir. Boy datang dengan seorang wanita anggun menurutku bahkan dia lebih cantik dari istriku.
Boy menggandeng tangan gadis di sampingnya membuatku yakin kenapa ia menolak Shidy walaupun ia menggodanya dengan tubuh. Ternyata pilihannya lebih cantik dari apa pun...
"Ais... ingat ndre kamu sudah resmi jadi suami orang jangan tergoda lagi dengan wanita yang bukan mukhrim mu." Pekik ku dalam hati mana ada saya berteriak.
"Selamat bro. Gak nyangka ternyata kamu nikahi ayam kampus" bisik salah satu teman ku si Edo. Saya hanya menatapnya dengan tajam bahwa tidak seenaknya dia berucap seperti itu.
Namanya takdir yah seperti ini kita tidak pernah tau akan menikah dengan siapa saya juga tidak pernah minta sama tuhan harus menikah secepat ini.
Ternyata cape yah duduk berdiri begitu pun seterusnya sampai begal dengan kaki. Andaikan tak ku pernah menyentuhnya mungkin hari ini tak akan pernah terjadi. Banyak yang mendoakan kebahagiaan kami dan sekarang tamunya sudah habis saatnya kami masuk kamar pengantin dimana sudah di siapkan oleh ayah.
Selesailah kami membersihkan badan kami memutuskan untuk tidur apa lagi istriku dalam keadaan hamil. Saya pun harus tidur karna tenaga sudah habis terkuras.
Ke esokan paginya kami pulang kerumah ayah sama ibu walaupun sudah ada rumah yang di siapkan tapi saya memutuskan untuk tinggal sama orang tuaku selama seminggu. Sesampainya di rumah istriku di sambut dengan baik oleh kedua orang tuaku yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Kami makan siang bersama sekarang bertambah satu dan enam bulan lagi akan ada lagi yang akan hadir kedunia ini. Yah mungkin orang tuaku akan syok akan mendengar hal ini tapi saya sudah menyiapkan jawabannya.
"Hei dasar pengantin baru melamun aja kerjanya makanan pun diabaikan" cerocos ibu sambil memukul pundak ku pake centong nasi.
Saya hanya menyengir kuda sementara istriku makan dengan lahap di sampingku. Selesai makan istriku di suruh istrahat sementara saya ikut ayah di ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Ayah sudah memberimu rumah dan juga restoran kamu kelola dan cukupi kebutuhan istrimu, ada pun masa lalu istrimu ayah sudah menganggapnya tidak ada dan jangan lupakan solatmu. Sebagai umat muslim dan kepala keluarga kamu harus menjalankan kewajiban mu dari tuhan dan kewajibanmu sebagai suami."
Saya hanya menatap ubin yang kupijak tidak berani menatap ayah. Saya tidak pernah menyangka jika orang tuaku sebijaksana ini walaupun saya di didik dengan keras.
Tiba tiba ibu masuk dalam ruangan yang ukurannya 4 x 4 ini sambil menyodorkan sebuah kotak yang berbentuk love tapi saya tidak tau apa artinya.
"Berikan ini sama istrimu bilang hadiah dari ibu" saya mengambilnya dari tangan ibu.
"Tapi kenapa ibu tidak memberikannya sendiri?" Tanyaku antusias saya juga penasaran apa alasannya.
"Nggak apa apa sih sepertinya dia sudah tidur jadi kamu saja yang beri kan sama saja."
Setelah saya di beri wejangan dari orang tua saya dan saya menyepakati saya kelola restoran itu dan saya pun tinggal tunggu wisudah. Tidak terlalu repot untuk membagi waktu. Saya masuk dalam kamar benar saja istriku masih tidur mungkin efek lagi hamil bawaannya tidur terus.
Sudah sebulan menikah akhirnya ketahuan juga yang kami tutupi selama ini. Awalnya mereka syok tapi saya sudah beri alasan karna kesalahan itu saya yang mulai dan akhirnya saya menikahinya.
"Pantaslah kalian ngabet nikah padahal sudah isi duluan" cemoh keluargaku yang lain istriku yang di cemoh dan cukup sensitif dia akan membalas tapi saya menahannya agar tidak semakin di cap buruk.
"Maaf tante saya yang salah di sini. Jadi wajar kalau untuk menikahinya"
Jawabku sambil merangkul istriku agar perasaannya baik baik saja. Saya akan memasang badan untuknya salah satu kewajibanku menjadi pelindungnya di saat dia butuh.
Kami mengahadiri acara syukuran di salah satu keluarga kami. Yah keluarga dari ayah walaupun mereka hidup pas pasan tapi gaya mereka melangit.
"Mas saya sudah gak betah di sini." Rengek istriku mau tak mau saya harus membawanya pergi untuk menjaga kesehatan mentalnya.
"Ayo sayang mau pulang kerumah atau mau jalan jalan ke mall dulu?" Tanyaku sambil menggandeng tangannya.
__ADS_1
"Ke mall yank karna udah lama gak keluar jalan"
Ayokkk