CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.32 TAK SELERAH


__ADS_3

Fandi mendengkus kesal lagi lagi hari karna Mahera buat ulah lagi bahkan hari terkesan berani bagaimana tidak papinya dalam rumah sementara mama tirinya makin gencar untuk menggodanya. 


Bahkan makan siang pun memakai dres mini yang diatas lutut dan potongan baju dada rendah membuat isinya seakan akan menyembul keluar. Bara melihat pemandangan itu seola biasa saja. Karna mata mereka telah bosan melihat pemandangan itu.


Fandi pergi kekamarnya nafsu makannya mendadak hilang. Dia tak berselera untuk makan lagi. "Loh papi kok dia gak makan apa dia sakit yah." Mahera pura pura perhatian agar menarik asumsi dari suaminya bahwa dia itu orang yang baik.  "Nggak tau sepertinya dia tak suka dengan pakaian seksimu." Ucap Mahendra yang tak sadar dengan pakaian istrinya. Fandi tipikal anak yang tidak bisa melihat pemandangan yang tak layak yang harus di lihat.


"Masa sih papi padahal biasa saja, saya kan seperti ini gak seksi seksi amat." Jawabnya acuh tak acuh.


Bara melihat pertengkaran orang tuanya masuk kamarnya setelah selesai makan. Menurutnya apa yang papi nya bilang ada benarnya Mahera terlalu terbuka dalam berpakaian.


"Kamu gak sadar anak anak ku sudah dewasa semua ngapain kamu pake pakaian seperti itu di depan mereka! Bentak Mahendra. Karna berulang kali istrinya berulah membuat sakit mata siapa pun yang akan melihatnya.


Mahera merajuk masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu dengan kuat.


  


Brakk


Pintu terhembas dengan kuat sehingga siapa pun yang mendengar pasti terlonjak kaget. Mahendra mengusap dada melihat tingkah Mahera yang semakin hari semakin menunjukan bahwa dia bukan lah wanita baik baik. Ada setitik penyesalan mengapa ia sampai khilaf dan menikahi wanita sepertinya tetapi menyesal pun sudah percuma.


Mahera masuk dalam kamar berharap suaminya datang untuk membujuknya tapi rasanya sia sia saja. "Mana sih papi ini kok istrinya ngambek malah gak di bujuk lagi." Dia bicara seorang diri berharap dia ngambek bisa mengambil hati sang suami.


Berjam jam menunggu di dalam kamar malah gak ada orang yang akan masuk atau aktifitas lain di dalam rumah. Ia menunggu sambil ketiduran tapi lagi lagi nihil. "Sebenarnya kemana sih papi?" Dia bertanya tanya seorang diri semenjak kejadian tadi pagi ia merasa diabaikan suaminya sendiri.

__ADS_1


Mahendra masuk dalam kamar ketika sudah makan malam. "Pi kenapa hindarin aku pas ngambek." Rajuk Mahera sambil menghentakan kakinya seperti anak kecil yang tidak di turuti kemauannya.


"Berhenti seperti anak kecil. Kamu bukan lagi anak remaja kamu itu sudah tua dan menikah walaupun kamu belum punya anak tapi harusnya kamu bisa menjadi sosok ibu." Ucapan Mahendra ternyata tidak di tanggapi dengan baik oleh sang istri.


"Apa apaan sih pi. Saya harus seperti apa untuk menjadi seorang ibu yang harus di terima oleh anak anak." Jawabnya sambil melipat tangan di depan dada.


"Apa seperti ini caramu menjadi seorang ibu. Kamu mau jadi pelacur di rumah ini." Sentak Mahendra sambil memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang beberapa hari lalu saat dirinya menggoda Fandi.


Mahera gelagapan melihat rekaman itu tapi dia kembali menguasai dirinya agar tidak di ceraikan saat ini juga. Karna kalau di ceraikan maka dia tidak mendapatkan harta sepersen pun dari Mahendra.


"Kok di rumah ini ada CCTV ya." Gumannya dalam hati. Dia sibuk mendongak kelangit langit rumah untuk melihat CCTV.


Mahendra tersenyum miring melihat tingkah wanita yang ada di depannya saat ini. Sekarang zamannya canggih tapi kenapa istrinya seperti kampungan sekali. Maklum lah dia orang kampung datang di kota besar jadi pemandu karaoke.


"Enggak ada hanya saja banyak sekali sarang laba laba."tunjuknya di atas plafom tentu saja tidak ada apa apa di sana.


Ternyata tadi Fandi melapor ke papinya Mahendara bagaimana kelakuan mama tirinya itu ketika dia ada di rumah. Sebenarnya Mahendra tidak percaya tapi karna ada bukti rekaman CCTV yang menjadi bukti.


Mahendra tidak ingin cerai lagi hanya saja dia was was jika istrinya Mahera kembali berulah. Mahendra tidak bisa hidup tampa pendamping sampai akhirnya memilih mengawasi istrinya itu. Sekarang camera yang ada dalam kamar pribadi mereka diaktif kan kembali dan tersambung di ponselnya.


Sementara itu Fandi sudah menerima tawaran ayahnya untuk menika dengan anak sahabat ayahnya. Fandi mempersiapkan diri untuk menikah. Sementara Bara tidak tau apa yang harus dia lakukan kuliah pun dia sudah semakin suka suka lebih banyak aktifitasnya di laur.


Bara saat ini berada di tongkrongan sama kawan kawannya. "Eh. Bro masih jomblo saja." Tanya Endrik merupakan kawan segengnya yaang suka mabuk mabukan bahkan ide untuk tawuran berasal dari dirinya.

__ADS_1


"Iya. Belum nemu wanita yang diajak dep talk." Ucapnya sambil menyengir kuda. Sementara yang lain tertawa terbahak bahak.


Mereka minum minuman keras di salah satu kedai yang tertutup dan memperjual belikan minuman keras yang tak memiliki izin. Bara ikutan minum sambil di temani cewek seksi yang di pesannya melalui aplikasi.


Bahkan sudah teler sekalipun masih melanjutkan minum minum mereka sampai akhirnya terdengar suara tembakan polisi di udara.


Dorr ... dor ... dor ...


Yang lain pada kabur sementara yang lain di ringkus petugas patroli. Mereka diangkut di mobil petugas dan menyita beberapa minuman keras yang ada di kedai tersebut. Kedai remang remang itu selama ini menjadi perhatian warga sekitar pasalnya banyak sekali orang mabuk mabukan di kedai itu tak jarang mengganggu kenyamanan orang orang sekitar atau pengguna jalan.


Tak terkecuali Bara. Bara di gelendang di kantor polisi terdekat dan di mintai keterangan bersama teman teman yang lain tak luput wanita bayaran mereka kena introgasi. Bara yang stengah sadar pun di suruh menelpon orang tuanya agar di jemput.


Di rumah megah itu kelimpungan karna Bara lagi lagi berulah. Mahendra mendapat kabar bahwa anaknya di kantor polisi dengan keadaan mabok pastinya akan semakin murka bahkan istrinya sendiri kena imbasnya.


"Anak itu selalu bikin onar di luar sana." Mahendra telah merah padam gimana tidak emosinya saat ini sulit untuk terkontrol.


"Kenapa sih pi. Biarin saj dong kan dia sudah dewasa." Ucap Mahera dengan entengnya.


Mahendra melirik tajam istrinya agar berhenti menyepelehkan sesuatu. Mau tak mau Mahendra harus keluar uang untuk menyuruh orang lain untuk menjemput anak nya itu.


Mahera akan marah tapi takut jika suaminya itu sudah marah dan dia tak segan segan melakukan hal yang di luar nalar manusia. Mahera memilih untuk tidur daripada harus kena amukannya suaminya.


Mahendra keluar dari kamar menunggu anaknya di teras rumah. Matanya ada kilatan amaraah di sana sehingga orang lebih memilih mundur.

__ADS_1


__ADS_2