CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.35 KOMITNEN


__ADS_3

Sudah empat tahun berada di kampus pergi pagi pulang sore. Keseharian itu jadi kebiasaan para mahasiswa dan saat ini telah berakhir segalanya itu artinya mereka akan mungkin cari kerja, menjadi pengangguran atau melanjutkan lagi pendidikan ketahap selanjutnya.


Pagi ini Boy menyiapkan berbagai berkas dan menyiapkan diri untuk bekerja. Dengan skil ia punya berharap dia bisa leterima di posisi yang di ingin kannya.


"Nak kamu sudah siapkan semua berkasmu. Kenapa tidak melanjutkan usaha ayah saja. Ayah ini sudah tua jadi ayah harap kamu lah yang menggantikannku." Pinta ayahnya penuh dengan ketegasan.


Boy berhenti sejenak dengan aktifitasnya menatap ayahnya dengan seksama. Guratan halus di wajah sang ayah begitu kentara dan di sana sudah semakin menuah. Badan yang gagah kini sudah makin menua bahkan tak sekuat dulu lagi. Mata elang sang ayah menandakan di sana adanya kelelahan.


"Ayah beri saya waktu tiga bulan untuk mencari pengalaman di luar sana. Saya ingin mengenal dunia kerja yang di luar sana. Ada pun lamaran saya di tolak maka saya akan menjalankan usaha ayah saja." Pinta Boy sambil memegang pundak sang ayah.


Deno hanya menghela napas panjang saat anaknya meminta waktu untuk bekerja di tempat lain. Dia tidak ingin anaknya kesusahan mencari pekerjaan saat ini tapi apa lah daya anaknya sendiri yang menginginkannya. Perjuangannya sebagai orang tua tunggal untuk anaknya patut diacungi jempol. Gimana tidak ia bisa menahan diri untuk tidak menikah karna menjaga perasaan anaknya.


"Semoga kamu sukses nak. Saya hanya bisa beri mu doa di setiap langkahmu." Doanya dalam hati.


Boy mengendarai motornya untuk sampai di sebuah perusahaan yang kini terbilang cukup besar. Saat ini dirinya telah menunggu giliran interviu. Bagaimana pun dirinya harus bersaing dengan puluhan orang yang terbilang lulusan kampus ternama dan bahkan ada lulusan dari luar negeri.


Sambil menunggu Boy sambil melapalkan beberapa untaian doa untuk mempersingkat waktu menunggu. Kini gilirannya untuk di panggil untuk interviu.


"Pak Boy silakan masuk sekarang giliran anda." Seorang wanita yang cukup seksi yang mempersilahkannya untuk masuk.


Di dalam ruangan ber AC ini Boy merasakan hawa panas yang membuatnya berkeringat padahal ini suhunya cukup dingin. Gimana tidak wanita di depannya saat ini sangat seksi. "Ini perusahaan apa sih kenapa semuanya pakaiannya tak ada yang beres bahkan rata rata kariyawan yang berpapasan denganku pakaiannya cukup minim." Guman Boy dalam hatinya.

__ADS_1


Selesai interviu Boy langsung pulang kerumahnya. Di sepanjang jalan dia meruntuki nasibnya hari ini. Niat mau cari kerja yang baik dan belajar malah mendapatkan beberapa pertanyaan sekitar intim. "Shh perusahaan sialan." Runtuk Boy seorang diri bisa jadi itu hanya kedok mereka saja. Perjalanan kali ini cukup lama yang membuat Boy semakin kesal jadinya.


Laki laki kesalnya terhapuskan oleh bayangan sang pujaan hati yang sudah menunggu untuk di halalkan. Banyak komitmen yang sudah tersusun rapi yang telah di persiapkan seorang laki laki untuk seseorang yang di cintainya.


"Harusnya aku mendengarkan apa kata ayah." Gumannya dalam hati menyesali perbuatannya yang telah menentang ayahnya. Sesampainya di rumah yang di huni oleh ayah dan anak. Siapa lagi kalau bukan Deno sama Boy. Karna Kaila sudah pindah di rumah baru mereka. Namanya juga anak perempuan setelah menikah pasti akan ikut dengan suaminya.


Deno yang memang menunggu kepulangan anaknya tersenyum karna anaknya pasti akan dapat pekerjaan yang di inginnkannya. Tapi senyum itu seketika hilang ketika melihat raut wajah anaknya yang masam. Deno yang sejak tadi diam memperhatikan anaknya yang duduk di depannya dengan wajah cemberutnya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada masalah?" Pertanyaan Deno ternyata mampu membuat senyum itu kembali terbit di wajah putranya.


"Pa saya ingin merintis usaha papa agar lebih berkembang lagi. Bapa istrahat saja di rumah soal kerjaan saya yang urus." Ucap Boy dengan semangat empat lima.


Deno pun hanya bisa tersenyum. Dia tidak tau apa masalah di luar sehingga putra semata wayangnya memutuskan untuk menjalankan usaha yang di kelolanya saat ini. Tapi Deno menganggap putranya bisa cukup ia pantau saja.


"Sayang ini laporan keuangannya jangan seperti ini yah. Supayah gak susah hitung laba dan ruginya. Pake Excel saja supayah lebih mudah." Ucap Anggun memberi solusi agar laporan keuangan toko kue anaknya lebih ter arah.


"Iya bu. Tapi ibu ajarin yah." Ucap sahara sambil melihat ibunya mengoperasikan perangkat excel yang di laptop. Anggun tak perlu mengajari putrinya dengan kekuatan penuh karna di beri contoh sedikit saja sudah paham.


"Nak kenapa gak kerja saja di perusahaan ibu. Kan ibu sudah tua jadi kamu yang akan gantikan ibu suatu saat nanti."pinta Anggun sambil memeriksa kinerja karyawan putrinya.


"Ibu. Bukannya Sahara tidak mau tapi, Sahara mau berdiri diatas kaki sendiri." Ucap Sahara dengan kepala tertunduk. Takut ibunya akan kecewa karna selalu memberikan jawaban yang sama.

__ADS_1


"Hufff."


Anggun hanya menghela napas panjang. Karna tidak mungkin memaksa putrinya sementara yang jalani adalah anaknya. "Ibu balik ke kantor kalau ada masalah langsung kabari ibu saja." Anggun setelahnya pamit pergi sambil memeluk putri semata wayang nya.


"Iya bu. Hati hati di jalan." Sahara mengantar ibunya sampai di depan tokonya. Nama toko Sahara "ARA BAKERY CAKE MANYUS".


Sahara lebih senang menjalankan hobinya tapi menghasilakn cuan. Bahkan toko kue miliknya tak pernah sepih semenjak buka. Harga kue yang Sahara jual cukup ramah di kantong dari kalangan bawa pun bisa menikmati rasa varian kue karna harganya di bandrol mulai sepuluh ribu rupiah saja.


Wanita cantik itu slalu jadi pusat perhatian pengunjung apa lagi banyak muda mudi yang datang untuk membeli dan melihat sang pemilik bak bidadari.


"Mbak itu karyawan di sini juga?" Tanya salah satu pembeli.


"Bukan dia bos saya." Jawab karyawan yang bernama Erna dengan singkat saja. Pemudah tersebut diam diam mengambil gambar Sahara yang lagi duduk santai di salah satu kursi yang di dekat pojokan.


"Umpan ni. Wanita cantik biasa butuh belaian." Guman pria itu sambil tersenyum simrik.


"Bisa minta nomornya bos mu."


"Maaf pak jika anda mau pesan dengan jumlah banyak silakan telpon admin yang tertera di sana." Erna berucap sambil menunjuk nomor yang tertera di dinding.


Pria itu hanya menggeleng tak percaya bagaimana seorang bos sok jual mahal pikirnya.

__ADS_1


"Tapi aku. ...?


__ADS_2