CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB. 6


__ADS_3

Dari mall bu. Saya juga kan butuh penyegaran otak dan saya juga butuh kebebasan diri sendiri.jawabnya dari dalam hati. Mana berni dia menjawab kata katanya ibunya.


''Besok hari minggu harus ikut ibu kesuatu tempat, kamu harus belajar dari sekarang tentang pekerjaan karna tak ada selamanya akan memberimu kartu kredit.'' Sinta memang sangat terlatih dalam urusan bisnis dan tk ada yaang menandinginya.


Shidy anak semata wayangnya itu kebiasaan dimanjakan oleh suaminya. Makannya jadi keras kepal apa apa harus di turuti. Kalau tidak mogok makn berhari hari'


  Saat ini Boy bersama ayahnya jalan jalan di taman bersama, jarang jarang mereka melakukan hal ini karna sibuk dengan kesibukan masing masing.


  Deno hanya memiliki anak semata wayangnya, dan tak menika lagi, demi anaknya. Lagian menurutnya tidak ada wanitaa yaang tulus.


''Ayah masih ingat nggak dulu saya naik itu sampai mual mual. Lagian itu wahana sangat memalukan.''


Boy memang dulu masih kecilnya sering diajak kewahan permainan sampai kapok. ''Iya ayah masih ingat emang kamu aja yang mual mual diatas, mereka tertawa bersama mengingat masa itu.


Mereka duduk di sebuah kedai mereka nonton anak anak yang lagi naik kewahana permainan. Sambil menikmati secangkir kopi di temani angin malam.


Boy dulu sangat bahagia, berain bersam ibu dan ayahnya tapi itu tak berlangsung lama. ''Kok melamun.? Lamunin apa. Atau jangan jangan ingat ceweknya. Cie anak ayah sudah dewasa juga ternyata.'' Ledek Deno.


   ''Apaan sih ayah. Belum punya pacar.'' Boy merengek seperti anak kecil...


Tiba tiba ada seseorang yang datang bergabung sama mereka dan kelihatan dua pria yang usianya stengah abat itu sanagat akrab bahkan mereka bercerita baanyak haal yang mungkin kehidupan pria dewasa.


  ''Ini anak kamu. Udah makin gagah aja sekarang. Kuliah dimanaa naak.,?''


''Saya kuliah di kampus A om, ambil jurusan komputer,'' Boy menjawab dengan malu malu. Ternyata dia seorang tentara pantas aja badannya elastis padahal udah gak mudah lagi.


Setelah berbincang agak lama mereka akhirny bubar karna sudah semakin larut. Mereka juga pulang kerumah dan besok hari minggu akan jalan jalan ke mall begitulah agenda merek sebelum masuk kemar masing masing.


Ke esokan paginya di sebuah rumah mewah terjadi pertengkaran ibu dan anak. Karna menolak untuk ikut dengan ibunya untuk pergi arisan.

__ADS_1


''Shidy ayok ikut ibu pergi arisan dan ikut mama juga untuk pergi isi acara di sebuah hotel.''


''Masa saya haru ikut. Kan itu urusan ibu, saya sudah ada janji dengan teman teman hari ini mau kerja kelompok.'' Bohongnya. Yah jelas berbohonglah menurutnya acara arisan dan sejenisnya membosankan daan isinya ibu ibu atau bapak bapak .


Sinta tidak percaya begitu saja, coba telpon temanmu biar ibu yang bicara dengan mereka. Tapi anaknya keukeh dengan pendiriannya.


''Kamu saya hentikan uang jajanmu saat ini baalikin kartu kreditnya.'' Sinta menadakan tangannya mals buang buang waktu berdepat dengan hal yang tak penting.


Shidy tak hais pikir da kiranya ibunya bercanda sajapadahal hal ini sangat serius. Mau tak mau Shidy mengalah.


Sepanjang perjalanan dia memilih tidur karna bosan dengan cerita ibunya  tentang bisnis dan lain lain. Menurutnya tak tertarik dengan dunia bisnis karna angan angan aka segera menikah untuk membahagiakan hidupnya.


Sementara ada seorang wanita jalan sendiri di mall, dia jalan tampa arah hanya mau beli es cream tapi cari cari sesuatu yang akan dia beli.


''Kayaknya saya mau belimake up deh ko tembusnya ke toko sepatu, sepatu juga masih ada,'' dia hendak berbalik arah dan....


Brukkk...


Boy tak menggubris ucapannya hanya menampakan wajah datarnya kalau di liat menyeramkan juga.


Sahara mendongak supaya melihat siapa yang sudah menabraknya. ''Mas Bara ngapain kamu tabrak saya, emang gak ada jalan ya selain di sini.'' Pekik Sahara..


''Saya mau beli sepatu..'' jawab Bara dengan datarnya.


Sahara hanya menyerit heran. Mau beli sepatu kok ke sepatu wanita aneh ni orang pikir Sahara. ''Modus kali. Toko sepatu pria itu ada di ujung sana, bukan di sini kali.''


''Berisik loh, tapi saya maunaya di sini..'' Sahara geleng geleng kepala, dia tak habis pikir apakah dia bencong sehingga mau beli sepatu wanita.


''Dasar aneh...'' pekik Sahara dengan lantang sehingga orang orang menoleh ke arah mereka. Boy refleks menutup mulut Sahara pakai tanganya.

__ADS_1


''Bisa diam nggak bikin maluaja loe.''


Sahara senyum senym sendiri. ''Kamu gila ya, senyum senyum sendiri.''


''Aku gila karna kamu..'' jawab Sahara dengan jumawa. ;


''Buset ni cewek berani juga ternyata.'' Boy membatin. Setelahnya mereka berpisah. Kalau aku punya cewek seperti itu belajar jadi oraang gila tiap hari. Pekiknya dalam hati.


''Hei kamu liatin siapa, saya cariin dari tadi malah ngilang entah kemana. Taunya kamu di sini,.''


Memang mereka tadi sempat berpisah karna ada urusan ayahnya. Jalan jalan malah ketemu dengan Sahara.


''Nggakliatin siapa siapa yah, aya juga lagi nyariin ayah.'' Jelas dia bohong orang tadi dia hanya


Sahara sampai hilang dari pandangan.


''Iya yah deh percaya aja.'' Ledek ayahnya. Mereka cari paaian untuk pergi main basket, kebetulan ke duanya memiliki hobi yang sama dan ada kesempatan mereka main sore nanti.


''Ayah mau couple sama saya.'' Tanya Boy..


''Boleh...'' mereka bukan layaknya ayah dan anak tapi sahabatan. Bahkan mereka jadi pusat perhatian orang orang.


''Kak ini ada warna hitamnya nggak.?'' Tunjuk Boy di salah satu etalase.


''Iya ada kak tunggu yah saya ambilkan dulu.'' Setelah mendapatkan apa yang mereka mau mereka cari makanan. Kalau ke mall gak sambi makan kan gak afdol. Apa lagi mereka pecinta kuliner.


Boy menelisik wanita di ujung sana nampak bahagia. Siapa yang lupa dengan wajah ibu guys apa lagi di tinggal sudah besar. Wajah itu wajah yang di rindukan sekaligus wajah yang di benci.


Boy ingin mencaci tapi apa kata orang orang jika dia gak sopan ke orang yang lebih tua. Dia sekuat kuatnya menahan diri agar dia tak tersulut emosi. Dia cukup sadar diri dulu iya tak dia akui seorang anak oleh ibunya sendiri. Miris bukan, sekarang dia menganggap ibunya sudah lama mati.

__ADS_1


''Yang sabar yah nak. Tapi ayah harap kamu lebih ikhlas dan jangan pernah dendam ke semua wanita. Semua tak sama, masa lalu jangan lah lagi di inga apa lagi sampai membuat kamu down.''


Boy hanya mengangguk mendengar nasihat ayahnya. Tapi dadanya semakin sesak melihat kebahagiaan orang tercintanya, dia sebenarnya ingin memutar waktu kembali tapi itu sudah tak mungkin bahkan sangat mustahil..


__ADS_2