
Dua tahun merintis Boy akhirnya bisa mengembangkan usaha ayahnya dengan maksimal. Namanya kini terkenal seantero. Siapa yang tak kenal namanya di kalangan bisnis namanya sekarang membumi.
Dulu usaha ayahnya sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang dan luar negeri. Tapi kini di usianya yang ke dua puluh tahun perusahaan itu sudah naik daun bahkan tak lagi di ragukan lagi.
Berkat tekat dan kerja kerasnya akhirnya Boy mencapai titik kejayaan saat ini bahkan dia bekerja sama dengan perusahaan besar yang bergerak di ekspor barang lokal ke luar negeri.
Siang ini Boy mengajak pujaan hatinya untuk bertemu di sebuah cafe ternama di kota ini. "Sayang kita makan siang bareng di cafe leto ya." Send begitulah pesan singkat Boy mengajak kekasihnya. Sahara lagi meeting dengan beberapa karyawannya kaget karna ponselnya berbunyi nyaring karna lupa di kasih mode getar.
"Maaf ya." Ucap cahaya sambil menon aktifkan ponselnya agar tak mengganggu meetingnya kali ini. Setelah satu jam berada di ruangan meeting akhirnya selesai juga dan karyawannya kembali bekerja.
Sahara kembali mengaktifkan ponselnya sambil bersandar di kursi kebesarannya. Banyak pertanyaan di benaknya pesan siapa kah tadi. Setelah aktif ternyata pesan dari Boy kekasihnya.
"Iya sayang. Saya jalan sekarang ya." Akhirnya Sahara pergi ke cafe dimana tempatnya sudah di tentukan kekasihnya. Dua puluh menit menyetir mobilnya akhirnya masuk juga di parkiran cafe itu. Mobil Boy pun sudah terpakir rapih di sana. Sahara masuk sambil mengedarkan pandangan kesembarang arah. Akhirnya ada seseorang yang melambaikan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Boy duduk di paling pojok.
Sahara menghampirinya. "Sudah lama yank." Tanya Sahara sambil menggeser kursi di depan Boy. "Baru saja kok." Jawab Boy sambil tersenyum simpul. Banyak ciwi ciwi yang curi pandang kearahnya tapi Boy seola abai dengan mereka.
Siapa yang tak suka dengan pria yang penampilannya maskulin. Ada seseorang yang ingin berkenalan kebetulan dia lagi duduk di sisi kanan Boy. "Harus saya dapatkan pria itu." Gumannya ambisinya telah mengalahkan rasa takutnya karna Boy sudah adah kekasih di depannya.
Namanya Antika anak konglomerat di kota ini. Apa pun harus di dapatkan termasuk laki laki beristri sekali pun.
__ADS_1
Antika datang dengan gaya anggunya kemeja dua sijoli yang lagi mengobrol sesuatu tapi gagal karna kehadiran orang yang tak di kenal diantara mereka. "Hai. Boleh bergabung sama kalian." Sapa Atika sambil mengerlingkan mata kearah Boy tapi malah yang di dapat tatapan tajam dari Boy.
"Maaf Nona kembali di tempat anda. Karna saya masih ada urusan sama calon istri saya." Ucap Boy dengan tegas sambil mengucap Calon istri. Antika mendapat penolakan antara percaya dengan tidak. Baru kali ini dia di tolak laki laki. Padahal dia cantik dan seksi siapa pun akan memandang kagum tapi tidak dengan Boy.
Antika menghentakan kakinya meninggalkan pasangan itu. Sambil komat kamit. "Dasar laki laki blagu." Gerutunya. Antika sudah terbiasa menggoda laki laki hidung belang. Antika sudah tak mood akhirnya bulang kerumahnya sepanjang hanya menggerutu.
Anak konglomerat mah bebas ya apa apa di turuti apa lagi Antika anak satu satunya.
"Sayang maaf ya. Tapi itu siapa tadi?" Tanya Sahara dengan suara lirih. Sahara tak di pungkiri dia merasa cemburu bagaimana tidak wanita itu terang terangan menunjukan ketertarikan sama pasangannya.
Boy merasa di curigai sebisa mungkin bisa mungkin untuk mengademkan suasana kembali. "Maaf sayang itu tidak tau siapa." Sambil memegang tangan Sahara.
Selesai makan pun mereka akhirnya ke mall untuk jalan jalan sambil liat liat barang yang di sukai. Sahara slalu tak luput di kedai es cream.
"Yank. Mau es cream yah." Rengek Sahara yang kebetulan berdekatan dengan autlet es cream langganannya.
Setelah lama mengantri akhirnya Sahara dapat kebagian juga es creamnya. "Mbak rasa vanila sama rasa strowbery topingnya kacang almond." Pinta Sahara
"Sebentar ya kak." Si karyawan itu dengan cekatan membuat pesanan Sahara. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya pesanannya sudah ada. "Mbak totalnya lima puluh ribu." Boy dengan cekatan membayar es cream itu. "Ini mbak. Kembaliannya buat mbak saja." Boy memberi uang pecahan seratus ribu.
__ADS_1
"Makasih kak." Boy sama Sahara meninggalkan kedai itu sambil beriringan menuju di salah satu toko perhiasan yang terkenal di toko itu. Yang mampu membeli perhiasan di ssna hanya orang orang tertentu karna hanya menjual perhiasan langkah dan desainnya juga di desain sama orang orang terkenal.
"Selamat datang di Toko Cahaya jelwery kak ada yang bisa saya bantu." Sapa seorang karyawan yang bertulis kan Aulia di bajunya.
"Mbak bisa minta desain terbarunya untuk satu set perhiasan." Boy sambil melihat lihat perhiasan yang terpajang di etalase dengan harga harga yang fantastis. Begitu pula dengan Sahara mencoba beberapa perhiasan yang menurutnya unik dan elegan.
"Mas ini desain terbarunya. Silakan jika minat bisa langsung di bayar. Perhiasan ini hanya tersedia satu di toko kami." Ucap Aulia dengan senyum khasnya.
"Sayang kamu suka yang mana." Tanya Boy yang kebetulan Sahara sibuk dengan berbagai perhiasan di tangannya. "Yank. Saya suka yang ini." Sahara sambil menunjukan perhiasan bertata mutiara. Cincinnya yang berbentuk rantai dan gelangnya desainnya simple tapi elegan. Dan kalung serta antingnya ada batu giok.
"Yang ini berapa harganya mbak." Tanya Boy sambil menunjuk perhiasan yang di pegang Sahara. "Itu harganya sembilan ratus juta satu set kak." Jawab Aulia. "Bungkus mbak." Sambil menyodorkan kartu debitnya.
Setelah membeli perhiasan itu Mereka memutuskan untuk pulang. Perhiasan itu untuk sebagai mahar dan di pilih sendiri oleh Sahara. Sahara saat ini sangat bahagia ternyata impian mereka akan terwujud sebentar lagi.
Mereka pulang kerumah masing masing karna sudah beranjak malam. "Ya allah ternyata komitmen di sertai doa akan tak perna sia sia." Guman Boy sambil menyetir. Karna jalanan cukup macet karna memang orang pada berlomba untuk sampai di rumah masing masing.
Setelah tiga puluh menit akhirnya sampai di rumah. Di depan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil alpard. Siapa lagi kalau bukan mobil Kaila dengan suaminya. "Eits. Si jagoan sudah pulang." Sapa Kaila sambil menjewer telinga adik sepupunya itu.
"Aduh. Sakit kak."rintih Boy seperti anak kecil yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa. Ternyata mereka menyusun rencana akan melamar Sahara. "Nak menurutmu bagaimana apa kamu sudah siap menikah." Tanya ayahnya.
__ADS_1
Karna setiap keputusan itu ada di tangan Boy. Maka harus beryanya pada dirinya. Semua mata tertuju kearahnya menantikan jawabannya.