CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.8


__ADS_3

Boy tancap gas dari sana, sambil senyum senyum sendiri. "Menggemaskan..."


Itulah kata Boy saat dirinya mengapresiasi yang baru di ketahuinya sebab sudah banyak wanita yang dia temui malah menjengkelkan. Dia langsung pulang ke rumah dan tak ada minat untuk nongkrong lagi.


Banyak panggilan masuk tapi tak di hiraukan karna dia masih ingin sendiri. Sesampainya di rumah sudah banyak kawan kawan nya di sana bawa pasangan masing masing.


''Akhirnya lu pulang juga bro..'' sapa Andri. Dia bawa pasangannya yang paling cantik tapi dia tak setia satu wanita. Andri orang kaya yang bisa menghalalkan apa pun dengan uang.


''Ada apa kalia ngumpul di rumahku. Mau demo?''


''Ehh... enak saja jemput kamu lah, itu shidy udah ready tinggal tancap gas..'' rayu teman temannya.


Shidy melambaikan tangannya, karna memang ini usuannya agar Boy semakin dekat dengannya.


''Sayang ayok. Sambil jalan jalan agar kita semakin dekat.'' Dengan pedehnya dia panggil sayang. Orang yang di peluk hanya diam seribu bahasa.


''Saya tidak bisa keluar sekarang karna banyak tugas, saya harus menyelesaikannya.'' Padahal hanya alasan nya semata. Selama ini dia malas pusing soal tugas aneh kan emang habis ke sambet apaan.


  Teman temannya pada heran karna biasanya sudah dia yang paling semangat, jangankan untuk di jemput biasanya dia yang paling antusias dan lain lain. ''Serius loh mau kerja tugas biasanya kamu yang sudah malas dalam hal apa pun.'' Ledek kawan kawannya.


  ''Berisik loh, pulang sana saya mau kerja tugas gwe, emang gwe peduli sama kalian semua.''


  ''Widih.... luh nggak salah minum obat kan..?''


Tapi yang si paling nyebelin malah gak mau lepas akhirnya dia ikut pula, bawa motor uring uringan itulah ke biasaan mereka. Mereka nongkrong di sebuah cafe.


''Sayang mau makan apa..?'' Tanya shydi dengan rona bahagia.


''Kopi saja.'' Jawabnya acuh tak acuh, yang lain pada romantis sama pasangannya dia malah sibuk keluar masuk aplikasi. Dia ingin mengirim pesan tapi apa kata kata yang pas.


  Padahal dirinya raja gombal, tapi entah kenapa semua kata kata itu tak ada satu pun yang mncul. Tulis hapus tulis hapus begitu pula seterusnya.


  ''Loh tumben kalian gakpeluk pelukan biasanya juga lengket kaya perangko.'' Tegur kawan kawan sejawatnya. 

__ADS_1


Sementara di tempat lain Sahara menunggu pesan darinya yang tak ada kabar. ''Dia kemana sih kok lama tak ada kabar padahal dia sudah ambil nomorku.''


Sahara mondar mandir di dalam kamarnya, sambil cek pesan masuk, hanya grub kampus yang masuk pesannya. Setelahnya tak ada lagi.


Dia mematikan ponselnya, dia bergabung sama orang tuanya nonton drama korea favorit sejuta umat. ''Loh ko mukanya jutek amat, ada apa kenapa mukanya tak bersahabat sedari tadi.'' Anggun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan putri semata wayangnya.


''Mereka fokus nonton dan tak ada yang menyadari jika di luar ada tamu. Boy di luar datang dengan alasan pinjam buku.


''Maaf bu di luar ada tamunya non Sahara. Katanya penting''


Anggun melirik anaknya dengan tatapan penuh tanya. Sahara yang penasaran karna tak ada biasanya ada tamu malam seperti ini, apa lagi teman kampusnya tak ada janji.


Sesampainya di ruang tamu dia semakin terkejut, karna orang yang di tunggu kabarnya ada di rumahnya. Tapi dengan cepat menguasai keadaan agar tak kelihatan gugup.


Anggun hanya sekedar basa basi lalu kembali di ruang keluarga sambil mengawasi dua sijoli.


''Bi tolong bikin minum untuk tamu kita,sama ada cemilan.'' Pinta Anggun walaupun gimana tamu harus di perlakukan dengan baik.


Sementara diruang tamu hanya saling diam tak adayang memulai pembincaraan. Setelah sekian lama keheningan di pecahkan bi Ina bawa makanan serta minuman ke ruang tamu.


Boy hanya tersenym kikuk karna baru kali ini bertamu di rumahnya orang malam malam seperti ini.


''Mas tumben datang di rumah, kenapa tidak kabari dulu.?''


''Iya sya di sini mau pinjam buku. Tidak lama juga setelah ini saya balik.''


''Ohhh iya buku apa. Kebetulan saya banyak buku.''  Sahara sangat antusias karna dia juga senang ketemu dengan priadi depannya hanya saja menolak untuk mencintainya.


Aduh buku apa yah. Mulut kok asal nyeplos saja buku apa yah.'' Guman dalam hatinya. 


Emang enak bertamu di rumahnya orang tampa tujuan karna datang hanya untuk mengoati rindu saja, datang dengan alibi pinjam buku padahal nyatanya mereka beda jurusan.


''Hei.. mas kok malah bengong, buku apa.?''

__ADS_1


Boy semakin bingung, padahal soal buku tapi kenapa dia tak bisa berkata kata. ''Gak jadi baru ingat jika ada juga di rumah.'' Sahara hanya mendelik ternyata hanya modusnya semata. Setelah sekian lama kahirnya pamit pulang.


''Tante pamit dulu. Terimah kasih atas jamuannya.''


''Iya sama sama hati hati yah.''


Setelah itu Sahara mengantar tamunya sampai di teras depan. ''Kok ngikutin saya, masih kangen yah..?'' Ledeknya dia sengaja bahkan dia suka jika Sahara marh marah, ada kepuasaan tersendiri jika dia berhasil membuatnya marah.


''Eleh pedeh amat. Emang kamu siapa harus angen sama kamu. Pacar bukan, suami bukan. Aneh kan luh.''


''Bisa juga aku jadi pacar kamu atau suami kamu supayah gak nanggung nanggung'.'' Boy makin memancing dengan kata kata gombalan...


''Ihhh... najis, kenapa harus ada kamu sih di dunia ini.'' Sarkasnya.


''Kalau hanya kamu di dunia ini gak seruh tau.'' Perdebatan mereka yang tak ada akhirnya. ''Sana pulang...'' pada akhirnya da mengusirnya.


''Terimah kasih sudah mengobati rasa rinduku..'' guman Boy dalam hatinya..


''Abang pulang dulu yah. Besok saya jemput..'' tampa mendengar jawaban dari Sahara..


''Ihhh... kenapa sih sukanya bikin emosi saja. Gak ada apa laki laki selain dia  di dunia ini.'' Pekik Sahara.


Sahara masuk dalam kamarnya setelahnya. Dia mengaktifkan kemabli handphone nya. Padahal ada sepuluh kali panggilan masuk dari nomor baru. ''Mungkin ini nomornya kali yah.'' Guman nya yang hanya di dengar hanya dirinya sendiri.


Tadi Boy memanggil tapi malah nomornya ak bisa di hubungi. Akhirnya memastikan datang kerumahnya apakah dia baik baik saja.


Seberapa jauh menolak mencintai wanita tetap saja rasa kwatir itu muncul tampa rasa malu, bahkan dia berani datang kerumahnya padahal dia tau kalau itu sangat beresiko.


Jika cinta ungkapkan saja, sebelum ke duluan orang lain. Tak ada yang bisa menolak akan hadirnya cinta.


Bukan hanya karna peduli yang muncul tapi kalau berkali kali rasa itu muncul bisa juga kamu mencintainya. Jangan pernah berkata tidak dalam cinta.


Ke esokan paginya, benar saja dia sudah d depan gerbang rumahnya. Dia takut ke duluan sama orang lain makannya dia datang lebih awal.

__ADS_1


Kenapa takut kehilangan apakah dia mencintainya,..?


__ADS_2