
Semua sudah terlanjur nasi telah menjadi bubur sudah tak ada lagi yang harus di pertanyakan mengapa dan kenapa.
Jangan jangan dia sudah terbiasa dengan adanya laki laki yang bersamanya melakukan hal yang sama begitulah isi hati Andre.
Tak ada lagi rasa yang menggebu kala itu entahlah apa ia dia hanya sekedar penasaran tapi sepertinya sudah tak ada lagi penyesalan.
Satu bulan berlalu setelah kejadian itu timbul perubahan yang di rasakan oleh Shidy. Pagi ini dia tak seperti biasanya mual mual bahkan dia tidak suka make up. Biasanya dia fuul make up sekarang malah membiarkan wajahnya kucel.
Di kampus banyak yang keheranan dengan perubahan yang secara tiba tiba ''tumben gak make up say''
''Lagi gak pengen saja'' jawabannya membuat teman teman kelasnya melongo. Terdengar desas desus bahkan sudah sampai di telinga Andre. Andre yang mendengar hal itu jadi penasaran ada apa sebenarnya dengan gadis itu.
Owekkk
Owweekk
Shidy mual mual di toilet masjid karna cium bau parfum teman temannya yang beraneka macam bahkan nyaris pingsan di buatnya.
''Kamu kenapa mual mual seperti itu apakah ada yang salah dengan lambungmu?''
Shidy hanya mencerna ucapan orang yang berada di belakangnya. Dia rasa degub jantungnya yang tak karuan. Bahkan orang yang terkahir yang mnjamah tubuhnya,
Andre memeluk tubuhnya dari belakang sambil membisikan kalimat yang membuatnya nyaris tak bernawa. Tungkainya lunglai seakan tak bisa untuk menopang bobot tubuhnya sendiri.
Andre membalikan tubuh Shidy agar berhadapan dengannya sambil membingkai wajah pucat dengan tangannya.
"Apakah kamu hamil? Kenapa kamu mual mual di sini.?" Andre berkata dengan lembut agar tidak menyakiti perasaan wanita di depannya karna dia tau wanita hamil mudah akan sensitif.
Shidy hanya meremas tangannya menghilangkan rasa cemas yang melanda dirinya. Dia memang sudah telat sepuluh hari dia tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi karna selalu rutin minum obat agar tidak hamil.
"Jika saya hamil apa kah kamu mau tanggung jawab" pertanyaan spontan yang keluar dari bibir pucatnya itu. Gimana tidak jika dirinya ketahuan hamil sudah pasti diamuk sama ibunya.
__ADS_1
"Jika itu anak ku saya akan tanggung jawab" jawaban Andre membuatnya tak bisa berkutik karna dia tau laki laki di depannya ini laki laki bukan idamannya justru pria idamannya memiliki wanita lain yang jadi idamannya.
"Kenapa harus kamu yang hamilin saya kenapa bukan dia." Rintihnya dalam hati. Sementara Boy acu tak acu dengan kondisi Shidy karna memang tak pernah peduli.
"Sudahlah ayo kita pergi makan jangan banyak pikiran." Andre berucap lembut mau tak mau mulai sekarang tanggumg jawabnya adalah Shidy harus menyiapkan mental untuk menikahinya dan harus siap untuk jadi seorang ayah dalam waktu dekat ini. Berakhir sudah masanya untuk nakal.
Sudah tiga bulan kandungan Shidy malah semakin lengket dengan Andre dulu dia musuhnya sekarang akan jadi suaminya.
"Sayang kapan kita menikah apakah seperti ini terus sampai lahiran?"
Shidy menggigit bibir bawahnya dia tidak tau harus bagaiman karna perutnya akan semakin besar pasti akan ketahuan sama ibunya.
"Nanti saya bicara dulu sama ibuku" jujur saja jawaban Shidy membuat Andre semakin was was.
"Secepatnya yah sayang takutnya perut kamu semakin besar, saya janji saya akan nafkahi kamu lahir dan batin dan saya akan menyayangimu sepenuh hati."
Mendengar kata kata Andre membuat Shidy menatap nya dengan tatapan sendu. Baru kali ini merasakan kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan selama ini. Walaupun ia terlahir di keluarga orang kaya tapi tidak membuat dirinya bahagia karna kurangnya kasih sayang.
Jangan tanya lagi cemburunya seperti apa setan saja sumkem kalau dia sudah marah.
"Saya serius sayang, apa kamu tidak percaya?" Lagi lagi jawaban Andre membuatnya lemah dan akhirnya mereka sepakat untuk menikah.
Hari ini Andre membawa orang tuanya kerumah Shidy untuk melamar. Ternyata keluarga Andre orang yang berada tapi mereka slalu tampil sederhana. Sebenarnya sayang anak anak mereka di nikahkan usia terbilang mudah tapi apa lah daya semua sudah terjadi.
Sinta menatap shidy penuh tanya apa alasannya sehingga mau menikah mudah tak ingin berkarir dulu tapi itu semua di tahan karna tamu sekaligus yang meminang anaknya merupakan salah satu koleganya.
Setelah mendapat kesepakatan tamu nya akhirnya pulang juga pernikahan anaknya akan di laksanakan sepuluh hari lagi dan semua Shidy yang mengambil keputusan.
Setelah kepergian Andre dan keluarganya Sinta akhirnya meneror anaknya dengan segudang pertanyaan.
"Ada apa sehingga pernikahan kamu di percepat apa kah kamu sudah mengenal laki laki itu."
__ADS_1
Shidy hendak menjawab tapi suaranya mendadak hilang dan tenggorokannya terasa kering.
Sinta menatap anaknya dengan tajam seakan akan menelannya hidup hidup.
Shidy!
Bentak sinta yang membuat Shidy terlonjak kaget karna teriakan ibunya.
"Ada apa ibu kenapa teriak"
Shidy yang sensitif akhirnya membanting asbak yang ada di meja.
Pranggg
Setelah membanting asbak langsung masuk kekamarnya dia tidak peduli dengan ibunya. Sinta mendadak lemas ada apa dengan anaknya sehingga mampu membalasnya selama ini hanya menunduk. Sinta hanya menatap nanar ke arah pintu lamar anaknya yang sudah tertutup rapat.
Air matanya jatuh begitu saja. Mengingat dimana salahnya selama ini sudah memberi fasilitas anaknya tapi anaknya sama sekali tak menghargainya.
Beda halnya dengan keluarga Andre mereka bertanya pada anaknya kenapa bukan wanita lain saja. Karna Shidy sebenarnya di cap buruk keluarga Andre karna beberapa kali orang tua Andre melihat Shidy keluar masuk hotel.
"Apa kah tidak ada wanita lain selain dia?" Tanya Susanto dengan nada datar. Andre kembali gusar karna pertanyaan ayahnya apa alasannya sehingga menikahi Shidy tampa tau alasan yang sebenarnya.
"Aku sudah terlanjur cinta dengannya ayah" jawaban Andre sontak ibunya melotot kearahnya.
"Kamu jatuh cinta sama wanita modelan seperti itu Andre, percuma saya sekolahkan kamu tinggi tinggi yang ujung ujungnya kamu salah pilih pasangan." Tekan Melia ibunda Andre. Wanita yang tegas dalam hal apa pun kalau bukan permintaan anak semata wayangnya mana mau dia punya menantu seperti Shidy.
Andre menggeleng demi tanggung jawabnya berani menentang keputusan ayah ibunya yang tak memberinya restu. Tapi dengan berbagai bujuk rayuan serta alasan maka ayah ibunya memberinya restu walaupun terpaksa.
Melia melihat kegusaran di wajah anaknya. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga anaknya berani menentang keputusan dirinya sejujurnya sudah menyiapkan wanita pilihan ibunya tapi Andre selalu beralasan dia mau kuliah tampa harus adanya wanita tapi sekarang malah menjilat ludahnya sendiri.
Andre!
__ADS_1