
Hari ini Fandi menjadi raja sehari dan Kaila menjadi ratu sehari. Banyak tamu undangan termasuk para sahabat sahabat kedua mempelai dan masih banyak lagi kerabat atau rekan bisnis Fandi. Sementara yang tidak bisa hadir hanya mengirim uang di rekening mereka.
"Selamat ya bro. Gak nyangka sudah mau melepas masa lajang." Ucap Rio merupakan salah satu rekan bisnisnya.
"Iya bro. Makasih doanya semoga cepat nyusul." Mereka sama sama jomblo dulunya. Ternyata Fandi sudah duluan melepas masa lajangnya.
"Hallo anak mama kok nempel nempel mulu." Ucap sang ibu tiri. Sebenarnya Mahera menahan cemburu sedari tadi dia tidak rela jika Fandi menikah dengan wanita lain. Dia slalu melirik sinis Kaila. Kaila memasang wajah sok polos karna dia tidak peduli apa lagi dia tau itu ibu sambung saja gak lebih.
"Awas saja kamu akan ku buat menderita." Ucap Mahera dalam hati.
Hari pun berlalu begitu cepat tak terasa ini sudah satu minggu mereka menikah. Dan hampir setiap hari Mahera merecoki kedua sijoli itu yang mulai merasakan benih benih cinta. Pagi ini Fandi sudah sarapan yang di buat Kaila sendiri namun lagi lagi Mahera sering kali mengibarkan bendera perang.
"Duh gimana sih kamu jadi istri, kok kamu nasi goreng saja mana ada gizinya." Mahera membuang nasi goreng itu di tong sampah dan menggantikan makanan buatannya.
Brakkk!
"Ibu jaga batasan anda ya. Dia suamiku bukan anak mu. Jangan seenaknya kamu mengaturnya." Ucap Kaila dengan bengis. Dia lelah jika harus meladeni ibu tiri dari suaminya. Terlalu banyak aturan Fandi harus makan masakan darinya. Kaila langsung meninggalkan meja makan begitu saja.
"Gimana sih Fandi kok cari istri modelan ke gitu gak ada pula sopan santunnya." Mahera mencoba mengompori anak tirinya agar dia memarahi istrinya.
Plakkk.
Fandi menampar ibu tirinya hingga terduduk di lantai. "Ingat yah bu tidak usah merecoki kehidupan rumah tanggaku. Papi kasih tau istri anda agar jangan semena mena di rumah ini!" Teriak Fandi. Saking emosinya istrinya tidak di hargai keberadaannya. Fandi menyusul istrinya kedalam kamar mereka. "Sayang tidak apa apa." Sambil memeluk tubuh istrinya yang lagi menangis tersedu sedu.
__ADS_1
Fandi menenangkan istrinya yang makin menangis dengan pilu. "Sayang udah dong nangisnya abang minta maaf tidak cepat tanggap." Ucap Fandi sambil mengelus kepala istrinya.
Sementara di meja makan terjadi pertengkaran hebat yang tak terbendung lagi. "Papi apa apaan anak kamu semenjak menikah tak ada sopan santunnya sama saya. Semenjak menikah dia semena mena sama saya." Maki nya kepada suaminya. Dia tidak terima jika Fandi lebih berpihak sama istrinya dari pada dengan dirinya.
"Papi dengar aku nggak sih!"teriak Mahera menggema di ruang makan.
"Mahera jaga sikapmu, jika kamu tidak mau saya akan ceraikan kamu saat ini juga." Ucap Mahendra dengan wajah di liputi amarah. Mahera melototkan matanya dia tidak percaya dengan ucapan suaminya saat ini. "Papi serius mau cerai sama aku hanya gara gara menantu sialan itu." Pekik Mahera tidak terima dengan apa yang di dengarnya.
"Jaga ucapanmu. Jika tidak ... "
Belum selesai ucapannya sudah diambil alih oleh istrinya. "Jika tidak cerai denganku ia kan. Dasar laki laki pengecut." Ucapnya sambil berlalu begitu saja. Dia akan marah sama seisi rumah ini agar mereka tau jika drinya yang paling berarati dalam keluarga ini. Mahera tak peduli dengan suaminya dia masih sakit hati karna Fandi sudah menikah sama wanita lain.
"Sialan!" Maki Mahera dia selama ini berkali kali menyusun rencana berkali kali juga gagal. Mahera dia akan keluar dari kamar menuju kamar Fandi dia tidak rela jika Fandi berlama lama dalam kamar berduaan sama istrinya.
Suara gedoran pintu menggema seisi rumah. "Hei. Ngapain kamu gedor gedor pintunya kak Fandi. Jangan ngelunjak di rumah ini kalau kamu tidak mau jadi gelandangan." Pekik Bara yang melihat tingka ibu tirinya yang kelewatan batas.
Mahera mendelik tak suka kearah Bara "dasar situkang ngadu." Gerutu Mahera dalam hati.
"Saya membangunkan istrinya ini sudah siang kenapa dia nggak masak. Jadi istri kok pemalas." Ujarnya membela diri. Bara hanya tersenyum kecut mendengar penuturan ibu tirinya. "Selama menikah juga ibu tidak pernah masak terus kenapa sekarang sok sok an suruh orang masak."
Mahera bungkam karna benar yang di ucapkan Bara dia tidak pernah masak selama ini. Yang masak itu selalu pembantu dia hanya tau shoping dan lain lain. Bara hanya menatap ibu tirinya dengan tatapan datar yang membuat nyali Mahera menciut.
Mahera berlalu masuk dalam kamarnya, "sialan tu anak gagalin rencanaku saja. Padahal selangkah lagi pasti perempuan udik itu akan keluar." Gumannya kesal.
__ADS_1
"Sayang aku gak betah di sini pindah rumah saja yuk." Ajak Kaila yang saat ini berada dalam pelukan suaminya.
"Iya besok kita akan pindahan sebentar malam nanti izin dulu sama papi. Saya sudah sediakan rumah untukmu semoga di sana kamu betah ya." Ujar Fandi sambil mendaratkan ciuman di pipi kiri dan kanan istrinya.
Malam pun tiba semuanya sudah berkumpul di meja makan. Fandi sengaja menciumi wajah istrinya di depan semua penghuni rumah. Semuanya tertawa melihat tingka sepasang kekasih halal itu kecuali Mahera hanya tersenyum masam.
"Papi kami besok siang sudah mau pindah kerumah baru. Nanti sekali kali kami akan berkunjung kemari."
Mahendra sebenarnya berat. Tapi anaknya sudah menikah dan memiliki privasi sendiri. "Papi sebanarnya keberatan tapi papi juga tidak boleh egois jadi silakan jika itu keputusan yang terbaik menurut kalian." Ucap Mahendra dengan wajah teduhnya.
"Saya tidak setuju. Kalian tetap tinggal di rumah ini terutama kamu Fandi jangan berani melawan ucapanku." Ucap Mahera dengan tegas.
"Maaf bu. Saya tetap akan pindah kerumah baru demi kenyamanan kami berdua." Ucap Fandi tak kalah tegasnya. Mahera hanya mendelik karna tak terima dengan keputusan Fandi akan keluar dari rumah ini.
"Jika kalian pindah. Ibu ikut kalian saja. Apa lagi istrimu tidak becus mengurus suami."
Kaila hanya geleng geleng kepala melihat tingkah ibu tiri suaminya. Dia sudah jengah melihat drama yang terjadi setiap hari bahkan slalu dirinya lah yang jadi bahan ocehan tiap hari.
"Maaf bu. Kami punya privasi sendiri tak elok ibu minta tinggal sama kami sementara masih punya suami."jawab Kaila dengan telak.
"Kamu hanya orang lain dalam rumah ini. Jangan sembarang bicara denganku." Ucap Mahera sambil berkacak pinggang. Seola dirinya ibu yang telah melahirkan suaminya.
"Saya tidak peduli kamu setujuh atau tidak intinya rumahku hanya untuk di tinggali berdua tidak dengan anda."ucap Fandi dengan geram karna tingka ibu tirinya.
__ADS_1