
Sahara tidak peduli langsung menegur pria yang akhir akhir slalu saja meminta nomor ponselnya. Entah apa maunya yang tak ada sopan santunnya. Selalu mengancam tidak mau bayar jika tidak di turuti kemauannya.
"Saya tak akan bayar makanan saya jika nomornya tidak di berikan." Ucapnya dengan bangga. Dia terlalu pongah orang yang di depannya menunduk dalam.
"Siapa yang tidak mau bayar kue yang sudah di makan." Ucap Sahara dengan suara tegasnya dan memasang wajah datar.
"Akhirnya muncul juga. Takutkan leo," ucap Orang itu dalam hatinya sambil tertawa dalam hati. "Saya tidak mau bayar kue yang sudah saya makan kalau nomor ponsel anda tak di berikan." Ucapnya lagi yang membuat Sahara tersenyum simpul.
"Ohh. Iya kah gimana ya kalau kamu viral." Jawab Sahara sambil menaik turunkan alisnya. Abi hanya menggeleng pelan jika dia viral malu karna makan kue gak bayar bisa turun harga dirinya. "Sialan ni wanita masa iya saya harus viral gara gara kue." Ucapnya dalam hati. Jujurnya saja ancaman Sahara tak main main yang membuatnya semakin ketar ketir. Dalam hitungan detik akhirnya Abi membayar kue yang di makannya.
"Tak selama nya ancamanmu bisa menaklukan ku. Apa lagi pria seperti." Ucap Sahara sambil meninggalkan pria Abi yang mematung di kasir.
"Akhhh. Dasar wanita gila sok jual mahal." Ucap Abi dalam hati. Pastinya bicara secara nyata karna banyak pengunjung. Abi meninggalkan toko kue Sahara dengan hati kesal.
Sahara sibuk menelpon dengan Boy. Yang jadi kekasihnya saat ini. Boy sekarang menjalankan usaha orang tuanya karna menurutnya lebih baik mengembangkan usaha orang lain daripada mengembangkan usaha orang lain.
__ADS_1
Keduanya kompak dengan masa depan mereka yang akan datang. Tak ada namanya healing setiap hari, shoping ke mall atau apalah yang di lakukan anak muda mudi pada umumnya. Sehingga kedua nya memiliki waktu hanya saat weekend saja itupun dua kali dalam sebulan. Waktu mereka hanya di gunakan untuk mengejar impian mereka di masa yang akan datang. Sehingga tak mereka akan hidup sejahtra dan makmur secara finansial.
Tiba tiba ada seseorang yang Sahara rindukan karna sudah jarang ketemu semenjak menikah. "Hai. Ya ampun ini yah toko mu. Kaka nggak nyangka loh kalau kamu bisa memiliki bakat seperti ini." Ucap Kaila terkagum kagum dengan usaha yang didirikan Sahara.
Kaila mengedarkan pandangan di setiap sudut sambil sesedikit melontarkan pujian. Desain toko Sahara memang memanjakan mata. Fornitur yang tertata rapi membuat nyaman siapa pun yang singgah di tempat ini. Banyak kalangan muda mudi yang singgah untuk sekedar menikmati cake dan secangkir kopi.
Toko yang sengaja di desain dengan konsep cafe itu ramai di kalangan muda mudi saat ini. Kaila menginginkan juga tempat usaha yang seperti di kembangkan Sahara namun apa lah daya suaminya tidak di perbolehkan untuk melakukan apa pun terlebih sekarang lagi hamil muda. Banyak larangan dari sang suami sehingga dia jenuh.
Setelah berbincang cukup lama dengan Sahara Fandi datang menjemputnya kebetulan sudah sore juga. "Sayang ... ", panggil Fandi melangkah kedua wanita cantik yang salah satu adalah miliknya. Sahara sama Kaila menoleh bersamaan kesumber suara. Sementara yang diliatin salah tingkah. Mereka terlibat obrolan seruh seputaran tempat usaha dan mengelola keuangan. Fandi orang yang terbuka jadi menjelaskan sesuatu dengan transparan. Sampai sampai mereka tidak menyadari telah menghabiskan waktu yang lama.
"Sudah malam ini. Kami pulang dulu terima kasih makan malamnya." Fandi brrsama sang istri pulang setelah makan malam bersama Sahara.
Tak terasa dia sudah memasuki area kompleks. "Humm. Sudah sampai juga." Guman Sahara.
"Salamualaikum." Salam Sahara di jawab ibunya yang sudah lama menunggunya di ruang tamu.
__ADS_1
"Walaikum salam. Sudah pulang nak." Ucap Anggun sambil berdiri menghampiri anaknya yang penuh dengan wajah lelahnya.
"Sudah bu. Saya mandi dulu yah."
"Yah. Sudah saya tunggu di meja makan ya."
Sahara walaupun sudah makan di luar kalau di rumah makan lagi walaupun hanya sedikit. Karna itu sudah kebiasaanya. Selesai mandi Sahara bergabung di meja makan. Di meja makan ini tak ada yang berubah. Setiap makan pun hanya berdua.
Tak seperti keluarga pada umunya ada kehadiran sosok laki laki diantaranya tapi tidak dengan mereka. Mereka hanya hidup berdua dan orang orang kerja dalam rumah mewah itu. "Sayang belum ada rencana kamu akan menikah?"
Uhuk ... uhuk ... Sahara tersedat makanannya. "Maaf bu. Sahara masih ingin mengembangkan toko Sahara lagian calon Sahara masih sibuk mengelola bisnis ayahnya. Nanti kalau sudah tidak terlalu sibuk baru akan datang melamar Sahara di depan ibu." Anggun cukup senang setelah mendengar jawaban Saahara. Walaupun umurnya saat ini masih terbilang cukup mudah tapi Anggun cukup tidak tenang karna ajalnya tiba tiba akan menjemputnya. Ajal manusia datangnya secara tiba tiba, dia takut ketika meninggal anak semata wayangnya belum ada yang menjaganya. Hal itu lah yang di paling da takutkan.
Selesai makan malam mereka kembali ke kamar masing masing karna besok akan kembali pada aktifitas mereka masing masing. Sahara masuk dalam kamar sambil mengecek laporan harian yang di kirim oleh karyawannya.
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya di ufuk timur menandakan bahwa mentari telah menyinari bumi. Sehingga semua warga bumi di sibukan dengan aktifitas yang di lakoninya. Begitu pula dengan penghuni rumah besar ini, mereka kembali melakukan aktifitas di pagi hari, banyak drama yang tak pernah pupus. Mahendra lelah setiap hari drama yang ada dalam rumah mewahnya ini tak pernah usai padahal anaknya sudah tak ada lagi yang menyusahkan dirinya. Bahkan Bara kali ini sudah memiliki usaha sendiri. Di hari tua bukannya nikmati hidup yang ada jengah dengan keadaan huru hara dalam rumah. Ada saja tingkah istrinya yang membuatnya lelah.
__ADS_1
"Papi kapan kita berkunjung kerumah Fandi. Anak itu menikah sudah menjauh sama keluarganya. Itu pasti karna istrinya yang menghasutnya agar menjauh dari keluarga kita." Lagi lagi Mahera menyalhkan Kaila padahal ia cemburu kalau Fandi menikah dengan wanita lain. Lagi lagi Mahendra meremas rambutnya karna frustasi dengan kata kata istrinya.
"Kamu sadar ngga sih. Mereka itu sudah menikah tidak baik kita sering berkunjung kerumahnya karna mereka itu punya privasi. Tidak baik setiap hari kita mengusik mereka." Lagi lagi Mahera hanya mencebik mendengar pembelaan suaminya untuk anak menantunya. Bukan berpihak padanya malah dirinya lah yang di salahkan.