
''Apakah dia sedang putus cinta?'' Pertanyaan itu tak terjawab. Anggun melanjutkan makannya sampai suapan terakhir.
Anaknya sepertinya lagi galau, Anggun senyum senyum sendiri dan tak tau gimana cara membujuk anaknya. Dia mengenang masa masa cinta monyetnya dulu.
Sahara ingin pergi kesuatu tempat dia ingin bermain main disana memanjakan matanya, dia akan bermain bersama anak anak di sana.
Sore pun tiba ada banyak anak anak di taman yang sedang main bersama. Banyak juga pasangan muda mudi.
Sahara mulai asyik main bersama ank anak tampa peduli orang orang di sekitarnya dengan tatapan yang berbeda beda. Tapi seolah tuli dan buta menurutnya drinya sendiri yang paling penting.
''Dia lagi galau deh kayaknya.''
''Mungkin sih tapi kayaknya tidak, lagian dia gak bunuh diri kan.''
''Iya juga sih tapi...''
''Hus... jangan urus urusannya orang yah, anggap saja dia tak bahagia masa kecilnya.''
Anak anak gadis itu datang bersama dengan gebetan mereka. Tapi entah kenapa mereka jalan sendiri sendiri. Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Anak anak sudah berkurang mereka sudah pulang kerumah masing masing.
Di sepanjang jalan Sahara melihat seseorang yang sangat di kenalinya. ''Ohh ternyata mereka sudah jadian.''
Sahara baru kali sesak, dia menyaksikan mereka suap suapan di kedai pinggir jalan. Andaikan ini tidak macet mungkin dia akan menepih turun dari mobil dan mengucapkan selamat.
''LUKA TAK BERDARAH''
Yah suahlah memang itu maunya. Sepanjang jalan hanya mengingat kejadian demi kejadian dan berawal ketemu hingga mereka harus berpisah.
Andaikan dulu tak. Mengenalmu saya tak akan pernah merasakan sakit yang seperti ini.
Andaikan saya tak pernah abai dengan perasaan ini, mungkin semua akan baik baik saja.
Dimana kah letak cinta itu agar bisa kuraih, tapi jika ia terbang setinggi angkasa mungkin dia akan terlepas dari genggaman.
''Setitik harapan yang musna berawal dari ego yang tinggi dan sakit hati berawal menaruh harapan yang terlalu dalam.
Boy hanya ingin memiliki kekasih yang mengerti padanya tapi dia sangat pinplang. Tak ada yang pasti dengan perasaannya. Kadang dia menginginkannya tapi dia sibuk dengan dirinya sendiri.
Boy berada di balkon kamarnya di temani kopi hitam kesukaannya, selama ini terlalu naif. ''Andaikan saya tak mengatakan itu di depannya, mungkin masih bisa di pertahankan. Sekarang nomornya pula sudah tak aktif bahkan sudah tiga hari lamanya.
Selama itu pula Boy belum mendapat kabr apa pun, bahkan kerumahnya tak ada. Banyak alasan Sahara untuk menghindar demi menjaga perasaanya baik baik saja.
Sejauh ini belum ada yang bisa menggantikan rasa itu, Shidy pun tak bisa mengobati yang namanya rindu.
__ADS_1
Padahal wanita yang berpakaian super seksi itu tak bisa mendapatkan cinta atau kasih sayang seorang Boy padahal dia rela untuk memberikan tubuhnya. Shidy wanita ambisius itu tak pernah menyerah walaupun dia tau laki laki yang di kejarnya tak mencintainya.
''Hei melamun saja loh dari tadi.''
''Apa apaan sih kak, gak mau liat orang senang saja.'' Ketusnya, wajahnya menampakan wajah yang tak bersahabat.
''Cie ada yang lagi kepikiran nie, galau yah katanya mau...''
''Diammm...!!'' Boy berteriak. Boy senang sekali berteriak bila sama Kaila.
''Gak usah teriak teriak Boy. Di sini bukan hutan.!!'' Hardik Kaila yang geram karna Boy berteriak di depan wajahnya.
''Ingat yah, kamu itu plin plan Boy, tak berpendirian sama sekali.'' Kaila bicara penuh penekanan dan dia menatap Boy dengan nyalang saking emosinya.
Kaila dadanya kembang kembis karna terbawa emosi. Kaila benar benar geram karna tingkah adik sepupunya yang tak berpendirian seperti itu. Kaila meninggalkan Boy begitu saja. Setelah menerima telpon dari temannya.
''Hallo ada say...''
''Maaf say gak bisa hari ini saya tidak enak badan.''
Setelah mendapat penolakan Kaila, mematikan telpon secara sepihak. Semua Kaila lakukan demi menjaga kewarasaannya. Seperti biasa masuk dalam selimut tidur itulah cara untuk meredakan emosinya.
Boy menatap kosong jalan raya yang bisa di lihat dari tempatnya sekarang berdiri. Pikirannya tertuju sama wanita yang selama ini yang dia dekati. Tapi lagi lagi gagal karna banyak tragedi.
''Dimana kamu Sahara, saya mencarimu di mana mana malah tak pernah ketemu.''
Kring.... kring.... kring....
Bakso
Bakso
Bakso
Tukang bakso lewat depan rumahnya. Dia panggil dari balkon itu.
''Mas,... bakso....''
Teriak Boy dari balkon. Dia langsung berlari turun sambil. Membawa mangkok yang biasa dia pakai beli bakso.
Kaila yang terganggu langsung bangun, sepertinya sore sore begini enak kalau makan bakso. Dia berlari kedapur untuk ambil mangkok.
''Mas saya juga satu porsi, bakso yang isian telur.'' Pinta Kaila yang masih belekan itu mengundang tawa Boy.
__ADS_1
''Minimal cuci muka kali. Malu dong..'' sindir Boy.
''Biar gak mandi udah cantik toh mas.'' Tanya Kaila pada mas penjual bakso. Mas bakso hanya tersenyum sambil menyiapkan bakso kedua orang itu.
''Sana kaka cuci wajah, masih belekan tau.''
Kaila berlalu masuk dengan wajah memerah demi bakso tadi keluar dengan awut awutan.
Kaila masih dalam kamar mandi, sekalian mandi saja karna udah sore nanggung juga kalau hanya cuci muka.
''Kaka bakso udah dingin, ngapain bertapa di dalam kamar mandi.'' Teriaknya Dari depan kamar mandi.
''Tunggu kaka mandi dulu, dikit lagi, kamu makan duluan saja.'' Teriak Kaila dari dalam kamar mandi.
Boy belum melahap baksonya karna menunggu Kaila selesai mandi. Kaila keluar dari kamarnya ''kamu belum makan, kok nungguin saya,,..''
Mereka makan sambil cerita pengalaman masing masing. Begitulah mereka slalu makan bersama di selingi gurauan..
Selesai makan meraka kembali dengan aktifitas masing masing.
Jam sudah menunjukan tengah malam tapi Sahara tidak bisa memejamkan matanya. Gorden sengaja di buka supayah cahaya bulan itu masuk dalam kamarnya.
Bulan itu indah bersinar walaupun malam mengabaikannya. Wajahnya yang terkena cahaya bulan menampakan dirinya yang sangat indah. Dia tertidur di temani bulan yang menyinari masuk dalam kamarnya.
Bulan perlahan meredup pertanda sebentar lagi akan pagi. Bulan itu akan kembali keperaduannya. Sahara masih tertidur dalam damai.
''Ratu bulan, Sahara duduk di singga sananya. Dia sekarang banyak pengawalnya.
Tapi tiba tiba Boy datang meminangnya, dia juga seorang pangeran dari bumi.
''Sahara apakah kamu mau menerimaku jadi belahan jiwamu.''
''Tentu saja pangeran ku. Aku sudah lama menunggumu.'' Sahara memeluk pangeran yang ada di depannya. Mereka sama sama tertawa bahagia karna akan sedikit lagi bersama.
''Akhirnya penantian kita terlaksana.'' Mereka berdua saling menatap penuh cinta, bahkan mereka jadi penonton banyak orang tapi mereka abai.
Tiba tiba sinar menyilaukan menerobos masuk...
''Boy pangeranku...''
Bangunn...!! Teriak Anggun
Sahara yang kaget langsung loncat dari tempat tidur, sambil mengumpulkan nyawanya di melirik ibunya yang berkacak pinggang.
__ADS_1