CINTA DI PANDANGAN PERTAMA

CINTA DI PANDANGAN PERTAMA
BAB.7 POV BOY


__ADS_3

Saya menyaksikan kebahagiaan mereka dari jauh. Secinta itukah dia sama orang lain di bandingkan saya dulunya. Saya dulu tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Bahkan saya sudah tak memilikinya dia milik orang lain sekarang. Saya hanya memiliki seorang ayah.


  Sungguh malang benar nasibku, saya kekurangan cinta seorang ibu, yang di miliki mereka yang beruntung sementara saya tak beruntung hidup di dunia.


  Ya allah kenapa kamu menghilangkan kasih sayang seorang ibu dalam hidupku, saya ingin seperti mereka tapi tidak tidak denganku.


  Selesai makan saya keluar dari ruangan yang membuatku sesak, mingkin semua orang bahagia tapi tidak denganku. "Boy apa kamu baik baik saja..?"


  "Saya baik baik saja ayah, jangan kwatir saya sudah memiliki ayah yang harus ku syukuri." Padahal hatiku menjerit, tapi demi kuat di depan ayah saya berusaha setegar mungkin...


  Ternyata ayahku tak bisa ku bohongi, dia twrsenyum sambil mengelus kepalaku padahal saya sudah dewasa tapi menurutnya saya masih kecil. "Kamu yang kuat yah, saya yakin kamu mendapatkan kasih sayang dari seseorang melebihi apa pun."


  Huufff....


Ayah ada ada saja mana ada wanita yang tulus memberiku cinta dan kasih sayang sementara tak ada wanita yang seperti itu.


  Dari ke jauhan saya liat ada seseorang yang berhasil meluluh lantakan hatiku akhir akhir ini. Sama siapa dia baru saya liat siapa pria yang bersamanya itu. Dia dari mana kok mereka bukan saudarah tapi kok dia selengket itu...


  Aduh.... kenapa sih kamu, apakah saya mencintainya? Ahhhh.... tidak tidak mana ada saya suka sama dia. Dia kan sama saja sama wanita lain


Tapi kenapa hati dan pikiranku gak singkrong. Apa kah saya cemburu? Hedewww.... ada ada saja aku ini. Mana ada saya cemburu sama orang yang ku tak pernah kenal seluk beluknya. Aneh kan aku ini....


"Heeii.... kok ngelamun, liatin siapa sih....?" Saya terlonjak ternyata ayah memperhati kan ku dari tadi. Kenapa juga saya liatin dia dari tadi...


"Ehhh di tanya malah bengong. Awas loh nanti kesambet hantu kueng..." ledek ayah...


Hantu kueng itu apaan coba emang siang siang gini ada hantu. "Ayoh ayah pulang mau istrahat udah cape soalnya. Padahal sebenarnya saya lagi gamon. Sepanjang jalan saya hanya melamun, yang ada di kepalaku hanya Sahara. Kok dia cantik banget yah...


  Apakah dia sudah punya pacar ya? Atau itu pacar dia kali tadi....


"Boy kamu bawa motor sambil melamun ya. Di panggil panggil kok nggak nyahut." Ayah sambil memukul helemku.


  "Ayah bilang apa tadi...?" Tanyaku balik.. tai ayah tak lagi menjawab mungkin kesal saya abaikan barusan. Hehehe maaf ayah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah saya masuk dalam kamarku sambil nonton flim dewasa. Yah kebiasaanku nonton filim biru untuk menghilangkan penat di kepalaku. Tapi yang ada di kepalaku malah Sahara....


Kumatikan filim itu lalu kubuka jendela kamarku. Langit siang ini mendung tapi... ahhhh sudahlah mingkin dia benar itu pacar dia.


  Hari ini sengaja ku berangkat lebih pagi ke kampus. Karna malas bermacet macetan di jalan. Tapi tetap saja sama macet juga beginilah jalan ibu kota. Setelah saya menempuh perjalanan yang macet akhirnya sampai juga di kampus.


Siswa belum terlalu banyak memang hari masih pagi sekali. Apa ku telpon saja Sahara untuk mengobati rasa rindu. Ku cari nomornya tapi juga tak kutemukan. Apa sih nama kontaknya kemarin perasaan ada deh nomornya.


"Sayang.... ngapain kok gelisah banget? Nyari apaan?"


Ternyata orang yang muncul bukan Sahara saya maunya dia tapi malah yang lain muncul. Hummm gak jadian tapi manggil sayang. Ada ada saja kelakuan wanita zaman sekarang.


"Kamu kenapa ada di sini. Saya mau sendiri jangan ganggu saya." 


Cantik tapi bikin saya ilfel duluan. Saya bukannya apa lebih malas sekarang untuk ke sana ke mari gak jelas. Saya saat ini antara mencintai atau tidak saya tidak tau.


Entahlah justru saya suka sama wanita yang biasa biasa saja. Shidy pergi begitu saja sambil menghentakan kakinya seperti anak kecil.


  Tak terasa sekarang sudah sore saatnya pulang. Saya akan pergi di cafe seperti biasa untuk menghilangkan suntuk. Tapi di pertengahan jalan saya liat seseorang yang lagi menunggu di depan kampus.


"Saya mau pesan taxi mau pulang..." jawabnya agak gugup..


"Ayo sini saya antar pulang. Daripada nunggu taxi ke lamaan. Kebetulan sudah mau hampir maghrib."


Akhirnya dia mau juga. Ini ke sempatan saya untuk mengambil nomor hanphone nya. Saya pinggirkan dulu motor di tempat yang akan agak sepih supayah gampang saya desak.


"Kok berhenti mas...?" Dia mingkin panik di sini memang agak sepih kendaraan memang lalu lalang tapi banyak orang gak peduli.


"Istrahat dulu. Kita tukaran dulu nomor supayah sewaktu waktu kamu tidak bawa kendaraan tinggal telpon saja." Modus iya iyalah, kalau laki laki tidak memiliki akal untuk mendapatkan sesuatu.


Dia hanya menatapku dengan ragu. Dia juga enggan membuka mulut untuk bicara. Dengan bujuk rayu yang mumpuni akhirnya dia memberikan nya juga yes....


Itu baru, jadi kalau sebentar malam gabut bisa saya telpon kan.

__ADS_1


Ada incaran baru kali ini, saya ingin berkata manis tapi mulutku terkunci. Apa saya tidak bisa romantis dengan wanita.


"Ayo naik buruan atau tunggu saya perkaos dulu."


Dia langsung naik tampa banyak bicara. "Apa kamu tidak punya mulut untuk bicara?"


Dia masih diam, ni cewek atau patung. Atau jangan jangan dia ke surupan lagi. Kalau dia kesurupan saya bonceng setan dong.


"Hei... kamu masih manusia kan..?"


Tanyaku malah di pelototin sama dia. Ihhh.... sangar juga ini setan gumanku dalam hati. Takutnya saya di cekik. Saya belum mau mati. Sambil ku bergidik ngeri...


"Hei... kamu masih manusia kan...?"


Plukkk...


"Kamu kira saya setan. Kamu itu lama lama saya gerek saja. Ayo buruan jalan..."


Aduh galak benar ini cewek. Sakit pula pukulannya. "Iya iya galak amat. Saya mau jalan juga ini."


"Aduh cerewet skali kamu jadi laki. Jalan saja susah amat.."


Ampun dah emak emak kalau sudah ngomel sepanjang rel kereta api sudah gak bisa di lawan. Akhirnya saya sampai juga di depan rumahnya.


"Ayokkk turun. Sampai kapan kamu mau duduk di atas motorku.."


"Iya iya. Gak sabaran amat, pergilah jangan lama lama di depan rumah gwe."


"Santai saja kali. Ngapain kamu liatin saya begitu. Masih rindu..." ledekku..


Pleekkk


Aduh gwe malah di lempar pake sepatunya lagi. Untung helem masih terpasang di kepalaku kalau tidak sudah hancur pula ini kepala. Setelah saya tancap gas.

__ADS_1


Apakah mereka akan jadian atau tidak ya...?


__ADS_2