Cinta Gadis Pingitan

Cinta Gadis Pingitan
Ternyata


__ADS_3

Taksi yang membawa Kenzi sudah tiba disebuah rumah bergaya etnik yang terlihat mewah dan besar.Kenzivaro turun dari taksi dengan menyandang tas punggungnya yang besar.


"Ini rumah orang tua saya Pak.Kalau mau cari saya jangan ke sini,karena saya tidak tinggal dirumah ini.Saya tinggal di apartement, alamatnya sudah ada tuh di kartu nama yang saya kasih tadi," ujar Kenzi.


Bapak supir taksi itu ikutan keluar dari taksinya,ia melihat dengan pasti rumah besar itu.


"Rumah sebesar ini, kenapa Mas nya gak tinggal disini? " tanya Pak supir.


"Saya pengen mandiri Pak,gak mau di atur-atur sama orang-orang yang ada di rumah ini. Terutama Papa saya,... " Kenzi jadi teringat tentang almarhumah Papanya yang baru saja meninggal.Matanya kembali berkaca-kaca.


"Maaf Mas, saya gak bermaksud.Ya sudah, sebaiknya Mas Kenzi segera masuk kedalam. Pasti Mas sudah lama ditunggu oleh keluarganya Mas. "


"Iya Pak,terimakasih sudah mengantar saya pulang.Karena uang tunai saya habis, bagaimana kalau nanti Bapak misscall nomor saya, biar saya bisa hubungin Bapak dan sekaligus mau melunasi biaya bengkel untuk perbaikan mobil Bapak. " Kenzi mengeluarkan ponselnya.


"Tentu Mas, " jawab Pak supir yang bernama Juned itu sambil mengeluarkan ponselnya juga.


Kenzi menyebutkan nomornya, dan Pak Juned segera melakukan panggilan."Sudah masuk kan Mas? "


"Iya, sudah. Nanti saya akan transfer Bapak uangnya.Kalau ada apa-apa dengan mobil Bapak, hubungi saja saya, " Ujar Kenzi lagi.


"Iya Mas, sekali lagi saya turut berdukacita atas meninggalnya Papanya Mas Kenzi," ujar Pak Juned.


"Makasih Pak. "


Keduanya bersalaman, dan tepat setelah itu seorang satpam dari rumah Papanya Kenzi keluar.


"Den Kenzi, alhamdulillah akhirnya Aden pulang.Cepatlah masuk Den,semuanya sedang menunggu kedatangan Aden, " ujar Pak Joni si Satpam.


"Oh,kalau begitu saya permisi dulu Mas Ken."Pak Juned segera masuk kedalam taksinya dan segera melaju meninggalkan rumah keluarga Kenzi.


Kenzi hanya melambaikan tangannya sesaat sampai taksinya Pak Juned benar-benar tidak terlihat.


" Ayo Pak, kita masuk ke dalam."


"Ayo Den,mari." Pak Joni mempersilahkan anak majikannya itu masuk kedalam rumah besar itu.

__ADS_1


Ada getaran ketakutan di langkah kaki Kenzi, sudah lama ia tidak memasuki rumah ini. Berbagai kenangan lalu kini muncul kembali, dimana saat ia ribut-ribut dengan Papanya saat terakhir kali.Begitu juga dengan kenangan masa kecilnya bersama almarhumah sang Mama yang sangat ia sayangi.


"Silahkan Den, semua orang ada diruang tengah," ujar Pak Joni.Pria tambun itu harus segera kembali ke pos jaganya di dekat pintu gerbang.


"Iya Pak, eehhh tunggu dulu Pak. " Kenzi tiba-tiba merasa kalau ada sesuatu yang janggal disini.


"Ada apa ya, Den? "


"Bukankah Papa kemaren baru saja meninggal,lalu kenapa tidak ada bendera kuning di depan sana.Dan kenapa rumah sepi sekali, apakah tidak ada yang datang untuk ber takziah atau melayat?" Kenzi merasa janggal.


"Ooh itu Den,kemaren rame kok Den.Hari ini aja sudah sepi, " ujar Pak Joni.Wajah pria itu nampak ragu dengan ucapannya sendiri.


"Tapi, apakah Papa sudah di makamkan? " tanya Kenzi lagi.


"Kalau itu Aden lihat aja di dalam.Mereka semua sedang menunggu Den Kenzi di ruang tengah. " Pak Joni buru-buru pergi karena tugasnya sudah menanti.


Kenzi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan saat dirinya merasa butuh kekuatan untuk melangkahkan kakinya keruangan yang dimaksud oleh Pak Joni.


Tap...


Tap....


Tap....


" Kakak, "panggil Cellyna sang adik yang kini berlari ke pelukannya.


" Cellyn. "Kenzi membalas pelukan Cellyna sambil terus melihat ke arah sang Papa yang kini sedang terbaring tanpa suara.


Kenzi melerai pelukan sang adik,lalu dengan tertatih ia pun berjalan menuju sang Papa.


" Papa.., "serunya sambil terisak.


" Papa!, kenapa bisa begini Pa?"Kenzi memeluk tubuh sang Papa yang masih tertutup selimut sambil terus menangis."Bangun Pa, Kenzi belum sempat minta maaf sama Papa, hiksss...., "racau Kenzi.


Semua orang yang ada diruangan itu saling lirik, dan saling senggol-senggolan.

__ADS_1


"Akhirnya kamu pulang juga Ken.Apa harus Papa mati dulu,baru kamu mau pulang? " ujar sang Papa yang ternyata masih hidup.


"Apa??! " Kenzi kaget ketika mengetahui kalau dirinya sedang di kerjain.


"Papa bohongin Ken!Papa nge prank Ken?!"


"Kalau tidak dengan cara begini,mana mau kamu menjenguk Papa mu yang sudah mulai sering sakit-sakitan ini, " jawab Tuan Axel dengan wajah sendunya.


"Ken pergi! dan jangan pernah hubungi Ken lagi! " Kenzo membenarkan posisi Tas ranselnya dan berniat melangkah meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya.


"Tutup pintunya!" perintah Tuan Axel kepada para pelayan yang berjaga di dekat pintu.


Semuanya sudah ia perhitungkan, ia tidak ingin putera satu-satunya itu pergi lagi meninggalkan dirinya dimasa tuanya ini.


Langkah Kenzi terhenti,ia pun berbalik melihat ke arah sang Papa yang kini sudah bangkit berdiri.


"Apa kamu tega membiarkan orang tua ini masih harus bekerja di usia tuanya?! " tanya Tuan Axel Fernando.


"Apa maksud Papa?" tanya Kenzi bingung.


"Hari ini Papa memang masih hidup, tapi tidak tahu kalau besok.Papa menderita penyakit gawat,umur Papa mungkin tidak akan lama lagi Ken.Bolehkah di akhir sisa umur Papa ini, Papa bisa hidup bersama anak-anak Papa yang Papa sayangi?" Tuan Axel mengiba berharap sang putera akan luluh dan kembali tinggal bersamanya.


"Untuk apa Pa?wanita itu saja masih berada dirumah ini.Ken tidak mau kalau ada dia disini! " Kenzi masih tidak bisa terima.


"Baiklah,Papa akan menyiapkan rumah khusus untuk Roweena dan keluarganya. Lagipula mereka semua pastinya sudah puas mengeruk uang perusahaan selama ini." Tuan Axel memberikan kode kepada pengacaranya yang memang juga berada diruangan itu.


"Bagas,tolong keluarkan surat cerai yang sudah aku tandatangani itu, " perintah Tuan Axel.


"Ini dia suratnya ,Tuan. "Pak Bagas mengeluarkan surat yang di maksud oleh Tuannya.


Seketika pula mata Roweena dan keluarga nya yang terdiri dari adik-adiknya dan juga kedua orang tuanya jadi terbelalak.


Mereka tidak menyangka kalau Tuan Axel akan termakan omongan si Kenzi.


" Apa maksudnya ini Mas?, apa kamu benar-benar akan menceraikan aku? "tanya Roweena dengan dada yang bergemuruh.

__ADS_1


" Maafkan saya Roweena, saya tidak punya pilihan lain.Lagipula kita hanya menikah agar anak-anakku punya sosok Ibu, rapi kenyataannya mereka tidak bahagia dengan pernikahan kita ini. "Tuan Axel menyerahkan surat cerai itu agar Roweena juga mau menandatangani nya.


Roweena menatap tajam Kenzi dan juga Cellyna, ia sangat marah kepada kedua kakak dan adik itu.Baginya ini adalah suatu penghinaan yang sangat besar untuk ia dan keluarganya.


__ADS_2