
Bunda Diana masih penasaran, apa kira-kira yang akan disampaikan oleh ayah dan anak ini?Dari tadi, baik Kenzi maupun Tuan Axel selalu membujuknya untuk masuk ke dalam dan ikut makan siang bersama.
Wajah Kenzi berbinar bahagia, saat dia bisa menyatukan Bunda Diana dan juga papanya di meja makan yang sama seperti ini, seperti makan bareng Camer gitu loh, calon mertua dari kedua bela pihak, sayangnya gak ada Ayah Hendra di sini.
Dengan sigap dan juga dan penuh kelembutan, Kenzi menarikkan kursi untuk Bunda Diana dan juga Ryra secara bergantian.
"Silahkan, Tante. "
"Silahkan, Ryra. "
Bunda Diana merasa sedikit tergugah hatinya dengan perlakuan lembut Kenzi, dulu sahabatnya almarhumah Nyonya Rosmala, mamanya Kenzi, memang mempunyai sifat yang sangat baik, ramah, suka menolong, perhatian dan setia kawan. Kenzi sangat mirip sifatnya dengan sang mama, tapi parasnya lebih mirip dengan papanya.
"Silahkan di makan ,semuanya.Anggap saja di rumah sendiri. "Tuan Axel mempersilahkan mereka semua untuk mulai menyantap makanannya.
" Wah, kayaknya semuanya enak ini Om, jadi enak,kita, "Safa terbawa suasana, dia jadi pengen makan banyak, apalagi menunya enak-enak.
Tanpa Safa sadari, kalau sedari tadi ekor mata Bunda Diana menangkap semua yang karyawannya itu lakukan." Ekhem! "
Safa langsung terkesiap, dan tertunduk takut.
"Jangan ragu-ragu, silahkan dimakan. Ayo, Diana, kamu juga makan lah, " ujar Tuan Axel.
Dengan wajah malas, Bunda Diana akhirnya mau makan apa yang terhidang. Tuan Axel pun senang melihatnya, dia sangat mengerti apa yang ada di dalam fikiran teman mendiang istrinya itu.Pastinya, Bunda Diana hanya terpaksa datang ke sini.
*******
__ADS_1
Setelah acara makan siang itu, Bunda Diana bermaksud mengajak Ryra untuk segera pulang ke kantornya. Akan tetapi, Tuan Axel mencegahnya karena masih ada hal penting yang belum sempat dibicarakan.
Mereka akhirnya duduk di ruang tengah mansion mewah itu untuk berbincang-bincang mengenai sesuatu hal yang sangat serius.
Tuan Axel pun memulai pembicaraan itu."Diana, maaf kalau saya mengganggu waktu mu sebentar. Saya ingin membicarakan mengenai hubungan kedua anak kita. Kamu juga tahu kan? Kalau mereka berdua sudah memutuskan untuk menikah? " ujar Tuan Axel.
Bunda Diana malah mengalihkan pandangannya pada Kenzi dan juga Ryra secara bergantian, memperhatikan dengan seksama apakah ada kecocokan diantara mereka berdua?Apakah mereka benar-benar saling mencintai?Atau hanyalah kamuflase belaka?
Tak lama kemudian, Bunda Diana pun menjawab, "Kalau keduanya memang sudah memutuskan sendiri, saya bisa apa? Hanya saja saya berpesan,jangan sampai suatu hari nanti saya mendengar keluhan sekecil apapun dari mulut anak saya mengenai anak anda. " Bunda Diana menarik nafas dalam.
"Jujur saja, saya 🅣🅘🅓🅐🅚 ragu dengan Rosmala, tapi.... "
"Kamu ragu dengan didikan saya? " tanya Tuan Axel.
"Yes, may be. Saya rasa semua ibu ingin semua yang terbaik buat anaknya. " Bunda Diana melirik ke arah putrinya, mendengar itu Ryra jadi terharu. Ternyata selama ini,Bunda Diana sangat menyayangi dirinya.Mungkin, hanya caranya saja yang salah.
"Sebenarnya saya tidak bermaksud untuk menyinggung Anda,saya hanya ingin berjaga-jaga.Tapi, saya akan pegang omongan kamu,"jawab Bunda Diana.
" Kalau begitu, kapan kami bisa melamar putrimu yang cantik ini? Kelihatannya, Kenzi juga sudah tidak sabar untuk menikah. "Tuan Axel kembali menanyakannya pada bundanya Ryra itu.
"Bunda Diana sejenak berfikir, rasanya ini termasuk cepat, tapi dia juga sudah tidak ingin menunda lagi.Mungkin ini adalah jodoh terbaik untuk putrinya, Kenzi juga pemuda yang baik dan perhatian. Dan yang paling penting, dia juga adalah anak dari mendiang Rosmala, sahabatnya.
" Terserah kalian saja, kapan mau datang. Saya akan mempersiapkan acaranya. "Bunda Diana pun berdiri dan ingin pamit.
Waktu adalah uang bagi dirinya, dia 🅣🅘🅓🅐🅚 mau berlama-lama membuang waktumu percuma, apalagi beberapa karyawannya juga masih ada di sini.Mereka sudah melewatkan jam kerja begitu lama.
__ADS_1
" Baiklah,kalau begitu saya dan anak saya permisi dulu. Ini sudah lewat jam istirahat, "ujar Bunda Diana sambil melirik jam di tangannya.
" Oke kalau begitu, terimakasih atas kedatangannya, "Tuan Axel mengulurkan tangannya, sekali lagi mereka bersalaman, begitu juga dengan Ryra.
Disaat Bunda Diana baru akan mengajak Ryra pergi, Kenzi pun menjeda.
" Maaf, Tante. Apa boleh, saya saja yang mengantarkan Ryra? "tanya Kenzi.
Dengan berat hati, akhirnya wanita itu mengizinkan putrinya untuk di bawa oleh Kenzi. Sebagai laki-laki sejati, berani menjemput, harusnya berani jugak mengantar pulang, bukan?
Mobil mereka beriringan menuju kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, Ryra dan Kenzi terlihat bahagia, akhirnya hubungan mereka yang semula tidak mungkin, kini menjadi mungkin. Walaupun awalnya hanyalah iseng, tapi berujung ke sebuah jenjang yang lebih serius lagi.
" O iya, Bang. Kok tumben, hari ini aku gak lihat Cellyn, adik kamu? "tanya Ryra.
" Oo, Cellyn? Dia lagi di suruh Papa meninjau perkebunan teh di puncak.Rencananya perkebunan teh itu akan diwariskan kepadanya, jadi dia yang harus mengurusnya mulai sekarang, "jelas Kenzi.
" Ooo, begitu. "
"Kenapa? Apakah kamu kangen sama dia? " tanya Kenzi.
"Kangen? Ya... dikit sih. Dia itu jutek banget sama aku, dia juga sangat menginginkan kamu, hahahaha." Ryra tertawa saat mengingat tingkah konyol Cellyn waktu di Restoran kemaren.
"Udah deh, gak usah di ingat-ingat. Aku juga tak menyangka kalau dia bisa senekad itu. Padahal selama ini, aku hanya memperlakukan dirinya seperti adik kandungku sendiri. " Kenzi sangat menyesalinya.
"Iya deh, aku gak akan bahas hal itu lagi. Aku rasa Papa nya Bang Kenzi sengaja deh menjauhkan dia dari Abang. " Ryra lagi-lagi menggoda Kenzi.
__ADS_1
"Sudah, jangan mulai lagi, aku suka mual kalau ingat-ingat dia,nanti kamu sendiri loh yang panas," ujar Kenzi sambil balik menggoda Ryra, hingga gadis itu kembali tertawa.