Cinta Gadis Pingitan

Cinta Gadis Pingitan
Makan Siang Bareng Camer


__ADS_3

"Kalian nanti ikuti kami dari belakang, ya," ujar Kenzi kepada karyawan-karyawan Ryra itu."Tapi ngomong-ngomong, kalian bawa kendaraan ,tidak?"


"Bawa kok Mas ganteng," jawab Devi.


Ryra melihat-lihat ke arah lift, siapa tahu bundanya ada di sana.Dia ingin sekali meminta izin secara langsung, namun sepertinya bundanya belum turun juga. Mungkin beliau akan makan siang di kantor hari ini.


Baru saja mereka akan berangkat, tiba-tiba Bunda Diana memanggil Ryra dengan lantang. "Ryra, mau pergi ke mana kamu? " Mata Bunda Diana terus menatap ke arah mobilnya Kenzi.


Terlambat, mereka tidak mendengar sama sekali,karena mobil Kenzi sudah keburu jalan.Begitu juga dengan anak-anak yang lain, mereka semuanya berangkat dengan menumpang mobilnya Devi.


"Mau ke mana anak itu?" Bunda Diana buru-buru masuk ke dalam mobilnya.


"Jalan, Pak!Ikutin mobil merah itu! "perintah Bunda Diana pada supirnya.


Di dalam mobil sport milik Kenzi itu, Ryra sangat deg-degan. Walau ini bukan pertama kalinya dia naik mobilnya Kenzi, akan tetapi kali ini mereka hanya berdua saja dan tujuannya adalah ke rumahnya Kenzi.


" Kenapa? Kamu nervous ya? "tanya Kenzi pada gadis pujaannya.


Ryra hanya mengangguk, " Hemmm. "


Perlahan, tangan kiri Kenzi bergerak ke samping hingga menggenggam tangan Ryra dengan erat.


Untuk pertama kalinya, tangan keduanya menyatu. Jantung gadis itu rasanya seperti mau copot saja, makin lama makin kencang degupannya.


"Kamu tenang ya, Papaku gak galak kok. " Kenzi tersenyum manis sebelum tangannya kembali ke atas setir.


Bukan cuma akan bertemu Papanya Kenzi yang membuat Ryra deg-degan, tapi berada dekat dengan pemuda itu juga adalah salah satu penyebabnya.


Apalagi senyumnya itu, aduh... mana tahan.Ryra mengalihkan pandangannya ke luar jendela, sekarang sudah terlihat gerbang megah bak istana.Ini baru pertama kalinya Ryra datang ke wilayah ini.


Rata-rata rumah di sini memiliki halaman yang luas dan juga di lengkapi dengan pagar tinggi menjulang, melebihi tinggi pagar rumahnya. Ryra jadi yakin, kalau ternyata Kenzi bukanlah anak orang sembarangan.


Tiba di depan pintu gerbang rumahnya, Pak Joni yang sudah tahu kalau mobil majikannya yang datang, langsung membukakan pintu pagar itu dengan remot kontrol.


Teman-teman Ryra yang ada di belakang pun, ikutan masuk ke dalam.Orang yang paling melongo adalah Rama,Seketika dirinya merasa sangat kecil dan 🅣🅘🅓🅐🅚 pantas jika dia masih ingin bersaing dengan seorang Kenzivaro.


Begitu mereka turun dari mobil, semuanya semakin nampak jelas perbedaannya, Kenzi si tour guide ternyata adalah anak seorang konglomerat kaya raya. Rumahnya semegah istana,tempat satpamnya saja seperti sebuah rumah.Hanya satu kata yang pantas untuk menggambarkannya, yaitu MEGAH.


"Ayo, semuanya. Silahkan masuk, " ajak Kenzi.

__ADS_1


Tangan Kenzi menggandeng tangan gadis idamannya itu untuk dibawa masuk, tapi Ryra masih terlihat ragu-ragu.


"Gak usah takut,kan ada aku, " ucap Kenzi.


"Siapa yang takut? " jawab Ryra.Padahal tangannya sudah panas dingin.


Kenzi mempererat genggaman tangan mereka dan bersiap mengajak Ryra dan yang lainnya untuk masuk ke dalam. Pintu besar itu sudah terbuka sekarang.


Para pelayan yang berjumlah tiga orang ,sudah menyambut mereka dan menyediakan sandal rumahan untuk mereka pakai ketika masuk ke dalam nanti.


"Silahkan Mas Kenzi, " ujar pelayan rumah itu.


Namun tiba-tiba, terdengar suara klaksonan dari mobil yang berada di depan gerbang.Ryra dan yang lain pun menoleh.


"Bunda..., "ucap Ryra. Lidah Ryra terasa keluh, matanya pun melebar.


Kenzi tersenyum, dia pun meminta Pak Joni untuk membukakan pintu gerbang itu.


" Buka, Pak!"


"Baik, Mas Ken. "


"Ka-mu??" Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya.


Kenzi yang kemaren datang ke pestanya, dengan sedikit kumis tipis, dan tatanan rambut yang terkesan cuek dan jauh dari kerapian, ternyata terlihat sangat berbeda ketika sudah berpakaian resmi seperti ini.


"Apa kabar ,Tante? "sapa Kenzi, bahkan tak segan cowok tampan itu langsung menyalami dan mencium tangan Bunda Diana.


Bunda Diana masih mematung, speechless ?sudah tentu.Semua yang dia lihat saat ini, lebih melampaui dari apa yang ada di dalam ekspektasinya.


"Ada urusan apa kalian di Mansion ini? " tanya Bunda Diana.


Ryra tak berani menjawab, tapi Kenzi tak segan untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang dia hormati itu.


"Saya cuman mau memperkenalkan Ryra kepada Papa saya, Tante. Kebetulan sekali, Papa mengundang Ryra untuk makanan siang bersama.Jadi saya ajak aja sekalian teman-temannya, Tante, " ujar Kenzi.


"Papa kamu? " Bunda Diana sudah menduga hal ini akan terjadi.


"Ayo, Tante. Karena Tante sudah berada di sini, jadi sekalian aja Tante ikut kami makan siang bersama. " Kenzi mempersilahkan bundanya Ryra itu untuk masuk bersama mereka.

__ADS_1


Pelayan pun menambahkan satu sandal lagi untuk Bunda Diana, sementara sepatu mereka akan ditaruh di rak khusus untuk sepatu para tamu.


Awalnya, wanita 40 tahunan itu nampak ragu, tapi suara Pria yang berasal dari dalam rumah membuatnya setuju untuk masuk.


"Selamat datang semuanya," sapa si pemilik rumah, Tuan Axel Fernando.


Semua mata tertuju pada pria bule uang masih sangat tampan , walaupun sudah sudah tidak muda lagi.


"Mas Axel??" Bunda Diana sudah pernah menduga, ayahnya Kenzi pasti adalah Axel Fernando yang ini, suami sahabatnya dulu.


"Diana? Kamu Diana 'kan? Apa kabar kamu sekarang? " salam Tuan Axel.


Ryra dan Kenzi saling menatap, heran dan tak menyangka kalau Bunda Diana dan Papanya Kenzi ternyata saling mengenal.


Tapi raut wajah Bunda Diana mulai berubah, Dia jadi teringat mendiang sahabatnya dulu, almarhumah Mamanya Kenzi.


Sudah lama mereka tidak pernah bertemu, sebelum akhirnya salah satu sahabatnya itu dikabarkan menikahi pria asing yang bernama Axel Fernando, dan beberapa tahun tinggal di luar negeri.


Bunda Diana dan Bu Mira hanya sempat bertemu ketika mamanya Kenzi menikah dengan Tuan Axel, setelah itu ,mereka tidak pernah bertemu lagi.Tapi berhembus kabar kalau sahabatnya yang satu itu sudah meninggal dunia karena penyakit kanker rahim yang di deritanya.


"Apa kabar kamu, Diana? Saya dengar sekarang kamu memiliki usaha tekstil yang sangat besar dan terbaik di negeri ini. " Tuan Axel mengulurkan tangannya.


"Aku baik, " jawab Bunda Diana dengan wajah yang tak ramah dan secepat kilat menyambut uluran tangan Tuan Axel, lalu secepat itu pula dia menarik kembali tangannya.


"Ayo semuanya, kita masuk ke dalam. Makanan sudah disiapkan. " ajak Kenzi.


Untungnya tadi dia sudah menelpon ke rumah sebelum mereka berangkat, sehingga secepatnya para pelayan menambahkan menu masakan untuk sepuluh orang, bahkan lebih.


Bunda Diana melihat ke sekeliling, rumah ini sangat besar dan megah.Siapa pun yang melihat, pasti sudah tahu kalau pemiliknya adalah orang yang ber-uang.


Para karyawan Bunda Diana yang ikut serta, jadi ketar-ketir dan tak banyak bersuara, ketika mereka tahu, kalau Bu Bos mereka ternyata menyusul mereka ke sini.


"Pa, perkenalkan, ini Ryra. Gadis yang Ken maksud."Kenzi memperkenalkan Ryra kepada sang Papa.


Tuan Axel tersenyum kepada gadis pilhan puteranya itu.


" Cantik sekali dia, pantas saja kamu sangat takut kehilangan dia," puji Tuan Axel.


Bunda Diana mendengus kesal, dia malas mendengar pujian gombal seperti itu yang di tujukan untuk putrinya. Telinganya terasa gatal mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2