
" Euhhh....!" terdengar suara lenguhan seorang wanita yang baru saja mengerjapkan matanya guna menetralkan cahaya yang masuk ke retina matanya
" Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang!" ucap bunda Sasa merasa lega karena putrinya akhirnya sadar
Kedua mata Kinan terbuka sempurna dan netranya langsung menangkap sosok wanita paruh baya berdiri di samping brankarnya
" Bun....da!" ucapnya sedikit terbata
" Iya sayang ini bunda, bagaimana keadaan kamu sayang? apa yang kamu rasakan? apa ada yang sakit? bilang sama bunda nak!" tanya bunda dengan sangat cemas
Kinan tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan
" Ki...nan baik-baik aja kok bun" jawab Kinan dengan suara pelan
Pandangan Kinan beralih menatap ruangan kesekelilingnya, ia merasa sedikit bingung karena seingatnya ia berada di taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya tapi kenapa tau-tau ia sudah berada di ruangan yang didominasi warna putih yang ia tahu itu adalah ruang rawat di sebuah rumah sakit
" Bun Kinan_?" Kinan menatap tangan kirinya yang tertancap selang infus
" Kamu kemarin pingsan di taman dan ada orang yang membawa kamu ke sini!" terang bunda yang melihat ada raut kebingungan di wajah putrinya
" Pingsan?" beo Kinan seraya mengingat-ingat dan bunda mengangguk pelan
" Maafin bunda ya sayang!" Kinan tertegun mendengar bundanya mengucapkan kata maaf
" Kenapa bunda meminta maaf, seharusnya yang minta maaf itu Kinan karena gara-gara Kinan pingsa pasti sudah membuat bunda dan ayah cemas dan juga pasti sangat merepotkan mengurus Kinan yang dirawat di ruang sakit seperti ini!" tutur Kinan menampakan wajah bersalahnya
" Huss... kamu ini ngomong apa sih, kamu itu tidak merepotkan bunda sama ayah" ucap bunda
Ceklek
Pintu ruang perawatan Kinan pun terbuka dari luar
" Assalamualaikum!" ucapnya seraya melangkah masuk
" Wa'alaikum salam!" jawab bunda dan Kinan bersamaan
" Ayah!" ucap Kinan saat melihat sang ayahlah yang datang
" Alhamdulillah, putri ayah sudah sadar!" Kinan pun mengangguk sambil tersenyum
" Bagaimana keadaan kamu sayang, apa ada yang di rasa?" tanya ayah dengan lembut
" Sedikit pusing yah!" jawab Kinan dengan jujur
" Yaudah, ayah panggilkan dokter ya!" ujar ayah
" Biar bunda aja yah!" usul bunda lalu menekan tombol yang ada di dekat kepala ranjang Kinan
Tidak berapa lama dokter pun masuk ke dalam ruang perawatan Kinan bersama dua orang suster pendamping
" Bagaimana keadaan putri kami dok?" tanya ayah Akbar setelah dokter selesai memeriksa keadaan Kinan
" Alhamdulillah, keadaan pasien tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kondisinya sudah jauh lebih baik hanya butuh istirahat yang cukup untuk pemilihannya!" tutur dokter menjelaskan
" Syukur Alhamdulillah!" Ayah Akbar pun mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya
Setelah menjelaskan kondisi kesehatan Kinan dokter pun pamit undur diri untuk memeriksa pasien lainnya
" Apa ada yang kamu mau makan sayang? biar nanti ayah belikan!"
Kinan menggeleng " Tidak ada ayah Kinan hanya ingin istirahat saja, tidak apa-apa kan ?"
__ADS_1
Ayah tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Kinan dengan penuh kasih sayang
" Iya sayang, istirahatlah!" Ayah pun menyelimuti Kinan sampai sebatas dada
Keluarga besar Kinan memang sempat datang ke rumah sakit tapi karena waktu sudah menunjukkan larut malam akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk pulang
Dan siang ini mereka semua berencana untuk menjenguk Kinan terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke rumah mereka masing-masing yang berada di luar kota terutama Oma Nur dan Opa Ahmad
" Assalamualaikum!" terdengar suara salam dari balik pintu dan tidak menunggu lama pintu pun dibuka dari luar
" Wa'alaikum salam, Opa... Oma... Om... tante...!" ucap Kinan berbinar ketika melihat keluarga besarnya sudah berada di dalam ruang rawat inapnya
" Cucu kesayangan Oma, kenapa bisa pingsan hem?" tanya Oma seraya mengusap bahu Kinan yang sedang berbaring di atas tempat tidur
Kinan tersenyum " Kinan enggak pingsan kok Oma cuma tidur aja, ngantuk. tapi bunda sama ayah aja yang terlalu cemas dan mengira Kinan pingsan" Seloroh Kinan dengan tawa khasnya
" Kamu ini masih saja mengelak, dasar anak nakal!" Oma Nur geleng-geleng kepala dengan tingkah cucunya yang satu itu
" Oma enggak usah khawatir Kinan ini cucu Oma yang kuat!" sahut Kinan
" Cih, kuat apanya buktinya tuh tangan sampai di tusuk begitu!" ejek mbak Pipit yang baru saja masuk
" Eh mbak Pipit, ini tuh cuma aksesoris aja mbak!" timpal Kinan sambil terkekeh
" Aksesoris kok selang infus yang bagus dikit orang mah emas 24 karat gitu!"
" Kalau emas 24 karat mah udah biasa, yang ini luar biasa!"
" Huss.... sudah-sudah, kalian ini bahasannya apa sih, kok jadi ke emas-emas segala!" protes Oma Nur
" Tau tuh mbak Pipit!" ucap Kinan menunjuk ke arah mbak Pipit yang duduk di tepi tempat tidur Kinan
" Oiya, mbak Pipit Ais mana?" tanya Kinan teringat putri dari sepupunya
" Ngomong-ngomong soal emas, itu yang membawa kamu ke rumah sakit mas-mas nya itu siapa Kin, kata susternya orangnya ganteng loh tapi kok enggak pernah datang lagi ya?" Tanya Mbak Pipit yang tiba-tiba teringat dengan sosok laki-laki yang menolong Kinan dan membawanya ke rumah sakit
Deg
Degup jantung Kinan berdebar-debar, ia pun samar-samar teringat dengan sosok laki-laki yang dia lihat di taman yang berdiri dihadapannya sambil memayunginya lalu ingatannya pun berhenti sampai di situ saja
" Apa kamu mengenalnya sayang?" tanya bunda Sasa ketika melihat Kinan nampak mengingat-ingat sosok pria yang menolongnya
Kinan menggelengkan kepalanya pelan walaupun ada rasa tidak asing ketika melihat sosok pria tersebut
" Kenapa aku tidak bisa mengingatnya ya tapi aku seperti tidak asing dengan wajahnya?" batin Kinan
" Sayang!" panggil Oma Nur karena melihat Kinan melamun
" Eh iya Oma, kenapa?" tanya Kinan yang terkesiap dari lamunannya
" Kamu kenapa hem? melamunkan apa?" tanya Oma Nur
" Tidak ada Oma!" elak Kinan sedikit berbohong
" Paling juga sedang mengingat cowok tampan yang sudah menolongnya Oma!" sahut Mbak Pipit
" Apaan sih mbak Pipit, ngarang deh!"
Kamu itu bisa saja Pit menggoda Kinan" ucap Tante Alya yang sejak tadi diam saja menyimak obrolan mbak Pipit dan Oma Nur
" Tau tuh mbak Pipit ngarang aja bisanya" Kinan mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
" Ngarang itu bebas buuuu....!" goda mbak Pipit
" Dihh... !" Kinan pun menyipitkan matanya lalu sama-sama tergelak
Karena sudah terlalu lama berada di ruang perawatan Kinan, mbak Pipit yang teringat putrinya sedang berada di taman rumah sakit bersama suaminya ia pun langsung berpamitan begitu juga dengan tante Alya dan sang suami yang tadi sedang asik mengobrol dengan ayah Akbar dan Opa Ahmad
Tidak berapa lama mbak Pipit, tante Alya dan Oma dan Opa Ahmad pulang, bergantian Oma Ita datang bersama tante Vela
" Baru saja Oma Nur pulang, mah!" ucap bunda Sasa
" Iya, tadi kami bertemu di lobi!" jawab tante Vela
" Hai tante!" sapa Kinan dengan senyum khasnya
Kinan kini sedang duduk bersandar sambil memakan buah yang dikupas oleh ayah Akbar
" Hai sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya tante Vela
" Alhamdulillah baik tante" jawab Kinan
" Kenapa bisa sampai pingsan hem, apa karena_!" ucap Oma Ita tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena matanya sudah berkaca-kaca
Oma Ita merasa sangat sedih karena Kinan mendapat pengkhianatan justru dari cucunya sendiri
" Oma, Kinan baik-baik aja kok Oma, lihat tuh Kinan enggak kenapa-napa!" Kinan mengangkat tangannya dan menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tempat tidur
" Kalau Oma tidak percaya, Kinan bisa lari loh Oma!" Kinan hendak turun namun dengan cepat di cegah oleh Oma Ita
" Iya... iya Oma percaya" sahut Oma Ita
" Nah gitu dong Oma, enggak usah sedih gitu deh Oma seakan Kinan ini sedang sakit parah aja!" ucap Kinan asal namun membuat ayah Akbar yang tengah duduk di sampingnya langsung menyentil keningnya
" Huss... kalau ngomong, jangan sembarang!" omel ayah
" He.... he... iya maaf ayah!" sahut Kinan cengengesan
" Anak kamu tuh Bar, bikin cemas orang tua sekarang malah cengengesan gitu!" oceh Oma Ita
" Yee.... Oma mendingan cengengesan kayak gini dong Oma dari pada Kinan kejer-kejer emangnya Oma bisa gitu ngediamin nya?" sahut Kinan menimpali ucapan Oma Ita
" Alahhh.... diamin kamu mah gampang, tinggal kasih aja cowok ganteng pasti diam!" ledek Oma Ita
" Ohhh.... tidak ... tidak Oma, untuk sementara Kinan tidak akan mempan kalau cuma di kasih cowok ganteng, lagi enggak minat Oma!" canda Kinan namun tidak untuk orang-orang yang berada di dalam satu ruangan itu, mereka justru merasa cemas dan khawatir dengan keadaan mental Kinan, mereka takut Kinan mengalami trauma hingga merasa enggan untuk menjalin hubungan kembali dengan seorang pria
" Sayang!" Bunda Kinan nampak sendu
" Kenapa bun?" tanya Kinan dengan santainya tidak menyadari kalau ucapannya telah membuat kedua orangtuanya khawatir terutama Oma dan tante Vela yang sejak tadi lebih banyak diam
" Ah tidak apa-apa!" Bunda pun menepis rasa takutnya
" Ih... bunda bikin penasaran deh!" Kinan pun mengerucutkan bibirnya
" Itu bibir pingin ayah tarik aja biar tambah maju!" ucap ayah gemas pada putri semata wayangnya itu
"Jangan dong ayah kalau bibir Kinan maju nanti Kinan enggak cantik lagi dong, cantik aja ada yang nikung bagaimana kalau Kinan jelek!" seloroh Kinan namun lagi-lagi ucapan Kinan membuat Tante Vela merasa sedikit tersindir dengan ucapan Kinan karena perbuatan putrinya Melinda
" Kamu ini putri ayah yang cantik bagaimana bisa jelek, kalau soal tikung menikung itu sih tergantung jodoh, kalau memang dia jodoh kamu ya enggak mungkin bakalan berbelok pasti tetap lurus jalannya menuju arah tujuannya" tutur ayah mencairkan suasana karena ia melihat raut ketegangan di wajah Tante Vela
" Iya juga sih yah, udah ih kenapa jadi ngomongin ke arah tikungan ya!" cerocos Kinan
" Kamu yang mulai anak nakal!" gemas Oma Ita dan Kinan malah terkekeh
__ADS_1
Suasana hangat di ruangan itu pun tiba-tiba berubah tegang ketika pintu dibuka dari luar dan menyembullah dua orang dari balik pintu
Deg