
Di dalam mobil Zayn memegangi pipinya yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit sama sekali, Zayn justru menyunggingkan senyumnya tipis mengingat kejadian tadi di kantor, dan hal itu justru membuat asisten Joe yang tengah mengemudikan mobilnya menatap ngeri atasannya melalui kaca spion depan
Zayn yang duduk di kursi penumpang tidak sadar jika aksinya yang sedang senyum-senyum sendiri itu tengah diperhatikan oleh asisten sekaligus sahabatnya
" Tuan ada apa dengan anda kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya asisten Joe yang takut terjadi sesuatu dengan atasannya itu
" Apa anda baik-baik saja tuan?" tanya asisten Joe lagi
" Kau sudah bosan bekerja dengan ku Joe?" tanya Zayn yang langsung membuat asisten Joe membungkam mulutnya
" Tentu saja tidak tuan!" sahut asisten Joe dengan cepat
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran tempat ia berjanji temu dengan salah satu kliennya
" Joe!" panggil Zayn
" Iya tuan!" sahut asisten Joe tetap fokus pada kemudinya
" Apa kau sudah melaksanakan perintah ku?" tanya Zayn
Asisten Joe diam sesaat untuk mengingat perintah yang Zayn berikan
" Sudah tuan" sahut asisten Joe setelah mengingat satu tugas yang diberikan oleh Zayn sebelum mereka pergi dari kantor
" Bagus" Zayn menganggukkan kepalanya
____
Jam makan siang tiba, Kinan akhirnya terpaksa ikut makan siang di kantin perusahaan bersama Laras, awalnya ia menolak karena pekerjaan di atas mejanya masih menumpuk tapi Laras terus memaksanya apalagi sudah beberapa hari mereka jarang bertemu dan makan siang bersama
" Kau ini sibuk terus sih Kinan, apa kakak sepupuku itu selalu memberimu banyak pekerjaan?" tanya Laras sambil menikmati makanannya
" Ya begitulah, kakak sepupu mu itu orang yang paling menyebalkan di muka bumi ini" sahut Kinan apa adanya
__ADS_1
" Jangan terlalu membenci kak Zayn, dia itu pria yang tampan dan banyak di kagumi oleh kaum hawa, lama-lama kau bisa jatuh cinta dengannya Kinan " goda Laras
" Oh ya ampun Laras, oke aku akui kakak sepupumu itu memang tampan tapi amat sangat disayangkan minim akhlak!" tutur Kinan tanpa basa-basi yang seketika kesal sendiri ketika bayangan wajah Zayn yang menyebalkan itu muncul di pelupuk matanya
" Ihhhh...!" Kinan menggidikkan bahunya seolah jijik dengan sosok pria tampan yang cukup banyak di kagumi oleh kaum hawa itu tapi tidak dengannya
" Kau kenapa?" tanya Laras
" Tidak apa-apa, aku hanya membayangkan wajah mengesalkan kakak sepupumu itu, oh ya ampun semoga saja setelah ini aku tidak lagi berurusan dengannya dan jauh-jauhlah dia dariku" Doa dan harapan Kinan membuat Laras tergelak mendengarnya
" Kau ini terlalu anti kak Zayn Kinan hati-hati bisa bucin kau nanti!" Laras kembali menggoda sahabatnya itu dan di dalam hati gadis itu berharap Kinan kelak bisa berjodoh dengan Zayn
" Tidak... Laras....tidak ..... sumpah demi apapun jangan berkata seperti itu Laras, jangan sampai hal itu terjadi padaku Laras, kau jangan mendoakan ku seperti itu, aku tidak mau terjebak lagi dengan perasaan yang berlebih seperti itu apalagi jika sampai bucin pada seorang laki-laki, tidak Laras aku tidak mau hal bodoh itu terjadi kembali padaku, cukup sekali aku merasa begitu percaya pada cinta" tutur Kinan panjang lebar membuat Laras terdiam karena tertegun dengan reaksi Kinan yang ternyata begitu besar menyimpan lukanya
" Kinan maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk_!" ucapan Laras langsung diselak oleh Kinan
" Iya tidak apa-apa, aku tahu maksud mu baik Laras dan kau hanya bercanda iya kan?" Kinan kembali bersikap biasa kembali setelah tadi ia sempat sedih ketika teringat dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya
Kinan pun kembali tersenyum begitu juga Laras yang merasa lega karena Kinan sudah tidak bersedih lagi
" Iya aku ikut!" ucap Laras lalu beranjak berdiri
Kinan dan Laras jalan berdua menuju mushola yang letaknya berada di lantai 15 digedung perusahaan tersebut, mushola itu khusus untuk para karyawan yang tidak ingin turun ke lantai dasar dimana ada sebuah masjid yang cukup besar dan letaknya tepat disamping gedung perusahaan Z Company
"Kinan!"
" Mba Kin!"
Panggil Maya dan Lisa bersamaan ketika mereka bertemu di pintu masuk Mushola setelah selesai mengambil air wudhu
" Kalian sholat di sini juga?" Tanya Kinan pada kedua rekan kerjanya itu
" Iya mbak" jawab Maya
__ADS_1
" Tumben, biasanya kalian sholat di masjid?" tanya Kinan lagi karena biasanya Maya, Lisa dan juga bu Risma selalu sholat di masjid yang letaknya tidak jauh dari kantin tepatnya berada di samping perusahaan tempat mereka bekerja
" Kalau ke masjid jalannya kejauhan, kami lagi buru-buru karena ada surat laporan yang harus segera kami selesaikan!"tutur Maya
" Terus bu Risma mana? kok tumben enggak bareng sama kalian?" tanya Kinan yang tidak melihat keberadaan bu Risma
Keduanya terdiam lalu saling melempar pandangan
" Sebaiknya kita sholat aja dulu, bicaranya bisa di lanjutkan nanti" ucap Laras menyela
" Iya betul" ucap kinan membenarkan ucapan Laras
Kinan dan rekan-rekan kerjanya kini sudah selesai mengerjakan sholat Zuhur dan mereka pun akan segera kembali ke ruang kerja mereka masing-masing
Setelah sampai di lantai 20 Kinan dengan langkah panjang menuju meja kerjanya namun ketika sudah sampai di depan meja kerja Dones seketika Kinan nampak celingak-celinguk kebingungan karena meja kerja yang biasa ia tempati ternyata tidak ada ditempatnya
Jantung Kinan berdegup sangat cepat, pikiran tentang kalau dirinya telah di pecat pun seketika menyeruak
" Apa jangan-jangan pak Zayn sudah memecat ku?" gumam Kinan matanya sambil berkeliaran mencari-cari meja kerjanya yang biasa berada tidak jauh dari meja kerja Dones
" Duh mbak Dones kemana ya kok belum kembali ke sini sih?" Kinan menatap ke arah pintu lift yang masih tertutup dan berharap wanita yang dicarinya segera keluar dari kotak besi itu
" Oh ya ampun, dia pasti marah besar kali ya karena aku tadi refleks udah menamparnya, tapi itukan bukan salah aku sepenuh juga dia yang mulai padahal udah aku peringatkan sebelumnya" ucap Kinan menggerutu
" Dasar orang egois, dia yang sudah berbuat salah tapi dia yang bersikap seenaknya main pecat orang gitu aja, sungguh keterlaluan!" kesal Kinan
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Dones pun muncul juga dari dalam kotak besi
" Mba Dones meja kerjaku kemana?" tanya Kinan yang sontak membuat Dones sama terkejut seperti Kinan
" Aku juga tidak tahu Kinan, apa mungkin kalau tuan Zayn sudah _? Dones tidak melanjutkan kata-katanya
" Apa pak Zayn sudah memecat ku?" tanya Kinan
__ADS_1
" Mungkin saja" jawab Dones yang memang tidak tahu kemana hilangnya meja kerja Kinan
Kinan menghela napas berat, sungguh hatinya merasa tidak rela begitu saja jika tiba-tiba ia diberhentikan bekerja