
Kinan kini sudah bisa bernapas lega, karena operasi yang dijalani oleh sang ayah berjalan dengan lancar, meskipun kondisinya masih belum sadar tapi setidaknya dokter mengatakan kalau ayah Akbar sudah melewati masa kritisnya
Dan kini ayah Akbar sudah dipindahkan ke ruang perawatan
Selama ayah Akbar berada di rumah sakit, Kinan tidak pernah beranjak sedikit pun dari ruangan sang ayah, meskipun bundanya selalu memintanya untuk bergantian menjaga ayahnya tetap saja Kinan selalu saja menolak dengan alasan yang sama yaitu dia ingin saat ayahnya terbangun dialah orang yang pertama ayahnya lihat
" Kamu kenapa keras kepala banget sih Kinan!" omel bunda Sasa membujuk Kinan untuk pulang dan beristirahat barang sejenak karena sudah beberapa hari ini Kinan tidak pulang ke rumah dan jarang istirahat sehingga wajah gadis itu terlihat begitu lesu dan sedikit pucat
" Sudahlah bun, Kinan enggak apa-apa kok, Kinan pingin disini aja bun jagain ayah, lagian juga bun Kinan udah cukup istirahatnya kok!" sahut Kinan dengan santainya
" Cukup apanya? kamu tuh udah beberapa hari ini kurang tidur gitu lihat tuh mata udah kayak mata panda!" ledek bunda Sasa
" Ishhh... apaan sih bun Kinan enggak apa-apa cantik gini juga, bunda jangan ngejelekin Anak sendiri gitu dong!" Kinan mengerucutkan bibirnya
" Cantik sih cantik tapi bau acem!" ledek bunda lagi dan Kinan semakin mengerucutkan bibirnya sambil menciumi ketiaknya kanan kiri
" He...He...., bau ya bun!" Kinan cengengesan sambil garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal
" Banget!" bunda pura-pura kebauan sambil memencet hidungnya sendiri
" Bunda ihhh..... enggak segitunya juga kali bun!" protes Kinan
" Lagian kamu disuruh pulang enggak pernah mau, setidaknya mandi dulu gitu!"
" Enggak mau bunda sayang, kalau Kinan pulang nanti pas ayah bangun Kinannya enggak ada" ucap Kinan memasang wajah sendu
" Tapi kamu kan harus bekerja sayang, sudah beberapa hari ini kan kamu tidak berangkat kerja, emangnya kamu enggak takut dipecat?" ucap bunda Sasa yang membuat gadis itu tiba-tiba teringat dengan atasannya yang arogan bin nyebelin itu apalagi setelah ayahnya menjalani operasi, laki-laki itu tidak pernah muncul lagi di hadapannya
Kinan menggelengkan kepalanya " Kinan sudah di pecat bun " jawabnya pelan tapi cukup mengejutkan bunda Sasa
Mendengar putrinya sudah dipecat tentu saja membuat bunda Sasa bertanya-tanya
" Kamu dipecat? memangnya kamu sudah melakukan kesalahan apa sampai bisa dipecat?"
Kinan terdiam, bingung menjelaskan tentang kesalahannya itu yang sudah berani menampar sang atasan, tapi jika dipikir itu kan bukan salah dia sendiri bos nya itu justru yang bersalah karena sudah berani menggodanya
__ADS_1
" Em... sebenarnya Kinan dipecat karena Kinan_!"
" Siapa bilang kamu sudah dipecat?" terdengar suara bariton dari arah pintu yang sudah terbuka dari luar ruang rawat ayah Akbar
Mata Kinan terbelalak saat menoleh ke belakang dan ternyata orang yang sempat melintas di pikirannya tadi kini sudah berdiri di hadapannya
" Assalamualaikum bunda!" sapa Zayn orang yang baru saja datang dan mengejutkan Kinan
" Wa'alaikum salam, kamu siapa ya?" tanya bunda Sasa yang merasa sangat asing dengan Zayn
Meskipun pernah bertemu pada saat Zayn datang sebelum ayah Akbar menjalani operasi tapi saat itukan bunda tidak memperhatikan keberadaannya karena yang ada di pikirannya ketika itu hanyalah keadaan suaminya
" Perkenalkan bun, saya Zayn atasan Kinan di kantor" jawab Zayn seraya mengulurkan tangannya kepada bunda Sasa untuk memperkenalkan diri
" Atasan Kinan di kantor?" tanya bunda memastikan pendengarannya
" Iya bun!" jawab Zayn dengan sopan dan terlihat begitu ramah
Kinan yang melihat sisi lain dari Zayn pun nampak mengerutkan keningnya " Hebat juga aktingnya ni orang, biasanya juga itu mulut pedas banget ngalahin cabe set*n!" gumam Kinan pelan sambil memperhatikan sikap Zayn yang tidak seperti biasanya ketika berada di kantor
Kinan hanya cengar-cengir menanggapi ocehan bunda Sasa
" Maaf sebelumnya, emm...!" bunda menatap Zayn lekat
" Panggil saja Zayn bun!" ucap Zayn yang mengerti kecanggungan bunda Sasa dalam memanggil namanya
" Em... iya nak Zayn, maksud nak Zayn apa ya kok tadi bilang kalau tidak ada yang memecat Kinan?" tanya bunda Sasa
Zayn tersenyum lalu melirik sekilas ke arah Kinan yang sedang melotot padanya
" Saya memang tidak pernah memecat Kinan bun, Kinan sendiri yang salah paham dan berasumsi sendiri!" terang Zayn membuat Kinan melongo
" Bohong bun!" sanggah Kinan cepat
" Jelas-jelas dia udah mecat Kinan bun, pasti dia sakit hati tuh sama Kinan bun karena itulah dia langsung pecat Kinan gitu aja tanpa ngasih penjelasan ke Kinan!" ucap Kinan meralat ucapan Zayn dan membela dirinya sendiri
__ADS_1
Zayn tersenyum tipis membuat Kinan semakin jengkel melihat senyuman Zayn yang terkesan mengejek
" Kata siapa aku memecat mu? kamu aja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri nona, ya seharusnya kamu itu memang sudah aku pecat karena kamu sudah berani pergi keluar kantor pada jam kerja tanpa izin bahkan kamu juga dengan seenaknya meninggalkan pekerjaan kamu yang masih menumpuk di atas meja kerja mu begitu saja tanpa ada tanggung jawab, tapi tenang aja aku masih punya hati, bagaimana mungkin aku memecatmu yang sedang mengalami musibah seperti ini!" tutur Zayn panjang lebar
Kinan melotot, tidak menyangka kalau laki-laki yang berdiri di hadapannya itu bisa berkata seperti itu padahal jelas-jelas saat ia kembali sehabis makan siang meja kerjanya sudah tidak ada ditempatnya, apa namanya kalau bukan dipecat
" Kau ini jangan coba-coba berdalih deh, jelas-jelas saat aku kembali ke kantor setelah jam makan siang meja kerja ku sudah tidak ada, apa namanya kalau bukan dipecat dan disingkirkan seperti sampah?" ketus Kinan
Zayn lagi-lagi menyunggingkan senyumnya
" Kau yang berpikir sampai sejauh itu, sedangkan aku tidak" sahut Zayn dengan sikap santainya
" Sudahlah, aku sedang malas berdebat dengan mu. kalau mau pecat ya sudah pecat saja aku tidak peduli dan sekarang sebaiknya kau pergi saja sana datang juga cuma bikin keributan doang!"
Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya " Enak saja mau lari dari tanggung jawab, tugas mu di kantor masih banyak kamu tidak bisa keluar dan lepas tanggung jawab begitu saja!"
" Aku bukan orang seperti itu, tapi kau sendiri yang sudah memecat ku!"
" Aish...... aku sudah bilang aku tidak pernah memecatmu"
Bunda Sasa yang mendengar perdebatan keduanya pun hanya geleng-geleng kepala dan tidak mau ikut campur dan memilih mendekati sang suami yang masih setia memejamkan mata
" Dengarkan aku baik-baik nona Kinan, aku tidak pernah memecatmu dan meja kerja mu waktu itu dipindahkan ke ruangan ku dan sekarang kau sudah aku angkat menjadi sekretaris pribadi ku jadi meja kerja mu menjadi satu dengan ruangan ku !" terang Zayn membuat Kinan seketika membelalakkan matanya
" Di... dipindahkan ke ruangan mu?" tanya Kinan dibalik rasa keterkejutannya
" Tidak bisa seperti itu, kenapa kau bertidak seenaknya !"
" Aku tidak mau menjadi sekretaris mu apalagi berada satu ruangan dengan pria mes_!"
Zayn dengan cepat memotong kata-kata Kinan
" Kau tidak berhak menolak, karena aku kan_!"
" Euhhh.....!" perdebatan mereka pun terhenti ketika samar-samar mendengar suara lengungan
__ADS_1
" Ayah !" Kinan lalu menoleh ke arah tempat tidur ayahnya dan matanya seketika langsung berbinar