Cinta Kau Balas Air Mata

Cinta Kau Balas Air Mata
Bab 13


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan bunda Sasa kini Kinan dan kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan menuju rumah Oma Nur dan Opa Ahmad yang ada di kota S


Kedatangan mereka ke kota tersebut pun tanpa sepengetahuan Oma dan Opa Ahmad


Awalnya Kinan menolak karena masih banyak pekerjaan yang harus dia urus tapi pihak kantor ternyata berbaik hati mengizinkan Kinan untuk sementara mengambil cuti


Berita gagalnya pernikahan Kinan jelas sudah tersebar di seluruh teman-teman kantornya dan mereka pun merasa iba dengan kejadian yang menimpa Kinan bahkan tidak sedikit dari teman-teman Kinan yang mengutuk perbuatan mantan kekasih Kinan yang sudah berselingkuh dengan sepupu Kinan sendiri


Kinan sendiri merasa tidak enak karena atasan tempatnya bekerja sendiri yang menyarankan Kinan untuk ambil cuti karena tidak mengizinkan Kinan yang hendak resign dari perusahaan tersebut


" Pasti Oma kamu terkejut melihat kedatangan kita !" ucap bunda


" Iya bun, mereka juga kemarin pulang begitu tergesa-gesa tanpa menunggu Kinan pulang dari rumah sakit terlebih dahulu!" ucap Kinan


" Itu karena tante kamu tante Rose yang tinggal di Belanda mendadak pulang dan katanya sedang sakit!" tutur ayah Akbar menjelaskan


" Apa tante Rose? jadi tante Rose sekarang ada di rumah Oma dan Opa yah?" tanya Kinan dengan antusias


" Iya" jawab ayah Akbar


" Dan dengar-dengar kabar katanya tante mu itu akan segera menikah!" tutur bunda Sasa memberitahu


" Apa menikah? wah.... ini berita yang luar biasa bun, Kinan jadi tidak sabar ingin cepat-cepat sampai ke rumah Oma dan bertemu dengan tante Rose" ucap Kinan berbinar


" Tante mu juga pasti sangat senang bila bisa bertemu dengan mu " ucap bunda Sasa


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam akhirnya mereka pun sampai juga ke rumah Oma Nur dan Opa Ahmad


Kinan, bunda Sasa dan ayah Akbar sudah turun dari dalam mobil dan membawa koper mereka masing-masing


" Assalamualaikum!" ucap Kinan dan bunda bersamaan ketika mereka sudah berdiri di depan pintu rumah yang bangunannya lebih banyak di dominasi oleh kayu


Meskipun tidak mewah tapi rumah tersebut cukup unik dan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya


Ceklek


Pintu rumah pun terbuka keluarlah seorang wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan bunda Sasa


" Wa'alaikum salam" jawabnya


" nyonya Sasa dan den Akbar!" ucap wanita paru baya tersebut dengan mata berbinar


" Iya bi Surti, ini kami. apa kabarnya bi?" tanya ayah Akbar pada bi Surti wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja dengan keluarga Oma dan Opa


" Alhamdulillah, baik den. bagaimana dengan kabar den Akbar dan keluarga, sehat semua kan?"Tanya balik bi Surti


" Alhamdulillah baik bi!" jawab ayah Akbar


Wanita yang dipanggil bi Surti tersebut beralih menatap Kinan yang nampak tersenyum ramah padanya


"Emmm ... ini pasti neng Kinan ya?" tebak bi Surti karena sudah cukup lama tidak melihat Kinan, apalagi Kinan dulunya sempat kuliah di luar negeri


" Iya bi ini Kinan" sahut Kinan ramah


" Ya ampun neng tambah cantik aja !" puji bi Surti


" Ah bibi bisa aja!" Kinan kembali tersenyum


" Oiya bi, kok sepi sih Oma sama Opa pada pergi kemana?" tanya Kinan karena rumah nampak begitu sepi


" Oma sama Opa sedang pergi ke acara kondangan neng, dekat kok dari sini nanti juga sebentar lagi pulang!" jawab bi Surti


" Kalian pasti capek, sebaiknya masuk saja dulu dan istirahat nanti kalau Oma sama Opa sudah pulang bibi kasih tau, kamar den Akbar juga kebetulan sekali sudah bibi bersihkan seperti ada filing kalian semua mau datang ke sini !" ujar bi Surti


"Wahh .. bisa kebetulan sekali ya bi, ternyata kita sehati ya bi" ucap ayah Akbar


" Ha...ha... den Akbar ini bisa saja" ucap bi Surti


" Kalau kamar Kinan bagaimana bi?" tanya Kinan


" Sudah beres neng, bibi tadi sudah bersihkan semua kamar" jawab bi Surti


" Bibi memang terbaik!" Kinan pun memeluk bi Surti


" Neng Kinan bisa saja" bi Surti geleng-geleng kepala

__ADS_1


" Yaudah kalau begitu kami pamit masuk ya bi, mau istirahat!" pamit bunda Sasa yang langsung masuk ke dalam rumah bersama ayah Akbar


" Iya nyonya muda!" jawab


Sedangkan Kinan masih berdiri di teras rumah bersama bi Surti


" Ngomong-ngomong tante Rose nya ke mana ya bi?kok enggak kelihatan? apa ikut dengan Oma dan Opa ke acara kondangan?" tanya Kinan yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan tantenya


" Non Rose sedang pergi sama calon suaminya neng, katanya sih mau beli keperluan buat acara pernikahan mereka gitu !" jawab bi Surti


Entah kenapa seketika raut wajah Kinan berubah, mendengar ucapan bi Surti tentang Rose yang sedang pergi bersama calon suaminya membuat Kinan teringat kembali dengan sosok laki-laki yang seharusnya sudah ia singkirkan dari ingatannya


" Neng Kinan kenapa?" tanya bi Surti yang melihat Kinan nampak melamun


" Oh tidak ada bi" jawab Kinan lalu tersenyum


" Kinan masuk ya bi" pamitnya lagi


" Iya neng" bi Surti seketika merutuki kesalahannya, pasti apa yang sudah ia katakan tentang Rose bersama calon suaminya sudah membuat Kinan teringat kembali dengan lukanya yang masih basah


" Ya ampun aku pasti salah ucap, neng Kinan pasti sedih. lagian kok ada ya laki-laki Setega itu sama neng Kinan, padahal neng Kinan itu cantik banget loh, bukan hanya cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya, dasar laki-laki bodoh yang sudah tega menyakiti neng Kinan" gumam bi Surti seraya masuk ke dalam rumah


Kinan kini sudah berada di dalam kamar yang biasa di tempatinya kerap kali menginap di rumah tersebut


Setelah selesai membersihkan diri Kinan memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur


Kinan menatap langit-langit kamarnya dan tiba-tiba saja terlintas Kinan kembali teringat dengan sosok laki-laki yang menolongnya di taman


" Siapa sih orang itu, kenapa rasanya aku begitu penasaran ya, jika itu mas Bintang rasanya tidak mungkin juga kalau dia pergi begitu saja tanpa kembali melihat keadaan ku" gumam Kinan


" Tapi wajah itu seperti familiar"


Disaat Kinan tengah memikirkan siapa sosok laki-laki yang sudah menolongnya sewaktu di taman bahkan telah membawanya ke rumah sakit tiba-tiba ponsel Kinan yang berada di atas nakas berdering


Kinan menghela napas panjang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya


" Hallo, Assalamualaikum!" ucap Kinan ketika mengangkat sambungan telponnya


" Wa'alaikum salam!" jawab seseorang di seberang telepon


" Wowww.... sungguh luar biasa, ternyata masih punya tenaga juga ya buat bersikap ketus?" ledek seseorang yang berbicara dengan Kinan


" Udah enggak usah banyak basa-basi deh, mau ngomong apaan sih?"


" Duhhh, jutek banget sih !"


" Biarin!"


" Kenapa pulang ke Kota S enggak ngasih kabar?"


" Buat apa?"


" Ya enggak ada, tapi aku kan khawatir"


" Suruh siapa khawatir?"


" Kok gitu?"


" Ya harus gitu!"


" Masih marah nih kayaknya"


" Buat apa marah?"


" Ya mana aku tahu?"


" Yaudah kalau enggak tahu"


" Ya harus tau"


" Pikir aja sendiri!"


" Lagi malas mikir, udah banyak pikiran"


" Alasan"

__ADS_1


" Bukan alasan, tapi beneran. tau aku mikirin apa?"


" Enggak mau tahu"


" Kok gitu?"


" Ya kenapa memangnya?"


"Jelas ini sih masih marah"


" Buat apa marah, enggak penting juga kan!"


" Iya... Iya, aku ngaku salah deh, maaf ya!"


" Maaf untuk apa?"


" Maaf karena waktu itu aku enggak datang di acara per_!" ( Tidak melanjutkan ucapannya)


" Sudahlah tidak usah di bahas"


" Tapi aku sungguh salut dengan keputusan mu itu, sebenarnya aku cukup khawatir ketika kau masih tetap melanjutkan acara tersebut bahkan rasanya aku ingin sekali datang lalu membawa mu kabur"


" Memangnya berani?"


" Kenapa takut? Om Akbar paling-paling cuma memaki dan memukul ku!"


" Lalu bagaimana dengan_?"


" Kau tenang aja, itu sih bisa di atur!"


" Ha...Ha... bisa diatur apanya? buktinya kau saja tidak datang!"


" Itu karena aku ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan, tapi aku bersyukur kau tidak jadi menikah setidaknya aku merasa lega!"


" Apa sekarang kau masih di Canada?"


" Kau tahu aku di Canada?"


" Tentu saja, dasar raja tega!"


" Maaf, bukan tidak ingin memberitahu mu tapi waktu itu aku benar-benar sibuk!"


" Ya ..Ya ..!"


" Aku tidak bohong, pekerjaan ku menumpuk di sini karena tiba-tiba saja bos besar ku memutuskan untuk menetap di indonesia dan meminta ku untuk mengurus pekerjaannya di sini!"


" Apa kau akan menetap di sana?"


" Tidak, setelah urusan ku disini selesai aku akan kembali bekerja di perusahaan yang lama tapi itupun jika bos tidak meminta ku bekerja di kantor pusat jika dia meminta ku untuk pindah maka kau bersiap-siap lah bertemu dengan ku setiap hari!"


" Oh sungguh hari yang buruk untuk ku!"


" Wah sungguh keterlaluan kau ini, dasar adik laknut!"


" Kau juga apa bedanya, disaat aku membutuhkan mu dengan tega kau menghilang begitu saja tanpa kabar, baru kemarin aku dapat kabar dari bang Ilham kalau kau ditugaskan ke Canada"


" Iya maaf aku tidak sempat mengabari mu, semoga kau baik-baik saja ya, walaupun ya aku sempat mendengar kalau kau masuk rumah sakit ya semoga setelah kejadian itu bisa membuat mu semakin kuat lagi karena kelak kedepannya kau akan bertemu lagi dengan badai yang jauh lebih besar, kau harus kuat dan jangan pernah berhenti untuk menggapai mimpi, ingat kau itu berhak bahagia jadi jangan pernah berputus asa dan ingat kau tidak sendirian!"


" Dasar sok bijak, kau sendiri kapan nikah? jangan terlalu lama berpacaran itu tidak baik!"


" Seandainya aku boleh memilihmu, aku ingin menikah dengan mu saja tapi sayang kau selalu menolak ku dengan alasan kita itu bersaudara!"


" Ha ... Ha.... tapi memang itu kenyataannya bung!"


" Ah kau ini sudah patah hati gagal nikah tapi masih saja bisa membuat orang patah hati juga!"


" Ha...Ha... mulutmu perlu diberi perekat!"


" Ahhh.... kau ini membuat ku rindu saja!"


" Jangan merindu bung, kata dilan rindu itu berat!"


" Kau ini bisa saja, kalau rindunya sambil menggendong mu tentu saja berat!"


Obrolan mereka pun terputus, Kinan tersenyum tipis lalu membayangkan wajah tampan pria yang baru saja memutuskan sambungan telponnya

__ADS_1


" Dasar nyebelin!" gumam Kinan seraya geleng-geleng kepala


__ADS_2