
Waktu menunjukkan pukul 5 sore dan Kinan baru saja tiba di rumahnya
" Assalamualaikum!" ucap Kinan saat memasuki rumah dan melihat bunda dan ayah Akbar sedang duduk di ruang TV, Kinan pun melangkah mendekat, menggapai punggung tangan kedua orang tuanya lalu menyalaminya dengan takzim
" Tumben udah pulang sayang biasanya kamu selalu lembur?" tanya ayah Akbar karena sudah beberapa hari ini Kinan memang selalu pulang telat karena lembur
Kinan yang baru saja menghempaskan tubuhnya di atas sofa duduk bersandar pun langsung menegakkan duduknya kembali
" Alhamdulillah yah hari ini Kinan enggak lembur, rasanya tuh mau meledak kalau harus lembur setiap hari apalagi berada satu ruangan dengan atasan Kinan yang super duper nyebelin bin ngeselin itu!" ucap Kinan antusias menceritakan tentang atasannya dengan wajah kesalnya karena membayangkan wajah Zayn yang selalu bersikap arogan dan sombong padanya
" Huss.... ngatain orang kok komplit banget pakai ada bin nya segala sih" protes bunda Sasa yang gemas dengan cerita sang putri sambil geleng-geleng kepala
" Ya habisnya emang orangnya tuh ngeselin banget Bun, tampang sih ya lumayan lah ya tapi sayangnya akhlaknya minus banget Bun, udah gitu orangnya itu dingin banget kayak es di kutub Utara, ditambah lagi sikapnya yang arogannya enggak ketulungan terus kalau nyuruh tuh maksa pake banget lagi, bilangnya sih enggak suka ada penolakan, ya itu kan maksa namanya, apa itu enggak ngeselin bun, yah!" ungkap Kinan begitu menggebu-gebu bercerita kepada kedua orangtuanya tentang atasan tempatnya bekerja
" Jangan terlalu membencinya sayang nanti kalau dibalik jadi cinta gimana?" Goda ayah Akbar sambil terkekeh
" Idih ayah bercandanya enggak lucu, siapa juga yang suka sama orang macam begitu. ihh.. enggak deh ya Yah ... jangan sampai deh!" Kinan memasang wajah cemberut lalu sedikit bergidik ngeri membayangkan pria arogan dan sombong yang menjabat sebagai atasannya itu menjadi kekasihnya
" Iihhhh.....!" Kinan menggidikan kedua bahunya
" Apa semenyebalkan itu orangnya?" tanya bunda Sasa yang jadi sedikit penasaran dengan sosok atasan tempat putrinya bekerja yang sedang Kinan bicarakan
" Pokonya orangnya tuh nyebelin pake banget deh bun, kerjaannya bikin Kinan emosi terus setiap hari " ucap Kinan lagi
" Jangan-jangan bos kamu itu lagi cari perhatian kali sama kamu?" ayah Akbar kembali menggoda putrinya membuat Kinan mencibik
" Cik, suka? ayah jangan ngadi-ngadi deh!" Kinan mengerucutkan bibirnya
" Jangan terlalu membencinya sayang, bersikap saja sewajarnya takutnya nanti kamu ke makan omongan kamu sendiri, terus gegulingan minta dinikahi sama atasan kamu yang sombong dan arogan itu!" kali ini bunda Sasa yang bergantian menggoda Kinan
" Oh ya ampun bunda amit-amit ihh... bunda mah gitu ikut-ikutan ayah aja, emangnya ayah sama bunda mau apa Kinan berjodoh sama laki-laki model begitu?"
Ayah dan bunda tertawa " Ya kalau orang itu bisa membuat kamu bahagia, kenapa enggak? bunda sih setuju-setuju aja yang terpenting dia itu sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa membahagiakan putri bunda!" sahut bunda Sasa
" Amin...apa yang dikatakan bunda kamu itu benar sayang, yang terpenting putri ayah hidup bahagia!" ucap ayah Akbar menimpali ucapan sang istri
Kinan melotot mendengar jawaban kedua orang tuanya
" Tapi sayangnya laki-laki itu bukan tipe Kinan bun, Kinan enggak suka sama orang yang arogan bin sombong kayak gitu!" ucap Kinan membuat bunda dan ayah Akbar akhirnya melepas tawanya
" Dihh.... kok malah ketawa sih, Kinan kan lagi serius. udah ah Kinan mau masuk ke kamar aja buat bersih-bersih!" pamit Kinan dengan wajah yang sedikit ditekuk menaiki anak tangga lalu berjalan menuju kamarnya sementara ayah dan bundanya geleng-geleng kepala lalu kembali terkekeh melihat putrinya yang berjalan menaiki anak tangga dengan wajah ditekuk
Brukk
Kinan menghempaskan bobot tubuhnya ke atas tempat tidur
" Ayah sama bunda ada-ada aja, siapa juga yang suka sama orang macam pak Zayn yang super songong gitu, rasanya ingin banget tuh aku paketin terus aku kirim deh ke kutub Utara biar berteman dengan beruang kutub di sana" gumam Kinan sambil menatap langit-langit kamarnya lalu tertawa sendiri membayangkan bosnya sedang bersama beruang kutub
Merasa gerah dan sedikit lengket Kinan pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya
Sekitar 20 menit lamanya Kinan sudah merampungkan urusan bersih-bersihnya di kamar mandi
" Seger rasanya!" ucap Kinan sambil mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan cermin
Kinan memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan juga liptin berwarna nude di bibir tipisnya
" Cantik!" gumamnya menatap pantulan wajahnya di cermin lalu senyum-senyum sendiri
Usai merampungkan dandannya Kinan pun memutuskan keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama kedua orang tuanya
" Selamat malam ayah... bunda...!" sapa Kinan sambil menarik salah satu kursi yang ada di meja makan lalu mendudukkan dirinya
" Malam sayang!" ucap ayah Akbar
__ADS_1
" Cantik benar putri bunda, mau kemana nih udah dandan cantik begini?" tanya bunda Sasa sambil mengisi piring ayah Akbar dengan nasi dan lauk-pauknya
" Kinan mau keluar dulu sebentar bun, mau ke minimarket, pembalut Kinan ternyata habis!" sahut Kinan setelah itu memasukkan satu suapan nasi kedalam mulutnya
Pada saat mandi tadi Kinan ternyata ke datangan tamu bulanannya untung saja masih ada tersisa satu pembalut di laci pakaiannya jika tidak mungkin Kinan akan merasa sangat malu jika sampai merepotkan bunda Sasa untuk membelikannya pembalut
" Mau ayah temani!" tanya ayah Akbar menawarkan
" Tidak usah yah, Kinan juga perginya cuma ke mini market yang dekat kok" tolak Kinan secara halus
" Yaudah tapi ingat kamu harus hati-hati" pesan ayah Akbar
" Mau pakai mobil ayah?" ayah kembali menawarkan
" Kinan pakai motor aja yah biar cepat!" jawab Kinan
" Kamu kan udah lama enggak bawa motor, jadi harus lebih hati-hati lagi bawa motornya enggak pakai acara ngebut-ngebut ya!" kali ini bunda yang ikut berpesan pada Kinan, karena rasa cemas dan khawatirnya sebagai seorang ibu yang takut putri semata wayangnya kenapa-napa
" Bunda tenang aja, Kinan pasti akan berhati-hati kok!" sahut Kinan
Setelah menyelesaikan makan malamnya Kinan pun pamit pergi pada bunda dan juga ayahnya
Seperti yang Kinan katakan kalau ia akan pergi ke minimarket dengan motor kesayangannya yang memang sudah lama tidak ia pakai
Kinan menghidupkan mesin motornya setelah beberapa menit ia panaskan terlebih dahulu barulah wanita cantik itu melajukan motor metiknya membelah jalan menuju minimarket yang letaknya ada di ujung jalan dekat taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit Kinan pun sudah sampai di parkiran minimarket
Kinan segera turun dari motornya, setelah motornya terparkir sempurna. Kinan masuk ke dalam minimarket tersebut dan langsung menuju tempat barang yang dicarinya
Setelah mendapatkan apa yang dicari Kinan pun menyusuri rak-rak yang berjejer berisi makanan ringan lalu tangannya terulur mengambil salah satu snak yang terbuat dari kentang dengan rasa rumput laut
Kinan memasukkan beberapa cemilan kedalam keranjang yang ada ditangannya, setelah merasa cukup wanita itu pun berjalan menuju kasir
Disaat perjalanan pulang tiba-tiba wanita itu menginginkan makan sate yang ada di dekat taman, seketika iapun membelokkan motornya menuju taman
Kinan langsung memarkirkan motornya setelah melihat tukang sate langganannya, terlihat cukup ramai memang tapi tidak menyurutkan keinginan Kinan untuk menyantap hidangan yang terbuat dari daging yang ditusuk-tusuk itu
" Assalamualaikum mang Ucup!" ucap Kinan yang sudah berdiri di samping gerobak
" Wa'alaikum salam, eh neng Kinan darimana aja baru kelihatan?" tanya mang Ucup
" Sibuk mang" jawab Kinan sekenanya tidak lupa ia selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman
" Sibuk apa neng? sibuk program membuat anak ya, secara atuh pengantin baru?" goda bu Nia yang merupakan isteri dari pak Ucup yang setahunya memang Kinan beberapa bulan lalu menyelenggarakan pernikahan dengan sang kekasih yang sering makan di kedai sate milik suaminya
Kinan hanya menanggapi dengan senyuman, meskipun hatinya sedikit tersentil tapi itu bukan salah Bu Nia yang memang mungkin tidak tahu kenyataan yang sebenarnya
" Saya ke sana dulu ya mang... Bu Nia!" ucap Kinan nampak sendu walaupun bibirnya tetap memasang senyuman tipis
" Kok neng Kinan terlihat sendu gitu ya bu, apa jangan-jangan ucapan ibu ada yang salah kali ?" ucap mang Ucup yang melihat perubahan dari mimik wajah Kinan
Bu Nia memperhatikan Kinan yang sedang duduk sendirian di kursi yang letaknya sedikit memojok sedangkan pak Ucup sibuk membakar satenya
" Mau minum apa neng?" tanya bu Nia pada Kinan yang seketika membuat gadis itu tersentak dari lamunannya
" Seperti biasa aja bu, teh hangat!" jawab Kinan lalu tersenyum ramah
" Tunggu sebentar ya ibu buatin!" ucap bu Nia lalu pamit pergi
Tidak lama kemudian bu Nia sudah kembali lagi sambil membawa segelas teh hangat pesanan Kinan
" Terima kasih ya bu!" ucap Kinan setelah bu Nia meletakkan gelas berisi teh hangat pesanannya di atas meja
__ADS_1
" Sama-sama neng!" ucap bu Nia
" Neng Kinan datangnya kok sendirian, memangnya suami neng Kinan kemana tumben enggak nemenin?" tanya bu Nia karena tidak biasa melihat Kinan datang sendirian biasanya ia selalu datang bersama Arya
Lagi-lagi Kinan hanya menjawab dengan senyuman
" Lagi bertengkar ya neng?" tanya bu Nia lagi yang merasa penasaran
Kinan menggeleng lalu kembali tersenyum
" Kalau bertengkar dalam rumah tangga itu mah sesuatu yang wajar ya neng yang terpenting mah komunikasi tetap berjalan lancar karena tanpa adanya komunikasi yang baik rumah tangga akan semakin berantakan neng!" tutur bu Nia dengan sok bijaknya padahal ia tidak tahu saja kalau wanita yang ada dihadapannya saat ini belum berkeluarga
" Yang sabar aja neng terkadang suami mah begitu, saat pacaran mah ya neng perhatian banget sama kita eh pas udah nikah boro-boro jalan di gandeng neng ke sandung aja bukan ditolongin malah diomelin!" tutur bu Nia panjang lebar
Kinan hanya menanggapi dengan senyuman manisnya bahkan saking manisnya beberapa pengunjung laki-laki yang melihat senyuman Kinan nampak terpesona dibuatnya
Mang Ucup yang mengantarkan sate pesanan Kinan hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan isterinya, kalau sudah bicara isterinya memang selalu ramai sendiri
" Jangan di dengerin neng, enggak semua laki-laki kayak gitu!" ucap mang Ucup
" Tapi ya kebanyakan kan gitu, salah satunya ya bapak!" ucap bu Nia dengan santainya membuat mang Ucup langsung diam
" Pak satenya dua porsi ya!" teriak seseorang pada mang Ucup yang langsung membuat mang Ucup menoleh bergitu juga dengan Kinan dan Bu Nia
" Baik, Oke siap!" jawab mang Ucup lalu bergegas kembali ke gerobaknya
Setelah sudah dekat mang Ucup membelalakkan matanya saat melihat pria yang berada di samping wanita yang baru saja berteriak memesan satenya apalagi mereka terlihat begitu mesra
" Kita duduk di sana saja ya mas!" ajak wanita tersebut yang langsung diangguki oleh sang pria
Pria itu sibuk dengan ponselnya sendiri tanpa menyadari kalau mamang si penjual sate tengah memperhatikan dirinya
" Bukankah pria itu_?" mang Ucup terus memperhatikan pria yang baru saja datang bersama seorang wanita tersebut
Sementara Kinan setelah menghabiskan satu porsi sate, Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri mang Ucup, karena bu Nia tadi pamit untuk melihat anaknya yang paling kecil yang sedang menangis
" Ini mang, kembaliannya ambil saja buat anak-anak jajan!" ucap Kinan seraya memberikan selembar uang seratus ribuan
" Ya ampun neng, beneran ini?" mang Ucup nampak senang
" Iya mang" jawab Kinan sambil tersenyum
" Terima kasih banyak ya neng"
" Sama-sama mang!" sahut Kinan
" Kalau gitu saya pamit dulu ya mang, salam sama ibu!" pamit Kinan
" Iya neng nanti mamang sampaikan, hati-hati dijalan ya neng!"
" Iya mang, assalamualaikum!"
" Wa'alaikum salam!"
Kinan pun pergi setelah membayar sate yang tadi dia makan, namun baru beberapa langkah ada suara seseorang yang memanggil namanya
" Kinan!"
Mendengar suara yang tentunya sudah tidak asing lagi di telinganya membuat langkah Kinan pun terhenti
Dengan malas Kinan pun membalikkan tubuhnya
Dan benar saja dua manusia yang sangat ingin sekali Kinan hindari sudah berdiri di depannya
__ADS_1