
" SAH!"
Akhirnya kata itupun menggema di sebuah ruangan yang dijadikan tempat acara ijab qobul yang sempat tertunda, namun pengantin yang bersanding dengan Arya kini sudah berganti dengan Melinda
Semua tamu yang merupakan masih kerabat Kinan dan juga Arya nampak bingung ketika melihat Kinan sudah berganti pakaian biasa sedangkan wanita yang duduk di samping Arya justru wanita yang berbeda dan bukan Kinan
Kasak kusuk pun terdengar riuh ketika acara ijab qobul telah selesai, banyak yang mempertanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi namun pihak keluarga tidak ada yang berani bertanya mereka lebih memilih bungkam
Setelah tadi mereka dikejutkan dengan Kinan yang menggagalkan acara pernikahannya sendiri dan sekarang justru mereka sekarang dikejutkan dengan pemandangan yang membuat dahi mereka mengkerut.
Apa yang ada di hadapan mereka kini menjadi sebuah tanda tanya besar dipikiran mereka masing-masing, mengapa Kinan yang seharusnya menjadi calon mempelai wanita dan akan bersanding dengan Arya kini justru wanita cantik itu sedang duduk di kursi pojok dalam pelukan sang ayah sedangkan wanita yang bersanding dengan Arya justru wanita yang berbeda
Meskipun saat ini Kinan tidak dalam keadaan menangis tapi siapa pun yang melihatnya mereka tahu dan turut merasakan bagaimana sakitnya hati Kinan terlebih keluarga dekat Kinan yang tahu bagaimana hubungan Kinan dengan Arya
Usai acara ijab qobul yang berlangsung cukup mengejutkan itu, kini semua tamu yang hadir pun satu persatu pamit pulang tak terkecuali keluarga jauh Arya dan Kinan
Di rumah besar tersebut kini hanya tinggal beberapa keluarga dekat dan juga para tetangga Kinan yang memang sejak beberapa hari lalu mereka banyak membantu keluarga Kinan dalam mempersiapkan acara tersebut
Sedangkan Melinda, Arya dan juga orang tua mereka masing-masing akan pergi langsung menuju hotel di mana acara pesta pernikahan mereka akan segera di gelar nanti malam
Sebelum pergi pak Farid pun mengucapkan permintaan maafnya kepada ayah Akbar dan juga bunda Sasa terlebih lagi kepada Kinan
Pria paruh baya itu sungguh menyesal karena sempat membentak dan menuduh Kinan yang tidak-tidak padahal di sini putranya lah yang bersalah sedangkan Kinan hanya korban dari keegoisan putranya Arya
Selain pak Farid tante Vela pun merasa sangat bersalah kepada Kinan dan juga kakak kandungnya sendiri bunda Sasa
Wanita paruh baya itu bahkan tidak berhenti menangis dalam pelukan sang kakak, selain merasa bersalah tante Vela juga merasa sangat malu karena merasa sudah gagal mendidik putri satu-satunya itu
" Sudahlah Vela semua sudah terjadi, lagi pula kau tidak salah apa-apa ini kesalahan mereka yang tidak dapat mengendalikan godaan hawa nafsunya" ucap bunda Sasa pada sang adik
" Benar apa yang dikatakan Sasa,ini bukan salah mu tapi salah laki-laki yang memberi peluang untuk wanita lain masuk ke dalam hubungan mereka, seandainya Kinan tidak menghalanginya mungkin menantumu itu sudah habis babak belur di tanganku!" ucap paman Mahesa kakak kandung bunda Sasa dan tante Vela dengan sedikit emosi
" Sudahlah mas, ini sudah terjadi aku yakin Kinan hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita!' ucap bunda Sasa yang diangguki oleh paman Mahesa
" Hati Kinan memang seluas samudera dan selembut sutra dan anehnya masih saja ada orang bodoh yang menyia-nyiakannya" tutur Paman Mahesa
Arya yang mendengar ucapan pedas Paman Mahesa pun merasa tersindir
" Kinan jika kamu merasa keberatan biar saja pesta pernikahan Arya dan Melinda dibatalkan " ucap mama Mega yang merasa tidak enak hati dengan Kinan, karena wanita paruh baya itu tahu semua konsep dan acara pesta tersebut Kinan sendirilah yang turun tangan langsung meskipun sesekali Arya dan Melinda juga turut serta membantunya
" Kenapa di batalkan tante, tidak perlu seperti itu tante, semua sudah dipersiapkan amat sangat disayangkan jika dibatalkan begitu saja, lagi pula itupun pesta pernikahannya mas Arya jadi untuk apa dibatalkan tante mubajir ketering nya sudah dipesan dan masakannya juga enak-enak loh tante" seloroh Kinan dan masih memperlihatkan senyum di wajahnya
Entah dari apa hati wanita itu, didepan semua orang ia bisa terlihat begitu tegar dan kuat tanpa memperlihatkan titik kerapuhannya bahkan ia masih bisa tersenyum
" Sayang!" mama Mega matanya sudah berkaca-kaca bahkan air matanya pun hampir terjatuh namun dengan cepat jari lentik nan lembut Kinan langsung mengusapnya
__ADS_1
" Tante, ini adalah hari bahagia putra tante jadi jangan menangis dong tante!" ucap Kinan seraya menghapus air mata yang meluncur di pipi mama Mega
" Tante harus tersenyum, meskipun bukan Kinan yang bersanding dengan mas Arya tetap tante harus tersenyum, kasihan Melinda tante bagaimana pun kini Melinda sudah sah menjadi isteri mas Arya apalagi dia sedang mengandung, jadi tante harus bahagia. tante kan akan segera menjadi Oma yang cantik!" seloroh Kinan agar mama Mega bisa kembali tersenyum dan benar saja kata-kata Kinan mampu membuat mama Mega tersenyum
" Kau ini bisa saja!" ucap mama Mega
" Terima kasih sayang, kalau begitu tante pamit dulu ya. Tante berdoa semoga kau cepat mendapatkan kebahagiaan mu!" ucap tulus mama Mega
" Amin.... terima kasih tante doanya" Kinan kembali tersenyum
" Kinan juga berdoa semoga mas Arya dan Melinda bisa menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. tante dan om Farid juga diberi kesehatan agar bisa bermain dengan anak-anak mas Arya dan Melinda!" ucap Kinan mendoakan mantan calon suaminya dengan tulus
" Sayang!"
" Tante jaga kesehatan ya!" ucap Kinan
Setelah berpamitan kepada Kinan dan juga keluarganya mama Mega pun berjalan ke arah mobil suaminya yang sudah sejak tadi menunggu mama Mega sedangkan Melinda dan Arya mereka sudah pergi duluan
Ketika sudah berada di dalam mobil mama Mega pun tidak kuasa menahan isak tangisnya, wanita paruh baya itu merasa begitu sesak setiap kali teringat dengan senyum yang terus terpancar di wajah Kinan, meskipun gadis itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja tapi sempat-sempatnya gadis itu justru yang menghibur dirinya
" Sudahlah mah mungkin mereka memang tidak berjodoh, bagaimana pun menantu kita kini Melinda dan dia sedang mengandung anaknya Arya!" ucap pak Farid berusaha untuk menenangkan isterinya yang nampak begitu terpukul dengan kejadian hari ini
Sekarang di rumah tersebut tinggal keluarga besar Kinan termasuk Oma Ita ibunya bunda, kedua orang tua ayah Akbar yaitu Oma Nur dan Opa Ahmad, paman Mahesa dan isterinya, mbak Pipit dan suaminya, tante Vela, tante Alya dan suami serta anak-anaknya dan juga para sepupu Kinan bersama keluarganya
" Sayang kamu tidak apa-apa jika kami semua pergi ?" tanya paman Mahesa mewakili keluarga besarnya berbicara dengan Kinan
" Jika sempat Kinan pun akan mengusahakan untuk datang kok paman!" ucap Kinan
" Tidak usah Kinan, sebaiknya kamu istirahat saja di rumah!" cegah paman Mahesa yang tidak ingin melihat keponakan kesayangannya itu semakin terluka
" Tidak apa-apa paman, lihat Kinan baik-baik saja!" Kinan masih memperlihatkan senyum diwajahnya
Mata paman Mahesa sudah berkaca-kaca namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya agar Kinan tidak melihatnya
" Kalau begitu paman pergi sekarang ya!" pamitnya
" Iya paman, hati-hati!".
Setelah menyalami satu-persatu orang-orang yang sangat berarti dalam hidup Kinan wanita itupun melambaikan tangannya seraya mengantar kepergian rombongan mobil yang membawa keluarga besar Kinan menuju hotel tempat pesta pernikahan Arya dan Melinda digelar.
Karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya mungkin akan mengejutkan para undangan yang hadir ke pesta pernikahan malam nanti
Sungguh pandai sekali wanita itu menyembunyikan luka hatinya, semua keluarga besar Kinan merasa tidak tega dengan gadis itu apalagi Oma Ita sejak tadi terus menangis sampai akhirnya Kinan sendiri yang menenangkannya
Setelah mobil yang membawa rombongan keluarga besar Kinan tidak nampak lagi, ayah dan bunda Sasa mengajak putri mereka untuk masuk ke dalam rumah
__ADS_1
" Ayok sayang kita masuk!" ajak ayah Akbar merangkul bahu putrinya
" Bunda... ayah... Kinan mau sendiri dulu ya!" ucap Kinan
" Tapi sayang!"
" Bunda, Kinan enggak apa-apa... Kinan hanya mau istirahat sebentar dan mencari udara segar. enggak apa-apa kan? Kinan cuma mau jalan-jalan sekitar sini aja kok Bun!" pinta Kinan
Ayah menghela napas berat lalu mengangguk pelan " Yaudah tapi kamu hati-hati ya, ingat jangan pernah berpikir yang tidak-tidak!" pesan ayah Akbar yang sungguh mengkhawatirkan keadaan putrinya
Kinan terkekeh " Ya ampun ayah, Kinan masih waras, Kinan masih ingat dosa yah!"
" Syukurlah kalau begitu, ayah cuma mengingatkan!"
" Iya ayah!" Kinan pun memeluk pinggang sang ayah
" Dasar anak ayah!" celetuk bunda Sasa pura-pura ngambek
" Cie ada yang cemburu!" Kinan tergelak menggoda bundanya
Ketiganya lalu tertawa bersama saling berpelukan
Bu Dewi dan bu Tuti yang merupakan tetangga Kinan nampak menitikkan air matanya melihat Kinan yang masih bisa tersenyum dan tertawa setelah apa yang baru saja menimpanya, jika orang lain mungkin sudah kejer-kejer bahkan mungkin ada yang nekat bunuh diri
" Sungguh kasihan ya bu Dewi neng Kinan!" ucap bu Tuti
" Iya bu Tuti, entah terbuat dari apa hatinya neng Kinan disaat seperti ini dia bahkan masih bisa tersenyum dan tertawa seperti itu, saya yakin semua itu dia lakukan agar kedua orangtuanya tidak mencemaskan keadaannya!" ucap bu Dewi
Kinan kini tengah duduk seorang diri di sebuah kursi taman yang letaknya tidak jauh dari kediaman rumahnya
Berkali-kali wanita itu menghempaskan napasnya kasar namun sedikit pun tidak dapat mengurangi rasa sesak di dadanya
Kinan bahkan memukul-mukul dadanya sendiri, Sakit, sesak itulah yang kini ia rasakan. bersandiwara terlihat baik-baik saja dihadapan semua orang padahal hatinya menjerit, meronta, meraung-raung, menangis bahkan ingin ingin sekali ia mengakhiri hidupnya tapi wanita itu masih ingat akan dosa, apalagi masih ada ayah dan bundanya yang begitu tulus mencintainya
Luka yang ia rasakan memang sangatlah menyakitkan tapi sesakit apapun yang ia rasakan ia tidak mau kedua orangtuanya ikut merasakannya
" Kenapa rasanya sesakit ini, sungguh rasa sakit ini membuatku sulit untuk bernapas!" Kinan yang sejak tadi selalu memperlihatkan senyumnya kini air mata sudah membasahi wajahnya
Bahkan langit pun seolah ikut merasakan kesedihan yang Kinan rasakan, derasnya hujan menemani Kinan meluapkan kesedihan yang sejak tadi ia simpan dalam-dalam
Kinan terus menangis dibawah guyuran hujan, ia menekuk lututnya dan memeluknya dengan erat
Ia membenamkan wajahnya meluapkan kesedihannya terus menangis dan menangis, berkali-kali ia berusaha untuk menghentikan tangisnya namun lagi-lagi tangis itu semakin pecah, jika ada yang melihat dan mendengar tangisan Kinan pasti mereka akan merasa iba dan terenyuh
" Menangislah sepuasmu untuk hari ini tapi setelah itu kau harus melupakan kesedihan mu itu dan jangan pernah menengoknya lagi kebelakang, karena kau patut bahagia!" ucap seseorang yang sudah berdiri di depan Kinan seraya memayungi tubuh Kinan yang bergetar karena tangisnya atau bisa juga karena wanita itu menggigil kedinginan karena terpaan air hujan dan angin yang cukup kencang
__ADS_1
Kinan mendongak lalu menatap lekat pria yang kini sudah berdiri dihadapannya.
Pria yang berdiri dengan satu tangan memegang payung untuk memayunginya dan satu tangan lagi ia masukkan ke saku jaketnya