
Walaupun sudah tau bahwa yang dia lakukan itu sudah keterlaluan, tapi Arllat merasa senang karna dia adalah orang pertama yang melakukannya. Arllat menyelimuti tubuh Kristal yang penuh bekas merah karna perbuatannya, dia turun dan berjalan ke kamar mandi untuk membersikan dirinya yang penuh dengan keringat.
Setelah selesai dia kembali memperhatikan Kristal yang masih tertidur, memang sedikit bersalah tapi dia yakin nanti Kristal akan menerimanya. Diapun keluar dari kamar yang Kristal tempati dan pergi ke kamar yang lain.
Paginya
Rasa sakit yang masih dia sarakan di sekujur tubuhnya membuatnya kesulitan bergerak walaupun dia sudah sadar. Tubuhnya penuh bekas merah karna permainan semalam, dia juga tidak sengaja menyentuh noda merah yang ada di spreinya dan itu membuatnya kembali mengingat yang telah terjadi tadi malam.
Dia menyelimuti tubuhnya yang masih tidak memakai apa-apa, dia menangis sambil memeluk tubuhnya karna dia sudah menghianati Arland, membiarkan laki-laki lain menyentuhnya. Tubuhnya tidak berhenti gemetar, karna sakit dan penuh rasa bersalah.
" hisk! Arland maaf" tangisnya terus menyebut nama Arland
Pintu tiba-tiba terbuka dan Kristal tau siapa yang membukannya, dia tidak memperhatikan orang itu dan terus memeluk tubuhnya sendiri.
" bersikan dirimu dan pakai ini, jika sudah selesai turunla aku sudah menyiapkan sarapan" ucapnya lalu dia kembali pergi
Setelah Arllat pergi, Kristal mengambil baju yang dia beri, Kristal berusaha turun sambil terus membawa selimutnya agar menutupi tubuhnya. Dia menuju kamar mandi karna dia ingin segera membersikan tubuhnya yang disentu orang lain.
Kristal terus menggosok tubuhnya menggunakan sabun berkali-kali, dia kembali meneteskan air mata karna yang dia lakukan itu tidak akan mengembalikan kesuciannya.
" huaaa!!" Kristal putus asa, aroma kejadian tadi malam masih bisa dia cium
" huuuu huuu~" Kristal kembali memeluk tubuhnya sendiri, dia membiarkan tubuhnya menggigil karna dia sudah lama berendan di bak mandi
Kemudian ada ketukan dari luar yang membuatnya mendongak ke arah pintu.
" Kristal kenapa kau belum keluar, apa yang kau lakukan didalam! Jangan berfikir untuk menyakiti dirimu sendiri Kristal cepat keluar!!" ucap Arllat sambil terus mengetuk pintu itu
Namun Kristal tidak memperdulikannya, tapi kemudian Arllat mengatakan sesuatu yang membuatnya buru-buru memakai pakayannya.
" jika kau masih belum keluar aku akan segera mendobrak pintu ini, de-" kemudian pintu terbuka dan Kristal langsung menunjukan wajah memerah karna mandi terlalu lama
Dia berjalan keluar dari kamar itu sambil berpegangan ke dinding agar tidak terjatuh, dia meninggalkan Arllat yang terus melihat kepergiannya. Kristal melihat di meja makan sudah banyak jenis makanan yang disediakan, melihat itu membuat Kristal lapar, perutnya terus berbunyi saat mencium aroma masakannya.
" dudukla dan cepat makan, aku yakin kau pasti lapar" ucap Arllat mempersilakan Kristal untuk duduk
__ADS_1
Kristal duduk di kursi yang berbeda dengan yang Arllat siapkan, dia lebih memilih untuk tidak menerima perlakuannya baiknya. Melihat itu Arllat hanya diam dan duduk di kursinya sendiri, dia menyajikan beberapa masakannya ke piring Kristal.
Dan lagi-lagi Kristal tidak menerima kebaikannya, dia lebih memilih makan buah dibandingkan masakannya.
" kenapa tidak makan?" tanya Arllat
Kristal mengabaikannya, setelah dia mengambil buat apel itu dia kembali berdiri dan menuju kamarnya. Yang Kristal lakukan terhadapnya membuatnya marah namun dia menahannya, dia hanya memukul meja makan saat Kristal meninggalkannya.
" Kristal sampai kapan kau akan seperti ini hah!" ucapnya
Setelah Kristal pergi, Arllat merapikan sekaligun mencuci piring yang masih belum digunakan, dia tidak tau bagaimana agar Kristal cepat menerimanya. Dia sudah bersikap baik tapi itu sepertinya tidak berhasil untuk membuatnya menerimanya, dia bisa kehilangan kesabaran jika terus seperti ini.
Setelah dia kembali masuk ke kamarnya, Kristal langsung duduk di depan pintu karna tidak mau menyentuh tempat tidur itu. Dia bersandar sambil memejamkan matanya barharap semua ini hanyala mimpi.
Apel yang sebelumnya dia makan di biarkan begitu saja sampai tidak layak lagi untuk di makan. Ingin rasanya dia menangis lagi, menagis sekencang-kencangnya tapi disisi lain dia tidak mau Arllat mendengar suaranya.
" hisk! Aku ingin pulang" ucapnya memeluk tubuhnya sendiri, tampa dia sadari saat ini Arllat tengah ada di balik pintu, dia mendengar suaranya dan tidak berniat mengganggunya.
Arllat malah lebih memilih pergi dari pada membuatnya semakin sedih. Sakit, dia merasa sakit saat melihat wanita yang dia cari selama ini begitu menderita saat bersamanya.
Semalaman ini Arland terus ada di kantornya, dia sama sekali tidak istirahat. Selalu menyebut nama Kristal, bahkan jika ada yang membuka pintunya dia selalu bertanya apa mereka sudah menemukan Kristal.
" kalian tidak berguna!! pergi jangan perna kembali sebelum menemukan keberadaan Kristal!!" bentaknya pada para bawahannya
" arrrhhh!!" Arland membuang benda-benda yang dia lihat hingga membuat kondisi ruangannya menjadi berantakan
Saat ini teman-temannya ada di luar ruangannya, mereka tidak berani masuk karna Arland selalu mengusir mereka. Raka, Leon dan bahkan Arya sangat khawatir dengan keadaan teman mereka, selama bertahun-tahun mereka berteman, baru kali ini mereka melihat Arland semarah ini.
" apa yang harus kita lakukan, kita sudah mencari di seluru kota tapi tetap tidak bisa menemukannya, kita harus mencari kemana lagi" ucap Leon
" yang perlu kita lakukan saat ini adalah menenangkannya, jangan biarkan dia melakukan yang lebih dari ini, dia bisa saja menyakiti dirinya lagi jika terus seperti ini" ucap Arya
" ada satu hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan padanya, tapi sebelum aku mengatakannya dia malah mengusirku" ucap Raka
" kau memangnya ingin mengatakan apa, apa mengenai Kristal?" tanya Leon
__ADS_1
" bukan, tapi mengenai orang tuanya" ucap Raka
" Memangnya apa yang ingin kau katakan mengenai mereka!?" tanya Leon
" beberapa hari yang lalu aku menyuruh bawahanku untuk terus mengikuti pamannya, mereka bilang padaku bahwa setiap saat paman Arland selalu pergi ke sebuah rumah di tempat yang sepi. Namun mereka tidak bisa mengikuti lebih jauh karna dia juga membawa beberapa pengawal untuk menjaganya, mereka hanya diam-diam mendengar pamanya bucara dengan seseorang dari dari tumah itu. Bawahanku yakin bahwa paman Arland sedang bicara mengenai merebut perusahan Surrces dengan seseorang tapi tidak ada suara orang lain selain dia. Jadi kemungkinan besar adalah dia sedang berbicara dengan orang tua Arland, karna sepertinya mereka masih hidup dan dia dengan sengaja menyembunyikannya" ucap Raka
" kenapa kau bisa yakin bahwa dia sedang bicara dengan orang tua Arland, tidak ada yang bisa membuktikan perkataanmu. Kau juga bilang bahwa orang tua Arland masih hidup, padahal Arland sendiri yang bilang bahwa mereka meninggal dalam kecelakaan" ucap Arya
" ya waktu itu Arland memang mengatakannya, tapi Arland sendiri yang menyuruku untuk menyelidiki gerak geriknya, jadi aku menyuruh bawahaku untuk memperhatikan dia secara diam-diam" ucap Raka
" jadi Arland curiga dengan kecelakaan yang yang menimpah orang tuanya jadi dia menyuruhmu untuk terus memperhatikan pamannya?" tanya Leon
" tidak, kami sudah tau bahwa kecelakaan itu di sengaja bukan murni kecelakaan" ucap Raka
" matsudmu kalian sudah mengetahuinya dan sengaja terus mengawasi dia agar kalian bisa menemukan bukti bahwa dia adalah pelakunya" tanya Leon lagi
" bukan juga, kecelakaan itu bukan karna dia tapi ada campur tangan orang lain di baliknya. Karna saat dia bertanya pada orang yang melihat kejadian itu, orang itu bilang bahwa bukan pamannya yang telah terlibat dalam kecelakaan itu" ucap Raka
" kalian mengetahui semua ini dari saksi mata? Apa kalian percaya begitu saja dengannya?" tanya Arya
" tentu, karna untuk apa dia berbohong kepada kita itu tidak menguntungkannya sama sekali" ucap Raka
" jadi apa benar orang tua Arland masih hidup?" tanya Leon
" kita akan tau jika pergi ke rumah itu" ucap Raka
" tapi sebelum itu kita harus memberitaukanya dulu, kita tidak mungkin pergi tampanya" ucap Raka
" jadi apa kau tau cara agar dia mendengarkan kita?" ucap Leon
" tenang saja, aku yakin Arland akan mendengarkan kita jika soal orang tuanya" ucap Arya
" aku sudah mendengannya" ucap seseorang yang berjalan ke arah mereka
" Arland! Kapan kau ada disini?" tanya Raka
__ADS_1
" untuk apa kita masih diam, cepat kita selidiki lebih lanjut mengenai masalah ini" ucap Arland berjalan mendahului tamen-temannya yang melihatnya heran.